NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
PERPISAHAN



Aku berdiri dengan kaki yang masih sedikit gemetar setelah turun dari helikopter yang mendarat di atap gedung perusahaan Nicholas yang beroperasi di Surabaya. Gedung ini lebih besar dari Ark's Film di Jakarta. Mungkin lain kali aku akan tanyakan pada Nicholas tentang perusahaan ini.


"Denger, Fiona. Saya akan jamin nama kamu gak akan tersentuh sedikit pun mengenai semua masalah ini. Jadi kamu hanya perlu hidup seperti biasa di sini. Buat seolah-olah kamu gak punya hubungan khusus dengan saya, dan saya akan pastikan klub aneh itu gak akan mengikuti kamu," ucap Nicholas.


Aku menyibak rambut ku yang tertiup angin helikopter ini dengan sedikit tertekan. Jika saja aku punya ikat rambut cadangan.


"Kalau saya harus hidup normal seperti biasa, kamu gak mungkin nyuruh orang untuk jagain saya," sindir ku sambil melirik ke arah Amalia, seorang sabuk hitam Taekwondo yang terlatih. Bahkan kabarnya, dia juga pernah bergabung dalam pengamanan pemerintahan.


"Cuma ini yang bisa bikin saya tenang jauh dari kamu," jawab Nicholas sangat jujur sekali.


"Jadi saya bisa hidup normal kaya biasa ya? Keluar, cari kerja, hang out sama temen-temen, gitu?" tanya ku sebenarnya hanya mengulur waktu dengan Nicholas.


"Boleh semuanya. Kecuali satu, jangan   coba-coba cari pacar," jawab Nicholas sontak membuat ku tertawa.


"Ya tergantung. Kalau kamu kelamaan jemput saya, jangan kaget nanti kalau dapet undangan dari saya," jawab ku bercanda. Tapi Nicholas hanya diam.


"Kamu punya cowok di sini? Jangan bilang sama si Joshua itu?" tanya Nicholas yang menanggapi kalimatku dengan serius.


"Saya bercanda, Nicho!" bantahku sambil tertawa pelan. Dan akhirnya aku bisa melihat senyum tipis di wajah Nicholas.


Nicholas menghela napas panjang sambil memeluk ku lagi, dan membisikkan.


"Gak lucu," bisik orang yang candaannya lebih gak lucu lagi.


"Kamu jangan lama-lama ya. Jemput saya secepatnya di sini. Kabarin saya terus, oke? Kalau nggak, saya bisa nekat nyusul lagi ke Jakarta," bisik ku pelan. Meskipun terdapat sedikit ancaman dalam kalimatku, aku hanya berniat bercanda.


"Saya akan secepatnya beresin semua kekacauan di sana. Yang penting kamu udah aman di sini, saya juga akan fokus, Fiona," bisik Nicholas mengelus rambutku dengan hati-hati.


"Kamu juga harus jaga diri di sana. Jangan kasih celah mereka untuk lukain kamu sedikit pun. Kamu harus inget, punya janji nikahin anak gadis orang," jawab ku akhirnya bisa membuat Nicholas tertawa sambil mencium pipi ku cukup lama.


"Udah sana," bisik ku karena matahari juga sudah mulai naik. Tapi Nicholas belum melepaskan pelukannya, hingga aku harus menepuk-nepuk bahunya mengisyaratkannya untuk segera melepas pelukannya, meski aku juga tak ingin.


"Jangan jauh-jauh dari Amalia. Oke?" pesan Nicholas ketika melepaskan pelukannya.


"Oke. Hati-hati ya, sayang," jawab ku sambil melambaikan tangan.


Nicholas tersenyum kemudian mencium bibir ku sekilas lalu berbalik menaiki helikopter. Sementara aku tertawa pelan melihat helikopter mulai bersiap terbang.


"Mbak Fiona," panggil Amalia menyarankan aku untuk segera mengikutinya.


Aku segera mengikuti Amalia sambil menarik koper ku. Kami memasuki lift besar menuju lobby.


Selama menunggu, aku iseng bertanya banyak hal pada Amalia. Seperti sejak kapan ia bergabung dengan Nicholas, atau dimana tinggalnya, usianya berapa, hanya untuk pendekatan saja.


