
Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya Nicholas mengizinkan aku untuk ikut ke kantor polisi. Detektif Joe juga menyarankan begitu karena bagaimana pun, polisi pasti memerlukan keteranganku sabagai korban penculikan oleh mereka berdua kepadaku.
“Fiona, aku harap kamu gak menyinggung sama sekali soal kelompok aneh itu. Kamu harus bersikap seolah-olah gak mendengar apa yang mereka bicarakan soal rahasia itu,” ucap Nicholas memperingatiku.
“Oke,” jawabku singkat. Sejujurnya aku masih gugup, tapi Nicholas mengatakan bahwa aku hanya perlu bertemu dengan polisi tidak dengan kedua penjahat itu.
Nicholas memarkirkan mobilnya di parkiran rumah tahanan yang kami tuju. Rasa gugupku tiba-tiba saja bertambah. Bukannya aku takut bertemu dengan ayahnya Hero dan Rena. Namun, aku justru agak takut ketika harus berhadapan dengan polisi. Selama ini, aku belum pernah berhadapan langsung dengan polisi, dan meskipun aku tak melakukan pelanggaran apapun, tetap saja entah mengapa alam bawah sadarku merasa agak sungkan aja berbicara langsung dengan polisi, apa lagi di rumah tahanan begini.
“Tenang aja, ini gak akan memakan waktu lama,” ucap Nicholas sambil menggenggam tanganku, dan mengelusnya dengan lembut. Aku rasa, untuk saat ini bukan hanya aku yang harus diberikan semangat, tapi Nicholas juga.
“Sementara kamu bicara dengan polisi, aku akan menemui detektif Joe. Dia berpura-pura menjadi pengacara kamu agar bisa bicara langsung dengan Rena. Selain, itu .. kami juga sangat berhati-hati agar paman-” Nicholas menghentikan kalimatnya tiba-tiba. Dia menggigit bibirnya sebentar kemudian meralat kalimatnya, “Sadewa dan Gian jangan sampai tahu bahwa kita menyewa detektif.”
“Nicholas, terus apa rencana kamu sama Sadewa dan Gian? Setelah kamu tahu yang sebenarnya,” tanyaku. Sejujurnya, aku berharap Nicholas akan melepaskan saja hubungan mereka, toh Sadewa dan Gian bukan keluarga yang baik selama ini. Hanya membuat Nicholas dalam bahaya saja.
“Aku belum tahu rencana kedepannya. Tapi, untuk sementara ini, mungkin aku gak akan melakukan apapun. Aku khawatir, kalau tiba-tiba aku gak mengakui mereka sebagai keluarga dan membongkar rahasia ini, mungkin mereka akan lebih brutal menyerang kita,” ucap Nicholas yang memang ada benarnya juga. Namun, tetap saja aku benar-benar gemas ingin membuang Sadewa dan Gian itu dari hidup Nicholas selamanya.
“Makanya, sayang. Kita harus memastikan mereka mendekam di penjara. Atau mungkin mereka akan terus membuat masalah sama kamu,” jawabku sambil memainkan kuku.
“Okay, kita bicarakan ini lain kali. Sekarang, kita harus urus dulu Rena dan ayahnya,” sahut Nicholas mengelus rambutku, sementara aku membuka sabuk pengaman. Baiklah, mau bagaimana lagi, aku harus berhadapan dengan polisi kali ini. Tenanglah Fiona, kamu adalah korban, dan mereka hanya ingin meminta beberapa keterangan darimu.
Nicholas sudah keluar dari mobil, sementara aku masih berada di dalam. Aku masih menyiapkan diri untuk terakhir kali, menghela napas panjang, lalu keluar dari mobil di mana Nicholas menungguku. Dan begitu aku keluar, Nicholas segera merangkul aku ke dalam kantor polisi. Dia berbicara pada salah satu petugas, kami mengisi sebuah formulir, kemudian, aku diarahkan untuk menemui petugas yang akan memintai keteranganku. Semoga ini semua benar-benar tidak akan lama.
***
Aku tidak tahu berapa lama polisi memintai keteranganku sebagai korban. Kegugupan ini benar-benar membuatku tak bisa memerhatikan yang lain selain rasa cemas. Namun, akhirnya aku selesai memberikan keterangan untuk kepolisian.
Setelah keluar dari ruangan, aku buru-buru mencari Nicholas. Aku benar-benar gugup, dan akhirnya memilih untuk duduk di salah satu kursi tunggu.
Rasanya tubuhku masih sedikit sakit. Dan kepalaku agak pusing, mungkin karena terlalu gugup dan memikirkan ini semua. Atau, mungkin juga karena maagh ku kambuh. Biasanya memang seperti ini setiap kali aku gugup dan banyak pikiran. Aku menunduk, sambil memijat-mijat keningku sendiri.
"Hey, sayang ..."
Aku menoleh, dan Nicholas menghampiriku dengan panik.
"Kamu kenapa gak telepon aku kalau udah beres?" tanya Nicholas kelihatan khawatir, mungkin karena aku menunggu sendirian sambil memijat-mijat keningku.
