NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
STOP PLAYING WITH MY HEART



Sejak mendengar jawaban Nicholas yang singkat itu, aku hanya diam termenung di tempat ku berdiri. Entah kenapa rasanya pikiran ku blank. Sulit sekali rasanya berpikir yang lain selain menerka kelanjutan penjelasan Nicholas. Apakah dia akan menjelaskannya?


Sementara aku termenung, seolah tertampar kenyataan, Nicholas berjalan menuju desk mejanya, meraih sebuah map dan mengulurkannya kepada ku.


"Fiona, kontrak kita sudah selesai," ucap Nicholas. Suaranya terdengar pelan, seolah ada keragu-raguan yang tak ku mengerti. Aku menatapnya, kedua bola mata Nicholas yang semula selalu terlihat tajam, mengintimidasi, dan berani, kini telah sirna. Yang ada, hanya kedua bola mata bening dan gelap. Seperti ada sesuatu yang menekannya.


Tahu apa kamu Fiona?


"Apa ... Rencana Pak Nicholas sudah selesai? Dan kecelakaan saya ini adalah finalnya?" tanya ku. Tapi anehnya, Nicholas yang sejak awal aku lihat selalu berani, kini malah beberapa kali terlihat menghindar dari tatapan ku.


"Saya mengakhiri rencana saya. Karena kamu," jawab Nicholas akhirnya mau menatap ku.


Aku tak tahu apa makna dari kalimat itu. Apakah dalam artian dia perduli pada ku atau justru aku penyebab gagalnya rencana Nicholas.


"Saya minta maaf kalau saya merusak rencana Pak Nicholas."


"Saya yang seharusnya minta maaf sama kamu, Fiona."


Aku tak menyahuti Nicholas lagi dan berbalik untuk pergi.


Dan tiba-tiba ada Ardi yang masuk ke dalam ruangan.


"Mari, Mbak."


"Saya bisa pulang sendiri," jawab ku ketus.


"Fiona, kamu akan diantar Ardi ke tempat baru kamu," sahut Nicholas.


"Tempat baru? Saya rasa, saya sudah gak ada urusan lagi sama Pak Nicholas. Jadi terserah saya mau kemana," tukas ku dengan cepat hingga Nicholas akhirnya diam.


Aku tahu Nicholas tetap memerintahkan Ardi untuk mengikuti ku sampai ke lobby perusahaan. Dan Ardi kembali membujuk untuk mengantar ku. Namun jawaban ku tetap sama. Aku tak akan mau berurusan dengan mereka lagi.


"Mbak Fiona," panggil Ardi yang masih mengikuti ku sampai ke jalan raya.


"Pak Ardi tolong jangan ikuti saya. Saya sudah gak ada urusan lagi dengan kalian," tukas ku berusaha tegas.


"Tapi Pak Nicholas meminta saya memastikan Mbak Fiona sampai ke tempat baru dengan selamat."


"Dengan selamat? Dia dan keluarganya yang membuat saya celaka. Dia bahkan tahu kalau saya akan dicelakai," sindir ku sambil mempercepat langkah ku berharap ojek online yang ku pesan segera sampai.


"Pak Nicholas ingin menyelamatkan Mbak Fiona malam itu. Makanya dia datang kembali ke apartmen. Dia marah sekali karena Mbak Fiona gak ada di apartmen malam itu dan kecelakaan itu terjadi," ucap Ardi menjelaskan dengan sangat cepat hingga aku menghentikan langkah ku dan berbalik menatapnya.


"Bukan sekali saya diteror, Pak. Dan dia sudah tahu itu. Tapi tetap membiarkan, karena memang ini rencana dia."


Kali ini Ardi seperti ingin menjawab namun ia terlihat berusaha keras menahannya.


"Pak Nicholas ... Gak berniat begitu dengan Mbak Fiona."


Hanya itu yang mampu dikatakan oleh Ardi. Aku tak pernah mengerti jalan pikiran Nicholas, bahkan meskipun Ardi sudah menjelaskan sebagiannya. Entah siapa yang harus aku percayai. Entah yang mana Nicholas sebenarnya.


"Fiona!"


Aku dan Ardi sama-sama menoleh kepada siapa yang baru saja memanggil ku dari dalam mobil. Abira. Dia memanggil ku duluan?


