NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
TELL ME, WHAT YOU WANT.



Hal pertama yang aku rasakan ketika terbangun dari tidur ku adalah wangi waffle yang rasanya baru matang. Aku tak yakin ini benar-benar waffle atau aku kembali berhalusinasi.


Kepala ku pusing, seperti berputar. Aku berusaha bangkit dan duduk dengan tegap.


Tapi melihat Nicholas berdiri di hadapan ku sambil menyodorkan sebuah obat dan gelas air mineral, kepala ku rasanya semakin sakit. Orang ini benar-benar menjadi sumber masalah bagi ku sekarang.


"Ini aspirin, Fiona. Saya yakin kepala kamu pusing saat ini, jadi kamu perlu minum ini."


Apa dia pikir, setelah semua yang terjadi di antara kami, masih akan membuat ku mendengarkan perkataannya? Lagi pula aku bukan bawahannya lagi.


Jadi dengan gegabahnya, aku menolak apapun yang Nicholas tawarkan dan berusaha beranjak dari tempat tidur ku. Tapi karena tubuhku sempoyongan, Nicholas dengan mudah menahan tubuh ku dengan satu tangannya agar tetap duduk di atas tempat tidur.


"Kamu gak bisa pulang sekarang, Fiona. Saya tahu kamu -"


"Pak ..." sergah ku lalu berhenti sejenak, "saya gak ada kewajiban lagi panggil Anda 'Pak'. Jadi saya tegaskan ya, Nicholas. Kontrak kita sudah selesai. Saya gak menuntut apa-apa, jadi tolong jangan ikut campur urusan saya lagi."


Nicholas tak menjawab, ia hanya diam menatap ku seolah menunggu ku melanjutkan omelan ku, atau entah apa yang sedang dia lakukan dengan hanya menatapku. Mungkin mencoba mengintimidasi ku lagi agar aku mau menurutinya. Tidak akan lagi, Nicholas.


"Urusan kita sudah selesai sejak kemarin, Nicholas. Dan saya akan pergi sekarang."


"You have to stay here, now."


"Mau apa lagi? Kamu masih butuh saya? Apa kita perlu buat kontrak baru lagi?"


"Fiona, saya tahu kamu marah karena saya -"


"Saya kesal karena kamu semena-mena dengan saya, Nicholas. Kamu melakukan ini - itu seolah-olah saya ini makhluk yang ga punya perasaan. Kamu sibuk memperhatikan saya seolah ingin menjaga, kamu mencium saya, lalu kemudian saya tahu kamu memanfaatkan saya untuk rencana balas dendam kamu. Apa kamu pikir karena kamu membayar saya, jadi kamu berhak melakukan itu semua?" omel ku menggebu-gebu meskipun suara ku terdengar pelan dan bergetar. Aku sedang tidak mabuk, itu semua memang keluhan ku.


"Kalau memang iya, saya terima. Tapi stop sampai di sini aja, Nicholas. Kontrak kita selesai, kamu gak berhak untuk mencampuri segala urusan saya," lanjut ku benar-benar sudah kesal.


Nicholas menggigit bibirnya, kemudian menurunkan kedua tangannya yang memegang obat dan gelas, kemudian ia menghela napas panjang.


"Jadi kamu mau saya menjauh?"


"Ya."


Nicholas mengangguk, kemudian ia mundur selangkah menjauh dari tempat tidur. Astaga, hanya menjauh satu langkah?


Terserahlah, aku beranjak dari tempat tidur sementara kedua mata ku menatap Nicholas, mengawasinya agar tak menahan ku lagi. Aku juga ingin menunjukkan kalau aku benar-benar kesal dan tak akan membutuhkan lagi bantuannya.


Namun baru saja aku bangun dari tempat tidur, aku merasa ada yang aneh dari ku. Oh My! Apa yang aku pakai sekarang? Kemeja? Tunggu, terakhir kali, seingat ku, aku memang memakai kemeja dan blezer. Tapi tidak sebesar ini. Tunggu, ini apa? Aku hanya memakai kemeja tanpa bawahan? Astaga kepala ku seolah kembali berputar. Dan dengan tololnya, refleks ku malah menoleh ke arah Nicholas yang hanya mengulum bibirnya sambil mengangkat kedua alis tebalnya.


