One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 71



Mendengar penuturan Kevin, Erick hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Heh, Kev! Apa kamu tidak bisa memberikan aku muka sedikit saja di depan tunanganmu!" gerutu Erick dengan wajah disebal-sebalkan, tangan Erick terlipat di depan dada menatap Kevin yang hanya terkekeh menanggapi temannya itu. Meski Kevin sangat membenci Laras, hubungannya dan Erick sangat baik, mereka berteman sejak kecil hingga ia mau menolong Verell, lagi pula masalah foto-foto dan video Laras itu Kevin ikut andil menyebarkannya.


"Tidak perlu berpura-pura, Ck! sudah malam, jika ada hal lain kita bicarakan besok," ujar Kevin seraya mengamit tangan Melia. Melia yang melihat interaksi keduanya hanya menanggapi dengan senyum. Erick mencibir, ia ingin menjahili Melia, akan tetapi urung karena tangan Kevin sudah menarik gadis itu menjauh.


"Kita pulang dulu!" pamit Kevin pada Erick, sementara Melia hanya bisa menurut.


Erick menatap dua orang itu yang mulai menjauh menuju pintu hendak keluar.


"Sampai jumpa istri kecilnya Kevin." Erick melambaikan tangan dengan senyum tersungging, Melia yang mendengar panggilan 'istri kecil' Kevin pun sontak hampir saja terjatuh. Namun, dengan segera tangan Kevin menahannya.


"Hati-hati, kamu pasti sangat kelelahan!" pungkas Kevin yang menahan tubuh Melia.


"Tidak, aku hanya kaget." jawab Melia.


Melia menoleh dan memelototi Erick yang sedang meringis, lantas ia menjulurkan lidah dengan ekspresi mengejek sebelum kembali berjalan dengan Kevin meninggalkan kediaman Erick. Mereka berjalan beriringan menuju mobil, dahi Kevin mengernyit kala tahu Alan masih setia menunggunya di di dalam mobil. Kevin segera memanggilnya dan meminta Alan pulang lebih dulu, karena memang mereka membawa mobil sendiri-sendiri.


"Lan, kamu langsung pulang saja, ya?" titah Kevin.


"Serius Kev, gapapa?" tanya Alan, kemudian menatap Kevin juga Melia bergantian.


"Hmm, ya!" jawab Kevin, Alan pun mengangguk, ia masuk ke mobilnya sendiri meninggalkan Kevin dan Melia.


Kevin membukakan pintu mobil, "bisa naik sediri kan?" tanya Kevin, Melia mengangguk.


Setelah memastikan Melia duduk dengan tenang, Kevin memutar tubuh dan masuk ke dalam kursi kemudi.


Degup jantung Melia semakin tak beraturan kala Kevin mencondongkan tubuhnya mendekat.


"M-mau apa?" tanya Melia memalingkan wajah, Kevin merasa geli melihat tingkah gadis itu.


Padahal ia hanya memasang sabuk pengaman karena Melia lupa memasangnya, tapi ekspresi gadis itu membuatnya tak kuasa untuk tersenyum gemas.


"Mau apa? cuma mau..."


Klek.


"Ohhh, kirain." Melia menunduk malu dengan pipi merona merah.


Mobil mulai melaju perlahan.


"Kamu tahu, hari ini aku sangat iri dengan Laras," ucap Melia memulai obrolan. Kevin yang fokus menyetir pun mengerutkan kening seketika.


"Iri karena Laras hampir kucekik mati, atau karena mau dibawa ke RSJ." Mendengar penuturan Kevin membuat Melia tergelak.


"Bukan itu, aku iri karena Laras memiliki Ayah sekaligus saudara yang sangat baik." terang Melia.


"Maksudnya?" tanya Kevin.


"Aku ingin memiliki ayah yang seperti itu," sambungnya lirih dan lebih mirip seperti gumaman. Kevin langsung terdiam mendengar penuturan Melia.


Tiba-tiba Melia berkata, "apa aku tidak jadi menikah denganmu saja, angkat aku jadi anakmu?" ucap Melia yang berhasil membuat Kevin diam kehilangan kata-kata.