"Hai, mau kemana? Bareng yuk," ucap Arbi.


Aku melirik ke arah Ardi yang kelihatan sudah siaga entah untuk apa. Tapi aku dengan sengaja berjalan menghampiri mobil Abira. Sang pemilik pun segera membukakan pintu mobilnya untukku. Aku duduk di kursi penumpang depan, di sebelahnya. Dan aku baru tahu aktor sekelas Abira Sadewa ini menyetir sendiri tanpa supir.


Setelah aku selesai memakai sabuk pengaman, Abira segera melajukan mobilnya. Dan dari kaca spion, aku melihat Ardi berbalik sambil menghubungi seseorang, yang aku yakin adalah Nicholas.


Seharusnya, ini bukan urusannya lagi. Kontrak kami telah berakhir, dan aku tak akan membiarkan Nicholas mencampuri urusan pribadi ku, aku tak akan membiarkan Nicholas mendominasi ku juga. Semuanya telah berakhir. Begitu juga dengan perasaan semu ku padanya.


Semu. Aku bahkan tak tahu kalau ini hanya perasaan semu. Meskipun aku berusaha untuk mengelak setiap harinya, tetap saja semua perhatian Nicholas dan sikapnya telah membuat ku yakin tentang perasaan itu. Tampak nyata.


"Are you okay? Kamu kelihatan lagi kacau banget, Fiona?" tanya Arbi.


Aku memang mengidolakannya, tapi entah kenapa aku juga jadi merasa risih ketika orang ini bersikap akrab dengan ku. Padahal baru satu kali kami bertemu secara langsung.


"Gak apa-apa," jawab ku berusaha tersenyum.


"Oh ya, aku udah lihat kejadian soal kamu dan Hero. Dan aku percaya sama kamu, Fio. Bukan karena kamu fans aku. Tapi dari dulu aku emang gak percaya sama Hero."


Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya. Aku tahu soal itu, tapi aku sedang tak bergairah untuk membicarakan keburukan Hero. Lagi pula, rasanya bosan setiap hari mengetahui keburukannya.


"Di sekitar sini ada Bar. Yang punya kebetulan temen aku. Kamu mau ke sana? Siapa tahu bisa tenangin diri kamu."


"Aku gak minum, Ra."


"Kamu pikir di Bar cuma ada alkohol? Ada mocktail, soda, dan yang lainnnya juga, Fio. Kalau kamu mau, di sana tempatnya cozy banget," jawab Abira yang ingin kupertimbangkan sebenarnya. Tapi pikiran ku sedang tak bisa diajak berpikir berat. Dan lagi, aku belum tahu akan kemana sekarang. Mungkin, aku akan ikut dengannya. Lagi pula, ini masih sore.


Begitu sampai di Bar yang dimaksud Abira, ternyata benar. Tempat ini terlihat bernuansa classy, dan cukup nyaman begitu aku menginjakkan kaki ke dalam. Lalu seperti yang Abira bilang, beberapa pelayan, bartender, semua staf di sini nampak sudah akrab dengannya.


Abira mengajakku untuk duduk di salah satu meja bersama seorang pelayan yang mengikuti. Dan Abira juga menjelaskan pada ku apa saja minuman di daftar menu yang tidak beralkohol. Lalu dia memesankannya.


Kalau tak salah tadi aku memesan ocean mocktail, sementara Abira memesan Whiski. Aku tak tahu jelas tentang minuman Abira.


"Lagi senggang ya?" tanya ku pada Abira untuk membuka pembicaraan.


"Karena partner kerja project baru aku kena skandal, jadwalnya jadi banyak yang diubah. Si Hero itu emang selalu bikin masalah. Kalau gak terlambat, ya itu deh bikin heboh terus," jawab Abira melipat kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Lagi-lagi aku hanya mengangguk pelan. Tak ingin berkomentar banyak.  Kita hanya diam sampai akhirnya pelayan datang membawakan kami minuman.


"Jadi, apa kekacauan ini karena Nicholas?" tanya Abira seketika membuat ku mengurungkan niat ku untuk minum. Apa dia juga tahu soal 'hubungan' ku dan Nicholas?


