One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 41



Sintia berubah muram seketika, menyesal telah membiarkan Liona pergi untuk mengantar makanan ke kantoor LS Group.


"Mel, gimana kalau Liona macam-macam sama Kevin?" Sintia yang khawatir pun mulai gelisah, ia memikirkan nasib Melia.


"Mel, ibu jadi sedih membayangkannya."


"Ibu tenang aja, lagian Kevin itu orangnya setia. Dan Melia yakin tidak akan terjadi apa-apa." Melia berusaha menenangkan Sintia, meski sebenarnya dalam hati juga tahu seperti apa sosok Kevin sebenarnya, bisa jadi ia juga akan tergoda dengan kakak tirinya lantaran Kevin sendiri juga pernah berkencan dengan istri orang. Membayangkan saja membuat Melia berulang kali menghela napas kasar.


"Tapi kamu mau kan Mel susulin Liona, iya kan? Kamu pasti juga gak mau Kevin digoda," ucap Sintia dengan wajah murung.


"Baik, bu. Tapi ibu makan dulu ya."


Sintia mengangguk lalu tersenyum, wajahnya kembali sumringah setelah mendengar penuturan Melia.


"Janji ya, harus di susulin."


"Iya iya, Bu. Sekarang ibu makan dulu. Aku buatkan bekal lebih."


"Punya Liona itu?"


"Kita tidak tahu, Liona menaruh apa di bubur ikan itu, siapa tahu Liona menaruh racun di dalamnya. Antisipasi itu perlu, lagi pula dia sebelumnya merendahkan kita, kok iya tiba-tiba berubah manis kalau gak ada maksud ya gak mungkin." terang Melia.


"Iya-iya, Mel. Maafin ibu yang langsung percaya gitu aja tanpa tau tujuan Liona apa. Ibu akan makan, kamu segera ke kantor Kevin."


Melia mengangguk, tuk kemudian pamit kepada Sintia.


Liona melajukan mobilnya menuju LS Group, setelah membenahi penampilannya yang sempurna, ia semakin tak sabar untuk bisa bertemu dengan Kevin. Jalanan yang sepi membuat Liona semakin senang, ia bahkan tak perlu terjebak macet atau berlama-lama di jalan yang penuh polusi dan debu.


"Kevin Reyhan Louis, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku dan mencampakkan Melia bodoh itu," gumam Liona dengan tawa jahatnya.


Disisi lain, Melia berjalan keluar area rumah sakit dengan tergesa. Bukan karena khawatir, melainkan ingin segera sampai di LS Group dan melihat tujuan Liona sebenarnya. Disinilah Melia, di depan rumah sakit menunggu taksi yang terasa lama sekali tak kunjung lewat, ia tak mungkin kesana dengan motor. Bisa jadi hancur penampilannya nanti di depan Kevin.


"Untung tadi aku memakai dress pemberian ibu, jadi penampilanku tidak terlalu buruk di depan Kevin." Melia melambaikan tangan saat melihat mobil bertuliskan taxy menuju ke arahnya.


"Taxy..."


"LS Group ya pak." Sopir itu mengiyakan. Namun, raut wajahnya menampilkan rasa penasaran dan itu membuat Melia sedikit risih.


🍁🍁🍁


Mobil Liona sudah sampai di depan lobi LS Group. Dirinya membenahi kembali tampilan make up sebelum turun mobil dan masuk ke dalam kantor menjulang tinggi itu.


"Permisi, bisa bertemu dengan Tuan muda Louis?" tanya Liona seraya tersenyum ramah. Orang-orang yang berlalu lalang di lobi tak sedikit juga yang memperhatikan dirinya. Liona menegakkan wajah dan memasang senyum termanisnya.


Resepsionis LS Group itu tampak tertegun, pandangannya menyapu penampilan Liona dari atas sampai bawah. Calon istri Tuan, pikirnya. Karena resepsionis itu tak hapal dengan wajah Melia sebelumnya. Melihat rantang bekal di tangan Liona, Resepsionis itu berfikir mungkin wanita di hadapannya saat ini benar-benar wanita Tuan Muda Louis.


"Tunggu sebentar ya, kak. Silahkan duduk dulu, saya akan telepon sekertaris pak Kevin."


