NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
WEDDING DAY



Aku masih mengobrol dengan Nicholas di tempat VIP ini. Angin sore kembali menerpa wajah ku dan rambut ku.


Setelah mendengar kabar kalau kasus Mia memang diputuskan sebagai kasus bunuh diri oleh polisi, membuat ku tak habis pikir.


"Kok bisa? Terus rekaman kamu? Kamu kasih rekaman itu kan ke mereka?" tanya ku pelan.


"Saya udah kasih rekaman itu, mereka bilang akan menyelidiki. Kemudian mereka bilang CCTV gak mendukung apapun yang ada di dalam rekaman ini. Dugaan bunuh diri itu diperkuat dengan kesaksian petugas rumah sakit, saat Mia mencoba mengakhiri hidupnya menggunakan pisau buah dan berakhir di IGD. Mereka semua menguatkan dugaan itu," jelas Nicholas pelan kami berhenti sejenak ketika pelayan datang mengantarkan pesanan kami.


Setelah pelayan itu menata pesanan dan berjalan keluar, Nicholas kembali melanjutkan penjelasannya.


"Kamu tahu? Kelompok aneh Kakek tahu soal rekaman itu. Ardi menemukan rekaman itu ada di tangan mereka. Saya gak perlu heran kenapa polisi berhenti menyelidiki dan menutup kasus dengan mengatakan kalau ini semua bunuh diri."


"Maksud kamu, pelakunya salah satu dari kelompok aneh itu?"  tanya ku tak percaya.


Nicholas menelan salivanya kemudian menganggukkan kepalanya pelan.


"Edward menghilang, jadi saya pikir, mungkin dia pelakunya."


"Nicho, gimana bisa mereka menghabisi Mia hanya karena penggerebekkan polisi? Toh dari mereka juga gak ada yang ditangkap?"


"Saya juga bingung soal itu. Tapi Fiona, mereka semua aneh, ingat? Mereka gila, gak ada yang bisa memprediksi pikiran mereka. Mungkin ..." Nicholas terdiam sejenak sambil mengoles french bread dengan mentega.


"Ini karma untuk dia karena udah membunuh Fiosky dengan brutal," jawab Nicholas menghela napas panjang.


"Kamu belum lupain Fiosky ya?" tanya ku prihatin. Ternyata selama ini Nicholas masih memikirkan Fiosky. Dan memang hal yang masih mengejutkan juga karena Fiosky harus mati tragis di tangan orang-orang disekitarnya.


"Kamu tahu kan, saya gak punya orang yang bisa dekat dengan saya. Cuma Fiosky yang bisa jadi teman saya. Dia kucing yang pintar dan pengertian."


"Setelah ke pemakaman Mia, kamu pasti ke makam Fiosky juga," ledek ku yang ternyata benar. Nicholas mengangguk dengan tenang.


"Fiona, kamu gak takut kan menikah dengan saya?" tanya Nicholas menatap ku serius.


Meskipun aku belum tahu banyak mengenai keluarga aneh Nicholas, tapi sejauh ini aku rasa Nicholas berbeda dengan mereka. Aku malah berpikir bagaimana bisa Nicholas tumbuh berbeda dari mereka? Apakah karena Nicholas berbeda pikiran dengan mereka dan kelompok anehnya itu, makanya sejak dulu mereka mengusik Nicholas?


"Nggak. Saya gak takut, Nicho."


"Ini alasan kenapa saya mau pernikahan kita tertutup. Saya juga gak mau kamu jadi sorotan publik karena gimana pun, baru satu bulan Mia meninggal."


"Dan siapa yang tadi cium aku di depan publik?" sindir ku gemas.


"Okay, that is my bad."


Aku tertawa pelan bersama Nicholas. Setelah itu, Nicholas kembali membicarakan soal pernikahan yang ingin segera ia selenggarakan.


Dalam hal ini, Nicholas melibatkan aku dan Mama dalam penyelenggaraan upacara pernikahan.


