
Hari pertama kembali ke kampung halaman, rasanya senang sekali. Adikku ternyata sedang magang di Semarang. Ya ampun anak itu bahkan tak menghubungi ku sama sekali.
"Baru berangkatnya, terus kamu pulang. Mama gak jadi sendirian deh di sini."
"Iya, dong. Artinya aku dateng di waktu yang tepat," ucap ku.
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba pulang begini, Fio? Kamu sudah beneran dipecat?" tanya Mama seketika membuat senyum ku luntur. Bagaimana aku menjelaskan semuanya?
"Eh, Ma. Dinar gimana? Pernikahannya lancar? Kemarin tuh Fio lembur terus jadi belum sempet ngucapin," tanya ku mengalihkan pembicaraan.
"Kamu gak denger memangnya? Pernikahan Dinar kan ditunda sampai bulan depan. Calon mertuanya meninggal. Jadi mau fokus dulu ngurus pemakaman."
Ya ampun, aku baru tahu. Selama ini aku sibuk dengan Nicholas, Dinar mungkin menghubungi ku tapi ponsel ku terus diganti. Benar-benar kacau belakangan ini.
"Dinar sekarang ada di rumah nya kan?"
"Masih di Yogyakarta. Ngurusi keluarga calon suaminya itu."
Baiklah, aku harus menghubunginya sekarang. Aku segera meraih ponsel ku, lalu menyadari kalau ada beberapa panggilan tak terjawab dari Nicholas dan juga pesan.
Ya ampun, aku lupa kalau ponsel ku masih dalam mode silent.
Ada beberapa pesan dari Nicholas.
From: Nicho
Sayang, udah sampe di rumah?
Tiba-tiba aku merasa deja vu. Ini seperti saat aku dan Nicholas sedang berpura-pura dulu. Bedanya, kali ini Nicholas benar-benar mengatakannya, bukan pura-pura. Dan itu terasa lebih menggelikan.
From: Nicho
Gak perlu dijawab, Amalia sudah mengabarkan kamu sampai di rumah. Saya tahu kamu kangen banget sama ibu kamu, tapi jangan lupa istirahat. Ingat kata dokter, jangan sampe telat makan lagi.
From: Nicho
Apa kamu udah cerita soal saya ke ibu kamu?
Aku tertawa pelan. Kenapa sih dengan Nicholas? Biasanya dia paling gak suka kirim pesan panjang begini. Tapi kenapa sekarang rasanya bawel banget?
To: Nicho
Ya, saya udah sampe rumah Nicho. Saya akan makan banyak di sini, karena masakan Ibu saya gak pernah gagal bikin saya nambah. Oh ya, emangnya saya harus cerita apa ya ke Ibu soal kamu?
Setelah mengirim pesan itu, aku segera menelpon Dinar. Aku mungkin akan menelepon Nicholas juga nanti siang.
***
"Masyarakat menuntut kepolisian untuk segera menguak kematian Mia Raquel dan berhenti mengusik Hero yang diduga terlibat dalam kasus ini."
"Sekali lagi, Hero tersandung skandal baru setelah gosip perselingkuhan mulai terkuak di publik. Belakangan ini publik sudah dibuat terkejut dengan unggahan bukti-bukti Mia Raquel yang ternyata beberapa kali menggoda para aktor baru dengan kata-kata intimidasi. Hal inilah yang memperkuat dugaan, bahwa Hero terlibat dalam kematian wanita berusia 35 tahun itu."
"Polisi sudah memeriksa beberapa orang termasuk Hero dan suami korban. Setelah didesak, akhirnya polisi menemukan titik terang bahwa Mia Raquel diduga frustrasi akibat skandal yang menyeret namanya dan juga keputusan sang suami yang menggugat cerai dirinya."
"Nicholas Arrasya, diketahui sudah mengirim berkas gugatan perceraian terhadap Mia Raquel satu minggu sebelum kejadian. Kuat dugaan Mia mengakhiri hidupnya sendiri di rumah sakit tempatnya dirawat sejak kecelakaan mobil yang menimpanya."
Ini aneh. Apa iya Mia mengakhiri hidupnya dengan menggunting selang oksigennya sendiri?
Jelas-jelas Nicholas pernah bilang kalau ia memiliki rekaman yang menunjukkan ada orang lain yang masuk ke dalam ruang rawatnya. Tapi kenapa polisi memutuskan bahwa kasus kematian Mia karena mengakhiri hidupnya sendiri?
Nicholas belum membalas pesan ku. Dia juga sulit dihubungi. Aku benar-benar bingung dengan semua ini. Aku khawatir dengan Nicholas. Bagaimana jika klub aneh itu tahu kalau Nicholas memberikan rekaman itu ke polisi?