"Baik," ucap Liona dengan seulas senyum lantas duduk di sofa tunggu seberang meja resepsionis.


"Hallo pak Alan, ada seorang wanita ingin bertemu dengan pak Kevin," ucap Resepsionis di sambungan telepon. Alan yang sedang mengecek dokumen pun mengernyit heran.


"Wanita itu membawa bekal makan siang untuk pak Kevin." sambungnya, Alan sedang memikirkan sesuatu, apa mungkin itu Melia? Lantaran hanya wanita itu yang pernah datang dan membawakan makan siang untuk Kevin.


Resepsionis itu pun menghampiri Liona, mengatakan jikalau sekertaris CEO menunggu di atas untuk diantar ke ruangan Kevin.


"Langsung saja ke atas, Mbak. Pak Alan nanti akan menunggu anda di lantai delapan dan mengantarkan anda langsung ke ruangan CEO."


Liona yang tengah sibuk dengan ponselnya pun mendongkak dan langsung mengangguk.


Tap tap tap, langkah Liona mencari dimana letak lift berada. Liona begitu takjub dengan kantor LS Group.


Sementara di dalam ruangan, Kevin memandangi sepatu yang waktu itu sangat diinginkan oleh Melia. Kevin tersenyum sendiri, ia mulai membayangkan bagaimana ekspresi Melia saat sepatu itu ada di tangannya. Kevin meletakkan kembali sepatu itu di dalam kotaknya, lantas menaruhnya di dekat meja.


"Mel, kok bisa sih kamu itu lari-larian di pikiran aku?" gumam Kevin yang masih tak mengerti, kenapa ia selalu memikirkan Melia. Gadis biasa yang jelas-jelas sangat jauh berbeda dengan kalangan dirinya.


"Kamu gak capek apa, bikin konsentrasiku buyar terus, hmm?" Kevin mengusap wajahnya.


Namun, Kevin tetaplah Kevin. Ia tidak bisa menggunakan perasaan untuk menjalin hubungan dengan Melia, bahkan saat mereka menikah nanti.


"Ck! Menikah?" Pelan-pelan ada yang menelusup di hati Kevin, perihal rencananya menikahi Melia. Tidak ada satupun keljarganya yang tahu hal itu.


🍁🍁🍁


Dada Liona berdebar kencang, di dalam lift ia terus menerus membayangkan manisnya jika nanti bertemu dengan Kevin. Liona juga sedang memikirkan, siasat apa yang akan ia gunakan nanti untuk menggoda Kevin.


Ting,


Pintu lift terbuka, Alan yang menantikan kehadiran Melia pun mengernyit heran lantaran bukan Melia yang datang akan tetapi wanita lain. Melihat Liona dari kejauhan sambil membawa bekal lantas Alan segera menelpon resepsionis.


"Hallo, Pak? ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu itu gimana sih, kenapa bukan calon istri pak Kevin yang datang kamu izinkan masuk hah!" bentak Alan yang membuat di seberang sana gugup.


"Maaf, tapi tadi bapak minta..." terpotong oleh bentakan Alan.


Lain kali kenali betul-betul wajahnya," ucap Alan memijat kepalanya pusing, lantas suar lembut menyapanya.


"Maaf, permisi. Apa bisa saya bertemu dengan Tuan muda Louis?"


"Kamu kesini dan antar dia kembali." perintah Alan di sambungan telepon lantas melirik ke arah Liona.


"Kamu siapa?" tanya Alan.


"Oh ya, saya kakaknya Melia. Kesini karena menggantikan Melia yang sibuk untuk mengantarkan bekal makanan."


Alan terdiam,


Sementara Liona memutar otak agar laki-laki di hadapannya saat ini percaya akan perkataannya.


"Melia sibuk menjaga tante Sintia di rumah sakit, tadi saya juga kebetulan di sana. Sekalian pulang, Melia menitipkan ini untuk Tuan muda Louis." Liona mengangkat kotak bekal makan siang, seharusnya Alan menyadari kotak bekal itu milik Melia jika memang gadis kampungnitu sering mengantar makan siang.


Alan merasa sangat pusing, tatapannya memindai penampilan wanita di hadapannya saat ini lalu terpaksa mengantarkannya ke ruangan Kevin.