NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
MUSUH DALAM SELIMUT



Apa yang membuat mereka sangat gencar menerorku dan Nicholas? Padahal, kami berdua sudah tidak lagi mengusik mereka. Hanya itu yang aku pikirkan selama ini. Ada sesuatu yang janggal, sungguh.


"Motif. Nicholas, apa kamu sadar, mereka gak punya motif yang jelas untuk meneror kita?" tanyaku setelah aku dan Nicholas mengumpulkan semua bukti teror mereka.


"Mereka gak perlu motif yang jelas untuk mengganggu seseorang yang mereka benci, Fio."


"Dan apa mereka bisa sebenci ini sama kamu hanya karena kamu gak memberikan mereka suntikan dana? " tanyaku lagi. Nicholas terdiam sejenak. Dia memikirkan sambil melihat kembali apa yang sudah kamiĀ  kumpulkan.


Alih-alih menjawabku, Nicholas malah mengambil spidol dan membuat sebuah bagan di papan tulis khusus miliknya di ruang kerjanya di rumah. Yang aku lihat, Nicholas mencoba meruntut dari tragedi terbongkarnya kasus perselingkuhan Mia dan Hero, lalu kematian Mia, disusul dengan Hero, penyerangan Ardi, hingga hadiah-hadiah misterius yang dikirimkan kepada kita.


"Aku baru menyadari, ada sesuatu yang berbeda, Fio," ujar Nicholas menyelesaikan garisnya.


Aku memerhatikan papan tulis itu dengan seksama dan mencoba untuk menerka apa yang dimaksud oleh Nicholas. Namun, aku belum menemukan apa yang berbeda?


"Sayang, cara mereka meneror kita, berbeda. Apa kamu sadar, kelompok aneh itu selalu menyerang kita dengan hal-hal brutal. Sementara hadiah-hadiah yang kita terima hanya berisi ancaman-ancaman kacangan. Foto, kata-kata dengan nada ancaman, hanya itu saja," jawab Nicholas dan aku mulai mengerti maksudnya. Memang berbeda. Kalau dipikir-pikir kelompok berisi psikopat itu tak mungkin hanya mengancam dengan hal-hal begini.


"Jadi, maksud kamu, ada orang lain selain Paman dan Kakek kamu yang meneror kita?" tanyaku untuk memastikan apa yang kusimpulkan di otakku.


"Ya, dan mereka memiliki tujuan yang berbeda."


Astaga, siapa lagi yang ingin menerorku dan Nicholas? Mengapa penyerangan ini menjadi bercabang-cabang?


"Okay, kita singkirkan dulu tentang hadiah. Anggap saja, mereka hanya amatiran yang ingin mengusik kita. Sebaiknya kita fokus dulu dengan kelompok aneh ini. Aku yakin nantinya, ini akan mengerucut pada satu hal," ujarku mencoba memprioritaskan pada salah satu kasus. Karena sejujurnya aku benar-benar bingung menanggapi ini semua.


"Gak bisa, sayang. Orang yang memberi hadiah ini tahu kalau kamu adalah istri aku. Dan, dia juga mencoba menelusuri rumah kita," sahut Nicholas dengan percaya diri. Aku menghela napas berat. Bagaimana bisa aku menelusuri semuanya?


"Oke, kita sederhanakan saja semuanya. Yang sudah kita yakini sekarang adalah Mia dan Hero meninggal secara tidak wajar, dan pelakunya adalah kelompok aneh itu. Kedua, ada orang lain selain kelompok aneh itu meneror kita. Sekarang, yang perlu kita cari tahu adalah ... Siapa yang mengirim kotak ini, apa motifnya, dan apakah dia memiliki hubungan dengan kelompok aneh itu."


Aku terdiam, lalu menggigit bibirku. Sejujurnya aku khawatir akan sesuatu hal ketika Nicholas menatapku dengan yakin.


"Aku gak yakin bisa bantu kamu menemukan siapa orangnya. Aku agak lambat kayanya," ucapku mengakui. Dan anehnya, Nicholas malah tertawa mendengarnya. Dia menatapku seolah tak percaya aku akan mengatakan hal semacam itu sekarang. Setidaknya, wajah tegang Nicholas sudah sedikit luntur.


"Tapi aku mau ikut cari tahu. Tenang aja, aku pasti berguna," ucapku berjanji pada diriku sendiri. Karena aku benar-benar ingin masalah ini selesai.


"Sini kamu," panggil Nicholas mengisyaratkan aku untuk mendekatinya.


"Yes, Sir ..." jawabku segera berjalan menghampirinya. Nicholas menyingkirkan poni di keningku.