"Astaga, jadi benar Fiona? Kamu kelihatan perempuan lugu dan polos. Ternyata kamu boleh juga ya." Abira tertawa. Tapi aku sama sekali tak tertawa. Aku tak tahu itu hinaan atau pujian. Apapun itu, aku seperti kehilangan kendali ku untuk menilai ucapan orang lain. Karena Nicholas.


"Yah, rumor soal gak harmonisnya rumah tangga dia sih sebenernya udah kecium sejak lama. Tapi aku gak nyangka Nicholas memilih kamu untuk jadi mainannya."


Meskipun tak dipermainkan seperti yang Abira bayangkan, tetap saja kata itu masih pantas untukku. Karena aku memang seperti dipermainkan, atau mungkin karena aku memakai perasaan sehingga merasa dipermainkan?


"Aku gak khawatir sedikitpun," sergah ku refleks menahan tangan Abira yang hendak merangkul bahu ku.


"Sorry ya, Fio. Aku gak ada niat apa-apa. Cuma sebatas pengen nenangin kamu aja."


Belum aku menyahut, tiba-tiba raut wajah Abira berubah melihat ke arah belakang ku. Dan aku sama kagetnya ketika melihat Nicholas menarik tangan ku untuk berdiri dan dia hendak membawa ku pergi sebelum aku menahannya.


"Kenapa lagi?"


"Saya suruh kamu untuk langsung pergi ke tempat baru. Bukan di sini," tukas Nicholas kembali menarik ku untuk mengikutinya.


"Nicholas!" panggil ku tanpa embel-embel Pak lagi. Sontak Nicholas pun berhenti dan menoleh kepada ku.


"Lepasin saya."


"Kamu mau di sini?"


"Ya." Kali ini akhirnya aku bisa tegas menatapnya.


Aku tak perlu bingung dari mana Nicholas tahu aku ada di sini. Yang membuat ku bingung, kenapa dia menyusul ke sini?


Nicholas menatap ku lagi. Dia kembali menarikku ke dalam. Tapi begitu sampai di dalam, aku sudah tak melihat Abira lagi. Nicholas membawaku ke meja Bar baru melepaskan tangan ku.


"Mau apa?" tanya Nicholas seolah menantang ku.


"Whiski," jawab ku pada seorang bartender yang ada di hadapan ku. Tanpa menunggu lagi, bartender tersebut langsung mempersiapkan pesanan ku sementara Nicholas berdiri menatap ku tak percaya.


"Are you crazy?" tanya Nicholas yang anehnya sulit sekali aku cerna kenapa dia mengatakan itu pada ku, seolah kami pernah seakrab itu. Yah, Well ... Kami memang terasa sudah sangat dekat. Sampai Nicholas mengasingkan ku.


"Fiona," panggil Nicholas merebut gelas Whiski milik ku sebelum sempat aku raih. Seolah menahan aku untuk meminumnya.


Aku merebut kembali gelas itu dan langsung menenggaknya. Aku meringis merasakan rasa panas yang melewati tenggorokan ku.


"Kamu tahu apa yang kamu minum?"


"Lagi, Pak," ucap ku kepada bartender tadi mengabaikan pertanyaan Nicholas.


"Fiona, cukup."


"Kalau kamu merasa terganggu, harusnya pergi aja sana. Saya juga gak mengajak kamu ke sini," jawab ku dengan tegas.


"Dan kamu akan mabuk sendirian di sini? Kamu akan jadi sasaran empuk para bajingan yang akan melakukan hal gak senonoh sama kamu," tukas Nicholas terdengar seperti sedang mengomel. Sementara aku menenggak Whiski lagi, lalu meringis lagi.


"It's okay ... Saya pikir begitu." Aku tak yakin dengan apa yang aku bicarakan barusan. Otak ku rasanya sudah benar-benar tak bekerja.


"No, kamu bukan perempuan seperti itu, Fiona."


"Kamu salah, Nicho. Saya perempuan seperti itu. Saya kan simpanan kamu."  Aku tertawa sinis sambil memutar-mutar gelas ku dan aku tak tahu siapa yang meminta tapi gelas ku tiba-tiba terisi kembali.


"Fiona, kamu udah mulai mabuk."