"What the -"


Aku kembali duduk di atas kasur sambil menarik selimut begitu kesadaran ku mulai kembali. Apakah ini nyata? Kenapa aku hanya memakai kemeja putih dengan size yang lebih besar dari punya ku ini? Dan kenapa aku tak memakai bawahan? Apa aku benar-benar hanya memakai ****** ***** dan bra di balik kemeja ini? Bagaimana bisa?


"Saya semalam mabuk. Apa yang kamu lakukan -" Aku memejamkan mata ku kuat-kuat, tak mau melanjutkan pertanyaan ku. Apa yang Nicholas lakukan padaku semalam? Atau, apa yang kami lakukan semalam?


"Apa yang saya lakukan semalam? Ini kemeja ..." Lagi-lagi aku menghentikan kalimat ku ketika baru menyadari kalau saat ini Nicholas memakai kaus polos berwarna putih dengan celana bahan. Oh ... Artinya, kemeja ini milik ... Nicholas? Ya Tuhan!


"Semalam kamu muntah, saya gak mungkin biarin kamu tidur di kasur hotel ini dengan baju kamu yang penuh muntahan," jawab Nicholas sontak membuat ku menoleh padanya. Sepertinya dia sedang menahan tawa melihat kebingungan ku, atau kepanikan ku, atau keduanya.


"Siapa yang mengganti?" tanya ku lagi.


"Siapa lagi? Kejadiannya jam 02:00 pagi, saya sudah coba telepon room service tapi gak ada respon."


"Jadi kamu yang ganti." Rasanya lututku lemas. Tidak, seluruh tubuh ku lemas. Bagaimana bisa Nicholas mengganti bajuku? Astaga, kepala ku benar-benar pusing.


"Jadi, kamu akan pulang dengan begini?"


"Baju saya yang sebelumnya dimana?"


"Saya buang," jawab Nicholas melemparkan pandangannya ke arah tempat sampah.


Aku segera meraih obat aspirin dari tangan Nicholas sambil menahan kesal lalu meminum air mineralnya juga. Tak tahan dengan sakit kepala ku akibat efek mabuk semalam dan juga semua kejadian pagi ini yang penuh kejutan. Rencana ku untuk kabur dari Nicholas dengan cara yang  keren, gagal total. Apakah aku harus mengakhiri pertemuan ini dengan cara konyol seperti ini?


"Saya sudah pesan kan baju untuk kamu, Ardi akan antar ke sini," ucap Nicholas sambil berjalan menghampiri meja di depan kasur ini, lalu ia kembali menghampiri ku sambil membawakan nampan berisi waffle yang tadi aku cium wanginya dan juga segelas jus strawberry.


"Jadi untuk sementara, kamu harus sarapan dulu," lanjut Nicholas menaruh nampan itu di atas pangkuan ku.


Aku menghela napas panjang, rasanya sedikit lebih tenang setelah meminum obat. Tapi tentu obat itu tak meredakan rasa kesal ku kepada Nicholas.


"Saya paham, Pak -"


"Kenapa panggil saya Pak lagi? Tadi kamu sudah berani panggil nama saya," sindirnya.


"Saya paham, kamu menahan saya sampai sejauh ini karena rasa bersalah kamu atau kamu merasa khawatir saya akan melaporkan Mia dan keluarga kamu. Sekarang, biar saya jelaskan, saya gak akan melaporkan apa-apa lagi. Jadi pertemuan kita bisa berakhir di sini."


Aku tak yakin apakah Nicholas mendengarkan aku atau perduli dengan kalimat ku, karena dia sibuk mengoles selai di atas waffle.


"Saya gak pernah merasa bersalah atas semua yang pernah saya lakukan kepada siapapun. Yang ada hanya rasa penasaran dan benci," ucap Nicholas sambil menyodorkan waffle tadi kepada ku. Lagi-lagi memaksaku untuk makan, padahal aku sedang tidak dalam mood untuk makan.


Harusnya aku tahu, Nicholas benar-benar menyeramkan. Sekarang, aku seperti seorang tawanan yang sedang dipaksa makan oleh seorang psikopat.


