
Hari pertama, sesuai dengan rencana awal Nicholas. Aku tetap menjadi asisten pribadinya. Tapi sekarang, aku dan Nicholas membuat skenario kalau kami berdua sudah putus.
Hal itu dilakukan untuk, menarik hati Mia yang masih terluka karena ditinggalkan Hero.
"Jadi benar kamu udah memecat Fiona? Mereka masih lihat kamu berdua dengan dia," ucap Mia. Sementara aku mengawasi dari private room Nicholas.
"Untuk menyelesaikan urusan kami. Saya kasihan sama Fiona. Dia gak bisa kerja dimana-mana. Jadi saya putuskan untuk menjadikan dia asisten saya lagi."
"Serius? Kalau gitu ngapain kamu panggil aku ke sini!" omel Mia, merajuk seperti biasa.
"Hei," panggil Nicholas menarik Mia untuk duduk di sebelahnya.
"Say -"
"Stop panggil saya. Panggil sayang, Nicho," ucap ku melalui earphone yang ada di telinga Nicholas.
"Apa?" tanya Mia bingung.
"Sayang, aku panggil kamu ke sini karena ... Aku pikir aku bisa perbaiki hubungan kita," ujar Nicholas sesuai rencana.
Mia terdiam sejenak, karena kaget tentunya. Kemudian ia tersenyum lebar. Astaga, Nicholas, kenapa susah sekali senyum sih? Dia tidak pandai berakting, sungguh!
"Kamu serius?" tanya Mia terlihat ragu. Ya Tuhan semoga dia percaya.
"Nicho, I love you," bisik ku pelan untuk memancing Nicholas.
"I love you, too," bisik Nicholas reflek tersenyum. Mia tercengang untuk kesekian kalinya menatap Nicholas.
Aku hampir tertawa, dan menoleh ke arah Ardi yang juga hampir tertawa. Ya ampun, kenapa situasinya jadi lucu begini.
"Aku ... Belum bilang ..." Mia terlihat bingung dengan ucapan Nicholas, begitu juga Nicholas yang kaget karena ucapannya terdengar oleh Mia.
"Well, I love you, Nicho," jawab Mia yang sangat sesuai dengan rencanaku. Astaga, aku sangat bangga dengan diriku sendiri.
"You can start, sir," peringat ku pada Nicholas yang tak bereaksi apa-apa setelah Mia mengatakan cinta padanya. Dan menurut dengan arahan, akhirnya ia bergerak memeluk Mia.
"Well, jadi kamu beneran udah putus dengan Fiona? Kenapa?" tanya Mia sementara Nicholas diam-diam memasukkan alat penyadap di tas Mia.
"Karena dia sudah gak menarik lagi," jawab Nicholas dengan tenang. Mia meringis sambil mengedikkan bahu. Lalu, dia menghela napas panjang.
"Ugh, sejak awal juga dia gak menarik," gerutu Mia mengejekku. Terserah saja Mia, aku tak peduli lagi dengan ejekkan mu. I got Nicholas!
"Oh, ya. Gimana Hero?" tanya Nicholas mengalihkan pembicaraan.
"Yah, sejak kamu depak dia dari perusahaan ini, dia udah gak laku lagi. Gak tenar juga. Menurut ku, dia juga udah gak menarik."
Mia kelihatan sangat tenang mengatakannya. Seolah hubungannya dengan Hero selama ini tak ada artinya apa-apa.
Aku melirik Ardi, memberikan isyarat untuk memulai deteksi keberadaan ponsel Hero. Sementara aku sibuk merekam pembicaraan yang terdengar melalui alat penyadap.
"Tahu gak? Dibanding dia, lebih baik kamu Nicho. Dia itu cowok yang cuma numpang hidup, gak punya harga diri. Dia pikir, dia bisa kontrol aku? Sekarang lihat kan? Dia bukan apa-apa."
"Mia, seharusnya kamu gak bilang begitu soal dia. Gimana pun, Hero pernah buat kamu bahagia selama ini, kan?" ujar Nicholas sepertinya muak dengan ucapan Mia.
"Nicho, kamu tahu? Ini yang bikin aku terobsesi banget untuk dapetin kamu. Hero itu cuma pelampiasan aku doang. Dia udah gak berguna, jadi aku buang. Kalau kamu, gak akan bisa aku buang. Gimana kalau kita mulai semuanya dari awal, Nicho? Aku janji, gak akan pernah cari pelampiasan lagi."
