
"Oh ya satu lagi, terserah kamu mau mendengarkan ucapanku atau tidak. Tapi, sekarang masalah sudah selesai. Kamu tidak boleh mencariku, pun mengganggu Gisell apalagi untuk meminta ganti rugi barang yang aku rusak. Bagaimanapun itu semua berawal dari kamu, kamu merusak barang temanku. Aku hanya membantunya sedikit memberimu pelajaran." Melia menatap Clara tajam.
"Ck!" Clara berdecak, dan memutar bola matanya malas.
Dengan sikap sombong, ia mendekat ke arah Melia dan menyeringai.
"Cuma barang seperti itu, di rumah ada banyak. Kenapa kamu begitu khawatir aku akan meminta ganti rugi?" ucap Clara dengan nada sombong.
Melia tidak bisa untuk menahan tawa mendengar ucapan sombong Clara dengan hidung bengkoknya.
"Ck! Memang aku yang miskin, jadi orang miskin sepertiku akan segera pergi dan tidak lagi mengganggu pemandangan nona besar," ujar Melia seraya terkekeh, sejurus kemudian menutup mulutnya dengan tangan.
"Ups!"
Polisi menghampiri mereka, mengatakan jika masalah sudah selesai secara kekeluargaan. Dan pihak Clara sudah meminta maaf, pun dengan Melia yang sudah menganggap masalahnya selesai asal Clara tidak lagi mengganggu temannya juga menindas orang seenaknya.
Masalah berakhir, polisi juga sudah melepaskan mereka dan mengizinkan pulang.
Dengan menangis Clara mengikuti langkah kedua orang tuanya keluar dari dalam kantor dan segera masuk mobil untuk pulang. Sementara Melia menghela napas lega, keluar bersama Erick diikuti Gisell dan kedua orang tuanya.
"Terima kasih sudah membantuku, aku akan mentlaktirmu makan lain kali," ucap Melia senang.
"Oke siap, itu bukan hal yang sulit! Kapan-kapan aku akan menagihnya," ucap Erick menyetujui sambil tersenyum ringan.
Di dalam sana Kevin mendengar jelas ucapan Melia, akan tetapi masih enggan keluar biarlah sampai gadis itu masuk ke dalam mobilnya bersama Erick, pikir Kevin.
Erick dan Melia masih asik mengobrol tanpa memperdulikan Kevin yang di balik kaca mobil mendekus sebal memperhatikannya.
Sementara orang tua Gisell tampak masih tak suka dengan Melia meskipun gadis itu berhasil menyelesaikan masalah dengan cepat.
"Sudah ku katakan padamu berulang kali, jangan bergaul dengan gadis sepertinya. Dia bekerja di club sepanjang malam apa masih bisa disebut gadis baik-baik? kecil-kecil sudah bekerja di tempat seperti itu, lama-lama kamu juga akan ikut-ikutan nakal jika terus menerus bergaul dengannya. Gisell, ibu tidak mau tau. Kedepannya kamu jangan pernah berteman lagi dengannya." tekan ibu Gisell melirik sinis ke arah Melia yang terpaku saat mendengar kata menyakitkan dari Ibunya Gisell.
Gisell yang mendengar penuturan sang Ibu merasa kecewa dan marah.
"Melia itu wanita baik-baik, Bu. Apa ibu tidak bisa jika tidak menilai sesuatu dari luarannya saja. Gisell sudah lama berteman dengan Melia, Bu. Terserah kalau ibu tak suka," ucap Gisell dengan nada meninggi.
"Berani kamu melawan ibumu, hah! Ibu dan ayah membesarkanmu bukan untuk jadi pemberontak!" desis ayah Gisell.
"Jangan karena dia berhasil menyuruh seseorang datang kesini untuk menyelesaikan masalah, ibu akan berubah sikap lebih baik padanya." Ibu Gisell mendekus sebal sambil melipat tangan di dada.
Mendengar hal itu, Erick menghela napas sembari menggaruk tengkuknya. Tak pernah menyangka, mau bagaimanapun baiknya Melia orang akan selalu menilai buruk dirinya.
