NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
I'M WITH YOU



Nicholas kembali memakaikan aku jaket, topi, masker, dan kacamata. Setelah itu, Ardi yang mengawalku keluar dari hotel ini.


Ardi membawa ku ke bagian belakang  hotel, dimana mobil Nicholas sudah menunggu. Ardi membukakan pintu mobil, lalu aku masuk ke mobil, duduk di kursi penumpang tepat di sebelah Nicholas yang menyetir sendiri mobil ini.


Perlahan, mobil mulai keluar dari area hotel. Entah kenapa euphoria di sekitar ku masih membuat ku gugup dan gelisah. Apalagi, selama lima menit perjalanan, aku menyadari ada dua mobil BMW hitam yang terus mengikuti di belakang mobil ini.


"Nicho, kayanya ada mobil yang ngikutin kita. Di belakang, itu ... Ada dua. Saya yakin mereka keluar dari parkiran hotel -"


"Hey, Fio. Tenang," ucap Nicholas meraih tangan ku dan menggenggamnya erat.


"Mereka orang-orang yang saya suruh untuk ikutin kita di belakang. Satu untuk memantau, satu lagi untuk fokus sama kita. Mereka semua akan berguna nanti," ucap Nicholas.


"Maksudnya?"


Nicholas tak menjawab, tiba-tiba ia menekan tombol di dashboard-nya, lalu menambah kecepatan mobilnya. Kedua mobil di belakang menyusul sampai berjejeran di jalanan raya yang lengang ini.


Mereka saling menyalip satu sama lain, dan itu membuat ku memejamkan mata karena takut. Kemudian Nicholas berbelok dengan cepat. Aku sempat tersentak kaget, tapi akhirnya mobil berjalan dengan normal lagi.


"Seru kan?" tanya Nicholas.


Nah, baru kali ini aku merasa Nicholas sedikit berhasil untuk berusaha bercanda dengan ku. Walaupun, sebenarnya bukan pada situasi yang tepat.


"Jadi mereka buat ... Semacam pengecoh?" tanya ku masih sulit bernapas karena kaget.


"Ya," jawab Nicholas masih belum melepaskan tangan ku.


Aku menghela napas panjang pelan-pelan.


"Apa tadi ada orang yang ngikutin kita - maksud saya, selain orang-orang suruhan kamu?"


"Iya. Cuma satu motor NMax warna hitam, dia salah satu anggota klub ..."


Nicholas tak melanjutkan kalimatnya ketika ia hampir saja menyinggung soal klub aneh keluarganya itu.


Kemudian, akhirnya mobil Nicholas memasuki sebuah gerbang besar yang dijaga oleh dua satpam.


Begitu memasuki gerbang, kedua mata ku terbebalak kaget melihat isinya. Maksud ku, mobil ini harus melewati jalanan aspal yang dikelilingi kebun dan rumput-rumput rindang dulu, baru benar-benar sampai di parkiran mobil yang terletak di basement sepertinya.


Astaga, ini rumah siapa? Bukan hanya halamannya yang besar, tapi rumahnya juga sangat besar. Apa terlalu berlebihan jika aku menganggap bangunan ini seperti gedung pemerintahan?


"Ini dimana?" tanya ku sebelum Nicholas mengajak ku keluar.


"Rumah saya," jawab Nicholas tersenyum kemudian keluar dari mobil. Ia membukakan pintu mobil untukku yang masih tercengang.


Karena melihat ku yang jalan kelimpungan, Nicholas langsung menggandeng tangan ku untuk mengikutinya menghampiri sebuah lift. LIFT!


Tak butuh waktu lama, lift berhenti. Nicholas kembali menggandeng tangan ku mengikutinya keluar lift, memasuki rumahnya dari arah belakang sepertinya.


Beberapa asisten rumah tangga berseragam menyambut Nicholas dengan ramah.


"Kamar yang Anda minta sudah siap, Tuan," ucap salah satu asisten rumah tangga yang memakai name tag bertuliskan 'Fariska'.


Ini aneh, rumah ini terlalu tidak nyata bagi pengelihatan ku. Rumah dengan design modern bernuansa serba putih dan emas ini seperti foto-foto rumah di internet.


