NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
PERINGATAN



Setelah pertemuan Nicholas dan Mia semalam, ternyata dia benar-benar tak kembali ke unit . Aku tahu harusnya hal itu memang terjadi.


Tapi entah kenapa aku merasa ada yang aneh. Kenapa Nicholas meninggalkan Fio? Dia tak pernah meninggalkan atau melupakan Fio.


Apa aku harus meneleponnya tengah malam begini? Tidak. Untuk apa aku mengganggunya bersama si istri. Bagus jika Nicholas tak ada di sini.


Sudah dua kali aku dipusingkan dengan keputusan laki-laki itu tidur satu atap denganku. Untungnya batal lagi.


Fio masih berbaring di sebelah ku dengan tenang. Entah karena nyaman, atau memang kucing ini terlalu malas saja beranjak kemana-mana.


"Fio, majikan kamu itu orang seperti apa sebenernya?" gumam ku sambil mengelus bulu Fio dengan hati-hati. Kucing ini malah bangkit dan bergerak mendekatiku. Dia menyender ke lengan atas ku lalu kembali tidur.


"Dasar. Gak kucingnya, gak pemiliknya. Sama-sama suka banget ambil hati perempuan," gumam ku gemas pada kucing laki-laki cantik ini.


Sudahlah, tidur Fiona. Besok harus bangun pagi, kembali ke kantor. Tapi lagi-lagi otak ku berpikiran apa yang sedang dilakukan Nicholas dengan Mia? Mereka sedang memperbaiki hubungan? Jika Nicholas mengatakan selama ini Mia tak perduli dirinya ada di rumah atau tidak, apa ini adalah awal keberhasilan Nicholas? Membuat Mia peduli apakah ia ada di rumah atau tidak.


Tapi tetap saja, rasanya jahat kalau Mia tetap ingin memiliki Nicholas kalau dia masih bersama aktor muda bernama Hero itu. Aku rasa Nicholas bukan orang bodoh yang mau menerima hal semacam itu.


***


Pagi ini aku sedikit kerepotan karena harus bersiap-siap sambil mengurus Fio juga. Aku harus sampai di kantor sebelum Nicholas sampai di sana.


Lalu, aku segera memasykkan Fio ke dalam tas kotak khusus nya dan membawanya keluar dari apartmen. Ardi mengirimi ku pesan kalau dia sudah menunggu di lobby.


Ah, baiklah Nicholas meminta Ardi menjemputku karena aku membawa anak kesayangannya ini. Karena Fio, pagi ini aku tak perlu keluar uang ongkos untuk sampai ke kantor.


Selama perjalanan, aku memeriksa kembali jadwal Nicholas hari ini, mencocokkannya dengan laporan dari Angeline. Aku tak ingin ada kesalahan.


Yap, berkat mobil mewah ini, aku sampai di kantor jauh lebih cepat dari perkiraan. Angeline menyapa ku seperti biasa. Semua staf masih bersikap normal dan biasa saja. Sepertinya isu perselingkuhan ku dan Nicholas memang hanya diketahui Mia. Baguslah.


Lagi pula, siapa yang akan percaya seorang Nicholas Arrasya berselingkuh dari istri sempurnanya dengan ku. Memikirkannya sendiri saja sudah membuat ku geli.


Saat sampai di ruangan Nicholas, ruangan ini masih sepi dan hening seperti biasa.


"Nah, Fio. Kamu boleh keluar," ucap ku sambil membuka kotak tas itu. Dengan sigap, Fio keluar dan mencari tempat kesukaannya yaitu sofa lembut nan mahal ruangan ini.


"Kamu gak kangen sama pemilik kamu, Fio? Apa jangan-jangan kamu udah lupa ya? Gara-gara semalem ditinggalin?" tanyaku sambil membereskan meja Nicholas. Mengatur dokumen yang akan dibawa untuk meeting siang ini.


"Kasihan deh Fio," ledek ku yang tak ku sangka disahuti oleh Fio. Dia mengeong pelan seolah memprotes ledekan ku hingga aku tertawa pelan.


Tawa ku seketika luntur ketika pintu terbuka, dan aku melihat Mia yang masuk dengan langkah yang mantap menghampiri ku. Aku refleks berdiri dengan tegap dan pelan-pelan menghampirinya dengan gugup.


