
Orang-orang yang berkerumun masih terus menggosipi Clara, membicarakan perihal hidungnya. Memamg terlihat aneh, hidung Clara terlihat mancung sekilas. Akan tetapi, jika diperhatikan dengan seksama akan terlihat bengkok di bagian tengahnya, seperti pernah patah sebelumnya.
Clara yang mendengar ucapan orang-orang yang menghina hidungnya pun mulai berwajah kelam, ia mengepalkan tangan tanpa sadar.
"Sial, mereka benar-benar percaya ucapan perempuan itu." decak Clara.
"Kamu dengar baik-baik, ya! Karena hari ini kamu sudah membuatku malu, aku tidak akan pernah melepaskan kamu, juga kamu!" Clara menunjuk wajah Melia dan Gisell bergantian. Wajahnya berkobar penuh amarah, akan tetapi Melia terlihat sangat santai.
Sementara Gisell yang melihat keadaan semakin tidak terkontrol pun mulai menenangkan Melia dan memintanya berhenti saja, karena bagi Gisell percuma melawan Clara dan gerombolannya, sudah pasti tak akan menang.
"Mel, lebih baik berhenti sebelum semuanya semakin runyam." bujuk Gisell memegangi lengan Melia, dari samping Clara mendengar mereka dan tersenyum dingin.
"Sudah terlambat, kalian tidak akan pernah aku lepaskan." Sinis Clara, Melia yang mendengarnya pun menarik kerah Clara dan melemparnya ke samping hingga terjatuh di lantai.
"Breng sek!" maki Clara menatap Melia.
"Kamu yang mulai, justru karena itulah aku yang tidak akan melepaskan kamu begitu saja, inga itu! tak selamanya kamu bisa berbuat semena-mena meskipun kamu orang kaya dan punya segalanya!"
"Heh, kamu ternyata masih begitu tak tahu diri ya?" Clara tertawa sinis.
Tiba-tiba semua hening, muncul 2 orang polisi dan salah satunya menatap mereka bergantian.
"Siapa yang memanggil polisi?" tanya salah satunya, Clara tersenyum senang karena sebentar lagi ia bisa membuat dua nona kampung itu menjadi tahanan polisi dan mengeluarkannya dari kampus ini.
"Saya, Pak! Karena dua wanita ini sudah merusak barang-barang saya dan teman saya!" Clara mengangkat tangannya.
Namun, polisi itu mengernyit heran tuk kemudian meminta mereka bertiga untuk ikut ke kantor.
Melia terdiam, ia fikir Clara hanya menggertaknya. Tak disangka, kalau ia akan kembali mempersulit Gisell.
"Jika mau menangkap, maka tangkap dia, Pak. Dia merusak duluan barang teman saya dan berusaha melukai saya." Melia menunjuk Clara, sedang Clara yang merasa tak melukainya pun protes dan mengelak.
"Kalian berdua sama-sama terluka, jadi ikut kami ke kantor polisi untuk diintrogasi."
Gisell tak bisa membiarkan ini terjadi.
"Pak, saya terlibat dalam masalah ini, jadi tolong bawa saya juga!" Gisell mengusulkan diri membuat Melia tak habis fikir.
"Baik, silahkan ikut kami dan bicarakan di kantor polisi," ucap salah satu polisi dan meminta Clara, Melia, dan Gisell ikut.
"Kamu, masih saja jadi tukang onar," gerutu Gisell saat berjalan beriringan di belakang polisi bersama Melia.
Melia terkekeh, "bukankah memang seperti itu, peraturan yang kita buat berdua dari dulu," ucap Melia menjeda ucapannya.
"Kita boleh tidak membuat masalah tapi tidak boleh takut pada masalah," bisiknya lagi diiringi gelak tawa. Meski sebenarnya dalam hati juga Melia was-was.
"Sudahlah, tak usah khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa! Palingan hanya di tlaktir minum teh di kantor polisi," ujar Melia lagi menutupi kegugupannya.
Gisell pun tak berdaya mendengar ucapan Melia, ia hanya bisa pasrah dan menerima toh hanya minum teh di kantor polisi. Bahkan jika benar-benar ditahan ia akan menemani Melia.