Kami juga hanya mengundang orang-orang tertentu saja. Semuanya berjalan dengan baik, meskipun aku masih khawatir ada dari pihak keluarga Nicholas yang ikut campur.


Anehnya, sampai hari pernikahan, mereka sama sekali tak muncul. Dan kabar yang ku dengar dari Nicholas, Edward belum ditemukan.


Tapi ketika aku berdiri di hadapan Nicholas, dengan balutan gaun off shoulder warna putih brokat yang menutupi sampai kaki ku, rasanya semua kekhawatiran itu sirna.


Ketika Nicholas meraih tangan ku dan menggenggamnya dengan hati-hati, aku melihat senyum di wajah cerahnya yang tak pernah aku lihat sejak awal pertemuan ku dengannya.


Aku merasa Nicholas yang berdiri di hadapan ku ini, sedikit berbeda dengan bos ku yang cuek dan penuh strategi. Laki-laki yang berdiri di hadapan ku saat ini, hanya laki-laki biasa yang menurunkan derajatnya untuk menikahi perempuan biasa, asisten pribadinya sendiri.


"Fiona, saya mengambil kamu menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, sekarang sampai selama-lamanya. Baik susah maupun senang, sehat maupun sakit ..."


Rasanya seperti ada di dalam cerita romansa film yang ku kutuk selama ini. Tapi, dalam hidup ini, memang selalu ada kejutan yang tak terduga bukan?


"Untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang Kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus," ucap Nicholas mengucapkan janjinya.


Bukan tentang seorang bos yang menikahi asisten pribadinya yang membuatku tak percaya. Tapi seorang Nicholas Arrasya, dia mau meluluhkan hatinya untuk cintanya.


"Nicholas, saya mengambil kamu menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, sekarang sampai selama-lamanya. Baik susah maupun senang, sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang Kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."


Ketika pendeta mulai membacakan doa dan pemberkatan, aku sadar kalau aku tak akan melangkah sejauh ini jika saja Nicholas tak pernah mau membuka dirinya untukku.


Nicholas memasangkan cincin yang saat itu pernah ia tunjukkan pada ku, sekarang cincin itu benar-benar ada di jari manis ku. Begitu pun aku yang memasukkan cincin di jari manis Nicholas dengan hati-hati.


Para tamu undangan bertepuk tangan riuh, memenuhi gedung aula Mattew Hotel. Nicholas menarik pinggangku pelan-pelan dan meraih wajah ku, dia mencium bibir ku dengan lembut, dan aku masih bisa merasakan senyumnya di bibirku.


"I love you, Fiona," bisik Nicholas tepat di telinga ku.


"I love you, Nicholas," bisik ku pelan. Lalu pelan-pelan aku menjauhkan diri dari Nicholas, ketika menyadari kalau kami masih berada di depan orang-orang.


Tak banyak orang yang diundang di acara pernikahan kami. Hanya orang terdekat saja. Aku pribadi, hanya keluarga besar Mama saja, dan sebagian kecil keluarga ayah ku. Lalu Nicholas, kolega-kolega bisnis spesialnya.


Bahkan aku dikenalkan dengan orang yang bernama Mark Mahen. Orangnya tinggi sama dengan Nicholas. Tapi kulitnya sangat putih, rambutnya pirang dan memakai kacamata. Dia orang yang sangat ramah dan sopan. Tapi menurut cerita Nicholas, Mark adalah orang yang gila kerja.


Aku rasa, seharusnya aku memberikan cermin.


Nicholas benar-benar menjamu para tamunya dengan baik. Dan aku senang melihat dia begitu menikmati acara resepsi pernikahan ini. Aku tak ingin membandingkan acara kali ini dengan acara pernikahannya dulu. Yang aku tahu, Nicholas tak pernah membiarkanku jauh darinya, seolah dia ingin memperkenalkan aku kepada orang-orang. Mungkin ini terdengar agar berlebihan, tapi aku senang memikirkannya begitu.


Aku benar-benar berharap, semuanya telah usai, dan Nicholas bisa menjalani hidupnya dengan normal, bersamaku.