NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
PENJELASAN



Sejak kejadian penghancuran ponsel ku, Mama benar-benar mengabaikan aku. Bahkan, dia tak pernah menyalakan TV lagi. Aku paham, Mama pasti sangat sensitif dalam hal ini karena bagaimana pun, rumah tangganya hancur akibat perselingkuhan. Lalu melihat Mia berakhir tragis begini, pasti Mama sangat marah pada ku dan Nicholas.


Mama benar-benar tak mengizinkan aku untuk keluar dari rumah. Bahkan, sudah banyak tetangga yang datang untuk melihat ku. Karena setelah sekian lama akhirnya aku pulang.


"Ma," panggil ku pelan.


Mama tak menjawab, ia tetap sibuk membereskan kamarnya.


"Ma, biarin Fio jelaskan dulu."


"Mau jelaskan apa? Kalau kamu cinta sama suami orang? Gak ada pilihan lain? Kamu mau memberikan pembenaran apa sama Mama atas kelakuan salah kalian?" tanya Mama yang kelihatan sangat marah.


Kedua mata ku berair ketika mendengar Mama mengatakan ini pada ku. Pembenaran. Mungkin kedengarannya memang begitu.


"Mama, Fiona memang salah. Mama benar, gak ada pembenaran apapun tentang perselingkuhan. Selingkuh tetap saja selingkuh, apa pun alasannya. Fiona tahu -"


"Mama yakin kamu tahu dan mengerti Fio. Tapi kenapa kamu masih begitu? Karena cinta? Cinta memang bikin buta semua orang. Atau karena nafsu? Karena dia ganteng? Orang kaya? Makanya kamu mau aja jadi selingkuhan dia?"


Aku menahan napas ku. Bahkan kali ini, aku seperti sedang tak bicara dengan ibu ku sendiri.


"Ma, kalau Mama dulu bisa mendengarkan Ayah yang sudah jelas-jelas salah, kenapa Mama gak mau dengerin Fiona? Fiona cuma mau menjelaskan, bukan mau membenarkan sikap Fiona."


"Untuk apa dijelaskan kalau bikin hati Mama semakin sakit, Fio?"


"Pak Nicholas menyewa Fiona untuk pura-pura jadi selingkuhannya untuk membalas perilaku istrinya, Ma."


Mama diam, ia menoleh ke arah ku, dan kini aku bisa melihat wajah Mama memerah karena kesal dan sedih.


"Mia, yang Mama lihat di TV, dan aktor yang namanya Hero itu, sudah lama berselingkuh Ma. Terang-terangan. Awalnya, Fio lakukan itu memang hanya untuk membayar hutang Mama -"


"Berapa kali kamu dipakai sama dia untuk pura-pura itu? Apa Mama ngajarin kamu untuk jadi perempuan -"


"Nggak, Ma. Nicholas gak pernah nyentuh Fiona. Bukan gitu kok, Ma. Dia bener-bener cuma bikin Fiona seolah-olah punya hubungan sama dia. Cuma sebatas itu. Waktu itu Fiona jadi asisten pribadinya, jadi Nicholas mau bikin Mia sakit hati karena tahu selingkuhan suaminya cuma asisten pribadi."


Mama akhirnya diam, ia duduk di pinggir ranjang sambil memegangi kepalanya, wajahnya terlihat frustrasi. Dan pelan-pelan, aku mulai menjelaskan pads Mama mengenai Mia dan Hero. Apa saja yang sudah dilakukan Mia dan Hero selama ini dibelakang Nicholas.


Aku bahkan mengatakan kalau awalnya aku hanya bersimpati pada Nicholas, sampai aku sadar kalau Nicholas adalah orang yang sangat baik dan perhatian.


Aku sengaja menceritakan kisah sedih Nicholas menurut versi ku. Dan untuk saat ini, aku rasa, sebaiknya aku tak perlu menceritakan tentang keluarga Nicholas yang aneh, atau rencana kriminal yang pernah Nicholas pikirkan untuk balas dendam. Aku berusaha keras menempatkan Nicholas sebagai korban kecurangan Mia dan keluarganya. Meskipun memang benar begitu, tetap saja Mama mungkin akan shock jika tahu Nicholas pernah berniat menghabisi mereka semua.


"Orang tuanya sudah gak ada?" tanya Mama sekali lagi.


"Papa nya meninggal waktu usianya 18 tahun. Mamanya ... Pergi ninggalin dia waktu usia 10 tahun. Makanya, sekarang Nicholas kadang manja. Seharusnya dia mungkin mendapatkan kasih sayang dari Mia, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Mungkin, karena pernikahan itu juga akibat perjodohan bisnis. Jadi ... Begitu, Ma."


