One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 66



"Om tahu kan bagaimana kakek saya, dia tidak akan tinggal diam jika calon cucu menantunya dihina oleh orang, jadi..."


Farhan tahu situasi ini, orang seperti Kevin memang tidak mudah dihentikan.


"Om tahu," ucap Farhan cepat.


"Bagus kalau begitu!" tegas Kevin.


Farhan menghela napas sejenak, melirik ke arah Laras yang semakin memuramkan wajahnya.


Farhan tahu, Kevin tidak akan dengan mudah mengakhiri semua itu.


"Terus apa yang nak Kevin mau, agar masalah ini cepat selesai?" tanya Farhan.


"Saya cuma ingin, Laras meminta maaf kepada Melia dan bersumpah tidak akan menyentuh Melia selamanya jika tidak maka saya punya cara yang akan membuat anda dan Laras terkejut hari ini," ancam Kevin.


"Ck! aku tidak mau!" kekeh Laras, meminta maaf dengan Melia sama saja seperti dia menjatuhkan harga diri dan mengaku kalah dari ja lang itu. Hal seperti itu, mana bisa Laras lakukan. Hal yang sangat mustahil!


"Aku tidak akan pernah meminta maaf padanya, Kev! Dia yang melukaiku, mana mungkin aku harus menjatuhkan harga diriku dan meminta maaf padanya, kamu jangan keterlaluan!" pekik Laras semakin marah.


"Aku setuju dengan Laras, aku rasa kamu cukup keterlaluan, nak Kevin. Bagaimanapun yang terluka disini putriku," ucap Farhan yang merasa keinginan Kevin itu keterlaluan, seharusnya laki-laki itu membiarkan Larasnya melampiaskan amarah, bukan malah memintanya meminta maaf.


"Jika saya tidak bisa menjaga istri saya, saya akan ditertawakan oleh orang-orang. Meski Melia masih berstatus calon istriku, tapi seluruh LS Group tahu kalau aku dan dia memiliki hubungan. Seandainya hal itu terjadi pada istri om Farhan, mungkin om Farhan akan melakukan hal yang sama atau bisa jadi yang om lakukan lebih parah."


Ucapan Kevin membuat Farhan tiba-tiba teringat dengan istri pertamanya, ibu dari Laras yang sudah meninggal. Semua orang tahu kalau Farhan sangat mencintai istrinya, dan ia tak segan melakukan apapun jikalau istrinya disakiti. Hari ini ia tersadar kembali, memory yang tertutup kembali terbuka lebar karena ucapan Kevin. Laki-laki itu benar, jika bahkan dirinya tak bisa melindungi ibu Laras, orang-orang pun akan menghinanya. Tiba-tiba Farhan menginggat masalalu, kenangan bersama istri pertama melekat begitu manis dalam kehidupannya. Sampai sampai, Farhan tidak bisa membuka hati bahkan untuk istri keduanya.


Kevin memperhatikan sikap Farhan yang berubah-ubah, baginya ini masih baru permulaan. Mau bagaimanapun sikap Laras, ia memang berencana membongkar aib wanita itu. Kevin sudah sangat muak dengan tingkah Laras yang terus menerus mengejarnya tanpa mau sedikit berkaca. Dari dulu hingga sekarang, Kevin hanya memiliki perasaan jijik pada gadis itu, gadis yang pernah melakukan pesta **** bersama beberapa laki-laki namun berdalih dijebak orang saat Kevin tahu kebusukannya.


"Mau melawanku, kamu tidak akan pernah bisa." batin Kevin dalam hati, ia sempat mengecek ponsel dan melihat pesan di kotak masuk, barangkali Melia memberi kabar kalau-kalau sudah sampai rumah. Dahi Kevin mengkerut seketika.


"Apa dia tidak punya ucapan selamat malam atau makasih basa-basi lewat pesan?" tanya Kevin dalam hati. Ia menatap ponselnya, mendesah perlahan karena Melia sama sekali tak memberi pesan.


