One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 94



Langit senja mulai menggelap, Gio yang hendak keluar pun menjadi urung karena penasaran. Terlebih Kevin berjalan terburu seolah ada hal penting yang akan dibicarakan nanti. Mendadak rasa penasarannya pun meronta, dengan langkah cepat Gio masuk.


Benar saja, di ruang tamu tampak Kakak tirinya, sang Papa dan dua orang yang sangat tak ia sukai yaitu Kevin dan Alan. Bagi Gio, Kevin dan Alan itu sama saja. Kevin yang selalu mendapatkan segalanya dan Si Alan yang sok melindungi Kevin.


Gio tiba-tiba duduk di samping Louis dengan angkuh.


"Kev..." panggil Alan.


"Tenang saja, hari ini aku akan menampar muka Paman dengan tingkahnya sendiri." bisik Kevin dengan seringai misterius.


"Kev..." Kali ini sang Mama yang memanggil.


"Iya, Ma. Papa mana?" Baru saja Kevin mengatupkan mulut, Papanya tiba dan langsung duduk di samping Mamanya Kevin.


"Aku akan membawa calon istriku kesini besok, tapi... Bagaimanapun dia dan kehidupannya, aku harap tidak ada yang keberatan."


Louis dan kedua orang tua Kevin terdiam, lain halnya dengan Gio yang bertepuk tangan tiba-tiba.


"Ohho Kevin, apa wanita yang kau nikahi adalah wanita ja lang yang bekerja di club malam?" tanya Gio dengan seringai.


"Ja lang? aku rasa tidak, karena saat seseorang berusaha menjebakku dengan obat," ujar Kevin.


"Menjebak?" suara Louis meninggi.


"Iya Kek, seseorang berusaha menjebakku lewat Tom."


"Tom?" Louis berusaha mengingat-ingat, sementara orang tua Kevin saling tatap.


"Apa gadis itu hamil?" tanya sang Papa yang langsung mendapat cubitan dari Mama Kevin.


Kevin menghela napas, lalu mengangguk.


Seketika Mama Kevin menutup bibirnya dengan telapak tangan.


"Oh astaga Kev."


Gio mengepalkan tangan, bukankah ia kalah beberapa langkah dari pada Kevin? terlebih saat ini Melia hamil, dan akan menjadi penerus Louis selanjutnya.


"Kalian juga tahu siapa yang menjebakku, dia ada disini." Kevin melirik sinis ke arah Gio.


Deg.


Gio terdiam, raut wajahnya berubah gelap seketika. Bagaimana mungkin Kevin tahu kalau dia orang dibalik jebakan itu, sementara hingga saat ini Kevin sama sekali tak menemukan keberadaan Tom? bahkan tak terlihat menyelidikinya.


Louis tahu yang dimaksud Kevin, seketika ia mengusap wajahnya kasar.


"Gio..."


"Papa tahu kan kalau selama ini aku dirawat di rumah sakit," elaknya dengan wajah gugup.


"Apa kau sedang merasa paman? seingatku sama sekali aku tak menyebutkan nama." cibir Kevin.


"Gio apa kamu pelakunya?" tanya Louis dengan sorot mata tajam, Gio mendelik.


"Susah sekali menjelaskannya, kapan aku punya waktu keluar masuk club?" Gio membela diri.


"Ck!" Kevin berdecak malas.


"Lan, ikut aku ke atas." Kevin berujar seraya bangkit.


"Baik, Kev. Tuan saya permisi." Pamit Alan, ia mengekor langkah Kevin yang berlalu.


"Kita susul Kevin, Pa." ajak Mama Kevin, menarik suaminya seolah tau jikalau sang ayah, Louis butuh ruang untuk menekan Gio.


"Kev, Kevin..." Panggil sang mama di luar.


"Nanti malam saja, Ma. Aku buru-buru." teriak Kevin dari dalam.


"Tapi Kev..."


"Kev, mamamu ngotot ingin tahu," bujuk sang Papa.


Kini mereka berada di kamar Kevin.


"Apa benar, Gio menjebakmu?" tanya Papa.


"Hm, kira-kira begitu Pa."


"Ck! Anak itu cari mati," gerutu papa Kevin, yang berhasil membuat semuanya tersentak.


"Dia ada affair dengan istri orang, dan sekarang dia malah menganggu kamu." gerutu papa Kevin.


