One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 90



Di kediaman Lyn, Bramantyo menatap tajam istrinya karena tak sengaja mendengar rencana Lyn dan Viona.


"Kamu ini, nyuruh aku gak perduli sama mereka tapi kamu malah mengingkari janji. Aku kan sudah bilang, berhenti mengusik mereka." Raut wajah Bram sudah menggelap sedari tadi menahan amarah.


"Kamu kan yang mulai, wanita ja lang itu memang pantas diberi pelajaran!" desis Lyn.


"Sudah berani melawan kamu? Sintia bukan ja lang, aku yang menipunya dan itu semua berawal dari kamu. Kamu yang selingkuh dengan bawahanku, kamu pikir aku tak tau hah? kurang sabar apa aku sama kamu? Siapa yang anak haram disini? harusnya kamu sadar diri." Bram berapi-api, sementara Lyn mematung, karena ucapan Bram benar adanya, ia pernah melakukan selingkuh beberapa kali bahkan menutupinya hingga sekarang. Di balik tembok, Viona yang mendengar itu pun tertegun.


"Siapa anak hasil selingkuhan?" batinnya mendadak tak nyaman.


"Aku tidak pernah ya, mengungkit Liona itu bukan anakku? tapi kamu? kamu selalu menyakiti darah dagingku, setidaknya ia lahir karena aku menikahi ibunya meski siri."


Lyn mematung dengan tubuh merosot.


Viona tertegun dengan napas sesak mendengar penuturan papanya.


"Jadi aku anak haram?" Viona muncul, dengan mata memerah, Bram hanya melengos melewatinya dan naik ke lantai atas.


"Ma, jawab Ma?" teriak Viona.


Lyn tak menjawab, akan tetapi air matanya sudah berderai sedari tadi, bahkan kini Viona berusaha mengguncang bahu Mamanya.


Bram naik ke lantai atas, mendapati Karina berdiri di lantai dua, ia sudah memastikan jika putri pertamanya itu mendengar semua.


"Kemasi barangmu, jika kamu mau ikut dengan Papa." Bram berujar seraya berulang kali menghela napas kasar, ia tau Karina adalah anaknya karena Karina memiliki garis wajah mirip dengannya. Tapi Liona, Bram pernah mendengar pembicaraan Lyn dan bawahannya tentang status anak itu.


Karina terdiam, akan tetapi sikap sang Mama benar-benar keterlaluan. Ini bukanlah kesalahan sang papa sepenuhnya, mamanya ikut andil dan yang membuat Karina muak dan enggan selama ini adalah sikap mama yang selalu menyalahkan Tante Sintia terus menerus.


"Karin ikut papa." Karina berujar tanpa ekspresi.


"Baik, kita temui dulu tante Sintia sebentar. Setidaknya papa tidak ingin pergi dalam keadaan terburuk." Bram berujar dengan keputusasaan. Ia berencana mengajak Karina ke luar negeri dan membiarkan Lyn intropeksi diri.


***


Bram menyeret kopernya, dibelakangnya ada Karina yang datar tanpa ekspresi.


"Aku dan Karina akan pergi sementara waktu, kamu nikmati waktumu dan semoga dengan ketidak adanya diriku dan Karina. Kamu bisa intropeksi diri."


"Aku minta maaf, tolong jangan pergi! Karina kamu dengerin mama kan?" Lyn memegangi tangan Bram dan Karina bergantian.


"Maaf, Ma. Sebenarnya Karin sudah lama kecewa sama Mama. Karin sudah mendengar semua yang mama lakukan dengan Viona, apa kalian ini tidak punya hati? terlebih Tante Sintia dan Melia cuma korban."


Lyn terdiam, air matanya berderai.


"Kak..." Viona mengurungkan niat, ia tak berani berkata apapun, terlebih fakta bahwa dirinya anak dari hasil perselingkuhan telah mengikis hatinya. Kini ia pun merasakan apa yang Melia rasakan.


"Viona, papa tidak pernah membencimu sama sekali. Kamu tahu karena apa? karena papa juga hanya manusia yang punya kesalahan, tapi disini papa kecewa sama mamamu yang tidak bisa berdamai dengan masalalu," ucap Bram dengan nada lemah.


"Maaf," ucap Lyn menunduk.


Bram berlalu disusul Karina. Setelah mereka pergi tangis Lyn juga Viona pecah.


***


Melia tampak berantakan karena lelah menangis, rambutnya acak-acakan dan wajahnya kusut. Tak berselang lama, Kevin masuk sambil membawa makanan.


