One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 60



Laras memelototi Verell, mengkode agar adiknya itu menurut saja. Laras berdecih, menatap tajam ke arah Melia yang bersembunyi di balik tubuh tegap Kevin. Satu hal yang sangat Laras benci, Kevin selalu melindungi gadis itu.


"Aku percaya dengan Melia, dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang kamu tuduhkan, lagi pula bukankah jika ia melakukan itu aku sudah pasti akan mengetahuinya langsung?" Kevin masih terus membela Melia, membuat kobaran api semakin menyala di mata Laras.


"Dan lagi, apa kamu lupa bagaimana dirimu sebelumnya. Bagaimana tingkah polahmu, yang membuatku muak. Apa kamu tidak pernah melihat seperti apa dirimu yang jauh lebih buruk dari Melia, hah?" bentak Kevin dengan tatapan dingin penuh kebencian, ia tak suka dengan tindakan Laras yang menurutnya terlalu berani.


"Punya keberanian dari mana kamu untuk menyentuh orangku, bahkan kamu berniat mencelakainya? kamu fikir, aku akan diam saja?" teriak Kevin, Melia yang bersembunyi di balik punggingnya sampai bergetar.


Verell tak kuasa menahan senyum, laki-laki ini pasti memiliki hubungan dekat dengan Melia. Meski begitu, ia cukup khawatir karena tadi sempat meminta Melia menjadi pacarnya, berharap hal itu tak menjadi boomerang setelah ini.


"Baiklah, terserah kamu mau percaya padaku atau tidak. Namun, kamu sendiri tahu bagaimana dia berusaha melukai wajahku dan merusaknya," ucap Laras tersenyum smrik.


Melia yang merasa tak terima pun membela diri.


"Aku hanya membela diri, karena dia berusaha melukai wajahku, dia bilang jika wajahku rusak maka aku tak bisa bersamamu lagi, aku tidak bisa menggodamu lagi, padahal kamj sendiri tau siapa sebenarnya yang lebih pantas mendapat julukan penggoda." Lirih Melia, tangannya sudah terlepas dari genggaman Kevin. Berubah posisi jadi memegang erat jaket Kevin disisi kiri dan kanan, lalu menenggelamkan wajahnya.


"Kau, kau membuat orangku ketakutan. Kau berniat mencelakai Melia dan sekarang kau memutar balikkan fakta." geram Kevin.


Laras berusaha bersikap santai, memutar bola matanya malas dan menatap Kevin.


"Dia sudah melukai wajahku, dan aku mau tau bagaimana kamj menyelesaikannya." protes Laras tak terima.


"Dan soal itu, aku tidak sengaja melakukannya karena dia sendiri yang berusaha melukaiku lebih dulu, aku hanya membela diri, melindungi diriku sebisaku karena bisa jadi dia bukan hanya berniat melukaiku, tapi juga membunuhku. Seseorang dalam keadaan tertekan pasti juga melakukan hal yang sama denganku, melindungi dirinya sendiri." jelas Melia menunduk, ia belum berani mendongkakkan wajah untuk sekedar menatap manik mata hitam milik Kevin.


"Kamu tak perlu menjelaskan apapun, aku percaya!" Kevin berkata lirih membuat Melia tak kuasa menahan haru.


"Lalu bagaimana kamu akan menyelesaikannya?" tanya Kevin pada Laras.


Merasa mendapat kesempatan, Laras pun tersenyum licik penuh rencana.


"Simple saja, aku hanya ingin dia bersujud meminta maaf padaku dan membiarkan aku juga melukai wajahnya, bagaimana?" Laras tersenyum dingin.


"Jika tidak, ehm aku akan mengadukan hal ini kepada ayahku agar dia mencari keluarga Louis." ancam Laras lagi disertai seringai licik.


Melia meradang, ia mendongkakkan kepala menatap tajam ke arah Laras yang saat ini tersenyum licik penuh rencana.


"Kamu jangan keterlaluan, jelas-jelas kamu yang mulai duluan, kamu yang mencari masalah duluan denganku, kenapa aku harus minta maaf?" Melia tak terima.