"Makan dulu, saya akan jelaskan ..."


"Apa?"


"Makan dulu, Fiona. Kamu tahu, kelakuan kamu kemarin itu fatal. Kamu minum dalam keadaan belum makan, dan kamu baru saja pulih. Kalau gak mengingat kondisi kita saat ini, mungkin kamu akan segera lihat kemarahan saya."


"Semuanya, tentang rencana saya, dan tentang kita," jawab Nicholas seketika membuat ku tertegun. Lidahku kelu hingga tak bisa menyahut apa-apa lagi. Rencananya, dan tentang kita. Memangnya ada apa dengan 'kita'?


Aku tak tahu kenapa Nicholas masih duduk di sini. Apa dia benar-benar akan menunggui aku makan? Aku ingin ke kamar mandi sekarang. Tapi bagaimana aku keluar dari selimut ini di hadapan laki-laki ini? Kemeja Nicholas hanya sebatas paha atas ku.


"Kenapa? Kamu butuh sesuatu lagi?"


"Ya. Saya perlu ke toilet, sekarang."


"Toilet ada di sebelah sana," ucap Nicholas melemparkan pandangannya ke arah sebelah kiri tempat tidur, dimana ada sebuah pintu besar, yang dia sebut toilet.


"Kenapa lagi?"


"Apa saya perlu pakai selimut ini untuk bisa ke sana?" sindir ku berharap dia peka.


"Kenapa perlu pakai selimut? Kamu ..." Nicholas terdiam sejenak. Sepertinya dia paham maksud ku. Tapi bukannya merasa malu atau bersalah, Nicholas hanya mengangguk.


"Oke, saya keluar sebentar," jawab Nicholas akhirnya beranjak dari tempat tidur. Tapi aku melihat senyum miring di wajahnya. Apa dia pikir ini lucu? Oh, atau dia pikir percuma saja, toh dia sudah melihat semuanya semalam? Maksud ku, tidak semuanya sih. Mungkin dia sering melihat perempuan-perempuan berbikini. Tapi aku bukan termasuk perempuan yang akan percaya diri memakai bikin untuk berenang apalagi di tempat ramai.


Tapi, meskipun bukan di tempat ramai, tetap saja bukan di depan Nicholas juga!


Astaga, makin ke sini ku rasa pikiran ku semakin kotor. Padahal kelihatannya biasa saja.


Oke tenang Fiona. Yang Nicholas maksud 'tentang kita' itu pasti soal kejelasan apa yang sebenarnya Nicholas lakukan padaku. Mungkin dia akan menjelaskan kenapa aku bisa dimanfaatkan olehnya. Tapi apakah semuanya akan merubah keadaan? Aku tak ingin terlarut-larut dalam emosi ku sendiri.


***


Satu jam kemudian, setelah aku mandi dan memakai pakaian yang dibelikan Ardi - atas perintah Nicholas, akhirnya saat ini aku berada di balkon hotel yang cukup besar sehingga mampu memuat meja kayu berbentuk kayu jati, dan kursi dengan model umum senderan yang juga terbuat dari kayu.


Sebenarnya, aku bisa memuji sedikit selera Ardi. Dia membelikan aku celana jeans boyfriend, tank top putih, dan kemeja oversize kotak-kotak bernuansa pink - biru. Sangat nyaman.


"Gimana setelannya? Keliatannya kamu sangat nyaman," tanya Nicholas  akhirnya datang dan langsung duduk di kursi satunya lagi. Nah, dia bertingkah seperti tahu isi pikiran ku lagi.


"Saya suka dengan seleranya Pak Ardi."


"Itu selera saya," jawab Nicholas sambil membuka map yang dibawanya.


"Oh," jawab ku mengangguk pelan.


Nicholas menoleh padaku, otomatis mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas di map, kepada ku.


"Artinya saya yang pilihin langsung setelan itu untuk kamu," ucap Nicholas seolah mempertegas pernyataan sebelumnya.


"Oke," jawab ku sedikit heran kenapa juga dia perlu mempertegas?


Nicholas tak menjawab, ia seolah berhenti membahas soal setelan ini dan menaruh map itu ke atas meja, lalu menyodorkannya ke arah ku, menyuruh ku untuk membacanya.


