One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 84



Ptpfff...


Erick hampir kelepasan tawa saat melihat Melia terus membujuk Kevin, sedangkan Kevin sebenarnya hanya ingin gadis itu merengek padanya. Erick tak pernah menyangka jikalau selera Kevin adalah gadis kecil yang suka bermanja-manja dan pasti pembuat onar.


Kevin merasakan tatapan Erick dari balik kaca spion itu pun memelototinya.


"Fyuhhh, aku menyesali perkataanku tadi," jawab Kevin.


"Ayolah, Kev. Boleh ya, aku janji akan jadi wanita penurut," bujuk Melia lagi.


"Aku pengen banget kuliah apalagi itu bareng-bareng sama Gisell, aku jadi bisa melindungi dia dari bullyan orang-orang dan pastinya kita bisa sama-sama terus." Melia menjelaskan tujuannya ingin kuliah kepada Kevin.


Pletakk!


Lagi-lagi Kevin menjitak kening, membuat Melia mengaduh kesakitan.


"Nah kan salah lagi?" tanya Melia dengan muka polosnya. Kevin yang sebal pun jadi terbahak karena tingkah imut Melia.


"Hm, kamu sekarang dah mulai hebat ya? ingin masuk kuliah bukan karena memikirkan masa depan malah karena ingin melindungi teman." omel Kevin melipat tangan di dada.


"Bukankah menjadi istri CEO sudah menjadi masa depanku yang cerah," ucap Melia dengan bibir mengulum senyum. Kini Kevin benar-benar dibuat salah tingkah oleh gadis itu, akan tetapi masih berusaha menutupi dengan wajah dinginnya.


"Ya, kamu benar Mel, itu memang masa depan terbaik." Erick tak kuasa menahan tawanya, ia terbahak sambil memegangi perutnya.


"Diam!" pekik Kevin.


"Kenapa kamu malah menggalaki diriku?"


"Aku menyuruh Erick diam." elak Kevin.


"Bagaimanapun Erick adalah tamu, kamu tidak boleh bersikap begitu dengannya," ujar Melia.


Kevin menggeram pelan.


"Ya, Melia benar. Aku adalah tamu," ujar Erick terkekeh.


"Jika kamu masih ingin berakting, maka keluar dari mobil sekarang dengan Erick, turun disini." Kevin memegang dagu Melia hingga gadis itu tertegun beberapa saat. Andai tidak ada sopir juga Erick di dalam mobil, ingin rasanya Kevin menikmati bibir tipis semanis stroberry itu dan meluluh lantahkannya.


Melia meringis, "ah tidak, aku hanya bercanda." Melia mengedipkan mata polosnya, barulah Kevin melepaskan cengkramannya di dagu tersebut. Hayalan tentang menciumi Melia hilang sudah, lantas ia memalingkan wajah dengan dinginnya.


Melia kembali berusaha membujuk Kevin.


"Kamu akan beruntung menikahiku di saat aku sudah kuliah dan jadi artis terkenal nantinya tapi sebaliknya kamu akan rugi jika menikahiku sekarang," bujuk Melia. Erick yang mendengarkannya pun setuju.


"Aku sependapat dengan Melia."


"Aku tidak butuh pendapatmu," ujar Kevin. Pak sopir yang berada di samping Erick hanya bisa membatin dalam hati mendengar perdebatan mereka.


"Coba kamu masuk ke perusahaan hiburan milik keluargaku, kamu juga bisa mengembangkan bakatmu disana sambil kuliah," ucap Erick kepada Melia.


"Bagaimana menurutmu, Kev?" tanya Melia.


"Terserahmu, masa depanmu kamu sendiri yang harus mengaturnya mau bagaimana."


"Aku sudah memutuskan untuk berhenti bekerja dan melanjutkan kuliah," ucap Melia dengan yakin, jika Kevin beneran mau memasukkan dirinya ke IMB, mana boleh melepaskan kesempatan emas seperti itu.


Tanpa sadar, Kevin mengiyakan keputusan Melia dengan menganggukkan kepala. Melia tersenyum senang dan langsung mengalungkan tangannya di lengan kekar milik Kevin.


Cup!


Kecupan singkat ia daratkan di pipi laki-laki dingin itu.


Erick yang tak sengaja melihatnya lewat kaca pun menutup wajahnya. Sementara Kevin mematung seperkian detik sebelum akhirnya memilih melihat ke luar kaca mobil.


Mobil terus melaju, kebisuan menyelimuti.


Melia mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?" tanya Melia.


"Dulu, waktu kami seumuranmu. Aku sering melihatnya memperhatikan kakak sepupuku, aku fikir dia menyukai wanita yang jauh lebih dewasa, karena tiap kali membahas kakak sepupuku, sikapnya akan berubah aneh," ucap Erick.


