
Aku dan Nicholas sepakat, kami mencurigai Rania terlibat dalam pengiriman semua hadiah teror ini. Ada banyak hal yang menyudutkan Rania. Dia orang baru, bisa saja seseorang menyuruhnya, dan juga aku sudah lama menyadari tingkahnya yang aneh.
"Aku udah cari semua data mengenai Rania, dan dia sama sekali gak ada hubungannya dengan Mia atau keluarganya. Dia benar-benar bersih. Bahkan, aku juga mencari tahu keluarga Rania, dan di mana dia tinggal. Dan ... Orang-orang terdekat dia," ucap Nicholas mengalihkan pandangannya dari laptop dengan putus asa.
Ya, aku tahu kemampuan Nicholas dalam mencari tahu tentang seluk beluk seseorang tidak perlu diragukan lagi. Aku juga melihat bagaimana Nicholas berjam-jam menghabiskan waktunya di depan komputer untuk mencari tahu tentang Rania.
"Mungkin, memang bukan Rania. Tapi yang pasti orang itu ada di sekitar kantor," tebak Nicholas yang aku yakini juga.
"Mungkin saja benar Rania orangnya. Dia bisa saja bermain cantik. Intinya, kita tetap harus mewaspadai dia," sahutku dengan yakin. Nicholas tak menyahut lagi. Dia hanya menghela napas berat sambil menyenderkan punggungnya di kursi. Wajahnya terlihat sangat tegang dan putus asa.
"Aku cuma mau ingetin, besok kamu ada jadwal rapat gabungan pukul 10:00 pagi. Sebaiknya kamu tidur sekarang, Nicho. Ini udah lewat tengah malam," ucapku menyarankan .
"Aku gak akan bisa tidur tenang sebelum mereka berhenti meneror kita," ucap Nicholas dengan nada dingin. Sepertinya dia kembali menaruh dendam pada mereka. Dan aku bisa memakluminya kali ini. Karena memang mereka tak membiarkan Nicholas hidup tenang sedikit pun.
"Nicho, kadang aku berpikir ... Kayanya, seharusnya dulu kita menjalankan rencana awal kamu aja," gumamku sedikit linglung. Maksudku, ya kadang aku menyesal mengapa sejak awal tak membiarkan Nicholas membunuh mereka saja. Ah, konyol. Itu hanya pikiran singkatku saja.
"Oke, sepertinya kita memang harus tidur sekarang. Kamu keliatan capek banget sampe bicara gak jelas," ucap Nicholas segera beranjak dari kursinya, lalu menggandengku ke tempat tidur. Ya ampun, kenapa belakangan ini kita selalu bergandengan hanya ke tempat tidur saja?
"Iya, aku emang harus tidur sekarang. Besok, kan harus dateng pagi ke kantor sebelum Pak Nicholas sampai. Kalau telat, bisa dimarahin aku," ocehku dengan nada bercanda.
"Oh ya? Setahu aku, bos kamu itu bukan orang yang pemarah." Nicholas menyahutiku sambil memeluk tubuhku yang berbaring di sebelahnya. Aku hanya tertawa pelan sambil membalas pelukannya dengan erat.
"Kamu harus istirahat, Nicho. Mata kamu kelihatan lelah banget," bisikku sambil mengelus-elus rambut Nicholas yang mulai memejamkan matanya. Aku berhenti mengelus rambutnya untuk fokus memandanginya. Namun, tiba-tiba Nicholas kembali membuka matanya.
"Kenapa berhenti?" tanya Nicholas yang menjurus pada elusan tanganku di rambutnya. Lantas, aku terkekeh pelan, lalu kembali mengelus-elus rambut Nicholas.
"Sayang," bisik Nicholas dengan mata terpejam.
"Hmm?"
"Apa kamu tahu? Satu-satunya orang yang pernah melakukan ini sebelum kamu, adalah Mama," bisik Nicholas mulai kelihatan nyaman.
"Maksud kamu ... Mengelus rambut begini?" tanyaku memperjelas. Dan Nicholas menganggukkan kepalanya pelan.
"Saat itu usia aku baru 7 tahun. Dan itu terakhir kalinya dia pernah mengelus rambut aku sampai tertidur. Setelah itu, dia pergi," bisik Nicholas pelan. Amat pelan seperti seseorang sedang mengigau.
"Kamu kangen dia, ya?" tanyaku sambil tersenyum menatap Nicholas yang terlihat jauh lebih manis.
"Enggak. Enggak sama sekali. Bagi aku, dia hanya masa lalu."
Tapi dia tetap ibu kandung kamu, Nicholas. Aku ingin bicara begitu, tapi rasanya gak tepat. Apa lagi, situasinya aku pun masih belum bisa memaafkan ayahku sendiri karena telah meninggalkanku dan Mama demi wanita lain.
"Kamu suka rambutnya dielus begini?" tanyaku.