Nicholas tersenyum tipis, ia menarik kembali tangannya, tapi Mia menahannya. Dia mendekatkan wajahnya mendekati Nicholas.
Aku segera meraih ponsel ku dan menelepon Nicholas, sampai akhirnya, suara dering nyaring ponsel Nicholas memenuhi ruangan dan Nicholas refleks mendorong Mia menjauh darinya.
"I have to go. Sorry, Mia," jawab Nicholas mengangkat panggilan telepon ku. Tapi Mia merebutnya.
Sontak, aku segera melemparkan ponsel ku kepada Ardi, mengisyaratkannya untuk bicara.
"Pak, ada tamu dari Amerika yang ingin bertemu. Sepuluh menit lagi, dia akan datang ke kantor."
Sambil menunggu dengan cemas, akhirnya Mia memberikan ponsel itu kembali kepada Nicholas.
"Kenapa nomor Ardi kamu namain Fiona?" tanya Mia membuat ku menepuk jidat.
"Nicho?"
"Karena ... Aku ... Tadinya mau buat kamu cemburu."
Mia terdiam sejenak, kemudian ia tersenyum lebar.
"Oh, My ... Kamu so sweet deh. Jadi, kamu namain itu, biar pas Ardi telepon kamu, terus aku pikirnya Fiona gitu? Ya ampun, sayang ... Kamu lucu banget."
"Kayanya Pak Nicholas gak akan bisa tenang setelah kejadian ini," ledek Ardi.
Dan aku berusaha menahan tawa. Setelah itu, aku melewatkan sesuatu, karena tiba-tiba Mia langsung mencium bibir Nicholas lalu berjalan pergi dengan gemulainya. Nicholas masih diam, sampai Mia benar-benar keluar, Nicholas berbalik menuju kursinya. Dia kelihatan panik sambil buru-buru meraih air mineral dan menenggaknya cukup banyak.
Aku dan Ardi pun sama-sama keluar dari private room. Ya ampun, Nicholas berlebihan sekali sih!
"Pak, saya akan pastikan Hero mendengar rekaman barusan. Dan saya akan meminta orang untuk mengawasi Bu Mia," ucap Ardi melaporkan, kemudian ia buru-buru berbalik. Aku yakin dia sedang berusaha menahan tawa. Makanya langsung pergi.
"Nicho, are you okay?" tanya ku.
"I've never do that s*** thing before. Never. But you -"
"I know. Gak apa-apa Nicho. Yang cium kamu itu istri kamu lho," bisik ku menahan tawa.
Nicholas memutar matanya ke arah ku. Okay, dia kelihatan kesal sekali sampai mengendurkan dasinya.
"Tenang, Sir Nicholas. Ini baru awal. Tenang aja, okay?"
Nicholas tak menjawab, ia kelihatan masih muak dengan dirinya sendiri.
"Mau penetralnya gak?" bisik ku.
"Apa?" tanya Nicholas.
Aku mengeluarkan permen dari dalam saku ku dan memberikannya kepada Nicholas.
Ia kelihatan menahan napasnya, lalu membuang permen itu dengan kesal. Sementara aku tak bisa menahan tawa ku mengganggu Nicholas sampai kesal begini.
"Nicholas," panggil ku lagi.
"Apa lagi?"
Aku mencium bibirnya sebentar, sampai akhirnya Nicholas diam dan tersenyum tipis.
"Kamu lebih jago akting dari Abira, keren."
Nicholas menatap ku sambil menahan senyumnya. Kemudian dia menarik ku untuk duduk di pangkuannya.
"Kamu lagi bohong kan?" tanya Nicholas.
"Iya, kamu kan bukan aktor Nicholas. Jadi gak mungkin lebih jago dari Abira."
Nicholas menatap ku kesal. Kemudian ia meraih gagang telepon tanpa melepaskan pelukannya dari ku.
"Mau ngapain?"
"Mau pecat Abira juga."
"Daripada pecat Abira lebih baik kamu latihan akting."
"Astaga, Fiona. Kamu serius?"
"Becanda, sayang," bisik ku tersenyum lalu beranjak dari pangkuan Nicholas.
"Fiona ..."
"Ayo, kita punya rencana lagi, Pak."
Aku menoleh ke belakang, Nicholas terlihat tertawa pelan. Ia akhirnya beranjak dari duduknya sambil meraih botol air mineralnya.