
Ponsel ku berdering, tanda panggilan masuk dari Ardi. Kemudian, aku segera mengangkat panggilan telepon tersebut. Saat aku mengangkat telepon, aku menyadari ruangan Nicholas sedang dimasuki oleh orang-orang asing yang menggeledah seisi ruangan.
"Ya, Ardi?"
"Mbak, tetap di dalam ya. Tolong matikan ponsel setelah ini. Saya akan segera menyusul Mbak."
"Matikan ponsel? Kenapa harus?"
"Demi keamanan, Mbak. Tolong."
"Terus siapa orang-orang di dalam ruangan ini?"
"Mereka dari tim penyidik kepolisian, Mbak. Beberapa dari mereka juga orang suruhan Pak Nicholas untuk menyisir ruangan itu memastikan gak ada alat penyadap atau bahan berbahaya lainnya. Sudah ya, Mbak. Tolong matikan ponsel sekarang."
Ardi mengakhiri sambungan telepon dan seperti apa yang dikatakan Ardi, aku segera mematikan ponsel ku.
Sial. Apa mereka berhasil menemukan nomor ponsel ku?
Aku tak bisa mencari tahu tentang apa yang terjadi selama ponsel ku mati, dan orang-orang ini masih memeriksa ruangan Nicholas.
***
Sudah tiga jam lebih aku hanya diam sambil menerka-nerka apa yang terjadi. Perencanaan ku dan Nicholas soal balas dendam itu memang dibuat dalam waktu yang singkat. Kami berhasil, tapi tak tahu konsekuensinya.
Satu paket sarapan dan makan siang masih ada di meja. Tak aku sentuh sama sekali. Sekarang aku seperti tahanan.
Di dalam ruang kerja Nicholas, kini ada Ardi dan dua penjaga lagi. Mereka menjaga ku, tapi aku tak tahu bagaimana nasib Nicholas.
Aku juga tak bisa mendeteksi ponsel Nicholas meskipun aku menyalakan ponsel ku kembali.
Asumsi ku kuat, kalau Kakek dan paman Nicholas yang aneh itu mengirim orang-orang anehnya untuk mencelakai Nicholas juga. Karena dari rekaman terakhir yang ku dengar saat pertikaian mereka, ketika mereka menuduh Mia, salah satu dari mereka sempat mengatakan ini semua akibat pertengkaran Mia dan Nicholas. Aku menduga, mereka menyimpulkan kalau kejadian penggerebekkan itu terjadi gara-gara Nicholas juga.
Lalu apa yang dilakukan Nicholas sekarang? Kenapa sampai ada tim penyidik ke sini?
Aku menghela napas panjang, kemudian menekan tombol pintu putar untuk keluar dari private room. Ardi dan dua penjaga lainnya sudah bersiaga untuk menghalangi ku keluar.
"Di mana Nicholas sekarang?" tanya ku entah sudah ke berapa kalinya.
"Sebentar lagi Pak Nicholas akan datang, Mbak. Tolong tunggu saja di sini," jawab Ardi.
Aku meraih remot TV lalu menyalakan TV LED di ruangan ini mencari saat mereka lengah kalau saja mereka berbohong.
Tapi begitu aku menyalakan TV, yang muncul adalah channel berita gosip ketika terakhir kali aku menonton perkembangan kasus Mia dan Hero.
Tapi hari ini semakin kacau. Aku melihat berita kalau Mia meninggal. Bahkan Hero pun kembali mendapat sorotan ketika polisi masih belum memberikan keterangan apa-apa.
Seketika kengerian ini membuat ku semakin lemas, aku beranjak dari sofa sambil berusaha menyalakan ponsel ku untuk menghubungi Nicholas. Tapi Ardi langsung merebut ponsel ku sementara penjaga lainnya langsung mematikan TV.
Aku ingin berontak. Tapi tiba-tiba tubuh ku terjatuh hingga kepala ku menghantam karpet lantai, dan semuanya menjadi gelap.
***
Nicholas menghabisinya.
"Sidik jari dan CCTV di rumah sakit, semua barang bukti mengarah pada Anda, Nicholas. Anda yang melakukannya?"
"Kenapa Anda menghabisi istri Anda, Nicholas? Kesaksian orang tua korban mengatakan kalau sehari sebelumnya, Anda berniat menceraikan korban. Tapi korban menolak keras, bahkan mengancam untuk menghabisi diri sendiri, lalu Anda tak perduli dan terang-terangan mengatakan pada korban untuk melakukan itu saja. Apa Anda menghabisi korban karena dorongan korban, yang tak mau diceraikan?"
