One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 79



Erick yang mendengar jawaban Kevin pun menjadi sebal, ia masih menjeda panggilannya.


"Ini mana boleh terserah padaku? Apa kamu mau berhutang budi masalah ini padaku?" tanya Erick.


Kevin hanya mendekus.


"Jika iya, tentu aku akan pergi menolongnya?" sambung Erick lagi yang berhasil merubah ekspresi wajah Kevin. Laki-laki dewasa itu memalingkan wajah, menatap parkiran caffe juga jalan raya dimana banyak mobil melintas lalu lalang. Melia benar-benar rumit dan merepotkan, batinnya.


"Terserah, kamu mau pergi atau tidak." Kevin melipat tangannya di dada.


Erick menggelengkan kepala melihat tingkah Kevin yang seperti itu, justru membuat Erick semakin yakin bahwa temannya sudah memiliki perasaan terlalu dalam pada seorang gadis kecil.


"Kau laki-laki tua yang labil," desis Erick sebelum mengaktifkan lagi panggilannya.


"Kalau boleh tau, ehm memang dimana keluargamu?" tanya Erick.


"Aku hanya punya ibuku, dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Sedangkan Kevin, diriku sebenarnya tak ingin ketahuan olehnya, jadi aku sama sekali tidak memberitahunya. Tapi, jika kamu tak ingin membantu, maka mau tak mau terpaksa aku harus mencarinya. Dan lagi, karena masalah ini aku dibawa ke kantor polisi sebenarnya, akan sangat memalukan. Aku tak ingin membuat Kevin malu akan masalah yang menimpa diriku," aku Melia.


Erick tertegun mendengar ucapan Melia, masih sangat muda dia bahkan memikirkan image Kevin.


Lagi dan lagi Erick memute panggilannya, ia menatap Kevin tajam kali ini.


"Melia sangat perduli padamu, makanya dia tak mau meminta tolong karena dia takut membuatmu malu," Erick memarahi Kevin, laki-laki itu hanya diam dengan tangan berulang kali memijat pelipis.


"Jadi, aku harus pergi menolongnya apa tidak?" tanya Erick sekali lagi.


"Baik, pergilah!" ujar Kevin akhirnya menyuruh Erick untuk pergi menolong Melia.


Di seberang sana, Melia yang tidak tahu jikalau Erick sedang bersama Kevin pun sudah pasrah, dirinya tidak mendengar suara di seberang jadi dia mengira bahwa Erick akan menolak untuk menolongnya.


Namun, tiba-tiba suara Erick terdengar lembut dan meminta Melia untuk tetap menunggu.


"Aku akan datang ke sana, tenanglah, Mel! Tunggu sebentar," ujar Erick akhirnya seolah meyakinkan Melia bahwa semua akan baik-baik saja.


"Hah, ah iya baiklah."


Setelah telepon terputus, Erick meletakkan ponselnya. Menyeruput kopi sejenak kemudian membuang napas kasar.


"Apa kau ingin ikut ke kantor polisi?" tanya Erick.


"Tidak, aku tidak tertarik sama sekali untuk ikut kesana." tolak Kevin.


"Ckk! Kau harus ikut." bujuk Erick yang tidak mau menyerah begitu saja.


"No!" tolak Kevin lagi membuat Erick berdecak.


"Ck! Apa kau tidak penasaran siapa yang sudah melaporkan Melia ke kantor polisi?" tanya Erick memancing.


Sejujurnya, Kevin sangat penasaran. Namun, ia enggan ikut ke kantor polisi dan tetap menolak.


Kevin menggeleng.


"Kau tidak perlu berpura-pura lagi, ayolah kawan! Aku yakin, kamu sudah mulai menyukai gadis kecil itu. Saat melihat bagaimana kau melindunginya kemarin, bahkan kau sampai mencekik leher saudaraku, apakah kau masih akan terus menyangkalnya?" tanya Erick.


Iyakah? apa aku memang sudah mulai menyukainya?


"Tidak seperti itu, sudah aku bilang itu semua karena aku merasa kasihan padanya, dia telah menyelamatkanku dan aku merasa bersalah jika dirinya akan mati muda dan sia-sia. Rasanya sayang melihat dia menderita, aku kasian." pukas Kevin yang terus menyangkal perasaannya.