Ya ampun, aku pikir akan seperti di film-film, aku diberikan bodyguard laki-laki tampan dan keren. Walaupun mungkin tak akan bisa menandingi Nicholas, setidaknya kan bisa cuci mata setiap hari. Minimal seperti Abira.


Khayalan ku itu terhenti ketika lift sampai di salah satu lantai. Ini lantai 10 kalau aku tak salah. Amalia menjelaskan kalau kami harus menaiki lift yang lain untuk sampai ke lobby.


Begitu melewati lantai 10 ini, aku merasa betapa megahnya gedung ini. Ada banyak karyawan yang menyebar di berbagai area dengan laptop mereka sambil menyantap makanan ringan. Ada dari beberapa mereka juga bekerja di balkon gedung yang dipenuhi tanaman gantung merambat. Astaga, tempat apa ini sebenarnya?


Aku mengikuti langkah seorang karyawan yang menghampiri sebuau station, ia membuka laci dan mengambil beberapa makanan ringan. Sementara yang lainnya mengambil susu atau softdrink.


"Ini kantor? Mereka lagi istirahat sepagi ini?" tanya ku bingung.


"Betul, Mbak. Mereka ini karyawan yang lembur sampai pagi untuk menyelesaikan deadline biasanya. Lantai 10 ini memang dikhususkan untuk para karyawan yang dikejar deadline, jadi mereka bisa me-refresh otak dengan view atau makanan."


Aku ingin kerja di sini!


Tapi ekspresi mereka memang tak bisa berbohong sih. Wajah kurang tidur dan penuh tekanan. Pekerjaan mereka pasti sulit. Ya, bahkan sekalipun otak yang bekerja, fisik dan mental pasti tetap terasa lelah.


"Ini perusahaan apa?" tanya ku ketika  kami akhirnya memasuki lift lain untuk turun.


"Amaze Entertainment. Hampir mirip dengan Ark's Film. Tapi lebih luas lagi. Bukan hanya film. Di sini juga tempat memproduksi aktris dan aktor berbakat, penyanyi, biasanya bekerja sama juga dengan produser Amerika," Amalia menjelaskan dengan sangat fasih seperti dia sudah sangat lama bekerja di sini.


"Punya Nicholas?" tanya ku lagi.


Amalia menoleh pada ku sebentar, kemudian tersenyum kecil. Sepertinya dia baru sadar kalau aku benar-benar tidak tahu tentang perusahaan-perusahaan Nicholas.


"Perusahaan ini milik Mark Mahen, orang Amerika. Dan Pak Nicholas ditunjuk sebagai CEO perusahaan ini," jawab Amalia dengan tenang, padahal aku yakin dia masih tak habis pikir mengapa bisa ada orang yang tahu apa-apa tentang Nicholas sepertiku.


Pantas saja jadwal Nicholas di Ark's Film hanya dua hari dalam seminggu. Ternyata dia harus mengurus perusahaan lain.


Tapi kenapa aku baru tahu sekarang? Dan selama tiga bulan ini, coba aku ingat, apakah Nicholas pernah ke Surabaya? Kapan?


"Oh ya, kamu kan katanya baru bergabung dengan Nicholas, kok kamu tahu banyak tentang perusahaan ini?" tanya ku bingung.


"Perusahaan ini sangat terkenal di Indonesia dan Amerika, Mbak. Dan saya terbiasa untuk mencari tahu calon atasan saya sebelum bekerja," jawab Amalia tersenyum.


Ah, iya. Seharusnya dulu aku juga mencaritahu dulu soal Nicholas sebelum menerima berbagai tawarannya.


Mana sempat juga sih, waktu itu kan aku sedang kalut karena Mama yang dikejar-kejar penagih hutang.


Akhirnya, aku dan Amalia sampai di lobby. Kami berdua langsung menaiki mobil yang sudah menunggu di depan. Aku tak sempat melihat-lihat area lobby yang besar ini. Mungkin, suatu hari aku bisa menjelajahi kantor ini. Siapa tahu bisa bertemu aktor hebat dari Amerika. Mungkinkah? Mungkin, tapi Nicholas pasti akan mengamuk lagi.