Nicholas masih diam. Ia menundukkan kepalanya kemudian aku melihat wajahnya memerah, kemudian menghela napas panjang.
"Saya menghabisi Mia, dan dua orang lainnya. Mereka semua mengkhianati saya, Pak. Dan saya gak menyesal."
"Nicho!"
Aku terbangun dengan napas yang terengah-engah. Tangan ku gemetar, dan begitu melihat Nicholas benar-benar ada di hadapan ku, aku histeris memeluknya sangat erat. Ya ampun, hanya mimpi. Hanya mimpi Fiona. Nicholas masih di sini, tanpa di borgol.
"Hey, Fiona. I was here, jangan takut," bisik Nicholas menepuk-nepuk punggung ku pelan.
Aku tak ingin menangis, sungguh. Tapi aku tak mengerti kenapa pipi ku basah. Dan aku menyadari kalau saat ini aku sedang berada di ruang rawat dengan tangan yang diinfus.
"Saya ... Saya lihat Mia ..." Aku berusaha untuk mengatur napas ku agar bisa bicara dengan jelas.
"Iya, saya tahu. Kamu khawatir, Fiona. Tapi semuanya sudah selesai," bisik Nicholas membuat ku segera melepaskan pelukan ku.
"Apa maksudnya? Kenapa kamu bilang gitu? Kamu ngapain aja tadi?"
"Mia ditemukan meninggal dini hari tadi, selang oksigennya ada yang gunting. Awalnya polisi mengira kalau itu bunuh diri, karena di tangan Mia ada gunting," ucap Nicholas mulai menjelaskan. Dan aku berusaha tenang mendengarkan.
"Saya dimintai keterangan. Hero juga. Tapi setelah saya cek rekaman penyadap saya, ternyata jam 03:10 pagi, ada yang masuk ke ruang rawat Mia. Jadi saya tunjukin rekaman suara itu ke polisi. Mereka melakukan penyelidikan. Dan lagi, Edward tiba-tiba menghilang."
Aku terdiam sejenak sambil menggigit bibir ku. Kecurigaan ku kini tertuju pada keluarga aneh Nicholas. Tapi kenapa sama Edward hilang? Apa Edward yang melakukan?
"Kemungkinan yang bunuh Mia adalah anggota club aneh Kakek. Ini masalah gaun merah itu."
"What the h***. Gimana bisa mereka membunuh orang cuma karena penggerebekkan itu? Bahkan dari mereka gak ada yang ditangkap."
"Saya juga baru tahu ini. Tapi, biasanya, setahu saya. Club kaya begitu akan menghabisi anggota mereka yang dianggap sudah gak berguna," jawab Nicholas pelan.
Nicholas menahan napasnya, kemudian ia meraih tangan ku.
"Tengah malam nanti, saya akan antar kamu pulang ke Surabaya menggunakan helikopter. Untuk sementara, kamu di sana sampai saya jemput kamu -"
"Gak mau, Nicho. Gimana bisa saya tinggalin kamu ..."
"Bukan ninggalin saya. Hanya untuk sementara Fiona. Sampai semua kekacauan ini berakhir, saya janji, saya akan segera jemput kamu. Oke?"
Aku menahan napas ku sambil melirik jam tangan Nicholas yang menunjukkan pukul 23:30. Sebentar lagi aku harus pergi.
"Fiona, hey ... Trust me. Saya gak akan melakukan apapun yang akan mengacaukan rencana terakhir saya."
Rencana terakhir Nicholas. Aku lupa soal itu.
"Pernikahan?"
"Sama kamu," balas Nicholas pelan.
"Nicho, kamu tahu kan saya akan sangat patah hati kalau kamu bohongin saya. Soal Mia, Edward, dan yang lainnya ini?"
"Saya gak bisa berjanji kalau saya gak akan pernah bohong sama kamu. Tapi untuk urusan ini, saya bersumpah, saya gak lagi punya hasrat untuk menghabisi mereka. Kamu tahu, sekarang hasrat saya cuma mau hidup lebih 'normal' sama kamu," jawab Nicholas mengelus pipi ku lagi. Aku tersenyum kemudian kembali memeluk Nicholas.