One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 36



Rumah sakit tampak sepi sore itu, Melia menggenggam erat tangan sang Ibu.


"Apa calon suamimu tidak marah, yang ibu tahu dia tidak suka kamu bekerja disana." Sintia menatap heran ke arah putrinya.


"Kevin tau mana yang terbaik untuk kamu, Mel. Mungkin, dia tidak ingin calon istrinya kenapa-napa. Tempat itu terlalu bahaya, Ibu sendiri juga was-was tiap kamu pergi bekerja. Apalagi malam hari adalah tempat dimana penjahat berkeliaran."


"Ibu tenanglah, Mel bisa jaga diri." elak Melia, andai saja Ibunya tahu, jikalau dirinya sudah sangat mengecewakannya.


"Lagi pula, cuma sampai akhir bulan Bu, dan setelah itu Melia akan berhenti sesuai janji Melia pada Kevin." sambungnya lagi.


Sintia yang mendengar penuturan Melia pun merasa sangat senang, ia merasa bahwa calon menantu dan anaknya terlihat saling menyayangi. Bahkan Kevin juga tidak ingin Melia bekerja disana, ia pasti juga tak ingin Melia kenapa-napa.


🍁🍁🍁


Brakkkkk!


Liona meluapkan kekesalannya sampai di rumah, menghempas tasnya asal ke sofa dan duduk dengan emosi di kepala.


"Sia lan." pekik Lyn kesal, ia juga tak kalah emosi dipermalukan di depan umum.


"Kesel, mereka siapa sih, Ma? bukannya hanya sekumpulan orang miskin. Berani sekali membuat malu kita," geram Liona.


"Kita harus membalasnya," ucap Lyn dengan tangan memijat pelipis karena pusing.


"Kau pun pantas marah, Ona. Bertahun-tahun mamamu ini menyimpan kebencian."


Liona yang tak mengerti maksud dari perkataan sang mama pun menautkan alisnya.


"Aku akan membalasnya, Ma. Seorang Liona pantang dibuat malu," geram Liona mengepalkan tangan. Jika marah Liona lebih mirip seperti singa. Sesuai dengan arti namanya.


"Kau tau Ona, mereka adalah orang ketiga. Mereka adalah perusak hubungan mama dan papamu."


Liona yang kesal setengah mati mendengar perkataan yang terlontar dari mama pun membelalakkan mata.


"Maksud mama?" tanya Liona, ia berusaha menghubungkan kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir sang mama sejak berada di Mall tadi. Dirinya cukup syok, lantas tubuhnya melemas seketika.


"Iya Liona, apa kamu fikir mamamu akan membenci seseorang tanpa alasan? Tidak Liona, mereka. Wanita itu dulunya istri siri ayahmu. Dan perempuan kampungan yang aku caci maki tadi adalah anak hasil hubungan mereka." Napas Lyn terengah.


"Benarkah itu, Ma. Berarti wanita itu yang menggoda papa." Liona kesal, ia semakin emosi setelah tahu kenyataan yang ada.


"Apakah tadi yang menolong mereka adalah papa, Ma? Apa papa menolong gadis kampung itu hingga membuat kita malu. Ma, aku tidak akan pernah membiarkan perebut kebahagiaan mama bisa hidup enak seperti itu. Kita harus membalasnya Ma."


"Bukan, Ona. Kakakmu sudah bahagia dengan orang yang tepat dan mama berharap kamu bisa merebut laki-laki kaya di belakang Melia kampung itu.


"Bentar deh Ma, terus papa gimana? apa selama ini papa masih sering bertemu mereka?" Tanya Liona, Lyn menggeleng.


"Papamu tidak akan perduli asal aku tidak menyakiti Melia dan Sintia, jadi hal ini jangan sampai papamu tahu."


"Iya, Ma. Tapi aku masih heran aja. Orang seperti mereka kok beruntung banget, nyebelin." Liona masih belum bisa mengontrol emosinya terlebih setelah tahu kenyataan bahwa Melia dan Sintia ternyata berhubungan dengan keluarganya.


"Mama mau kemana?" tanya Liona.


