
Membalas perilaku istrinya. Begitu luas makna dari kalimat singkat Nicholas. Itu memang menjadi alasan utama Nicholas menyewaku. Tapi, yang membuatku bertanya-tanya, apa yang Nicholas rencanakan untuk membalas perilaku istrinya?
Dengan membuatnya cemburu? Sakit hati? Atau menghentikan aksi perselingkuhan itu? Tapi kenapa Nicholas terkesan tak mencengah atau menghancurkan segala aktivitas perselingkuhan itu?
"Ardi sudah menunggu di lobby apartmen. Dia akan mengantar kamu ke unit apartmen kamu," ucap Nicholas setelah menghentikan mobilnya di depan gedung apartmen mewah kota Jakarta. Sejujurnya aku sedikit takut tinggal di tempat seperti ini.
"Kenapa saya perlu pindah tempat tinggal juga?" tanya ku sebenarnya sebagai bentuk protes. Bagaimana aku bisa hidup di lingkungan elit seperti ini? Bukankah pengeluaran juga akan bertambah?
"Tadinya saya gak mau bicarakan ini. Tapi setelah kejadian kita di Bali, Mia akan cari tahu tentang kamu. Jadi anggaplah ini fasilitas nyata yang saya berikan kepada wanita simpanan saya..."
"Bu Mia akan mencari tahu tentang saya juga?" sergah ku tiba-tiba merasa kesal lagi. Bukankah akan bertambah orang yang mengetahui masalah pribadiku sekarang?
"Kamu tenang aja, Mia hanya akan mencari tahu soal profil kamu, tempat tinggal kamu, dan apa pekerjaan kamu sebelumnya. Dia gak akan mau ribet cari tahu soal keluarga kamu atau yang lainnya," jawab Nicholas dengan yakin.
"Kamu gak tahu aja, perempuan kalau udah curiga, detektif aja kalah sama mereka," gumam ku sambil melepaskan sabuk pengamanku. Aku tahu Nicholas mungkin tak mendengar gumamanku, dan itu bagus bagiku.
"Dan lagi, Fiona. Barang-barang kamu di kos itu sudah Ardi pindahkan semuanya. Jadi kamu gak perlu balik ke sana, atau cowok aneh itu akan narik paksa kamu pulang ke Surabaya," jelas Nicholas tiba-tiba membuatku menunda niatku keluar dari mobil.
Aku lupa ingin mengatakan sesuatu, tapi saat ingat, aku malah bingung bagaimana cara mengatakannya.
"Pak, soal cowok aneh itu..."
"Kenapa? Apa ada informasi lain yang saya gak tahu soal dia?"
Aku menghela napas panjang, kemudian menggelengkan kepalaku.
"Pak Nicholas tahu semua informasi tentang saya, keluarga saya, dan masalah apa yang sedang saya hadapi. Tapi Pak Nicholas gak tahu apa yang membuat masalah itu ada, jadi..."
Sebelum aku melanjutkan, aku menoleh ke arah Nicholas memastikan orang ini mau mendengarkan ku.
"Tolong jangan berspekulasi sendiri mengenai keluarga saya," lanjut ku kemudian berpamitan keluar dari mobil Nicholas membawa tas dan koper ku yang dibantu oleh salah satu petugas hotel.
Aku mungkin gila telah mengatakan hal tadi kepada Nicholas. Bosku sendiri. Entah dia akan perduli atau tidak, dia mengerti atau tidak. Sisi baiknya, aku bisa merasa sedikit lega akhirnya memiliki keberanian untuk mempertahankan harga diriku di hadapan orang yang tahu segalanya tentang keluarga ku itu.
Pak Ardi langsung menyambutku dengan ramah di lobby, lalu menuntunku masuk ke dalam lift.
Aku tahu, mulai saat ini, mungkin akan lebih dari satu orang yang tahu kalau Fiona Fariska, si sekretaris pribadi ini merupakan selingkuhan bosnya sendiri. Entah orang akan mempercayainya atau tidak. Karena bagiku, jujur saja aku bukan wanita cantik. Apalagi untuk menyaingi Mia Anderson. Si perempuan keturunan Jerman - Minang itu. Sangat tak mungkin.
Tapi memang itulah yang dicari Nicholas. Seperti katanya, beginilah cara Nicholas menghina Mia. Dengan menjadikan perempuan yang jauh dibawah Mia sebagai saingannya.
"Selamat sore, Miss Fariska," ucap Ardi berpamitan setelah menunjukkan unit apartmen ku.
Begitu menekan password, pintu ini berbunyi dan terbuka. Aku segera menarik koper ku ke dalam. Dan, voila... Jika benar ini adalah kamar seorang wanita simpanan, aku rasa tak heran banyak orang yang ingin menjadi simpanan. Ugh, ewh!
Astaga Fiona. Ingat ini semua hanyalah pura-pura! Jangan sampai kehilangan identitas diri. Kamu bukanlah perempuan simpanan sungguhan.