"Apa aku setua itu di mata Melia?" batin Kevin yang terdiam karena perkataan konyol Melia.


"Aku sangat ingin dimanja, aku ingin merasakan rasanya dimanja seorang ayah, aku ingin dimanja seperti seorang putri."


Lagi Kevin tertegun mendengarkannya, meski aneh ia tahu Melia pasti menginginkan figure sang ayah dalam hidupnya, tapi kenyataannya? hidupnya berlalu tanpa adanya sosok itu.


"Jangan berbicara sembarangan," ucap Kevin menghela napas kasar.


"Aku serius, Kev! Apalagi hari ini kamu terus mempercayaiku dan melindungiku, jika aku memiliki ayah yang bisa memanjakanmu, mungkin sosok tersebut pastilah seperti dirimu!"


Mendengar ucapan Melia membuatnya tak kuasa untuk tidak tersenyum, lantas tangan satunya mengacak rambut Melia dengan gemas.


"Kamu ini ada-ada saja!"


"Jika kedepannya kamu terus patuh seperti ini, tidak perlu menjadi ayahmu pun aku akan selalu mempercayaimu dan melindungimu!" tegas Kevin namun dengan pandangan fokus pada jalan. Melia memalingkan wajah tersipu, tangannya mengusap dada, berusaha mengelak bahwa yang sedari berdebar itu memang bukan jantungnya. Sayang sekali, tubuhnya tak bisa berbohong, degup jantungnya semakin tak terkendali tiap berhadapan dengan Kevin. Namun, dibalik kegugupannya ada rasa nyaman yang membuat Melia betah berlama-lama dengan laki-laki itu meski hanya sekadar berdebat panjang.


Melia tersenyum jahil, "apa kamu beneran tidak mau mengangkatku jadi anak?" godanya.


"Hm, berhentilah!" titah Kevin, meski hubungan mereka selangkah lebih baik, tapi Melia tam berani menjahili Kevin lagi, ia takut laki-laki itu akan kembali kesal padanya dan tak lagi mau melindunginya lagi kedepannya.


"Iya iya, aku bercanda saja. Kamu hebat, terima kasih selalu melindungiku, aku pikir orang kaya hanya akan mengandalkan kekuasaan. Tapi, hari ini aku melihat kamu melindungiku sendiri, aku melihat kamu berusaha keras menolongku, dan aku merasa sangat senang." puji Melia dengan tak tahu malunya.


Kevin hanya menggeleng dengan senyum, ia masih tak menyangka Melia yang keras kepala akan memujinya dengan lembut.


"Aku fikir, tadinya kamu akan mempercayai Laras. Aku memang sedang mengobrol dengan Verell, tapi hubungan kami hanya sebatas teman baik."


"Hmm." Kevin hanya bergumam pelan.


"Aku fikir, hari ini akan tidur di rumah dengan tenang, tapi bahkan ini sudah sangat larut."


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Kevin.


"Kau memang selalu bertanggung jawab padaku," puji Melia kemudian menutup mulutnya karena malu.


Tak disangka ekspresi Kevin justru menghentikan mobilnya dan beralih menatap Melia dengan senyum, senyum yang jarang Kevin perlihatkan pada sembarang orang.


"Ya Tuhan, benarkah dia Kevin? dia terlihat sangat tampan saat tersenyum begitu. Kenapa jantungku semakin tak karuan, dia benar-benar membiusku dengan pesonanya."


"Coba kamu bilang lagi," ucap Kwvin tersenyum. Melia menoleh, melihat Kevin menatapnya dengan senyum di jarak sedekat ini membuat Melia juga melemparkan senyumnya. Pandangan mereka saling terkunci dan kini napas hangat Kevin menerpa wajah Melia.


"Apa ini sakit?" tanya Kevin kemudian menyentuh lembut sudut bibir Melia yang terluka, sekilas ia bisa ikut merasakan perih akan tetapi Kevin tak ingin membuat Melia sedih dengan keadaan wajahnya yang seperti ini.


LIKE KOMEN JUGA VOTENYA SUMBANGIN YUK, MISS ALL😘