"Ke dapur, biar kepala kita tak meledak karena emosi." lantas yang dilakukan Lyn adalah mengambil dua botol air mineral dingin di dalam kulkas dan kembali menghampiri Liona.


"Minum dulu, setelah ini kita pikirkan cara."


Lyn menyodorkan minum, berharap kepalanya yang sedang berasap segera mereda dan ia bisa menemukan suatu ide untuk Liona.


Liona meraihnya, lantas meminum air dingin itu hingga separuh botol. Kepalanya mulai dingin. Tapi kobaran emosi dan kekesalan masih di puncaknya, ia merasa kesal dengan Melia. Dengan istri siri ayahnya. Terlebih setelah tahu kenyataan dari sang mama. Ingin rasanya Liona membuat dua orang itu menderita. Benar-benar menderita.


Beberapa menit kemudian, ia menyilangkan kaki dan bersedekap dada.


Dua wanita modis itu bergelud dengan pikiran masing-masing mencari ide untuk membalas perbuatan Melia hari ini.


"Gimana nih, Ma?"


Lyn masih mengedikkan bahu, "belum tahu, kita pikir nanti. Jangan sampai papamu tahu rencana kita."


Liona memutar bola mata, "sekarang mama kasih tau, laki sial mana yang mana maksud. Pasti mama sudah tau, jika tidak mama tak mungkin menyerang gadis bodoh itu terus menerus tanpa tau laki mana dibalik punggungnya." seru Liona.


Lyn mendekat ke arah Liona, ia pun menceritakan semuanya secara detail.


"Kau tau kan, Ona. Mamamu ini kepala rumah sakit Pusat Medika. Meski bukan pemilik dari rumah sakit itu, mama punya kuasa. Dan Sintia di rawat disana. Mama mulai melabraknya, membuat kondisinya memburuk dengan segala cara. Mencari kesempatan saat anak haram itu lengah dan tidak ada di rumah sakit." Lyn menjeda ucapannya, sementara Liona mendengarkan dengan tangan mengepal.


"Terus, Ma."


"Terus mama menggunakan kekuasaan mama untuk menindasnya, hingga tiba-tiba kamar Sintia pindah kelas VIP setara dengan kelas pejabat-pejabat. Mama marah, tapi laki sial itu datang. Dan kamu tau dia siapa?"


"Enggak, mama belum ngasih tau." Singkat Liona.


"Laki-laki itu Kevin Reyhan Louis." tegas Lyn, dan itu membuat Liona membulatkan mata.


"Kevin, astaga Kevin. Breng swk! Rupanya ia berhasil lebih dulu menggoda laki-laki kaya, tapi bagaimana mungkin?" Liona mengusap wajahnya kasar. Ia sangat tau siapa Kevin, laki-laki dingin dan arogan. Sangat sulit disentuh oleh siapapun, bertolak belakang dengan Gio, meski wajah mereka hampir sama.


Sial.


"Bukannya mereka beda ma, aku tau Kevin siapa dan itu wanita kampung bukannya hanya wanita miskin. Mereka sangat tidak cocok menurutku."


"Itulah sebabnya, dan Mama sudah membuat kesalahan besar karena tidak mengenali laki-laki itu dari awal. Mama memaki Sintia dan bertengkar hebat di depannya. Mama tak terima, kamu harus bisa mengambil hati Kevin. Mama akan bantu temukan cara," ucap Lyn penuh keyakinan.


"Kevin terlalu sempurna, Ma. Aku setuju, dia sama sekali tak pantas mendampingi laki sesempurna Kevin."


Sementara di rumah. Melia tengah bersiap untuk bekerja. Ia akan menikmati waktu-waktu terakhirnya di Red Apple sebelum Kevin si menyebalkan itu melarangnya bekerja.


"Gara-gara bilang, aku tak butuh uangnya. Lantas ia hanya memanjakan ibuku. Dasar tidak peka, harusnya ia berbaik hati padaku karena bagaimanapun aku ini kan calon istrinya." Melia menggerutu, dengan tangan bergerilya di wajah. Ia harus kembali merubah tampilannya kembali jelek.