"Aku gak mau ganggu kamu. Kamu pasti lagi dalam pembicaraan kan di sana?"
"Udah selesai dari tadi sebetulnya. Tapi, aku harus mengurus beberapa hal di dalam. Apa kamu pusing? Ada yang terasa sakit?" tanya Nicholas.
Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban, dan aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah sebenarnya.
"Okay, gini. Kita ke rumah sakit aja sekarang ya? Sekalian kamu check up," ajak Nicholas, tapi aku menahannya.
"Please ... Aku cuma mau istirahat di rumah," bujukku sekali lagi.
"Okay. Kalau gitu, aku aja yang panggil dokter ke rumah untuk periksa kamu, nanti," jawab Nicholas memutuskan. Ya ampun, sama saja aku diperiksa oleh dokter intinya.
"Iya, terserah kamu aja deh," jawabku, lalu beranjak dari dudukku bersama Nicholas keluar kantor polisi menuju mobil.
"Oh ya, detektif Joe di mana? Gak ada sama kamu tadi," tanyaku begitu kami sampai di mobil dan aku segera memakai sabuk pengamanku.
"Dia pergi lebih dulu untuk mencari bahan tes DNA antara aku dan Sadewa. Setelah itu, membawanya ke laboraturium," jawab Nicholas membuatku terbelalak kaget.
"Tes DNA? Bukannya kamu bilang gak akan mempermasalahkan hal ini karena takut mereka akan semakin brutal?" tanyaku memastikan apa yang aku dengar saat awal kita sampai di sini.
"Ya, tapi aku juga memikirkan kamu yang ingin aku segera terlepas dari Sadewa dan Gian. Lalu, aku membicarakan hal ini kepada detketif Joe ..." Nicholas menjelaskan sambil mulai mengemudikan mobil keluar dari area parkir menuju jalan raya.
"Detektif Joe mengatakan bahwa itu fakta yang sangat menarik. Dia bilang, jika hasil tes DNA membuktikan bahwa benar aku dan Sadewa gak memiliki hubungan darah, maka aku bisa menuntutnya atas dasar pemalsuan identitas dan penipuan," jawab Nicholas melanjutkan kalimatnya tadi.
"Pemalsuan identitas? Apa maksud kamu, mereka menggunakan nama palsu?" tanyaku.
"Bukan itu, maksudnya, Sadewa dan Gian memberikan aku beberapa bukti dokumen seperti kartu keluarga, akte kelahiran, dan segala macam yang menunjukkan bahwa mereka berada di satu kartu keluarga yang sama. Sepertinya mereka mengedit. Bodoh sekali aku saat itu," ucap Nicholas kembali menghela napas berat. Aku mengerti bagaimana perasaannya. Walaupun tidak bisa mengerti 100%. Pada dasarnya, manusia ketika sadar bahwa dirinya ditipu, akan merasa dirinya bodoh.
"Kalau aku menutut dia atas dasar penipuan dan pemalsuan identitas, lalu Mahendra melaporkan mereka atas dasar pembunuhan, kamu tahu kan artinya?" tanya Nicholas.
Aku menganggukkan kepalaku dengan yakin.
"Artinya semakin kuat alasan polisi untuk menahan mereka. Ya, semoga saja bukti-bukti segera terkumpul."
"Ya, dan mengenai Rena juga Hero, tadi detektif Joe sudah berhasil menjebak mereka untuk mengetahui apa yang dilakukan Sadewa dan Gian ketika datang ke sana. Dan, mereka mengatakan bahwa orang-orang itu bertanya tentang apakah kamu mengetahui rahasia mereka, atau apakah kamu mengetahui apa yang sudah dilakukan mereka terhadap Hero," jawab Nicholas seketika membuatku tegang.
"Lalu?"
"Ya ... Sadewa dan Gian mengatakan semuanya. Mereka bilang, mereka gak yakin kamu tahu soal rahasia mereka, tapi yang pasti, mereka sudah mengatakan kalau kamu mereka pembicaraan Rena dan Gian tempo hari. Mereka mengatakan semua itu karena Sadewa berjanji akan segera mengeluarkan mereka dari penjara," jawab Nicholas.
"Dan mereka percaya?" tanyaku khawatir.
"Aku menemui mereka secara langsung. Dan terang-terangan, aku mengatakan pada mereka, bahwa Sadewa tidak akan menepati janjinya. Buktinya, lihat saja, di rekaman yang kamu kirim, Rena marah-marah karena Gian berhenti mengirim uang, kan? Nah, hal itu aku jadikan senjata untuk mengelabui mereka agar berpihak pada kita," ucap Nicholas. Lantas, aku tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
"Well, Anda benar-benar ahli dalam mempengaruhi seseorang, Pak Nicholas," ledekku masih tertawa. Dan Nicholas juga ikut tertawa menanggapi ledekkan ku barusan.
Semoga saja detektif Joe segera berhasil menemukan DNA mereka dan membawanya ke laboraturium.