Aku mendorong Nicholas sekuat yang aku bisa. Tapi rasanya aku tak bisa merasakan diriku lagi sampai tubuhku terhuyung dari kursi.


"Enough, Fiona. Ikut saya," ucap Nicholas merebut gelas ku dan menaruhnya lagi di meja.


"Gak, tinggalin saya aja. Saya memang sasaran empuk bagi bajingan seperti kamu, yang memanfaatkan saya, dan membuat hal gak senonoh ..."


Tiba-tiba Nicholas menggendong ku. Aku ingin berontak, tapi rasanya tak memiliki tenaga untuk itu.


Aku rasa aku tak bicara apa-apa, tapi Nicholas menutup mulut ku sampai akhirnya kami di parkiran, dia menurunkan aku dan menggiringku masuk ke dalam mobilnya.


"Saya bisa pulang sendiri, Mr. Bajingan."


Tangan Nicholas menangkap tangan ku yang berusaha membuka pintu mobil. Dia mencengkeramnya dengan kuat sampai aku tak bisa bergerak.


"Kenapa? Pak Nicholas mau melakukan hal gak senonoh lagi sama saya?"


"Yang kamu maksud itu ... Ciuman kita?" tanya Nicholas seketika membuat kesadaran ku dipaksa untuk muncul lagi. Aku sendiri bingung apakah aku sedang mabuk atau tidak. Aku hanya merasa ingin mengoceh saja terus menerus.


"Oh ... Pak Nicholas mau mengelak karena saat itu saya juga menikmati ciuman itu? Ya ... Baiklah, itu bukan pelecehan. Tapi Pak Nicholas tetap bajingan," ucap ku tertawa miris.


"Ya, saya memang bajingan, Fiona. Tolong untuk kali ini aja. Satu kali ini aja, kamu harus percaya dengan bajingan ini."


Perkataan macam apa itu? Tapi tubuh ku melunak. Aku bahkan tak merasa Nicholas mencengkeram tangan ku lagi.


Dia menarik sabuk pengaman ku dan memakaikannya dengan hati-hati. Kemudian membuat kepala ku menyender ke jok mobil, lalu menyikap rambut yang menutupi wajah ku. Aku melihatnya, entah ini nyata atau hanya ilusi ku saja yang mungkin sedang mabuk.


Mobil mulai melaju, dan aku masih mengoceh tak jelas. Aku merasa kepala ku penuh dengan pikiran yang tak jelas dan sekarang, rasanya begitu nyaman untuk mengungkapkan semuanya.


"Saya ingin memahami kamu. Saya sangat ingin berusaha berpikiran baik tentang kamu. Saya terus mencoba menebak-nebak tentang kamu ... Bodohnya saya karena membiarkan diri saya terhanyut oleh kamu. Tanpa saya sadar kalau saya sedang dimanfaatkan."


Kaki ku sempat tersandung lantai ketika tanpa ku sadari, Nicholas sudah membawa ku turun dari mobil. 


Aku tak tahu ini dimana. Tapi aku refleks tertawa menyadari kalau saat ini aku dipakaikan topi dan masker.


"Saya dimana?"


"Hotel," jawab Nicholas membaringkan aku di atas tempat tidur. Dia membukakan topi dan masker ku, lalu sepatu ku.


"Saya mau pulang!" omel ku berusaha beranjak, tapi lagi-lagi Nicholas menahan ku. Dia membukakan jaket ku dan membaringkan ku lagi.


Nicholas menarik selimut menutupi seluruh tubuh ku. Dan aku merasa belum mengantuk sama sekali.


Kemudian, aku merasakan bibir Nicholas mengulum bibir ku. Aku diam membeku meskipun aku rasa aku sadar. Ciuman Nicholas mampu menyentuh hati ku lagi. Bahkan aku membiarkannya mungkin hampir satu menit, sampai pelan-pelan Nicholas melepaskan ciumannya.


"Maafin saya, Fiona," bisik Nicholas mengecup kening ku juga lalu beranjak berdiri dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkan aku yang kembali dibuat bingung dengannya.


Apa yang sebenarnya Nicholas ingin kan lagi dari ku? Jika ini hanya ilusi, kenapa terasa begitu nyata?