"Fio, kamu jujur kan? Mama gak mau kamu sampai salah memilih laki-laki. Mama hampir aja nikahin kamu sama laki-laki yang salah dulu. Tapi sekarang, Mama gak mau kamu salah memilih juga," ucap Mama dengan kedua mata berair.


"Menjalani pernikahan sendiri itu sulit banget, Fio. Dari dulu, Mama terus berdoa, meskipun setiap harinya Mama kelihatan biasa aja, Mama cuma tahan-tahanin, supaya kehidupan kalian tetap dibiayai, tapi Mama terus berdoa supaya kamu gak ngerasain apa yang Mama rasain."


Aku mengangguk pelan. Aku juga sadar akan hal ini. Jika aku salah memilih laki-laki, maka luka yang dirasakan Mama akan berkali-kali lipat.


Pintu rumah ku tiba-tiba diketuk. Aku segera beranjak dari duduk ku lalu buru-buru keluar untuk membukakan pintu.


"Mbak, gak apa-apa kan? Pak Nicholas terus menghubungi tapi katanya nomor Mbak gak aktif," ucap Amalia kelihatan panik.


"Temen Fio, Ma. Fio izin keluar sebentar ya, Ma," ucap ku kemudian mengajak Amalia keluar dari rumah.


"Ada sedikit masalah. Bisa gak saya pinjem handphone kamu?" tanya ku pelan.


"Pinjam?"


Aku mengangguk. Lalu Amalia pun memberikan ponselnya yang sudah menyala. Aku segera menelepon nomor Nicholas. Dan tak seperti dugaan ku, ternyata Nicholas langsung mengangkat panggilan telepon ku.


"Ya? Amalia, gimana? Sudah ada kabar dari Fiona? Apa dia baik-baik aja?"


"Saya baik-baik aja. Maaf ya," jawab ku pelan.


"Astaga Fiona! Saya kan bilang jangan pernah matiin handphone. Kamu tahu? Saya hampir nyusul kamu malam ini kalau sampai Amalia belum ngabarin. Kenapa sih?"


"Handphone saya dirusak."


"Apa? Siapa yang lakuin itu? Wait, apa ada orang yang ganggu kamu? Kamu gak kabur dari Amalia kan?"


"Bentar, sayang. Satu-satu dong nanya nya. Saya akan jelasin."


"Ya udah jelasin. Saya punya satu jam lebih untuk dengerin kamu," jawab Nicholas dengan helaan napas yang membuat ku akhirnya tahu kalau dia sedang panik setengah mati sepertinya.


"Saya belum jelasin soal kamu ke Mama. Saya cuma bilang kamu pacar saya. Terus gak lama, dia lihat nama kamu di berita gosip. Mama salah paham dan marah besar, handphone saya dibanting waktu kamu telepon."


"Astaga ... Apa ... Mama kamu ... Melarang kamu ... Berhubungan dengan saya lagi?"


"Saya udah jelasin semuanya. Tapi saya gak tahu keputusannya. Mama kan pasti tetep mikir kalau saya dan kamu itu salah."


Tiba-tiba terjadi keheningan diantara kami berdua. Aku tahu pasti Nicholas sedang pusing.


"Fio," panggil Nicholas.


"Hmm?"


"Saya takut Mama kamu gak setuju tentang rencana pernikahan kita. Gimana kalau kamu bilang, sekarang lagi hamil?"


"Oh, terus kamu mau kita jadi nikah tapi Mama saya benci sama kamu seumur hidup?" sindir ku ketus, "lagian, saya udah terlanjur bilang kalau selama ini kan kamu gak pernah nyentuh saya."


"Oh bagus, bisa-bisa Mama kamu mikir saya kelainan karena gak pernah nyentuh anak gadisnya yang cantik."


Aku tahu bukan waktunya untuk tersipu malu-malu saat ini. Tapi Nicholas selalu saja bisa tanpa sadar membuat ku kegirangan tak jelas.


"Ya udah deh, Nicho. Kamu gak perlu pikirin ini dulu. Yang penting, urusan kamu selesai di sana. Kamu bisa selesain semuanya dengan kepala dingin, dan jangan terpancing sama hal-hal yang buruk."


"Iya, sekarang saya masih bantu ngurusin pemakaman Mia setelah otopsi. Semoga urusan yang lainnya juga cepet selesai. Saya kangen -"


Tiba-tiba ponsel ku direbut oleh Mama. Amalia sudah refleks hendak merebut lagi, tapi aku segera menahannya. Bisa-bisa Mama tahu kalau Amalia ini orang yang disuruh Nicholas untuk melindungi ku. Dan kalau Mama tahu itu, pasti Mama juga tahu kalau ada yang mengincar keselamatan ku gara-gara terlibat dengan Nicholas.


Aku tak tahu apa yang akan dibicarakan Mama dengan Nicholas. Semoga saja Nicholas bisa mengerti keadaannya.