Hanya karena bekerja di club? Erick menghela napas lagi.
"Bu, Melia bukan orang yang seperti itu." bela Gisell.
"Stop, Bu! Aku akan marah jika ibu bicara seperti itu tentang Melia. Melia tak kuliah juga karena tante Sintia sakit dan sedang dirawat." Gisell emosi, ia tidak seharusnya melawan orang tua. Namun, ibunya benar-benar keterlaluan dan membuatnya marah.
Hal tak terduga lainnya, ibu Gisell malah memukulnya, "Berani melawan orang tua kamu, sudah bisa cari uang sendiri, hah? cuma karena dia?" tunjuk ibu Gisell pada Melia.
Melia yang berada di samping mereka terdiam, tanpa bicara sepatah katapun. Ia sakit hati dengan ucapan Ibu Gisell, akan tetapi bagaimanapun wanita tua itu adalah ibu dari teman baiknya.
Erick meringis, udara mendadak dingin dan atmosfer disana terasa menegangkan. Mendadak ia merasakan ada firasat buruk dan hal itu benar. Erick mendengar suara pintu mobil terbuka. Tampak disana Kevin keluar dengan tangan mengepal dan sorot mata dingin nan tajam menusuk. Melia pun terkejut melihat keberadaan Kevin yang muncul tiba-tiba disaat masalahnya di kantor polisi sudah selesai.
"Kok Kevin bisa ada disini?" Melia bertanya kepada Erick seolah meminta penjelasan saat melihat Kevin berjalan ke arah orang tua Gisell.
Erick menggaruk kepalanya, sepertinya emosi Kevin sudah meledak karena dipastikan ia mendengar semua pembicaraan orang tua Gisell lewat sambungan ponselnya.
"Ehm, sebenarnya tadi waktu kamu menelpon, aku sedang minum kopi bersamanya di caffe," ucap Erick tersenyum kecut.
Melia seketika membulatkan matanya tak percaya, apa itu artinya Kevin tau jikalau dia meminta bantuan kepada Erick. Mungkin iya, tapi apakah Kevin juga tau apa-apa yang telah ia bicarakan pada Erick? seketika Melia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Melia bingung sekaligus malu, ia lantas menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Berfikir, kenapa Kevin muncul setelah masalahnya selesai? apa dia sengaja?
Kevin, ia bahkan tak menatap Melia sama sekali. Pandangannya dingin nan tajam menatap kedua orang tua paruh baya yang sudah Kevin pastikan berbicara buruk tentang Melia.
"Apa menurut kalian semua orang yang bekerja di club malam adalah orang yang jahat?" tanya Kevin dengan nada penuh emosi kepada orang tua Gisell. Ibu Gisell terkejut saat tiba-tiba muncul seseorang dengan pakaian mahal menghampiri mereka penuh emosi.
"B-bukan B-begitu," ucap ayah Gisell pun ibunya terbata-bata.
"Gadis dengan wajah cantik, bekerja di tempat seperti itu apakah bisa menjadi orang yang baik?" tanya mereka kemudian setelah terdiam beberapa saat.
"Jika kalian kehilangan pekerjaan kalian, dan anak kalian harus kuliah sementara pekerjaan yang tertinggal hanyalah cleaning service di club malam, apakah kalian akan melakukannya?" tanya Kevin setengah membentak.
Terbata-bata orang tua Gisell bertanya, "mana mungkin kami akan kehilangan pekerjaan?"
Kevin menyeringai dan menatap dingin mereka satu persatu.
"Mana mungkin? Heh, aku bisa membuat kalian kehilangan pekerjaan segera dan saat ini juga!" bentak Kevin.
Deg!
Melia tertegun, lagi dan lagi sikap Kevin membuatnya merasa sangat beruntung sekali lagi.
*Apa dia mendengar semuanya? mendengar orang tua Gisell menghinaku?
Sikapmu yang dingin membuatku bingung, kadang baik kadang menyebalkan tapi bersamamu membuatku merasa selalu istimewa~
MELIA*