NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
TAK INGIN KEHILANGAN



Aku masih menunggu di dalam ruangan yang aku sendiri tak tahu kamar siapa ini. Ayah Hero masih menjagaku di depan kamar. Bahkan, aku masih mendengarnya panik karena kelakuan putri mereka yang menyekapku.


Baiklah, tenang Fiona. Aku harus berusaha melepaskan diri dari sini. Aku berusaha keras untuk membuat lakban di tanganku lepas. Seharusnya bisa, karena ini bukan lakban yang tahan lama. Tapi tanganku terasa sangat kebas dan perih. Aku tidak bisa membuka ikatan lakbannya.


Tiba-tiba, aku mendengar keributan lagi di luar kamar. Sudah pasti keributan ini dari Rena dan ayahnya. Lalu, tiba-tiba pintu kamar dibuka dan Rena segera menghampiriku. Dia mencoba menamparku, tapi aku berhasil mengelak. Ternyata hal itu semakin membuatnya marah dan langsung menjambak rambutku. Reflek, aku segera menendangnya hingga dia terjatuh dan berteriak kesakitan. Sayangnya, hal itu membuatku lengah, dan tak bisa menghindar dari tamparan ayahnya Hero di wajahku. Rasanya sangat sakit dan perih hingga aku terdiam tak berkutik.


"Jangan mentang-mentang Anda orang kaya, Anda bisa bersikap seenaknya ya!"


Apa aku tidak salah dengar? Ayah Hero mengatakan itu padaku? Apa yang dia pikirkan sekarang?


"Dasar bodoh! Dia merekam percakapan aku dan Gian, Pa! Di ponsel ini!" Rena melemparkan ponselku yang ternyata dia temukan.


"Kurang ajar! Rasakan ini!"


Kali ini Rena menginjak-injak ponselku sampai hancur dan aku hanya diam sambil menangis.


"Lalu bagaimana? Video itu sudah dikirim, bukan? Kita dalam bahaya, Rena!" pekik ayah Hero terlihat lebih panik.


"Tenang, Pa. Orang kesayangan Nicholas ada di sini. Aku akan tetap meminta uang tebusan dan menghapus video itu. Lalu, kita habisi saja dia," tukas Rena menatapku tajam.


"Apa kau-"


Belum selesai ayah Hero bicara, tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk beberapa kali. Rena yang memutuskan untuk pergi keluar. Sementara aku bersama ayah Hero. Dia mendekatiku dan membekap mulutku. Bagus! Aku jadi memiliki kesempatan untuk menyikut ulu hatinya dengan siku, lalu menendangnya menjauh. Aku bergegas menyeret tubuhku ke arah pintu.


Ayah Hero bergerak mencoba menggapaiku lagi. Tapi aku kembali menendangnya hingga tubuhku menabrak-nabrak pintu dan membuat kegaduhan. Aku benar-benar menendangnya frustrasi. Sampai tiba-tiba pintu kamar terbuka dan aku hampir terjatuh.


"Sayang ..."


Tangisku pecah ketika melihat Nicholas menarikku menjauh dari ayah Hero. Dan aku juga melihat ada dua polisi yang sudah memborgol Rena. Lalu, satu petugas lagi menangkap ayah Hero.


Nicholas buru-buru melepaskan ikatan tanganku dan juga lakban di mulutku.


"Gak apa-apa, sayang. Kamu udah aman sekarang, okay? Kamu aman," bisik Nicholas sambil memelukku yang masih terus menangis. Aku pun memeluk Nicholas erat-erat dengan tangan yang bergetar. Seumur hidup, aku tak pernah ditampar selain oleh Mia, dan sekarang oleh laki-laki asing yang tenaganya sangat keras. Bahkan, mendengar rencana Rena yang hendak menghabisiku saja sudah membuatku ketakutan setengah mati.


"Kita pulang sekarang, ya ..." Nicholas menggendongku dari rumah ini masuk ke mobilnya. Dia mendudukkan ku di kursi depan yang sudah diturunkan posisi senderannya.


"Tunggu sebentar ya, sayang," bisik Nicholas sambil mengelus rambutku. Lalu, dia berjalan keluar mobil menghampiri para polisi dan bicara dengan mereka.


Kepalaku rasanya pusing. Jantungku masih berdegup kencang. Ini pertama kalinya aku diculik dan mendengar banyak hal-hal yang membuatku ketakutan.


Nicholas menjabat tangan salah satu petugas polisi, kemudian berbalik kembali ke mobil. Perhatiannya langsung teralihkan padaku.


"Aku tahu kamu pasti ketakutan, Fio. Tenang, ya sayang. Mereka sudah dibekuk oleh polisi," bisik Nicholas sambil mengelus wajahku.


Aku menghela napas panjang, kemudian menundukkan kepalaku.


"Nicho ..."


"Hey, it's okay. Kamu gak perlu cerita apa pun sama aku sekarang. Tenangin diri kamu sendiri, okay?" Nicholas mendekatiku dan meraih wajahku agar menatapnya.