"Hai, gimana malam ini?" tanya Mia tersenyum. Tapi aku hanya diam, heran dengan ucapannya sekaligus bingung harus menyahuti apa.


"Kita sempet ketemu di Bali. Dan aku yakin kamu lihat aku," ucap Mia melipat kedua tangannya di depan dada, "tapi kayanya kamu gak kasih tau Nicholas kalau aku di sana sama cowok lain. Kenapa? Karena kalian juga selingkuh?"


Aku masih diam. Kedua tangan ku rasanya dingin dan mulai gemetar di belakang punggung ku.


Kami berdua tiba dalam keheningan. Mia memperhatikan ku dari atas ke bawah dengan pandangan yang sangat tidak ramah.


"Kalian mau nipu aku? Denger ya, Fiona. Aku tahu penghasilan jadi asisten itu gak besar. Tapi kamu pikir kamu berhasil bikin aku cemburu sama Nicholas? Di itu orang aneh. Gak mungkin dia selingkuh. Sama kamu lagi," ucap Mia tersenyum miring.


Apa? Barusan Mia mengatakan Nicholas apa? Oh tidak. Jangan-jangan Nicholas benar-benar...


"Meskipun aku yakin kamu cuma disuruh sama Nicholas untuk nutupin keanehannya itu, aku tetep minta kamu jauh-jauh dari Nicholas. Aku gak mau ada rumor perselingkuhan Nicholas sama seorang asisten."


"Apa Bu Mia juga gak berpikir rumor perselingkuhan Bu Mia dan aktor itu terkuak?" tanyaku. Pertanyaan bodoh yang mampu membuatku mendapatkan tamparan keras di pipi ku.


"Itu gak akan terjadi kalau kamu tutup mulut. Denger ya, itu urusan aku. Kamu sebaiknya jauh-jauh dari Nicholas, atau aku gak segan buat kamu dipecat," peringat Mia dengan tajam lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan dengan bunyi sepatu heels-nya yang menggema di seluruh ruangan.


Aku menahan napas. Baru kali ini aku dilabrak sampai ditampar. Meskipun bukan karena isu perselingkuhan ku. Melainkan isu perselingkuhan Mia.


Aneh, bagaimana bisa Mia ketakutan aku akan membocorkan perselingkuhannya sementara Nicholas sudah tahu semuanya lebih dari aku.


Belum selesai aku menata diri ku dari keterkejutan Mia, sekarang aku dikejutkan oleh rak buku yang terbuka dan Nicholas keluar dari sana.


Aku tak tahu sejak kapan Nicholas di sana. Tapi sekarang pakaiannya benar-benar sudah rapi dengan setelan jas formal seperti biasanya.


"Nanti siang Pak Nicholas ada jadwal meeting dengan -"


Nicholas menghentikan kalimatku dengan menyentuh pipi kiri ku yang tadi ditampar. Rasanya memang masih perih, tapi aku hampir melupakannya sebenarnya.


Aku tak tahu apa tujuannya Nicholas mengelus pipi ku dengan sangat lembut. Aku tahu mungkin Nicholas melihat kejadian tadi lewat ruangan rahasia nya. Tapi seharusnya ia tak perlu menyentuh pipi ku dengan tatapannya ini.


Aku rasa Nicholas hendak mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa ia menahannya. Aku benar-benar bingung.


"Kenapa kamu diam aja, Fiona? Kamu bisa melawan Mia, saya gak akan menghukum kamu," bisik Nicholas membuatku tertegun dan refleks membalas kalimatnya.


"Seorang wanita simpanan, gak pantas melakukan hal itu, Pak. Menurut saya, hal ini wajar dilakukan oleh istri sah kepada selingkuhan suaminya," jawabku melangkah mundur, sedikit menjauh dari Nicholas sebelum aku semakin merasakan desiran aneh berada terlalu dekat dengannya.


"Ya, itu berlaku hanya untuk seorang istri yang bersih," sahut Nicholas melangkahkan kakinya ke sofa untuk menghampiri Fio.


Aku tahu maksud Nicholas. Ku rasa, Nicholas juga tahu alasan sebenarnya Mia menampar ku adalah karena aku membicarakan soal perselingkuhannya dengan aktor bernama Hero itu.


"Kalau begitu, Pak Nicholas berhak memukuli selingkuhan Bu Mia," ucap ku merasa gemas. Hal itu lebih wajar daripada menyewa wanita simpanan seperti ku.