"Sudahlah, Pa. Lagi pula, apa yang bisa diandalkan dari sebuah marga tanpa kemampuan." desis Kevin.


"Ya, kau benar Kev, dan hal itu yang selalu membuat papa bangga padamu. Maaf jika selama ini sikap Papa masih sangat mengecewakan."


"Hm, tidak masalah. Kalian terlihat baik-baik saja itu sudah cukup bagiku."


"Kev, salam buat calon menantu mama."


Deg.


Kevin tertegun, ini kali pertama mamanya bersikap lembut tentang keputusannya.


"Baik, Ma."


"Ya sudah, kamu siap-siap. Alan, kamu bantu Kevin ya," ucap orang tua Kevin hampir bersamaan, kemudian keluar kamar.


"Kevin menoleh ke arah Alan yang tampak serius di ponsel sambil sesekali menatap ke arahnya.


"Lan, siapkan bajuku."


"Oke," ucap Alan dengan jari membentuk huruf O, lantas bergegas menunju ruang ganti dimana disana ada lemari besar dengan segala pakaian lengkap.


Satu jam kemudian, Kevin turun bersama Alan. Tampak kakeknya masih berada di ruang tamu bersama Gio dengan wajah bersitegang, Kevin yakin sekali jika pamannya itu sudah diomeli habis-habisan.


"Semua gara-gara kamu, hah! Kamu menuduhku tiba-tiba tanpa bukti," ucap Gio berjalan cepat ke arah Kevin dengan tangan mengepal. Ia hendak memukul Kevin kalau saja Alan dengan sigap segera menyingkirkannya.


"Gio, jaga sikapmu!" tegas Louis.


Kevin menyeringai, "oh ayolah paman, tak bisakah kita berdamai? dan membiarkanku hidup tenang?" tanya Kevin dengan santainya.


"Kau lihat saja nanti, aku akan merebutnya, aku akan merebut semua yang kamu punya."


"Gio!!!!!" bentak Louis.


"Dalam hidup ini kamu hanya punya dua pilihan, menurut peraturan disini atau pergi," ujar Louis dengan raut wajah datar.


Gio mengepalkan tangannya kesal, lagi-lagi papanya lebih membela Kevin.


"Mari Tuan," ucap Alan. Keduanya pergi meninggalkan kediaman rumah besar itu.


"Ya pergilah, hati-hati."


***


Mobil Kevin melaju cepat menuju kediaman Melia, tak butuh waktu lama untuk sampai.


Tok...tok...tok...


Kevin melihat masih ada mobil Bram disana, ia menghela napas lega.


"Kev," Melia mematung, penampilan Kevin malam ini terlihat sangat tampan.


Kevin mendekat, dan menggenggam tangan Melia.


"Apa dia membuatmu kesusahan hari ini?" tanya Kevin, yang langsung menyadarkan Melia.


"Enggak kok, hari ini jauh lebih baik."


"Oh, ya. Om Bram masih disini?" tanya Kevin, Melia mengangguk.


"Lagi nemenin Ibu sama kak Karina."


"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Kevin.


Melia yang mendengar pertanyaan itu sontak pipinya merona merah. Hal seperti itu kenapa harus bertanya lebih dulu? sungguh Kevin terlihat seperti laki-laki polos saat ini, apa itu semua karena mereka berada di tempat terbuka?


"Boleh."


Kevin tersenyum dan langsung merentangkan tangannya untuk memeluk Melia. Awalnya ia takut, jika Melia tak mau berinteraksi berlebihan dengannya, tak disangka gadis itu malah memeluknya semakin erat.


"Heh, kok malah nangis?" tanya Kevin saat mendengar isakan kecil dalam pelukannya. Benar saja, bulir bening sudah membasahi pipi Melia, bahkan sedikit mengenai pakaian Kevin.


"Maaf, aku hanya kangen." aku Melia.


"Ptfpppttt..." Kevin tergelak, sejurus kemudian terdiam saat melihat raut wajah Melia semakin sedih.


"Masuk dulu, aku mau lihat Ibu." ajak Kevin. Sebenarnya, ia ingin sekali mengajak Melia ke suatu tempat, akan tetapi melihat keadaan tante Sintia yang baru sehat Kevin sungguh tak tega.


"Apa kabar tante?" tanya Kevin.