"Aku cuma ngaku aja kok."


"Kalau gitu, aku harus hukum kamu. Boleh kan, aku jitak kamu sekarang?" tanya Nicholas membuatku hampir meledak tertawa.


"Tapi jangan keras-keras," jawabku mencoba negosiasi.


"Ini kan hukuman, sayang," sahut Nicholas mengangkat tangannya. Astaga, dijitak Nicholas? Mungkin saja baginya pelan, tapi bagaimana kalau yang aku rasakan malah sebaliknya? Namun, tiba-tiba dia meraih bahuku, lalu mencim keningku cukup lama.


"Terus begini ya, sayang. Aku mau kita masih bisa tertawa apa pun situasinya," bisik Nicholas mengelus rambutku sambil tersenyum manis.


"Iya dong, aku kan gak mau kamu keliatan cepet tua karena semua masalah ini," jawabku jujur. Dan lagi-lagi Nicholas tertawa mendengarnya. Kerja bagus Fiona.


"I can handle it. Sekarang, kita fokus selesaikan ini. Setelah semuanya selesai, aku mau ngajak kamu kencan di luar secara bebas dan aman," ucap Nicholas sambil menatapku dan jarinya mengelus rambutku dengan lembut. Aku bisa melihat jelas kekhawatiran dan kesedihan di wajah Nicholas saat ini. Memang hidupnya selama ini tak pernah tenang sepertinya.


"Oke, kita fokus untuk membahas ini. Jadi tadi sampai di mana? Pengirim hadiah ini?" Aku harus segera membantu Nicholas mencari buntut semua ini agar polisi bisa segera menangkap mereka. Sekarang, tidak ada Ardi. Pasti Nicholas tak memiliki orang yang bisa dipercayai lagi selain Ardi. Satu-satunya mungkin hanya aku sekarang.


"Ya, kita harus mengetahui siapa pengirimnya. Mungkin, besok kita bisa periksa CCTV kantor diam-diam. Dan, aku yakin akan ada kiriman hadiah lagi besok," jawab Nicholas.


"Kalau begitu, sekarang ... Gimana kalau kita coba telaah barang-barang yang dia kirim? Ini semua pasti punya maksud, kan?" ucapku menyarankan. Karena aku tak sabar mengeluarkan pendapatku mengenai kesimpulan isi semua hadiah yang selama ini dikirimkan kepada kami.


"Foto pernikahan saya dan Mia. Di sini, foto saya yang dicoret dan dirusak. Hampir semua isi kotaknya itu ..."


"Dan kata-kata yang menyudutkan atau menyalahkan kamu atas kematian Mia," imbuhku menekankan. Nicholas menganggukkan kepalanya setuju.


"Lalu ... Dia mengirim kamu hadiah baju tidur dan kata-kata yang juga menyudutkan kamu. Dan hari ini, dia mengirimkan kamera juga alat sadap," ucap Nicholas menuliskan di papan tulis lagi.


"Apa kamu sadar? Semua ini jelas-jelas dari sudut pandang Mia. Dia menyalahkan kamu atas retaknya hubungan pernikahan. Kalau kelompok aneh itu yang mengirim, dia gak mungkin membahas pernikahan kamu dan Mia. Lalu, kata-kata pelakor, itu juga pantasnya berasal dari sudut pandang Mia, kan? Dia seolah-olah menyalahkan aku sebagai orang ketiga dalam pernikahan kalian," ucapku menjelaskan.


Nicholas menganggukkan kepalanya lagi. Dia menulis lagi kemungkinan lain.


"Semua ini seolah-olah menuntut dan menyalahkan saya akan kematian Mia. Seolah-olah meminta sebuah keadilan," ucap Nicholas yang aku setujui juga. Jika ini semua ulah kelompok aneh itu, bukankah seharusnya mereka mengirimkan ancaman yang membuat Nicholas untuk tidak mengusut kematian Mia? Tapi kenapa ini malah sebaliknya?


"Nicho ... Artinya, mungkin saja orang yang mengirim semua teror hadiah ini adalah ... Kerabat Mia?" Aku menyimpulkan sambil menerka-nerka.


"Aku juga berpikir begitu. Hadiah yang dia kirimkan hari ini adalah kamera dan alat penyadap. Dia tahu kalau hari ini aku sedang tidak ada di kantor dan tahu kamu akan pulang sendirian dari kantor. Artinya ... Orang itu ada di sekitar kita," sahut Nicholas seketika membuatku terdiam. Dan entah mengapa, aku langsung terpikirkan dengan Rania. Apakah dia orangnya? Dia memang sering membuatku curiga, tapi ... Apa mungkin dia?