Tapi Nicholas terlihat tidak tertarik dengan kalimat ku barusan. Dan aku masih berusaha membaca pikirannya.


"Jadi jadwal saya hari ini di jam 10:00 dan 13:30 ya?" tanya Nicholas langsung membahas topik pekerjaan lagi.


"Iya, betul, Pak. Angeline sudah menyiapkan bahan meeting, saya taruh dokumennya meja. Katanya tolong diperiksa lagi, Pak," jawabku buru-buru mengambil dokumen yang tadi sudah ku taruh di meja lalu memberikannya kepada Nicholas.


Tanpa menyingkirkan Fio dari pangkuannya, Nicholas membaca dokumen yang ku berikan. Astaga kenapa hari ini sudah dibuka dengan hal macam begini? Benar-benar membuat ku tak nyaman.


"Oh, ya. Apa Fio udah dikasih makan? Apa semalam dia tenang?" tanya Nicholas.


"Sudah, Pak. Fio makan sesuai jadwalnya, saya juga udah bersihin dia dan sisir bulunya," jawab ku dengan cepat.


Nicholas menganggukkan kepalanya. Tapi aku penasaran lagi akan satu hal.


"Kenapa?" tanya Nicholas lagi-lagi menangkap raut wajah penasaran ku. Apa begitu terlihat jelas?


Nicholas kembali menaruh perhatiannya kepada beberapa dokumen yang ada di tangannya.


"Setelah basa-basi dengan Mia. Saya memutuskan tidur di sini tadi malam. Karena saya gak mau mengganggu tidur kamu di apartmen," jawab Nicholas tiba-tiba membuat ku tertegun mendengar alasannya.


"Dan saya percaya, Fio akan tenang sama kamu," lanjut Nicholas mengeluarkan pulpen khas nya dari dalam saku jasnya lalu memberikan catatan di beberapa dokumen tersebut.


Entah kenapa, saat ini aku yang tadinya kesal dengan Nicholas, sekarang malah merasa bangga dengan pujiannya.


"Saya juga percaya Fio akan tenang sama Bu Mia -"


"Mia gak perduli dengan Fio. Begitupun sebaliknya," potong Nicholas akhirnya membuatku terdiam.


Oh ya, jika diingat-ingat, tadi juga saat Mia masuk ke ruangan ini, dia sama sekali tak melirik ke arah Fio. Dan kucing itu pun tak bergerak sama sekali dari sofa.


Ah, aku jadi ingat saat pertama kali Fio menyapa ku di ruangan ini. Astaga... Fio memang kucing pemilih yang berkarisma. Aku jadi tak sabar ingin bermain lagi dengan Fio.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Nicholas menyadarkan aku. Dan Nicholas refleks melirik apa yang sedang aku tatap dari tadi. Tepat ke bawah, ke pangkuannya.


"Fio! Saya lihat Fio, Pak," sahut ku buru-buru sebelum Nicholas salah paham dengan apa yang aku lihat sambil tersenyum dari tadi.


"Apa kamu suka dengan Fio?"


"Suka banget," jawab ku tersenyum melihat Fio yang juga menggerakkan kepalanya menatap ku. Kucing itu sedang bertingkah sok cool lagi.


"Coba beli sendiri aja. Ada banyak kucing di luar sana yang mirip Fio," ucap Nicholas menyerahkan dokumen tadi kepadaku. Sementara aku seketika terdiam dengan senyum yang menghilang dari bibirku.


Nicholas menaruh perhatiannya pada Fio seolah takut aku mungkin akan menculiknya. Dasar. Dia tahu aku tidak mungkin membeli kucing semahal Fio.


***


Sekitar 5 jam kegiatan yang dilalui Nicholas, aku hanya mengikuti mereka dan menyiapkan semua keperluan Nicholas.


Kenyataannya, Nicholas lebih banyak mengobrol dengan Angeline mengenai bisnis nya. Aku bersyukur tidak turut andil, karena sejujurnya aku juga tidak begitu paham.


Hari ini Nicholas kembali ke gedung Ark's Film setelah menyelesaikan semua kegiatan dan menunggu laporan yang akan dibuat Angeline.