"Dia, Kalina Friza. Satu-satunya perempuan yang membuat saya tertarik selama dua tahun."


Aku menoleh ke arah Nicholas, penasaran apa yang ingin dia lakukan dengan memberitahukan ku soal ini.


"Dia, meninggal 4 tahun lalu. Karena mengakhiri hidupnya sendiri," lanjut Nicholas membuat ku buru-buru menaruh perhatian ku lagi ke map yang ku pegang. Di sini tertulis jelas data mengenai gadis cantik bernama Kalina ini. Dari profil lengkapnya. Dia perempuan keturunan Turki, anak kedua dari dua bersaudara.


Begitu aku membuka lembar berikutnya, aku melihat rentetan jumlah teror dan beberapa bukti foto-fotonya. Lalu aku baru menyadari apa yang terjadi pada Kalina. Jantung ku rasanya mencelos, pikiran ku kembali pada titik kemarahan ku.


Aku menutup map itu lalu menaruhnya di atas meja lagi, dan menatap Nicholas dengan kedua mata yang berair.


"Kalina ... Dia korban teror keluarga kamu juga?" tanya ku, lebih tepatnya sebuah pernyataan yang hanya membutuhkan kepastian.


"Ya. After 5 months of terror, she ended her life," jawab Nicholas membetulkan pernyataanku.


"Dan rencana utama kamu cari wanita simpanan 'pura-pura' adalah untuk memancing Mia marah, lalu kamu ingin memastikan apakah mereka akan melakukan hal yang sama ke saya? Kamu ingin memastikan apa yang terjadi dengan Kalina, akan terjadi juga ke saya?"


"Secara teknis, memang begitu rencana saya, Fiona. Baru saya bisa membalas perbuatan mereka."


Aku mengatupkan bibir. Tak percaya seorang Nicholas yang ku pikir laki-laki kalem yang sangat tenang ini ternyata sangat licik dan kejam.


Tidak, seharusnya aku sadar karena sudah banyak tanda-tanda 'kengerian' Nicholas sejak awal kami bertemu. Dia mengintai ku, mencari tahu data pribadi dan keluarga ku, mencari kelemahan ku, dan mengontrol ku. Selama ini pandangan ku seolah tertutup hanya karena perasaan semu yang telah dibuatnya untuk mengelabui ku.


"Fiona, saya tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi saya harus katakan ini, kalau walaupun saya memanfaatkan kamu, saya gak akan membiarkan kamu berakhir seperti Kalina."


"Kenapa? Karena kamu takut terlibat hukum kalau saya kenapa-kenapa? Kamu kan sudah bayar saya, kamu punya uang, kekuasaan, kamu punya segalanya yang memungkinkan kamu untuk lolos dari hukum meskipun saya berakhir seperti Kalina," sahut ku tersenyum miris.


"Ya, pada awalnya. Saya memang hanya menjadikan kamu sebagai pancingan, sebagai umpan saya. Begitu selesai kontrak, saya gak perduli lagi mereka mau melakukan apa pada kamu. Tapi, sekarang semuanya sudah beda, Fiona," jawab Nicholas menatap ku. Terlihat jelas kepanikan dalam wajahnya.


"Jelas beda. Sekarang situasinya, saya sudah tahu rencana mereka. Jadi saya akan sangat hati-hati agar ga berurusan lagi sama kalian," tukas ku beranjak dari kursi dengan kesal.


Namun tiba-tiba Nicholas menarik tangan ku dengan cukup keras hingga aku kembali duduk di kursi ku sementara pergelangan tangan kiri ku masih di genggam olehnya.


"Mia dan keluarga saya gak akan membiarkan kamu aman gitu aja meskipun kamu pergi dari saya. Mereka masih berusaha menjebak kamu. Termasuk saat kemarin kamu bersama Abira. Kamu gak akan aman di luar, Fiona."


"Saya akan bersikap seolah gak kenal mereka."


"Fiona, please. Just stay with me."


"Kenapa?"


Kali ini Nicholas tak menjawab. Ia hanya menatap ku seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi yang ia lakukan malah melepas cengkramannya dan meraih tangan ku. Dia menggenggam tangan ku dengan sangat erat.