NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
SERANGAN



Aku sudah terbiasa dengan keheningan di private room Nicholas. Tapi satu hal yang membuat ku belum terbiasa. Tidur bersebelahan dengan Nicholas.


Orang pada normalnya, akan melakukan hal diluar batas ketika berada di posisi ini. Tapi tidak dengan ku atau Nicholas. Aku tak tahu mungkin ada yang salah dengan pikiran ku atau Nicholas. Tapi, menurut ku, rasanya lebih baik begini.


Berbaring saling berhadapan, tapi tak ada satupun dari kami berdua yang tidur.


Aku mungkin akan tertidur jika Nicholas terus menerus mengelus rambut ku seperti ini. Tapi, rasa senang ku terlalu menguasai.


"Gimana perasaan kamu, Nicho?" tanya ku akhirnya membuka suara.


"Aneh. Mungkin, akan lebih cepat kalau saya habisi mereka semua setelah tahu semua kebusukan mereka," ucap Nicholas berhenti mengelus rambutku dan menaruh tangannya di pipi ku.


"Tapi, melihat mereka hancur dengan saling menuduh begini, rasanya cukup adil juga."


"Nicho, kamu tahu kan semua ini juga tetap kejahatan. Saya tahu juga kalau saya terlibat dalam kejahatan ini. Tapi please, Nicho. Ini yang pertama dan terakhir, oke? Saya bener-bener berharap gak ada lagi dendam di dalam hati kamu," jawab ku pelan.


"Dendam ..."


"Dendam yang kamu simpan, cuma akan membunuh ketenangan kamu Nicho. Saya tahu kamu marah. Siapa pun pasti marah ketika mendengar apa yang terjadi sama kamu. Tapi hidup kamu terlalu berharga kalau kamu habiskan untuk membenci seseorang," ucap ku pelan.


"Apa kamu juga bisa menghilangkan benci kamu sama ayah kamu?"


Aku terdiam sejenak, tak tahu apakah perlu mengatakan ini pada Nicholas.


"Setelah lihat kamu begini, saya belajar untuk gak membenci dia Nicho. Sekarang saya paham, kenapa Mama gak melakukan itu juga. Selama ini hidup saya gak pernah tenang karena mikirin gimana caranya kabur dari rasa kesal saya yang mendalam pada ayah saya. Tapi ..." Aku menahan napas sejenak.


"Begitu ketemu kamu, saya gak mau hidup saya terganggu sama masa lalu saya. Saya cuma mau fokus sama masa depan saya," lanjut ku sambil tersenyum.


"Masa depan kamu? ... Saya?"


"Iya. Jadi asisten pribadi kamu."


"Sorry, Miss. Kamu harus pilih jadi asisten pribadi saya atau jadi istri saya."


"Kenapa gak dua-duanya? Saya bisa jadi dua-duanya."


Nicholas tak menjawab, ia hanya tersenyum sambil meraih tangan ku dan menaruhnya di bawah pipinya, lalu menggenggamnya erat.


"Nicholas ..."


"Hmm?"


"Hug me," bisik ku mengikuti cara bicara Nicholas dulu saat meminta ku memeluknya.


Nicholas sempat memutar matanya pada ku, mungkin sebal karena aku mengikutinya.  Tapi tangannya tetap meraih ku lalu memelukku sangat erat hingga aku tak bisa bergerak.


"Nicho, kekencengan," protes ku pelan.


"Tidur, Fiona," bisik Nicholas mengelus rambut ku dengan hati-hati.


Aku menghela napas pelan sambil menepuk punggung Nicholas pelan sebagai bentuk protes ku.


***


Pagi ini aku terbangun dengan sebuah suara pintu terbuka. Nicholas masih tertidur sangat lelap, sepertinya terlalu lelah.


Tangan ku meraih ponsel dan pelan-pelan beranjak dari tempat tidur. Aku mengintip lewat jendela private room. Siapa yang datang sepagi ini ke ruangan Nicholas?


"Maaf, Pak. Tolong, Pak Nicholas belum sampai di sini. Dia akan datang 30 menit lagi."


Aku melihat Angeline masuk dengan panik dan mencoba membawa laki-laki itu keluar.


