NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
RAHASIA MEREKA



Akhirnya Nicholas benar-benar menemukan detektif swasta. Dia dan sang detektif yang bernama Cakra, pergi ke markas perkumpulan orang-orang aneh itu. Nicholas mengatakan kalau dia ingin membicarakan soal suntikan dana yang akan diberikannya kepada mereka, sementara Cakra diam-diam menyusup.


Sebenarnya, aku diminta Nicholas untuk menunggu di mobil saja dan mengawasi. Kalau-kalau mereka terlibat perkelahian di dalam, aku diminta untuk segera melapor kepada polisi.


Cukup lama menunggu Nicholas, aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Sampai, aku menemukan seseorang yang sepertinya aku kenal. Seorang perempuan yang baru saja turun dari mobil, dan berjalan dengan ketakutan ke dalam. Orang itu adalah kakaknya Hero! Aku yakin, karena dia selalu muncul di setiap berita yang mengabarkan tentang kematian Hero. Untuk apa dia ke sini?


Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil topi dan juga kacamata. Aku bergegas turun dari mobil Nicholas dan berjalan mengikuti perempuan itu. Aku yakin, dia memang terlibat dengan kelompok ini.


Aku melihat dia bertemu dengan Gian. Mereka bicara, sampai Gian kelihatan kesal dan langsung menarik perempuan itu dari keramaian orang-orang yang tengah berpesta ganja. Aku mengikutinya lagi. Aku yakin kali ini mereka mencari tempat yang tenang untuk bicara.


"Apa kau benar-benar sudah gila? Hah? Kalian sengaja memeras kami kan?" bentak Gian mendorong wanita itu ke dinding.


"Memeras? Kami hanya meminta hak keluarga kami yang dibunuh oleh kalian!"


Aku buru-buru mengangkat kamera ponselku di tengah persembunyian. Aku merekam mereka yang tengah meributkan kematian Hero. Sesuai dengan dugaanku.


"Jangan berani-beraninya datang ke sini lagi. Karena kami tidak akan memberikan sepeser pun uang lagi kepada kalian, mengerti?" bentak Gian dengan galak.


"Kalau begitu, aku akan melaporkan kalian pada polisi!"


"Laporkan saja, bukannya kalian yang meracuni Hero? Bodoh!"


"Tapi kalian yang mengancam kami dan mengatakan akan terus membiayai hidup kami. Kalian yang ingin menghabisi Hero karena dia mengetahui rahasia kalian-"


Perempuan itu tak melanjutkan kalimatnya karena Gian mencekik lehernya dengan kuat. Tanganku hampir terjatuh karena kaget melihatnya. Astaga, Fiona, kau harus kuat. Aku harus mendapatkan bukti penting ini.


"Pergilah! Atau kau akan bernasib sama dengan adikmu!" Gian melempar perempuan itu hingga terjatuh, kemudian meninggalkannya begitu saja. Sementara aku masih terpaku dengan kejadian ini. Aku memang tahu, Hero pasti mengalami kematian tak wajar. Tapi, aku tak menyangka dia diracuni oleh keluarganya sendiri hanya demi uang.


Dering ponselku berbunyi. Sialan! Aku melirik lagi ke arah perempuan itu. Dan dia melihatku sedang merekam! Gawat. Dia buru-buru berdiri, dan aku berlari karena dia sudah mulai mengejarku. Tidak, tidak! Aku harus mengirim rekaman video itu kepada Nicholas.


Aku melompat keluar, lalu berbelok dengan cepat menuju semak-semak. Aku bersembunyi, dan dengan tangan bergetar, aku buru-buru mengirimkan rekaman video tersebut kepada Nicholas.


Derap langkah itu semakin mendekat, dan aku reflek menduduki ponselku saat perempuan itu sampai di depanku, sambil mengacungkan pisau ke hadapanku. Astaga, aku akan mati sekarang. Semoga video nya sudah terkirim, ku mohon!


"Kamu rupanya. Si istri simpanan Nicholas yang kaya itu," ucap perempuan itu tersenyum miring.


"Ikut aku," titahnya. Namun, tentu saja aku tak mau. Dia menarikku untuk berdiri  sehingga aku buru-buru memasukkan ponselku ke dalam sepatuku.


"Mana handphone kamu? Mana?"


"Terjatuh di sana."


"Coba cari di sebelah sana!" Itu suara Nicholas! Aku hendak berteriak, tapi perempuan ini menempelkan pisaunya di leherku, sukses membuatku terdiam bungkam. Dia mengisyaratkan aku untuk ikut dengannya ke mobilnya. Dia berjalan di belakangku dengan pisau yang berada di punggungku. Sialan!