"Ya ... Rasanya lebih tenang. Mungkin, level menenangkannya lebih dari sebuah pelukan," jawab Nicholas membuatku kembali merasakan apa yang dia rasakan. Sebagai seorang anak yang tinggal di dalam keluarga tak utuh. Rasanya memang selalu ada yang kurang.
"Kalau gitu, biar aku aja yang lakuin ini mulai sekarang. Apa aja akan aku lakuin, supaya kamu bisa tidur dengan tenang, Nicho," bisikku mengusap-usap pipinya. Dan perlahan, Nicholas malah membuka matanya yang otomatis langsung bertemu dengan kedua mataku.
Nicholas menganggukkan kepala, dia mendekatiku, kemudian mengecup bibirku sebentar.
"Aku harap kamu akan selalu di sini selamanya, Fio," bisik Nicholas memelukku semakin erat sambil memejamkan matanya. Semoga saja Nicho. Semoga saja ini semua segera selesai dan kita berdua bisa hidup dengan normal.
***
Hari ini di kantor, diam-diam Nicholas menyuruh Derry untuk memeriksa rekaman CCTV di jam-jam tertentu, tepatnya saat hadiah-hadiah misterius itu datang. Sementara aku memeriksa ke bagian staf resepsionis di lobby.
"Maaf, Bu. Tapi, sepertinya gak pernah ada kurir yang datang untuk mengantarkan paket atau hadiah apapun belakangan ini. Apa lagi untuk Pak Nicholas." Begitulah yang dikatakan oleh Sania setelah aku bertanya soal kurir yang mengantarkan paket tersebut.
"Kamu yakin?" tanyaku mencoba membujuknya untuk mengingat-ingat kembali.
"Selama saya bertugas di sini, saya gak menemui kurir mana pun, Bu. Lagi pula, kiriman apa pun untuk Pak Nicholas, biasanya tidak akan melewati kamu, Bu. Dan kalau pun ada, biasanya akan tercatat di buku catatan kami. Tapi, nanti saya akan coba tanyakan dengan staf lain," ucap Sania dengan lugas dan aku mempercayainya. Benar apa katanya. Nicholas kan orang penting, mana ada orang yang mengirim barang lewat kurir, dan hanya menitipkan pada resepsionis.
Orang itu pasti melewati bagian resepsionis. Astaga, aku semakin mencurigai Rania. Namun, dari mana aku bisa membuktikannya?
Aku kembali ke ruangan Nicholas, di mana di sana ada Derry yang sepertinya baru melaporkan hasil pencariannya. Bertepatan dengan aku masuk, Derry berpamitan keluar. Dia juga sempat menyapaku.
"Gimana?" tanyaku penasaran. Harusnya di kamera pengawas, terlihat jelas Rania yang mengeluarkan hadiah itu sendiri. Dia pasti mengarang cerita mengenai staf yang mengantarkan hadiah-hadiah itu.
"Gak ada, sayang. Rania benar-benar menerima paket itu dari beberapa staf kantor yang berbeda," jawab Nicholas berbisik. Sontak saja aku mengerutkan keningku heran. Bagaimana bisa begitu? Staf kantor yang berbeda?
"Tapi tadi aku periksa ke resepsionis. Katanya mereka gak pernah menerima paket apa pun untuk dititipkan ke kamu. Bahkan, mereka gak melihat ada kurir yang datang ke kantor belakangan ini," sahutku yang bertentangan dengan Nicholas.
Nicholas menghela napas lagi.
"Orang itu pasti salah satu staf di kantor ini. Tapi masalahnya, staf kita yang mengantar hadiah-hadiah itu ke Rania berbeda-beda. Tak mungkin juga mereka berkomplot untuk mengelabui Nicholas.
"Nicho, setengah jam lagi kamu harus rapat. Tenangin diri kamu dulu, okay?" ucapku mengingatkan. Dalam hati, aku memutuskan untuk menangkap basah orang itu saja nanti.
"Nicho, aku punya ide."
"Apa?" tanya Nicholas.
"Saat rapat nanti, aku gak perlu ikut kamu ke sana ya? Bilang aja aku izin pulang karena kurang enak badan. Setelah itu, aku akan menangkap basah staf yang memberikan hadiah selanjutnya hari ini," jawabku menjelaskan ide.
"Enggak, aku gak setuju. Biar nanti aku suruh orang lain aja yang melakukan itu sayang."
"Nicho ..."
"Fiona. Kamu udah janji sama aku sebelumnya. Kita cari tahu ini, tapi jangan sampai menempatkan diri kamu dalam bahaya. Dan apa yang akan kamu lakukan itu adalah bahaya karena siapapun orang aneh itu sedang mengawasi kita di kantor ini," jawab Nicholas dengan tegas. Namun aku masih ingin membujuk. Sayangnya, Rania sudah keburu masuk untuk mengingatkan perihal rapat.
Baiklah, aku hanya bisa menuruti Nicholas. Semoga saja Derry bisa menangkap basah siapa orangnya nanti.