"Mel..." Kevin terkejut melihat keadaan Melia dan buru-buru mendekat.


Melia memalingkan wajahnya, dengan tatapan kosong.


Menghela napas, Kevin pun duduk dan menatap Melia. Tangannya menggenggam erat gadis itu.


"Aku minta maaf," ucap Kevin. Melihat keadaan Melia sekarang, sudah dipastikan kalau gadis itu sudah tau perihal kehamilannya.


"Ini semua salahku, kamu berhak marah. Aku cukup tahu diri karena bagaimanapun ini semua berawal dariku. Mel, kamu boleh membenciku seumur hidup tapi aku mohon lahirkan anakku," ucap Kevin.


"Hiks..." tangis Melia pecah, Kevin mendekat dan memeluknya karena posisi Melia yang saat ini terduduk.


"Aku mohon, kita menikah ya?" Kevin mengusap punggung Melia berusaha untuk menenangkan.


Hening, tak ada jawaban.


"Mel," Kevin menangkup dua pipi Melia bahkan gadis itu pasrah-pasrah saja.


Detik berikutnya, Kevin memakas jarak. Melia tak menolak sama sekali saat bibir Kevin tiba-tiba mendarat di bibirnya dan menjelajah disana. Tak ada penolakan, akan tetapi juga tak ada respon hingga akhirnya Kevin melepas ciuman.


"Mel, jangan gini. Aku kangen Meliaku yang bawel dan pembuat onar."


Lagi-lagi tak ada jawaban.


"Aku minta maaf, aku terlalu syok untuk keadaanku sekarang. Entah harus senang atau sedih, tapi setidaknya aku bersyukur karena kamu mau tanggung jawab!" batin Melia, ia sebenarnya ingin berbicara. Namun, melihat Kevin yang bersikap sangat manis membuat Melia ingin mendiamkannya sebentar.


"Kamu makan ya? aku suapin." Kevin meraih makanan yang tadi ia bawa, harumnya menguar menusuk lubang hidung.


Krukk! Bunyi perut Melia terdengar nyaring.


"Laper kan, tuh kedengeran bunyinya. Aku suapin ya?"


Melia mengangguk tak bersuara.


Namun, tangan Kevin yang lihai membuatnya tergoda.


"Aa..."


Melia membuka mulutnya, dan entah kenapa suapan Kevin nyatanya membuat selera makannya menikat jadi lahap.


"Enak kan?"


Melia mengangguk, kali ini dengan senyum tipis. Melihat senyum itu, Kevin langsung mengacak rambut Melia dengan gemas. Tindakan impulsif yang sering ia lakukan saat berdekatan dengan Melia.


"Makan yang banyak sayang, Calon ibu dari anakku harus sehat."


"Uhukk..." Melia terbatuk, segera Kevin mengambilkan minum.


Sejujurnya Melia sudah tak tahan dengan godaan mulut manis Kevin, ingin rasanya ia tenggelam di rawa-rawa karena sudah dipastikan pipinya saat ini merona bak udang rebus.


Di ruang lain, Sintia menatap jendela dengan perasaan cemas. Sejak pengawal mengabarkan Melia masuk angin dan tak bisa menjaganya, Sintia merasa gelisah dan khawatir lantaran tadi Melia baik-baik saja bahkan berjanji akan menjaganya untuk beberapa hari ke depan.


Dokter Revan masuk.


"Sore tante," Sapanya dengan senyum ramah. Sejak mengenal Melia membuat Revan cukup akrab dengan Sintia.


"Saya periksa dulu," ujar Revan.


Sintia mengulas senyum.


"Tante, kondisinya sangat stabil. Kebetulan ada orang yang akan mendonorkan ginjalnya untuk tante Sintia. Untuk beberapa hari ke depan, jangan banyak fikiran agar kondisi stabil."


"Baik, Dok! terima kasih."


"Sama-sama tante, oh ya Melia mana?"


"Melia tidak enak badan, tadi dia pulang." jawab Sintia.


"Oh, ya sudah. Kalau begitu saya permisi, selamat istirahat tante." Revan pamit keluar.


Sementara Bram, ia sudah mantap dengan keputusannya mendonorkan ginjal untuk Sintia. Ia sangat khawatir saat tahu kalau Sintia ternyata selama ini dirawat di rumah sakit. Ancaman Lyn membuatnya tidak tahu bagaimana keadaan wanita yang pernah menjadi pelariannya dulu.


LIKENYA JANGAN LUPA DI TEKAN YA SAY, BONUSIN GIFT JUGA BOLEH😗