Sampai di kantor polisi, mereka bertiga diinterogasi di ruangan yang berbeda. Dengan tujuan polisi tersebut secara tidak langsung ingin mencocokan kejadian.
Saat ditanya, Melia pun menjawab awal mula permasalahannya, pun juga dengan Gisell yang ternyata jawabannya hampir sama dengan Melia. Sementara Clara, ia justru terlihat sangat gugup dan berulang kali berubah.
"Semua bermula karena Clara merusak skincare teman saya, hanya karena teman saya miskin dan tak punya apa-apa dia berbuat seenaknya bahkan saat saya membela teman saya dia justru berusaha melukai saya, Pak!" jelas Melia tadi.
Sementara di ruang lain,
"Teman saya berusaha membela saat barang saya dirusak oleh mereka, Pak. Memang harga tak seberapa, tapi mereka berusaha melukai teman saya dan malah berniat memutar balik fakta dan melaporkannya!" jelas Gisell dengan mimik wajah meyakinkan.
Polisi itu pun mengangguk, dapat menyimpulkan bahwa ucapan mereka hampir sama.
Sementara Clara, berulang kali berubah jawaban.
Karena masalahnya rumit, dan mereka masih berstatus mahasiswa universitas. Maka polisi memutuskan meminta mereka untuk memanggil orang tua masing-masing.
Hal itu membuat Melia tertegun, pasalnya sang ibu masih dalam perawatan di rumah sakit, sedang untuk menghubungi Kevin ia sangat-sangat malu.
Gisell dan Melia saling tatap setelah keluar dari ruang interogasi, mereka duduk berdampingan. Gisell menghubungi orang tuanya, karena ia tak punya pilihan lain. Sementara Melia dilanda kebingungan. Tak mungkin dirinya meminta pertolongan Kevin lagi, terlebih masalahnya sudah sampai di jalur polisi.
"Bagaimana, Mel. Kamu tak mungkin mengabari tante Sintia kan? aku khawatir kondisinya jika mendengar kamu dibawa ke kantor polisi karena masalah ini?" tanya Gisell dengan raut wajah khawatir menggenggam tangan Melia.
"Hya itulah, bagaimana dengan orang tuamu. Maaf, aku hanya ingin memberi pelajaran ke mereka."
"Tak masalah jika orang tuaku, kamu begitu juga karena membelaku. Jadi aku harus menerima konsekwensinya." balas Gisell.
Melia sedang berfikir keras, jika meminta pertolongan Kevin mungkin saja laki-laki dewasa itu bukan hanya mencercanya kekanakan, pembuat onar. Terus terang Melia tak ingin membuat Kevin malu dan satu hal, tak ingin membiarkan Kevin memiliki kesempatan untuk mengejeknya.
Di sudut caffe yang cukup ramai, dua pria dewasa sedang duduk berdua dengan gelak tawa sambil menikmati kopi.
Siapa lagi kalau bukan Kevin dan Erick, entah hal apa yang membuat Erick ingin bicara banyak dengannya.
"Kau tidak sedang membujukku mengampuni Laras kan?"
"Untuk masalah itu aku sama sekali tak perduli, kau tau aku bukan?" jawab Erick dengan gelak tawa.
"Hahaha, ya! Kita sama-sama tau, ngomong-ngomong bukannya kamu sibuk?" tanya Kevin di sela-sela tawanya.
"Sibuk, iya sibuk memikirkan calon istri orang." goda Erick untuk melihat wajah Kevin yang seketika berubah.
"Kau!!! Dia tak sesepesial itu dalam hidupku!" tegas Kevin mengusap rahangnya.
"Heh kau pria tua, kenapa tidak mengaku saja kalau beneran menyukainya?" tanya Erick.
"Enak saja kau bilang aku tua!" cerca Kevin tak terima.
"Memang, apa kamu pikir kita ini masih muda. Lagian dia beneran tunanganmu kan?" tanya Erick.
"Tidak, aku dan dia hanya sebuah kecelakaan!"
Erick yang mendengarkannya pun mengerutkan alis, tak ingin Erick berfikir macam-macam.
Kevin pun menjelaskan kalau Melia menyelamatkan nyawanya. Namun, Kevin tak ingin bercerita tentang malam itu.
Malam dimana ia merenggut paksa hal yang paling berharga milik Melia.