One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 39



Liona tak akan mundur hanya karena sikap Melia, ia harus bisa berbaikan dengan Melia dan Sintia dulu agar lebih mudah untuk mendekati Kevin nantinya. Melia yang sebal pun berusaha mengusirnya keluar.


🍁🍁🍁


Liona mengulas senyum simpul, terlebih saat Melia menunjukkan sikap ketidaksukaan atas kehadirannya di rumah sakit. Liona masih tak menyerah, ia malah semakin gesit menunjukan sikap kepura-puraannya kepada Sintia. Terlebih melihat Sintia yang mudah sekali dibodohi membuat Liona memutar otak.


"Tante, boleh aku disini lebih lama. Aku ingin menebus kesalahanku denga menjaga tante lebih lama. Tante tahu, aku sangat menyesali perkataanku di Mall waktu itu, tapi sepertinya adik Melia belum bisa memaafkanku." Liona menampilkan raut wajah berkacanya lantad menoleh ke arah Melia yang semakin memasang wajah sebal.


"Adik, bolehkah?" pintanya, padahal jelas-jelas Melia sudah menyuruhnya pergi saja, dan jangan kembali mengusik dia dan ibunya.


"Kamu nggak denger aku tadi ngomong apa? percuma kamu disini, merusak moodku. Lagi pula, aku bisa menjaga ibuku sendiri. Kenapa tak kamu jaga mamamu agar tidak menyakiti ibuku lagi." ketus Melia.


"Mamaku sehat, aku cuma mau lebih lama disini nemenin tante Sintia sebagai permintaan maafku, Mel. Kamu jangan usir aku ya, aku jadi semakin merasa bersalah lho."


Ingin rasanya Melia menjambak rambut Liona kuat-kuat, entah kenapa ia tak ingin mempercayai perkataan wanita itu. Mau tulus atau tidak, Melia bukan orang yang bodoh untuk ditipu hanya dengan drama ikan terbang. Cuma butuh air mata sedikit bisa meluluhkan orang.


"Ck!" Decak Melia.


Liona tersenyum dalam hati, sepertinya Melia sudah kesal mengusirnya sehingga hanya bida berdecak. Dan kesempatan itu akan Liona gunakan sebaik-baiknya untuk membuat kesan bagus di mata Sintia.


"Tante, aku baru tau kalau adik Melia tidak lanjut kuliah karena menjaga tante yang dakit, aku sangat sedih mendengarnya..." Liona melirik sekilas ke arah Melia, menantikan ekspresi gadis itu. Namun, wajah Melia masih sama datarnya tak berekspresi mendengar perkataannya.


"Iya, dia hanya tamat SMA."


"Tante, aku janji akan mencari fakultas terbaik untuk Melia. Dia harus melanjutkan studynya dan aku yang akan membantu sebisaku."


Melia mendongkak, drama apa lagi ini! Batinnya.


Mendengar penuturan Liona membuat Sintia sangat terharu hingga berkaca-kaca.


"Ona kamu baik banget, kamu memikirkan nasib Melia. Andai kamu tahu, kalau Melia saudaramu dari dulu."


"Ck! jangan harap, aku cuma akting. Enak aja saudara, orang dekil kaya kalian mana pantas." batin Liona akan tetapi ia tutupi dengan senyum kepura-puraan.


Seolah bisa membaca fikiran Liona, Melia lantas tertawa sinis hingga Sintia menatap tajam ke arahnya.


"Kalau Melia mau, aku bisa carikan fakultas terbaik untuknya, itu kalau Melia mau tante."


Melia memutar bola matanya kesal, "Gak perlu, aku gak butuh bantuanmu."


"Mel jangan begitu." tegur Sintia.


"Ehmm, karena memang tidak perlu. Calon tunanganku sudah mengatur semuanya, Ibu tahu kan Kevin itu baik banget sama aku, dan aku yakin kalau dia sudah mempersiapkan untukku yang terbaik." Melia melirik sekilas ke arah Liona yang berubah kesal, lalu tersenyym sinis. Sebenarnya, Kevin hanya meminta Melia untuk berhenti bekerja. Ia hanya memanfaatkan nama Kevin untuk memancing Liona. Karena Melia fikir, ini ada kaitannya dengan Kevin.