"Masuk!" Dia menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya. Dan aku hanya menurut saja.


"Nicholas akan membayar saya sangat mahal untuk menebus kamu!" jawabnya tak mau kalah. Astaga, ternyata itu rencananya. Dia menculikku bukan karena tahu aku mendapatkan bukti rekaman pengakuannya yang sudah meracuni Hero, tapi dia ingin mendapatkan uang dari Nicholas. Apa dia benar-benar bodoh?


"Apa kamu benar-benar membutuhkan uang? Untuk apa?" tanyaku.


"Diam saja!" bentaknya sambil mengikat tanganku dengan lakban.


"Telepon saja Nicholas sekarang, dia akan membayar kamu sekarang juga."


"Tidak semudah itu. Saya sudah memiliki rencana," jawabnya tersenyum miring sambil melakban mulutku. Sial sekali aku. Sebenarnya, dia akan membawaku kemana? Harusnya tadi aku lebih cepat berlari.


***


Kakaknya Hero ini menyeretku ke dalam rumahnya. Aku sudah berusaha memberontak, tapi dia benar-benar perempuan yang kasar. Untungnya, aku berhasil menjatuhkan ponselku di mobil perempuan ini agar Nicholas bisa melacaknya. Dan aku yakin, detektif swasta yang bersama Nicholas akan membantunya menemukanku di sini.


"Apa kamu gila?! Kenapa membawanya ke sini?" tanya seorang laki-laki tua yang kelihatan panik begitu anaknya menyeret ku yang masih diikat dan mulutku dibungkam.


"Tidak perlu ikut campur, Pa!" sahut perempuan ini menyeretku ke dalam salah satu ruangan.


"Rena! Kamu baru saja menculik seseorang! Kamu benar-benar gak waras!"


"Pa, si para bajingan itu gak mau memberikan kita uang lagi! Mereka membohongi kita. Sekarang, kita tahan saja wanita ini untuk memeras Nicholas!" 


"Tapi bagaimana jika polisi mencari?!" tukas ayah Hero terdengar panik.


"Tenang saja, Pa. Kita akan meminta bantuan para bajingan itu agar Nicholas tidak macam-macam," jawab perempuan bernama Rena itu.


"Kamu benar-benar bodoh, Rena! Para bajingan itu saja tidak mau memberikan kita uang lagi. Bagaimana bisa kamu berpikir kalau mereka mau membantu kita, hah!?" marah ayah Hero yang terdengar lebih masuk akal dari pada si bodoh Rena itu. Keluarga ini benar-benar kacau. Apa mereka memakai obat?


"Kalau para bajingan itu tetap tidak mau membantu, aku akan mengancam mereka memberitahukan rahasia mereka!"


"Kamu selalu bicara soal rahasia, apa kamu benar-benar tahu apa rahasia mereka, hah? Kalau kamu gak tahu, sama saja kita bunuh diri! Jangan main-main dengan mereka, Rena!"


Mereka berdua masih saling bertengkar bersahut-sahutan, sementara aku masih berusaha menajamkan pendengaranku. Mereka kan bodoh, aku yakin sebentar lagi mereka akan mengucapkan rahasia yang dimaksud itu.


"Aku tahu, Pa. Aku akan membongkar semuanya. Aku mendengar apa yang Hero bicarakan dengan Mia waktu itu. Aku juga mendengar apa yang Hero katakan di telepon, sebelum para bajingan itu menyuruh kita menghabisi Hero."


"Apa? Cepat katakan rahasianya!"


Aku menyeret tubuhku ke dekat pintu, berusaha mendengarkan apa lagi yang mereka bicarakan.


"Selama ini kita tahu Gian dan Pak Sadewa itu adalah Paman dan Kakek Nicholas, bukan? Mia bilang, kenyataannya bukan. Mereka bukan keluarga Nicholas. Bahkan, Sadewa dan Gian tak memiliki hubungan keluarga sama sekali. Mereka menipu Nicholas karena hartanya. Bayangkan jika rahasia ini kita bongkar kepada Nicholas?"


Aku terbelalak kaget mendengarnya. Sungguh? Sadewa dan Gian sebenarnya bukan keluarga Nicholas? Tapi ... Bagaimana bisa? Maksudku ... Bagaimana bisa mereka menipu Nicholas dan ayahnya selama ini? Astaga, apa yang terjadi sebenarnya?