"Kamu melakukan hal yang bagus, sayang. Kamu mengirim rekaman video itu ke aku, tetap mengaktifkan ponsel supaya aku bisa melacak kamu ... Kamu hebat, sayang," bisik Nicholas menatapku lekat-lekat. Lalu, dia mencium bibirku dengan lembut. Aku berusaha menenangkan diri, dan memejamkan mataku. Merasakan bibir Nicholas di bibirku. Tangan Nicholas beralih di pinggangku, mengelus belakang punggungku dengan hati-hati. Dan aku meraih wajah Nicholas, ******* bibirnya dengan lembut sambil mengalungkan tanganku di lehernya.


"Oh God ..." Nicholas menyadari sesuatu, karena dia begitu kaget melihatku.


"What the he** they do to you?!" marah Nicholas sambil menyentuh pipiku. Dan aku jadi teringat pipiku yang ditampar. Sepertinya ada luka di sekitar sudut bibirku, rasanya perih barusan.


"Apa yang mereka lakukan sama kamu, Fio?"


"Hanya menampar. Apa berbekas?" tanyaku malu.


"Sialan! Aku harus benar-benar memastikan mereka mendekam di penjara seumur hidup!" Nicholas terlihat berusaha menyembunyikan rasa kesalnya, tetapi sepertinya gagal. Karena dia benar-benar terlihat marah.


"Nicho, aku mau pulang sekarang. Please," ucapku pelan.


Nicholas hanya mengangguk sambil mencengkeram kemudinya. Dia kelihatan benar-benar marah hingga menghela napas gusar beberapa kali. Bagaimana jika Nicholas tahu bahwa selama ini dia hanya ditipu oleh Sadewa?


***


Aku sudah membersihkan diri di kamar mandi. Lukaku juga sudah diobati. Tapi kenapa rasanya apa yang terjadi di rumah Rena itu masih terus terasa? Sulit sekali aku melupakannya.


"Sayang, sini. Istirahat, okay?" Nicholas menuntunku untuk berbaring di atas tempat tidur.


"Kamu istirahat aja ya, sayang. Aku ada di meja kerja, kalau kamu butuh sesuatu panggil aku aja," bisik Nicholas mengelus pipiku. Namun, aku menahannya yang hendak pergi.


"Apa kamu punya pekerjaan?" tanyaku pelan.


"Well ..." Nicholas menatapku gugup. Sepertinya dia ragu dengan apa yang ingin dia katakan.


"Ada ..."


Aku menghela napas panjang, lalu melepaskan pegangan tanganku di tangannya.


"Tapi, itu tidak terlalu penting. Aku bisa mengerjakannya besok," imbuh Nicholas tiba-tiba berubah pikiran. Dia bergerak untuk berbaring di sebelahku dan mencoba memelukku.


"Aku minta maaf, Nicho. Seharusnya aku mendengarkan kamu untuk tetap menunggu di mobil," bisikku menundukkan kepala merasa malu. Ya, setidaknya aku benar-benar membuat keributan malam ini, yang membuatku kapok karena sifat sembronoku.


"Sebetulnya, ya, aku memang sangat marah sama kamu, Fio. Bahkan, begitu aku mendapat kiriman rekaman video dari kamu, aku hampir putus asa ..." Nicholas terdengar seperti bergumam pada dirinya sendiri. Kedua matanya menatap ke arah lain, mengawang seperti sedang memikirkan banyak hal.


"Aku bersumpah, kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu ... Aku akan menghabisi mereka. Tapi, saat detektif Joe mengatakan untuk tetap tenang agar bisa melacak kamu, aku berusaha berpikir ... Apapun yang kamu lakukan, ini semua karena kamu sangat peduli dengan aku." Akhirnya Nicholas menaruh perhatiannya kepadaku. Dia menatapku sambil mengelus wajahku.


"Dan, aku juga senang karena kamu menyesal. Jangan diulangi lagi, okay? Aku gak mau kehilangan kamu, Fio. Bahkan, aku gak suka lihat orang lain menyakiti kamu," bisik Nicholas, lalu mengecup keningku dengan lembut hingga aku memejamkan mata, merasa tenang.


"Nicholas, kakak dan ayah Hero. Mereka ..."


"Sttt, kita bicarakan itu besok aja, ya? Aku ingin kamu benar-benar tenang malam ini. Tenang saja, sayang. Aku dan detektif Joe, sudah memiliki rencana bagaimana membuat polisi bisa menangkap kelompok aneh itu," bisik Nicholas tersenyum meyakinkanku.


"Rencana apa?" tanyaku.


"Ini akan melibatkan mereka berdua."


Setelah bicara begitu, Nicholas memelukku lebih erat dan memejamkan matanya. Nicholas tak ingin menjawabku sekarang sepertinya. Tapi, jika ini melibatkan Ayah Hero dan kakaknya ... Aku rasa Nicholas akan benar-benar memanfaatkan mereka. Aku tak akan melarangnya kali ini.