"Karena aku adalah nona besar di rumahku, di keluargaku. Dan kamu harus tau, keluarga Kevin tidak akan berani membuat masalah dengan keluargaku," ucap Laras, dia pikir bahwa Kevin belum menjadi kepala keluarga, posisinya di keluarga Louis belum stabil, itu bisa Laras gunakan untuk mengancamnya karena Kevin pasti tidak akan berani untuk


membuat masalah besar karena banyak orang-orang yang saat ini sedang mengincar posisinya.


"Kamu mungkin lupa, posisimu yang sedang tidak stabil, banyak orang-orang mengincarnya. Tentu kamu tidak akan melakukan kesalahan apalagi bermusuhan dengan keluarga." ancam Laras.


Begitu mendengar perkataan Laras, Melia merasa bersalah, lagi dan lagi ia hanya bisa merepotkan Kevin. Sepertinya kesalahan yang dilakukan Melia kali ini sangat fatal.


"Apa aku sangat merepotkanmu?" tanya Melia berbisik, ia merasa sangat bersalah, terlebih Laras juga punya kuasa untuk membalas Kevin.


"Ternyata kamu juga tau kalau dirimu cukup merepotkan," desis Kevin.


"Aku tahu," potong Kevin cepat, "Aku tidak pernah menyalahkanmu sama sekali, jadi aku minta kamu cukup patuh saja." sambung Kevin lagi. Melia menunduk, matanya berkaca-kaca, hatinya menghangat mendengar penuturan Kevin, Melia merasa Kevin sebenarnya sangat memperdulikannya.


Kev, aku nggak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Yang jelas tiap kali denganmu, aku selalu merasa aman.


Melia merasa sangat beruntung, dari pertama kali Kevin datang. Laki-laki itu terus membelanya, terus mempercayainya dan selalu di sisinya membuat Melia merasa pertama kali dibela oleh orang, dan perasaannya kini merasa sangat nyaman.


Kevin menatap tajam ke arah Laras, "karena kamu ingin membesarkan masalah, aku tidak keberatan untuk menemanimu pulang ke rumah."


Laras yang mendengar penuturan Kevin pun mengernyit heran.


"Apa yang akan kamu lakukan, Kev?" tanya Laras tak mengerti.


Kevin menyeringai, "tentu saja memperbesar masalah, bagaimana?"


Laras berdecih tak senang, ia tak menyangka jikalau Kevin akan terus menerus membela Melia bahkan sampai berniat datang ke rumahnya. Laras yang sebal dan sakit hati pun tak terima, seharusnya Kevin cukup menyerahkan Melia padanya.


"Kenapa sih, kamu gak nyerahin wanita itu saja. Kenapa kamu terus menerus membelanya, jelas-jelas dia bersalah. Aku cuma bantuin kamu, tapi kamu malah terus-terusan bela dia. Kev, dia itu sama sekali gak pantas buatmu." cerca Laras.


Kevin hanya membalas dengan tatapan dingin, beberapa pengawal ia biarkan meringkus bawahan Laras.


Sial.


Laras terus menggerutu. Sementara Melia, bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum tipis.


Haruskah ia tertawa senang kali ini? Haruskah ia merasa bahagia dan beruntung karena kehadiran Kevin di sisinya? Mungkin jawabannya memang iya.


Bertemu dengan Kevin bukan hanya kebetulan, tapi lebih mirip seperti 'kesialan yang manis'


Kevin tertawa dingin.


"Kamu tau dia wanitaku, bahkan jika dia bersalah pun aku bisa membawanya pulang dan menghukumnya sendiri, aku tidak butuh orang lain untuk ikut campur, apalagi menyuruh orang lain menghukumnya." tegas Kevin sekali lagi membuat Laras berdecak kesal, hatinya semakin sakit kala mendengar Kevin dengan tegas mengatakan akan menghukum Melia sendiri, hukuman macam apa? pikir Laras dalam hati.


Laras semakin kesal dan meradang, ia juga semakin membenci Melia.


*Kita lihat saja nanti, Melia.


Hanya karena Kevin membelamu, apa kamu fikir akan membuatku berhenti, ha ha tentu saja tidak! Kita lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkan siapapun merebut orang yang aku sukai.


Kalau aku tak bisa mendapatkan Kevin, orang lain pun juga tak boleh memilikinya.


Laras*_


LIKE KOMEN DAN VOTE YA KAK, MAMACIH💃🏻💃🏻


VOTE GRATISNYA BOLEH BANGET DISUMBANGIN😘