NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
NEGOSIASI



Aku mencoba menempatkan diri menjadi Nicholas. Sangat buruk. Nicholas tak memiliki siapapun untuk dipercayai, kecuali Ardi. Oh ayolah, masa iya Ardi yang akan menjadi tempat senderan Nicho?


Jika aku jadi Nicho, dikhianati keluarganya sendiri memang pahit. Apalagi membuat orang-orang yang disayangnya pergi. Pasti aku juga akan mengharapkan mereka mati.


Tanpa terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 15:30 WIB. Ponsel ku sudah penuh dengan panggilan telepon dari Nicholas. Astaga dia sangat tak sabaran.


Untuk kesekian kalinya ia menelepon, akhirnya aku mengangkat panggilan telepon itu.


"Kenapa?"


"Mau coba menghindar?"


"Nggak. Saya baru mau telepon kamu. Kamu dimana?" tanya ku sambil buru-buru membereskan kertas-kertas ini.


"Nyusul kamu ke kosan," jawab Nicholas lagi-lagi dengan entengnya.


"What? No. Jangan. Kita ketemuan aja, di Ancol? Oke?"


"Kenapa? Saya lebih suka nyusul kamu."


"Nicho, di sini kosan putri. Dan lagi, saya gak mau mereka mikir macem-macem lihat kamu dateng."


"Kamu tenang aja, saya gak lagi pakai setelan formal."


"Tapi kamu pakai mobil mewah kan?" tanya ku menebak dan Nicholas tak menjawab, hanya terdengar helaan napas darinya.


"Kamu gak lagi sembunyiin laki-laki di sana kan?"


"Oh, kamu jadi posesif sekarang ya?"


"Saya bercanda, Fiona. Gak lucu ya?" tanya Nicholas membuat ku meringis miris. Ingin rasanya aku mengatakan, sudahlah Nicho, menyerah saja dalam berusaha membuat candaan.


"Jangan di Ancol. Di cafe aja. Oke?"


"Nggak. Saya mau di Ancol. Kalau gak mau, ya udah batal."


"Kok jutek?"


"Oke, terserah Pak Nicholas. Sampai ketemu di Ancol ya Pak," ulang ku sedikit lebih ramah.


Setelah itu, panggilan telepon berakhir. Sejujurnya aku bingung, padahal sudah jelas aku mengatakan ini pertemuan formal. Tapi kenapa dia malah keluar dari kantor dan memakai pakaian tak formal? Aku penasaran pakaian tidak formal Nicholas itu seperti apa?


To: Nicholas


Setelah sampai, tolong kirimin foto kamu ya.


Setelah mengirim pesan itu, aku segera bersiap-siap. Merapikan semuanya dan berharap Nicholas akan langsung setuju dengan ide ku.


***


Celana chino abu-abu dan jaket denim. Hanya itu yang Nicholas makdsud tak formal. Well, dia tetap terlihat keren memakai apapun. Aku jadi membayangkan bagaimana kalau Nicholas pakai piyama?


"Jadi, Pak Ardi yang fotoin kamu tadi?" tanya ku mengingat lagi pose Nicholas dalam foto yang dia kirimkan sebelum aku sampai di sini.


"Ya, siapa lagi?"


"Apa kamu gak bisa selfie aja?"


"Menurut kamu, apa yang akan orang-orang pikirkan melihat saya selfie? Lebih rasional kalau ada yang memotret saya."


Sejak kapan Nicholas sangat percaya diri? Tunggu, dia memang orang yang percaya diri. Tapi menyombongkan diri, itu bukan Nicholas. Kenapa juga dia menyombongkan diri? Semua orang tahu dia memiliki wajah dan bentuk tubuh ideal untuk menjadi model.


"Kamu gak ngerti Fiona? Maksud saya, saya gak cocok selfie."


"Nicholas, sekarang, kamu bener-bener gak cocok jadi seorang kriminal," gumam ku pelan. Dan wajah berseri Nicholas seketika menghilang. Ia menatap ku cukup serius.


"Kenapa kita harus bicarakan ini sekarang?" tanya Nicholas.


"Kenapa kamu mau bernegosiasi dengan saya soal rencana kamu?" tanya ku sambil menyelipkan rambut ku yang tertiup angin.


"Kamu benar-benar mau bernegosiasi?" tanya Nicholas.


"Kamu serius gak sih?"


"Exactly," jawab ku dengan tegas.


Nicholas menatap ku. Dia kelihatan kebingungan. Aku tahu, Nicholas jadi kacau begini karena aku, mungkin karena perasaannya pada ku yang membuatnya bingung harus melakukan yang mana.


"Itulah kenapa saya gak bisa terlalu dekat dengan kamu seperti dulu, Nicho. Saya gak bisa berharap apa-apa dari kamu. Yang saya lakukan, murni untuk membantu kamu."