Erick bangkit tanpa kata, akan tetapi hal menarik lainnya meski Kevin berkata dia tak ingin ikut. Namun, laki-laki itu melangkah bersama Erick keluar caffe.


"Aku ikut, tapi kamu yang masuk dan aku akan menunggu di dalam mobil nanti." Kevin mendahului Erick.


Erick pun tersenyum melihatnya, lantas ia segera masuk ke dalam mobil menuju kantor polisi terdekat dari kampus yang didatangi Melia.


Mobil melaju menuju kantor polisi, sampainya disana Kevin memilih memantau dari dalam mobil yang berada di parkiran.


"Kau beneran tidak mau masuk?" tanya ulang Erick.


"No, big no." tolak Kevin.


"Baiklah, aku tak akan memaksamu lagi."


"God! tolong selesaikan masalahnya segera." titah Kevin yang terdengar seperti sebuah perintah.


"Ah baiklah!" jawab Erick.


Sebelumnya, di dalam kantor polisi orang tua Clara juga orang tua Gisell sudah tiba sedari tadi.


"Pak polisi, saya minta orang yang melukai anak saya dijebloskan ke penjara!" Ibu dari Clara sedang menyuruh pihak polisi untuk menghukum Melia.


Clara mengambil kesempatan ini untuk mengadu, "benar, Pak! seluruh badan saya bahkan sakit semua," adunya dengan nada lirih terkesan sedih. Gisell yang mendengarnya pun menjadi kesal sekaligus geram, tanpa sadar Gisell mengepalkan tangan. Andai bukan di kantor polisi, ia ingin sekali menjambak rambut Clara.


"Heh, jangan ngomong sembarangan ya! Kamu, tukang fitnah. Jelas-jelas temenku gak ada nyentuh kamu, ngelukai kamu!" desis Gisell menahan amarah.


Melia terdiam, ia bingung harus membela diri seperti apa. Nasibnya diujung tanduk, dan dia hanya bisa berharap Erick akan segera datang menolongnya.


"Kamu gak lihat, badanku sakit semua?" Ujar Clara.


"Nggak tuh, karena memang temenku gak ada nyentuh kamu sama sekali, apalagi sampai mukul kamu, itu fitnah!" kesal Gisell.


"Bohong! Dia berusaha melukaiku, bahkan mendorongku!" gerutu Clara lagi, kali ini tangannya menunjuk-nunjuk wajah Melia.


"Jika memang iya temenku melukai kamu dan kamu merasa terluka panggil saja dokter forensik untuk memeriksa tubuhmu!" tegas Gisell kesal, membuat mereka yang disana terperanjat kaget.


Mendengar hal itu dari Gisell membuat ibu Clara sangat geram, lantaran dokter forensik adalah dokter khusus diperuntukkan memeriksa mayat saja.


"Heh, kamu ngutuk anak saya? iya hah!" bentak Ibu Clara tak terima menatap tajam ke arah Gisell, sementara Gisell sama sekali tak takut dengan ibu Clara. Baginya, percuma kaya kalau tak memiliki etika sama sekali, suka menindas orang miskin dan menyanjung tinggi, serta menyombongkan kekayaannya. Ibu Gisell menunduk, meminta maaf. Ia merasa malu akan sikap anaknya yang kelewatan batas.


Tangannya diam-diam mencengkram tangan Gisell, mengisyaratkan anak gadisnya agar tak banyak bertingkah. Namun, Gisell kelelahan. Rasanya sudah cukup selama ini menahan diri dari segala tingkah Clara yang menurutnya melampaui batas.


"Tenang semua!" bentak pihak polisi membuat suasana hening seketika.


Diam-diam, Ibu Gisell mendekati Melia.


"Ini semua karena kamu kan? kalau kamu tidak mendekati anak saya Gisell, dia tidak akan mendapatkan masalah yang rumit seperti ini. Sebenarnya, apa yang kamu inginkan agar bisa menjauhi anak saya?" Bisik Ibu Gisell namun dengan wajah sinis.


Sementara ayah Clara menatap tajam satu persatu, kemudian terduduk dan memijat pelipisnya, ayah dan ibu Gisell menunduk, membungkuk untuk meminta maaf.