"Mungkin dia sudah tidur, ya mungkin. Karena tadi aku merasa dia sangat ketakutan, mungkin karena saking lelahnya dia tak mengirimku pesan," batin Kevin seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan kecewa.


Farhan seketika tersentuh, ia teringat mediang sang istri yang sangat mirip dengan ibunya Verell, Farhan menikahi ibunya Verell bukan atas dasar cinta, melainkan atas dasar wajah yang mirip dengan mediang istrinya.


"Kevin benar, jika istriku Fara berada di posisi wanita itu, tentu aku akan melakukan hal yang sama, apapun untuk istriku, untuk melindunginya. Apa aku terlalu membela Laras hingga karena dia anakku, aku jadi tidak bisa berfikir bagaimana berada di posisi Kevin?" batin Farhan dilema.


Tak berselang lama terdengar ketukan pintu, Kevin meminta Verell membukakan pintu karena asistennya datang.


Alan masuk, ia menyerahkan DVD itu kepada Kevin setelah sebelumnya memberi salam kepada Farhan.


"Kamu pulang saja, atau tunggu di luar. Masalah ini, aku bisa melakukannya sendiri." bisik Kevin kepada Alan.


"Baik, Kev. Pastikan semua berhasil, aku akan menunggu di luar saja!"


Alan pamit, lantas keluar dari kediaman Farhan, laki-laki itu memutuskan menunggu di mobil.


Dahi Laras mengernyit melihat apa yang di pegang Kevin, meski terbungkus sesuatu akan tetapi firasat Laras menjadi buruk.


"Laras, kamu lebih baik minta maaf dan bersumpah, kalau kamu tidak akan menyentuh tunangan nak Kevin." pinta Farhan.


"Laras!" bentak Farhan.


"Kamu harus bersumpah sekarang juga untuk tidak akan menyentuh tunangan Kevin!" tegas Farhan. Laras tak bergeming, ia diam karena menurutnya Kevin tak akan melakukan apapun padanya meski ia tak mengucapkan sumpah.


"Kalian mau mengancamku dengan apa? ck! meminta maaf, itu bukan diriku. Aku Larasati Wenas, tidak akan pernah meminta maaf pada ja lang itu," batin Laras.


Kevin menatap tajam Laras, lantas ia menyodorkan sesuatu kepada Verell.


"Tolong putar video ini sekarang juga," titah Kevin. Farhan dan Laras sama-sama mengkerut penasaran, akan tetapi Laras berusaha berfikir positif.


Verell menerima DVD itu, Kevin mengangguk saja seolah meyakinkan Verell bahwa laki-laki yang jauh lebih muda itu menurut padanya. Tanpa bicara, Verell berjalan menuju layar tipis televisi yang terletak di sebelah sofa tamu yang menempel dinding Layar televisi itu cukup lebar, sehingga jika dilihat dari posisi Kevin dan papanya saat ini, video yang akan ditayangkan terlihat cukup jelas. Verell menekan tombol open pada DVD player, memasukkan DVD pemberian Kevin tanpa ragu, karena Verell yakin apa yang dilakukan Kevin juga akan menyelamatkan dirinya.


Kevin menyeringai, ini baru permulaan dan ia sudah melihat wajah tegang Laras. Kevin senang mempermainkan ayah dan anak itu, baginya mereka pantas mendapatkannya. Dan untuk Verell, ia sama sekali tak berniat membantu laki-laki itu, tapi karena desakan Erick, juga Melia yang ternyata berteman baik dengan Verell membuat Kevin mau tak mau melindunginya.


Di luar, Alan mondar-mandir. Ia terlihat keluar masuk mobil karena sudah menunggu cukup lama, tapi Kevin belum keluar juga.


"Apa ini waktu yang tepat untuk membongkarnya, hal apa yang membuat Kevin tiba-tiba datang segera ke kediaman Farhan?" tanya Alan dalam hati, ia memutuskan masuk kembali ke dalam mobil, mengeluarkan ponsel dan melihat apa ada berita hari ini.


Mata Alan membulat sempurna.


"Hal sedarurat ini, kenapa aku tidak tahu," gumam Alan.