
"Kenalkan, dia Fiona, asisten pribadi saya."
Astaga, karena terlalu lama tercengang, aku melewatkan sesi perkenalan perempuan ini. Dan sekarang tiba-tiba saja Nicholas mengalihkan perhatiannya tadi kepada ku.
"Maaf, siapa namanya tadi?" tanya ku pada Nicholas bingung.
Nicholas terlihat sedang menahan tawanya, sudah jelas dia memang sengaja mengerjaiku yang sedang melamun kaget tadi.
"Rania," jawab Nicholas.
"Oh, ya. Hai, Rania. Saya Fiona," ucap ku menghampiri perempuan bernama Rania itu karena dia berdiri cukup jauh dari ku dan Nicholas. Lalu aku mengulurkan tangan padanya sambil tersenyum lebar.
"Hallo, Bu. Saya Rania. Bisa panggil Nia aja," jawabnya sambil menyambut uluran tangan ku dengan sangat bersemangat.
Akhirnya Nicholas mempersilakan Rania untuk duduk untuk membicarakan kontrak, seperti biasanya. Dan aku tetap berdiri di sebelahnya.
Aku melihat wajah bersemangat Rania yang selalu menatap Nicholas. Untung saja dia tidak tahu kalau aku adalah istrinya Nicholas, jika tidak, mungkin dia akan merasa canggung dan terus menunduk.
"Oke, Rania. Erren pasti sudah menjelaskan pada kamu tentang pekerjaan ini. Setidaknya secara garis besar, kamu sudah mengetahui tugas-tugas kamu sebagai sekretaris saya," ujar Nicholas untuk menegaskan kepada Rania.
"Iya, Pak," jawab Rania tersenyum.
Lalu aku segera menaruh beberapa map berisi kontrak di hadapan Nicholas. Kemudian, Nicholas menggesernya ke hadapan Erren yang masih tersenyum.
"Silakan baca kembali isi kontrak ini, saya akan memberikan kamu waktu untuk memahami dan memberikan pertanyaan," jelas Nicholas yang segera dituruti oleh Rania.
Seperti dugaan ku, wanita ini sangat tanggap dan sigap. Cocok dengan Nicholas yang serba ingin cepat dan praktis. Setidaknya, sejauh ini begitulah pendapat ku tentang Rania. Semoga saja tidak salah menilai kali ini.
"Saya boleh bertanya, Pak?"
"Silakan," jawab Nicholas.
"Di sini ada poin bahwa saya harus berkoordinasi dengan asisten pribadi Pak Nicholas. Berkoordinasi tentang apa tepatnya? Apakah tugas saya dan asisten Pak Nicholas sama?" tanya Rania. Itulah yang aku bingungkan saat pertama kali bekerja di sini. Meskipun aku sudah tahu secara garis besar apa tugas-tugas seorang asisten pribadi, tetap saja setiap perusahaan kan memiliki aturannya sendiri.
"Tidak sama, tapi tidak berbeda jauh. Tugas kamu seputar masalah kantor, tentang penyusunan rancangan kerja perusahaan, mengatur jadwal dengan klien, dan semacamnya. Tapi Fiona bekerja seputar masalah saya, baik kantor dan pribadi. Dia tangan kanan saya," jawab Nicholas sontak membuatku refleks melirik padanya. Nicholas sangat luwes mengatakan itu. Aku tangan kanannya? Kenapa itu terdengar seperti aku sedang naik jabatan? Dasar Nicholas. Ayolah Fiona, tahan senyummu. Jangan sampai orang lain melihatnya, apalagi Rania. Pasti aku dianggap terlalu berlebihan.
"Kamu perlu berkoordinasi hanya seputar jadwal meeting saya, dan masalah kantor yang menyangkut pribadi saya. Jadi, bila ada laporan terkait saya tapi tidak berhubungan dengan perusahaan, kamu harus mengatakannya pada Fiona. Kita ambil contoh yang sedang terjadi belakangan ini. Kalau kamu melihat ada wartawan yang menerobos ke kantor untuk bertemu saya, kamu harus bicara pada Fiona. Dia yang akan bertindak," ucap Nicholas mejelaskan lagi.
Rania menganggukkan kepala, ia kelihatan sedang berpikir sejenak. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tapi wajahnya kelihatan sangat serius. Dan memang itulah yang disukai Nicholas. Orang yang serius menyimak apa yang dia katakan.