Astaga, Nicholas ada jadwal di kantor hari ini? Aku buru-buru melihat ponsel ku. Oh iya, Nicholas ada jadwal meeting pukul 01:00 siang. Tapi sekarang baru pukul 09:30 WIB. Memang biasanya Nicholas akan ada di ruangan pukul 10:00 WIB untuk memeriksa semua laporan dan persiapan meeting.


Angeline masih berusaha memberitahu laki-laki itu. Tapi orang itu sepertinya sangat keras kepala. Tidak banyak omong tapi tak mau bergeming. Ia hanya diam tak perduli dengan ocehan Angeline.


Angeline berbalik sambil berusaha menelepon seseorang, tapi laki-laki itu tiba-tiba saja menyergap Angeline dari belakang. Ia membekap Angeline dan menyeretnya ke meja Nicholas.


Aku hampir saja berteriak ketika laki-laki itu mengeluarkan sebuah gunting. Tapi aku sadar Nicholas sudah bangun. Ia mengisyaratkan aku untuk diam.


"Dimana Nicholas sekarang?" tanya laki-laki itu.


"Maaf, Pak. Saya tidak tahu -"


Angeline menahan kalimatnya secara refleks ketika laki-laki itu menodongkan gunting.


"Kalau kamu gak bisa kasih tahu di mana Nicholas, kamu yang saya habisi duluan," ucap laki-laki itu sambil menggunting Angeline yang ketakutan sampai menangis. Ia mencoba berteriak tapi mulutnya kembali ditodongkan gunting.


"Nicho ..."


Aku berbalik menatap Nicholas yang sedang menelepon petugas keamanan gedung untuk segera mendobrak kantornya.


Aku menutup mataku tak sanggup melihat bagaimana laki-laki itu terus menekan Angeline agar mengatakan di mana Nicholas. Aku juga tak tega mendengar suara rintihan Angeline.


"Nicho, Angeline tahu ruangan ini kan?" tanya ku pelan.


"Kamu tenang aja, dia gak mungkin memberitahu siapapun," jawab Nicholas buru-buru mengambil jas nya.


Beberapa petugas keamanan segera mendobrak pintu ruangan Nicholas dan menangkap laki-laki aneh itu sementara yang lainnya mengamankan Angeline yang menangis ketakutan.


Anehnya, laki-laki itu ditangkap tanpa perlawanan. Maksud ku, dia kelihatan sangat tenang ketika petugas itu membawanya. Tapi menurutku yang tenang seperti itu justru lebih menakutkan biasanya.


"Fiona, saya akan keluar sebentar. Kamu, jangan kemana-mana. Saya akan segera jemput kamu, oke?" bisik Nicholas memeluk ku.


"Tapi Nicho, dia siapa? Kenapa nyariin kamu? Dia bahkan bawa senjata, Nicho."


"Saya akan ceritain kamu setelah ini selesai. Kamu, tolong diam di sini. Dan ..." Nicholas berheti. Dia menggandeng tangan ku menuju mejanya lalu menunjukkan pada ku sesuatu yang ada di bawah meja. Sebuah pistol.


"Saya akan suruh Ardi jagain kamu di depan. Tapi kalau keadaan kamu terdesak, kamu udah tahu kan cara pakai benda ini?" bisik Nicholas dan yang dimaksudnya adalah pistol.


"Nicho, nggak. Ardi sama kamu aja. Mereka lagi cari kamu, Nicho. Ardi jagain kamu aja," jawab ku dengan cepat.


"Saya gak apa-apa, Fio. Jangan terlalu khawatir, oke? Saya akan selesaikan semuanya hari ini, saya janji."


Nicholas berjalan menuju pintu sementara aku bingung dengan apa yang akan ia lakukan.


Tapi kemudian Nicholas kembali berbalik menghampiri ku. Dia kembali mencium bibir ku dengan lembut dan hati-hati.


"Tunggu saya di sini, jangan kemana-mana, Fiona," bisiknya sambil mengelus rambut ku.


Aku harap Nicholas benar-benar menyelesaikannya semuanya hari ini tanpa perlu menghabisi mereka. Pistol ini ada di tangan ku sekarang, tapi aku tak tahu dia memiliki berapa banyak pistol. Astaga, kejadian ini benar-benar membuat ku paranoid terus.


Oke, tenang Fiona. Nicholas tak akan melakukan macam-macam. Terlepas dari apa yang akan dilakukan Nicholas, aku malah jadi memikirkan apa yang akan mereka lakukan pada Nicholas?