"Baik sayang! Makasih ya, tante sehat juga berkat kamu, mungkin kalau kamu gak memfasilitasi perawatan tante, tante tidak bisa duduk manis di rumah ini."


"Syukurlah, itu sudah kewajiban saya tante."


"Om, tante. Apa saya boleh izin bawa Melia sebentar?" tanya Kevin ragu-ragu, Melia tampak membulatkan mata.


"Boleh, biar Ibumu Om yang jaga, lagi pula ada Karina juga kalian tak perlu khawatir."


"Tapi, Pa..."


"Melia, kalian kan mau menikah. Pasti nak Kevin mau membahas banyak hal, Ibu nggak apa-apa."


"Ibumu benar Mel, bisakah mempercayakannya pada Papa. Lagi pula, Kevin tak akan mengajakmu keluar sampai larut kan." Bram berusaha menyakinkan.


Melia mengangguk.


***


Kevin membawa Melia ke apartemen mewahnya, apartemen yang jarang ia tempati karena lebih sering berada di rumah.


"Kok kesini, kamu gak akan ngapa-ngapain aku kan?" cerca Melia. Terlebih saat apartemen itu terlihat sangat sepi. Melia menatap sekeliling, meski ragu-ragu akan tetapi ia tak kuasa untuk tidak berdecak kagum.


Desain maskulin sangat cocok dengan Kevin yang memiliki sikap sedingin kulkas. Namun, baru-baru ini ia mulai mengenal sisi dalam Kevin yang sebenarnya hangat dan penyayang.


"Memangnya mau ngapain, aku mau ngomong banyak sama kamu juga butuh privasi, Mel."


Deg!


"Aku serius Kev, kamu nakut-nakutin."


"Sini" Kevin akhirnya meraih tangan Melia tak sabar dan membawanya ke kamar. Melia menelan salivanya susah payah, mendadak pikirannya buyar.


"Aku keluar, ya."


Kevin menghela napas, tiba-tiba lampu balkon menyala. Tampak disana cahaya temaram yang indah.


"Surprise." teriak Alan, Kevin hanya terkekeh melihat keterkejutan Melia. Karena sudah dipastikan gadis itu berfikir macam-macam tadi.


"Kita makan dulu," ajak Kevin yang diangguki kepala oleh Melia, lagi-lagi ia harus takjub dengan hidangan yang ada di meja. Bagaimana Kevin bisa menyiapkan ini semuanya.


"Alan yang menyiapkan ini semua." Kevin berujar seolah tahu apa yang ada di fikiran Melia.


Alan langsung pamit pulang setelah selesai menjalankan tugas.


"Duduk, Mel. Apa kau akan terus berdiri sayang?" Kevin mengulum senyum.


"Ah, iya." buru-buru Melia duduk.


"Pelan-pelan, nanti anakku terkejut."


Brushhh seketika pipi Melia berubah merona, hanya demi mendengar kata sederhana Kevin.


"Aku ingin kita segera menikah, akhir bulan ini." Kevin mengutarakan niatnya, sambil menautkan jemarinya ke jemari mungil milik Melia.


"Secepat itu, akhir bulan bukannya tinggal seminggu lagi."


"Memang iya, itu lebih baik karena aku gak bisa biarin kamu lama-lama jauh."


"Hah?"


"Mel, aku menyukaimu dari awal. Dari kamu bersikap cerewet padaku. Mungkin, aku pernah bilang tidak akan menggunakan perasaan waktu itu. Tapi percayalah, semua berubah diluar kendaliku."


Melia semakin membulatkan mata.


"Apa kamu bersungguh-sungguh? meski aku juga tidak pernah mengatakan apapun. Belakangan sejak hamil, aku sering memeluk ponselku lama-lama setelah menerima telepon darimu, aku tidak tau perasaan macam apa itu, yang jelas semua menjadi lega saat aku bertemu denganmu." aku Melia.


"Itu karena dia." Kevin mengusap perut datar Melia dengan tiba-tiba.


"Dia yang sudah mengubah perasaanmu, Mel. Karena dia sangat menginginkan Papanya."


Deg!


Melia tak kuasa menahan debaran jantungnya, gerakan impulsif Kevin benar-benar membuat perasaannya campur aduk. Nyaman, lega, sekaligus takut diwaktu bersamaan.