"Saya dengar, belakangan ini banyak klien yang menghubungi untuk mempertanyakan kebenaran berita yang beredar. Lalu apa yang perlu saya katakan, Pak? Berita itu ..." Rania terlihat sedang memperkirakan kalimat yang akan diucapkannya. Bahkan, dia kelihatan sulit sekali melanjutkan kalimatnya.
Aku menahan napas pelan, ingin sekali menjawab, tapi Nicholas lebih berhak untuk menjawab pertanyaan itu sendiri.
"Untuk menjawab pertanyaan kamu kali ini, saya sudah melakukan konferensi pers sebelumnya. Aemuanya sudah saya katakan disana. Ini tidak ada kaitannya dengan perusahaan, jadi tidak perlu mempercayai berita-berita di luar sana," jawab Nicholas dengan tenang dan ku rasa cukup bijak.
Akhirnya Raina mengangguk lagi. Sepertinya dia sudah cukup puas dengan jawaban itu. Semoga saja memang dia bisa memahami maksud Nicholas. Kalau tidak, mungkin dia tidak akan kembali ke perusahaan ini.
"Tidak ada, Pak. Sudah cukup," ucap Rania lalu menandatangani surat kontrak itu.
Aku membantunya untuk membereskan map tersebut dan mengambilnya. Nicholas tersenyum ramah kemudian menjabat tangan Rania sebagai tanda bahwa wanita itu sudah resmi menjadi sekretaris-nya mulai hari ini.
Kemudian, Rania pun beranjak dari sofa dan berpamitan untuk pergi keluar dari ruang kerja Nicholas.
Aku menutup pintu ruang kerja Nicholas rapat-rapat, lalu membereskan meja. Lalu aku menaruh map kontrak tadi di atas meja Nicholas.
"Bagaimana?" tanya Nicholas.
"Apa?"
"Sekretaris baru itu?"
"Oh ... Dia sangat cekatan, sigap, dan sepertinya pintar."
Nicholas mengangguk pelan lalu kembali membuka laptopnya.
"Apa kamu begitu terburu-buru? Setahu aku, kamu termasuk laki-laki yang melihat perempuan dari visualnya," ledek ku pada Nicholas.
"Maksud kamu... Sekretaris baru itu?" tanya Nicholas.
"Aku gak bermaksud menilai rendah dia. Bagi aku, dia perempuan yang cantik. Tapi bukannya laki-laki kaya kamu sukanya perempuan cantik, sexy, dan modis?" ucap ku sedikit menyindirnya.
Nicholas menatap ku, dia malah terlihat sedang menahan tawanya sambil memperhatikan ku.
"Apa kamu sedang memuji diri sendiri?" tanya Nicholas.
"Memuji..." Aku tak melanjutkan kalimat bingung ku saat aku menyadari apa maksud Nicholas. Maksudnya, perempuan cantik, sexy, dan modis itu adalah aku? Wanita yang dia sukai?
"Aku gak perlu wanita seperti itu untuk jadi karyawan di sini. Mungkin dulu iya. Karena bagaimana pun penampilan lebih penting untuk membangun imej yang baik. Tapi sekarang ... Menjaga keamanan rumah tangga lebih penting," jawab Nicholas sontak membuat ku tertawa pelan begitu mengerti maksudnya.
"Jadi kamu ... Khawatir aku akan cemburu kalau kamu pilih sekretaris yang kaya Angeline?"
"Gak tahu kamu akan cemburu atau enggak. Tapi untuk jaga-jaga saja. Lagipula, aku udah punya perempuan cantik, sexy, dan modis itu sekarang," jawab Nicholas tersenyum manis menatap ku.
Aku mungkin akan sering sulit bernapas karena Nicholas yang jadi mudah sekali memuji ku belakangan ini. Jadi sebaiknya aku mencari kesibukan lain.
Kami berdua dikagetkan dengan pintu ruang kerja Nicholas yang tiba-tiba terbuka oleh Rania. Wajahnya kelihatan tegang, bahkan kacamatanya sampai berembun.
"Pak, maaf. Tapi ada seseorang yang memaksa ingin -"
Rania berhenti bicara ketika dua orang bersetelan jas yang meringsek masuk ke dalam. Dan aku sudah tahu jelas siapa mereka. Paman dan kakek Nicholas. Ada apa tiba-tiba datang ke sini? Apa mau membuat keonaran dengan kelompok aneh mereka? Apa mereka ingin mengajak Nicholas bergabung lagi dengan kelompok psikopat mereka?