"Membantu apa? Menyelesaikan semuanya tanpa ada pertumpahan darah?"


"Yes. Dan satu hal, kamu perlu percaya sama saya Nicho. Saya hanya membantu kamu, dan kamu yang akan membuat keputusan."


Nicholas kembali terlihat khawatir. Namun saat aku mengeluarkan kertas-kertas yang ku bawa dalam map, wajah Nicholas berubah menjadi serius. Sesekali ia melirik ku dan kertas itu secara bergantian.


"No way. Saya gak ngerti sama kamu, Fio. Terakhir kali saya manfaatin kamu, kamu marah besar sama saya. Dan saya gak mau itu terjadi lagi," ucap Nicholas sambil menutup map itu keras.


"Nicho ..."


"Selain itu, ini berbahaya, Fiona. Kamu lupa kalau waktu itu kamu sekarat karena mereka?"


Aku terdiam. Memang ini perlu kerjasama yang kuat antara aku dan Nicholas. Tapi untuk saat ini, aku hanya fokus untuk cepat-cepat menuntaskan rencana Nicholas.


"Saya cuma mengubah sedikit dalam rencana kamu, Nicho. Bukankah kamu berpikir ini bisa jadi balas dendam yang sesuai?"


Nicholas terlihat menimbang-nimbang. Ia menatap ku seolah sedang mencoba membaca pikiran ku.


"Gimana kalau ini gagal?"


"Gak akan, Nicho. Saya percaya, kamu akan selalu jagain saya."


Nicholas kembali terdiam. Aku tahu wajahnya memerah marah. Dan seolah belum mau mempertimbangkannya lagi, tiba-tiba Nicholas beranjak dari duduknya.


"Gak. Saya gak bisa," jawab Nicholas berjalan menjauh dari ku. Ardi mengikutinya, tapi aku menahannya. Aku yang akan mengejar Nicholas menuju pintu keluar. Astaga, jauh-jauh aku membawanya ke sini, tapi Nicholas malah pergi begitu saja.


"Nicho, dengerin saya dulu."


Nicholas berjalan cepat menuju parkiran, jelas dia terlihat kesal entah karena apa.


"Nicho -"


"Kamu kalau gak mau balik ke saya lagi, bukan begini Fiona. Saya tahu kamu marah dan benci sama saya. Tapi apa yang kamu pikirkan tentang ini? Kamu main-main lagi dengan nyawa kamu? Kamu mau bikin saya tersiksa lagi setelah apa yang kamu coba lakukan di tempat latihan tembak?"


"Bukan gitu, Nicho."


"Kamu ngerti kan? Mereka menargetkan orang-orang yang dekat dengan saya. Kamu. Mereka sadar betapa berharganya kamu untuk saya, Fio. Selama ini saya sengaja sembunyiin kamu agar kamu tetap aman. Saya gak mau mereka ..." Nicholas tak melanjutkan kalimatnya lagi.


Ia segera menarikku masuk ke dalam mobil dan menguncinya. Kemudian, tiba-tiba dia berlari secepat kilat mengejar seorang laki-laki bertudung hitam. Orang-orang mulai menaruh perhatiannya pada mereka. Lalu aku melihat dari spion mobil, Nicholas berhasil menarik laki-laki itu hingga terjatuh, dan akhirnya aku melihat Ardi di sana memegangi laki-laki itu sambil menelepon seseorang sementara Nicholas berlari lagi menghampiri mobil.


"Dia ngikutin kita?" tanya ku.


Nicholas tak menjawab. Wajahnya terlihat begitu panik sambil mencoba menyalakan mobilnya.


"Nicholas, kita gak bisa kabur terus begini. Kita harus lawan mereka," ucap ku dengan tegas.


"Fiona, please ... Jangan bicarain itu sekarang."


"Terus kamu akan begini terus? Jadi pengecut yang akan menghabisi mereka diam-diam?" tanya ku yang sukses membuat Nicholas menghentikan mobilnya tiba-tiba.


Ia terdiam sambil mencengkeram stir mobilnya.


Aku semakin penasaran, kenapa mereka melakukan hal ini pada Nicholas? Apa hanya ingin melihatnya menderita? Kenapa mereka sama sekali tak kasihan melihat Nicholas yang tumbuh tanpa Ibu dan ditinggalkan ayahnya? Bukankah mereka adalah satu-satunya keluarga Nicholas?


"Oke, kita lakuin itu. Tapi saya akan cari orang untuk jagain kamu 24 jam, Fio. Okay?" tanya Nicholas menantang ku.


"Okay. Bahkan, kamu juga boleh pasang alat penyadap untuk saya."


"Of course. Bukan cuma alat penyadap, tapi alat pelacak juga," jawab Nicholas kelihatan bernapas berat.


Kali ini aku tahu Nicholas tidak sedang bercanda. Tapi aku tertawa. Situasi yang tak tepat untuk tertawa sebenarnya.


......