Kevin menggeram, lalu melotot tajam ke arah Erick yang justru malah menceritakan hal memalukannya pada Melia.


"Oh, ya? apa dia beneran menyukai kakak s..." Melia bahkan belum melanjutkan ucapannya.


"Stop, pak!" pekik Kevin tiba-tiba.


Melia dan Erick mengerutkan kening di saat bersamaan.


"Kalian turun disini," titah Kevin dengan ekspresi wajah kelam. Erick yang tau situasi pun langsung turun disusul dengan Melia.


Mobil kembali melaju meninggalkan mereka berdua tanpa rasa dosa. Mendadak Erick merasa bersalah karena telah merusak mood Kevin dan membawa Melia mendapatkan imbasnya.


"Sorry, Mel." Erick mengatupkan kedua tangannya.


"It's oke, gak masalah. Tapi, apa dia memang sering seperti itu? bersikap seenaknya kepada siapapun?" Mereka memutuskan menyusuri tepi jalanan. Pohon rindang membuat mereka sedikit lebih nyaman karena terhindar dari panas terik matahari.


"Tidak, itu karena aku membahas kakak sepupuku. Dia selalu bersikap aneh saat siapapun mengungkitnya." jelas Erick.


"Oh, ya? apa aku boleh tau kakak sepupumu siapa?" tanya Melia.


"Ohh, itu. Kakak sepupuku sudah menikah dengan orang lain, sejak saat itu Kevin sikapnya semakin aneh. Dulu, aku sering memergokinya menatap kakakku lama-lama," ucap Erick.


Melia berfikir sejenak, menyambungkan sesuatu hingga ia membulatkan mata.


"Apa wanita bersuami yang di club malam itu adalah kakak sepupu Erick?" batin Melia, tapi ya sudahlah. Tidak penting siapa wanita yang disukai Kevin. Karena menurut Melia sendiri, jika disandingkan dirinya dan Kevin adalah sesuatu yang mustahil.


Mereka berpisah di persimpangan jalan, ia akan pulang ke rumah menaiki taksi. Erick pun pamit karena ada urusan.


Sementara di sudut ruangan, Kevin mengusap wajahnya kasar.


Menyesal, kenapa ia harus bersikap kekanakan bahkan kepada Melia yang tak tau apa-apa tentang masalalunya.


Kevin hanya perlu waktu, untuk menata perasaannya. Apakah rasa ingin melindungi gadis kecil itu bisa didefinisikan cinta atau tidak.


Drtttt...


Ponsel Kevin berdering, terlihat di layar ponselnya nama Mama memanggil.


Kevin sedang malas bicara dengan siapapun ia sedang tak ingin berinteraksi dengan keluarganya yang rumit. Kevin memutuskan mengabaikan, tak berselang lama setelah panggilan mati, ponselnya kembali berdering. Kali ini adalah kakeknya, Kevin hanya mampu menghela napas kasar.


Dulu hubungannya dengan sang mama tak serenggang ini, tapi sekarang? Akhir-akhir ini rupanya mama-nya lah yang membuatnya kecewa begitu dalam sebab menyebarkan rumor tentang dirinya dan Laras yang sudah bertunangan.


Sementara sang kakek, laki-laki tua itu terus mendesaknya menikah jika tetap ingin mewarisi harta keluarga Louis.


Kevin dilema, menikahi Melia memang sudah dalam rencananya tapi pertanyaan yang terus mengganggu fikirannya adalah, apa keluarganya akan menerima status sosial Melia?


Sementara di dalam kamar, Melia memandangi wajahnya. Luka bekas pukulan anak buah Laras mulai memudar. Namun, sakitnya masih terasa jika wajahnya disentuh.


"Gila gila gila, hanya karena membujuk kuliah aku harus senekad itu menciumnya." Melia memegangi bibirnya di depan kaca, pipinya tiba-tiba memanas saat membayangkan wajahnya dan Kevin berdekatan bahkan hanya di jarak beberapa cm.


"Shitttt... Dia hanya laki-laki dewasa labil yang seenaknya saja bertingkah, menurunkanku di jalan bukankah itu sifat buruk yang menyebalkan, bisa jadi kelak ia akan membuangku juga." Melia menggerutu sendiri di depan kaca. Ia pun mulai menutupi wajahnya dengan bedak.


"Syukurlah, sudah tak terlihat. Besok bisa pergi melihat ibu," ucap Melia sebelum akhirnya beranjak dari kursi depan meja riasnya. Menyadari langit semakin gelap, ia pun memutuskan untuk memasak sesuatu untuk melenyapkan rasa laparnya.


LIKE KOMEN RATE DAN GIFTNYA YA SAYANG🙏🏻