Sebelum sampai ke lift. Tiba-tiba aku berhenti melangkah ketika melihat Abira Mahendra. Salah satu aktor Indonesia favoritku! Ya Tuhan, hari ini aku benar-benar beruntung.


Saat menunggu lift, aku terpaksa menyela pembicaraan Nicholas dan Angeline untuk meminta izin menemui salah satu aktor legendaris muda yang populer itu.


Begitu Nicholas mengizinkan, aku segera berlari menghampiri Abira yang berjalan bersama manager-nya hendak keluar dari lobby.


"Maaf, Mas Abira... Sa-saya, Fiona... Saya fans-nya Mas Abira... Boleh, saya minta tanda tangan?" tanya ku gelagapan. Masih untung aku bisa menjelaskan dengan benar.


"Oh boleh dong, boleh... Dimana, dimana?" tanya Abira dengan ramah membalas ku.


Nah, bodohnya Fiona. Aku sedang tak membawa apa-apa. Hanya berkas dokumen yang ada ditangan ku. Catatan? Aku tak membawa catatan. Semuanya aku tulis di ponsel.


"Mbak Fiona?" tanya Abira menyadarkan aku yang sibuk mencari-cari pulpen.


"Saya..."


"Gak bawa pulpen?" tanya Abira terlihat menahan tawanya.


Aku terpaksa menganggukkan kepala. Kenapa aku selalu meremehkan hal-hal kecil sih?


"Gimana sih, Mbak. Mau minta tanda tangan tapi gak bawa amunisi," ledek laki-laki yang berada di sebelah Abira.


"Sorry... Tapi... Saya beneran fans-nya Mas Abira. Ibu saya juga suka banget sama film-film nya Mas Abira," ucapku dengan gelagapan.


"Oke, gini-gini. Kita foto aja gimana?"


"Boleh. Boleh banget!" sahut ku buru-buru mengeluarkan ponselku. Abira meminta ponselku dan dia yang memegang kamera.


Sebenarnya Abira merangkul ku tapi aku sempat kaget hingga Abira malah meminta maaf. Ya ampun, kenapa bertemu dengan idola di saat seperti ini?


"Oke, udah. Ada lagi Mbak Fiona?"


Aku tersenyum lebar kemudian menggelengkan kepala.


"Ga ada. Makasih ya, Mas Abira. Maaf ganggu waktunya," ucapku masih senang bukan kepalang.


"Oke, saya pergi dulu ya," pamit Abira menepuk bahu ku pelan.


"Iya. Semangat Mas Abira sama film barunya. Saya akan nonton film 100 Hari Mengejar Cinta!" ucapku refleks hingga Abira menghentikan langkahnya. Ia menoleh lagi ke belakang dan mengangkat kedua tangannya simbol semangat dengan senyum manisnya.


"Sampe ketemu lagi, Fiona!" ucap Abira melambaikan tangannya lalu berjalan pergi bersama manager-nya.


Ya ampun, apa katanya tadi? Sampai ketemu lagi? Dia barusan memanggil namaku? Wah, ada apa hari ini?


Aku berbalik ke arah lift sambil terus melihat ke arah layar ponsel ku. Wajah ku memang tak terlalu bagus di foto ini. Tapi setidaknya, aku baru saja foto dengan Abira Mahendra! Kantor ini memang berkah untukku.


Senyum ku tak berhenti juga sampai beberapa staf Nicholas menatap ku sambil tersenyum geli.


"Aku baru foto sama Abira," bisik ku kepada Angeline dengan antusias.


"Dia emang baik banget orangnya," jawab Angeline. Aku menganggukkan kepala setuju. Lalu aku melanjutkan langkah ku ke ruangan Nicholas.


"Astaga!" umpat ku kaget ketika melihat Nicholas berdiri di sana sambil memegang satu setel gaun di hadapannya.


"Ganti baju sekarang, kita dinner sekarang," ucap Nicholas memberikan gaun tersebut kepada ku yang masih tercengang di tempat ku berdiri.


"Dinner? Sekarang?"


"Kenapa? Kamu mau protes sama pekerjaan kamu?" tanya Nicholas sambil menggendong Fio.


"Enggak. Tapi... Itu film, saya mau nonton film Abira."


"Apa Abira yang bayar kamu?" tukas Nicholas membuatku diam dan tak berkata-kata. Yap, benar Fiona. Untuk apa juga aku memberikan alasan itu.