"Di sana kamar kamu," ucap Nicholas sambil menunjuk ke salah satu kamar yang ada di lantai ini. Kamar ku berada di tengah-tengah dari tiga kamar.


"Yang itu kamar siapa?" tanya ku menunjuk kamar sebelah kiri.


"Itu kosong," jawab Nicholas, lalu ia menoleh ke arah ku.


"Kenapa? Kamu gak boleh pindah, karena akan lebih jauh dari kamar saya," ucap Nicholas memperingati.


"Oh, jadi kamu maksa saya untuk tidur di sebelah sama kamar kamu dan Bu Mia?" sindir ku menggelengkan kepala.


"Mia gak pernah ke sini, apalagi tinggal di sini," jawab Nicholas seketika membuat ku cepat-cepat menoleh ke arahnya.


"Kamu becanda ya?" tanyaku tak percaya


Nicholas hanya mengedikkan bahu dengan santai. Dan aku masih tak percaya.


"Gak mungkin Bu Mia gak pernah ke sini, Nicho..."


"Bahkan, saya jamin dia gak tahu saya punya rumah ini." Nicholas menjawab dengan wajah sungguh-sungguh. Aku tahu dia tak mungkin bercanda hal semacam ini.


"Ini benar-benar rumah kamu kan?"


"Rumah pribadi. Rumah keluarga saya. Mereka pikir saya sudah menjual rumah ini sejak saya menikah. Jadi rumah ini, aman untuk kamu," ucap Nicholas menjelaskan kenapa dia menjamin Bu Mia tak mengetahui tentang rumah ini. Astaga, aku masih tetap kaget. Ternyata hubungan Nicholas dan Bu Mia memang sejauh itu sebagai suami dan istri.


"Terus di mana rumah kamu sama Mia? Apa di sekitar sini?" tanya ku basa-basi, sekedar untuk menutupi keterkejutanku.


"Buat apa nanya, saya akan di sini terus," jawab Nicholas memeluk ku lagi dengan erat. Sepertinya Nicholas tahu kalau dia sudah memberitahu ku soal rumahnya dan Bu Mia. Nicholas memang malas menjawab pertanyaan basa-basi begitu. Untungnya sekarang Nicholas menanggapiku dengan manis.


Senyumku seketika merekah, ketegangan yang sejak tadi menyelimutiku luntur seketika. Jujur saja, aku suka setiap kali Nicholas memeluk ku. Rasanya sangat nyaman.


"Jadi, tadi Ardi sudah cek siapa yang masuk ke kamar saya?" tanya ku mengingat lagi soal itu. Karena Nicholas belum membahasnya sampai sekarang.


"Ya. Ardi sudah periksa. Dia juga sudah berhasil menemukan identitas pelakunya." Nicholas menjawab dengan nada suara yang tak bersemangat.


"Apa orang itu termasuk anggota klub?" tanyaku tak sabar. Karena sejak tadi, yang terus berputar di otakku adalah mereka.


"Bukan. Dia staf hotel yang disuruh sama keluarga saya dan Mia. Tapi saya sudah pastikan di dipecat hari ini juga," jawab Nicholas kemudian melepaskan pelukannya. Uh, aku merasa kasihan mendengar karyawan yang dipecat tanpa basa-basi begitu. Tapi, aku tak mau kejadian seperti ini terjadi pada tamu lain. Karyawan yang mudah dibayar untuk melakukan kejahatan.


"Kamu masuk dulu ke kamar kamu, kasih tahu saya apa yang kurang. Setelah itu kita harus makan." Nicholas menjelaskan sambil mengelus rambutku seperti anak kecil.


Aku baru akan menyahut, Nicholas sudah membukakan pintu kamar ku.


"Ayo, Fiona. Kamu perlu makan untuk tetap penasaran," jawab Nicholas.


"Jadi, apa setelah ini kamu mau menceritakan sesuatu sama saya?"


Nicholas mengangguk, ia kembali meraih tangan ku dan menyuruh ku untuk masuk ke kamar ku. Baiklah, jika setelah ini Nicholas benar-benar menceritakannya. Aku benar-benar ingin tahu apa yang Nicholas lakukan selama ini kepada keluarganya dan juga Mia.