Aku mencoba untuk menghubungi Ardi. Dan untungnya dia mengangkat panggilan telepon ku.
"Ya, Mbak?"
"Betul, Bu. Pak Nicholas bolak-balik ke kantor polisi dan kantor Pengadilan Agama. Maaf, Mbak hanya itu yang bisa saya katakan sekarang. Mbak gak usah khawatir," ucap Ardi kemudian ia berpamitan untuk mematikan sambungan teleponnya.
Baiklah, aku akan mencoba tenang. Toh pasti ada banyak orang di sana yang menjaga Nicholas. Meskipun, sebenarnya hanya Nicholas sendiri yang bisa menjaga dirinya.
"Nicholas? Siapa Fi?" tanya Mama tiba-tiba masuk ke dalam kamar ku dengan wajah penasaran.
"Nicholas ... Itu ..."
"Siapa sih? Kok kaya orang bule namanya?"
"Iya, emang. Dia itu ... Pacar ... Fio," jawab ku gelagapan.
"Pacar? Sejak kapan? Kok gak pernah cerita?"
"Baru kok, Ma. Nanti kapan-kapan Fio kenalin ya," jawab ku bingung harus menjelaskan dari mana.
"Nicholas, itu kayanya Mama agak familiar deh sama namanya. Dia itu ..."
"Sampai saat ini, Nicholas Arrasya belum mau memberikan keterangan apapun kepada media. Padahal, sudah banyak masyarakat yang penasaran dengan -"
Aku segera mematikan TV ketika berita sialan itu kembali muncul membahas kasus yang sedang hangat ini.
Mama langsung menatap ku bingung. Fiona bodoh. Bagaimana ini?
"Kenapa dimatiin?"
"Gak ada yang seru acaranya. Malah berisik," jawab ku pelan.
"Oh iya, Mama jadi ingat Nicholas itu sama dengan nama itu yang ada di berita gosip ya."
Aku hanya tersenyum kikuk. Bagaimana jika Mama tahu kalau Nicholas ku dengan Nicholas yang ada di TV adalah orang yang sama?
Tiba-tiba Mama beranjak dari kamar ku. Aku tak tahu, tapi ku pikir Mama akan bertanya banyak hal soal pacar baru ku ini. Tapi, Mama malah keluar.
Baru saja aku bernapas lega sebentar, tiba-tiba Mama masuk lagi ke kamar ku sambil membawa bungkusan berwarna cokelat.
"Nicholas Arrasya ... ini, orang yang sama dengan kenalan kamu?" tanya Mama sambil menunjuk alamat dan nama pengirim paket dokumen yang pernah dikirimkan Nicholas. Matilah aku.
"Fio, kamu serius? Ini Nicholas yang sama kan?"
Aku menganggukkan kepala ku pelan. Dan aku tahu reaksi apa yang muncul setelah Mama mengetahuinya.
"Tapi ... Fio. Dia sudah punya istri. Dan ... Dia bermasalah. Dia ... Fio kamu kenapa sih? Kok kamu bisa berhubungan sama laki-laki seperti itu? Jangan-jangan selama ini kamu ..."
"Ma, sebentar. Ini gak seperti yang Mama pikir. Fiona dan Nicholas itu gak selingkuh -"
"Gimana gak selingkuh? Kamu pacaran dengan dia kan selama ini? Kamu jadi selingkuhan orang Fio? Kamu ... Jangan bilang, Nicholas itu benar-benar terlibat kematian istrinya supaya bisa sama kamu, iya?"
"Enggak, Ma. Nicholas gak terlibat soal kematian istrinya, ini semua bener-bener gak -"
"Astaga, Fio. Kalau pun benar istrinya bunuh diri itu semua karena kamu dan Nicholas itu! Kamu ... Kok jadi begini sih, Fio? Anak Mama kenapa jadi jahat begini?"
Aku terdiam membeku. Rasanya semua kata-kata ku sulit untuk dikeluarkan melihat Mama semarah ini. Rasanya aku tak bisa berkutik dibawah tuduhan Mama.
"Fio jawab! Kalau tahu selama ini kamu dibantu sama suami orang, Mama gak akan terima Fio. Biarin Mama masuk penjara dibanding punya anak jadi selingkuhan suami orang!"
"Ma ..."
Belum sempat aku menjelaskan, ponsel ku bergetar panggilan telepon. Melihat nama Nicho di layar ponsel ku, Mama segera merebut ponsel itu dan membantingnya ke lantai lalu menginjaknya sampai ponsel ku mati.
Aku tak bisa berkutik. Mama sedang kalut, dan aku juga belum siap dengan kondisi ini. Aku pikir, aku bisa menjelaskan soal Nicholas secara baik-baik. Tapi aku lupa kalau mungkin Mama akan mendengar berita gosip sebesar itu.