"Aku harap ibu sadar dan segera mengingat Kevin sudah terlalu baik." batin Melia.


Benar saja, Sintia pun tersenyum.


"Oh oh ya Mel, ibu lupa kalau calon menantu ibu sudah mempersiapkan semuanya." Sintia mengulas senyum.


"Wah, adik udah punya calon ternyata. Pastikan dia orang terbaik untuk mendampingi kamu, Mel." Liona setengah memuji.


Mengingat segala kebaikan Kevin, Lantas Sintia punya ide.


"Apa kamu sudah lama tidak mengunjungi Kevin, Mel?" tanya Sintia.


"Dia bukan pasien yang harus dikunjungi setiap hari, Bu."


"Kau datanglah ke tempat Kevin, bekal itu kau bawa saja untuk dia. Ini, tadi ibu sudah makan. Kevin sempat bilang bahwa makanan yang kamu masak sangat enak dan cocok di lidahnya," Ucap Sintia. Mendengar itu Liona sangat geram dan kesal.


"Dasar tidak tau diri, berani sekali menggoda Kevin Reyhan Louis." Batin Liona menahan amarah.


"Ayo Mel, kamu kunjungi dia sesekali. Kevin sudah baik sekali sama kita." bujuk Sintia.


Melia tetap menggeleng, "Nggak mau."


"Jangan membuat ibu kesal lagi, Mel."


Disisi lain, Melia tengah memikirkan sesuatu. Melia teringat kejadian di dalam toilet saat ia menghajar Kevin waktu itu. Melia sangat kesal, kemarin malam dia bahkan bertemu dengan perempuan yang masuk ke dalam toilet pria dimana Kevin berada waktu itu, wanita cantik itu menghampiri seorang pria tua dan memanggilnya suami, sungguh menjijikkan.


Melia menggeleng pelan sambil bergidik.


"Jangan-jangan Kevin memang pebinor, ish kok bisa sih. Tapi sikap Kevin yang seperti itu, masa' dia perembut bini orang?" batin Melia berkecamuk.


Melia akui, wanita itu cantik, modis, dengan body bak gitar spanyol tentu membuat pria manapun akan tergoda. Lekuk tubuhnya selalu kentara, tapi kenapa harus Kevin?


Jelas-jelas Kevin menolak Laras di hadapannya, tapi di belakangnya?


Melia tak habis fikir dengan itu.


"Ayo, Mel. Kamu harus mengunjunginya. Jangan nunggu ibu yang maksa baru kamu mau kesana."


"Nggak, ngapain sih Bu. Jangan paksa Melia deh."


Liona yang mendengar penolakan Melia kepada ibunya pun mempunyai rencana licik. Namun, untuk saat ini ia tidak bisa langsung mengatakannya.


Melia menghela napas, sejujurnya ia sangat tak ingin membentak sang ibu. Tapi bagaimana lagi, ia benar-benar sedang tidak mood bertemu dengan Kevin semenjak tahu jikalau wanita yang dikencaninya istri orang.


Pikiran Melia ambyar, ia hanya menghindari perdebatan, dan jalan satu-satunya adalah tidak menemuinya.


"Kamu kenapa sih Mel, apa tidak bisa menuruti ibu. Lagi pula dia calon tunanganmu, dia sudah sangat baik dengan kita, apa kamu tidak bisa bersikap lebih baik pada Kevin." Sintia sangat marah atas sikap Melia yang seperti itu.


Berbeda dengan Liona, dirinya yang mendengar penuturan Sintia hanya mampu memcibir dan mengumpat dalam hati, sementara wajah tetap memasang senyum ramah.


"Kalau ibu mau mengantarkan makanan untuk Kevin, ibu saja sendiri yang mengantarkannya, aku tidak akan pergi kesana dan menemuinya." kesal Melia, dan mendengar penuturan Melia, Liona semakin bersorak dalam hati karena sebentar lagi ia akan menggunakan kemampuan aktingnya untuk berbicara dengan Sintia. Biar saja, biar Melia tau rasa jika nanti Kevin akan menyukainya.


Sintia yang mendengar penuturan Melia pun merasa kecewa, tak habis fikir apa yang ada di otak Melia.