Lihatlah, kamar berukuran besar dengan kasur king size dan sperei abu-abu polos yang terlihat amat lembut ini. Sofa, TV LED, dapur, kamar mandi di dalam, balkon, design yang detail. Dan dipadukan dengan barang-barangku yang lusuh, rasanya aku hanya salah satu pemenang bedah rumah yang sedang diungsikan ke sini.
Baiklah, Fiona. Anggap saja ini fasilitas yang berhak didapatkan sebagai karyawan spesial Nicholas. Lagi pula ini hanya akan berlangsung tiga bulan.
Ponsel ku berdering, panggilan telepon dari Mama. Ah ya, sudah lama aku tak mengangkat telepon Mama. Sekarang, keadaan sudah tenang dan aku sudah menyiapkan diri.
"Fio! Kamu kenapa sih susah sekali dihubungi? Mama itu panik lho. Joshua gak menemukan kamu di kos-an. Kemana sih kamu? Mama khawatir kamu diculik sama deptcollector tahu?"
Astaga! Kenapa Mama sampai berpikiran aku diculik deptcollector? Apa karena hutang tunggakan itu? Bukannya masih akhir bulan tenggat bayarnya?
"Fio? Halo??"
"Iya, Ma. Jadi gini, Ma... Aku... Sebenernya dimutasi sama kantor," jawabku gugup. Entah kenapa, padahal aku sudah siap dengan segala alasan yang akan aku katakan.
"Dimutasi? Kemana? Kapan?"
"Hari ini. Eh, maksud aku sebenernya rencananya udah lama, tapi baru fix banget kemarin. Aku dipindah ke daerah lain -"
"Masih di Jakarta kan?"
"Iya, masih di Jakarta. Makanya mulai hari ini aku kerja di tempat baru," jawabku dengan cepat.
"Ya udah, kalau gitu kirimin Mama alamat kamu yang sekarang ya."
"Buat apa? Buat Joshua?" tanyaku panik bukan main.
"Iya dong, Fiona. Dia kan calon suami kamu. Kasian lho, dari kemarin dia khawatir," jawab Mama membuatku seketika merinding. Calon suami apanya! Dia sudah resmi menjadi suami orang.
"Ma, gini deh. Fiona kan udah bayar semua yang Joshua kasih ke kita ya, Ma. Dan kali ini, Fiona jamin hutang Mama juga akan lunas akhir bulan ini. Jadi please ya, Ma... Jangan jodohin Fiona sama dia," pinta ku berusaha membujuk Mama.
"Kamu jangan becanda deh, Fio."
"Fio gak bercanda, Ma. Please, percaya sama Fio. Aku gak mau nikah siri sama cowok itu, Ma. Mama tahu kan kalau kita nikah siri, yang banyak dirugikan kalau terjadi apa-apa kan aku. Bukan Joshua. Mama tega?" bujuk ku lagi. Kali ini berusaha mengeluarkan suara memelas.
"Tapi dari mana kamu dapet uang sebanyak itu dalam sebulan? Gimana?"
"Mama gak perlu pikirin itu. Fio... Akan lunasin hutang Mama pokoknya," jawabku dengan yakin.
"Fio, hal ini pasti bikin keluarga Martin gak suka. Kalau kamu gak bisa tepatin janji kamu, kita gak punya kesempatan lain. Kamu tahu gimana sikap mereka kalau marah?"
"Justru itu, Ma. Udah cukup sampai di sini aja. Jangan terlalu banyak terlibat sama keluarga mereka. Kita bisa diinjak-injak, Ma," jawabku pelan.
Aku duduk di sofa dan menyenderkan kepalaku yang pening di sofa super empuk ini.
"Ya udah, Mama terserah kamu. Sekarang, Mama masih cari ayah kamu."
"Apa? Ma-"
Belum selesai aku bicara, panggilan telepon sudah berakhir. Aku kaget dengan kalimat itu. Untuk apa Mama mencari ayah lagi? Percuma saja, ayahnya pasti tak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Sejak dulu, ayahnya selalu kabur dari masalah.
Baru saja aku akan menelepon Mama lagi, ponselku sudah berdering duluan. Kali ini panggilan telepon dari Nicholas. Ya ampun, ada apa dia menelepon ku langsung?
"Apa handphone baru kamu mati?"
"Hah? Oh, itu..." Aku baru ingat ponsel baru dari Nicholas. Dimana aku menaruhnya?!
"Enggak... Pak."
"Kalau gitu buka sekarang," jawab Nicholas lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
Aku membuka tas kecilku, mengobrak-abrik isinya. Tapi belum juga menemukan. Dimana ya? Tunggu, tadi saat aku membuka password apartmen. Aku pasti membuka ponsel itu. Dimana sekarang?
Samar-samar aku mendengar suara dering ponsel asing. Begitu mengikuti asal suara, aku menemukan ponsel baru ku di atas meja depan.
Astaga, ternyata suara dering itu adalah dering ponsel baruku. Aku buru-buru meraih ponsel tersebut dan menemukan banyak sekali pesan belum terbaca dari Nicholas.
Mati kau, Fiona.
"Udah sampai unit apartemen?"
"Sayang, gimana kamarnya? Is it okay?"
What?? Apa ini? Astaga, Ya Tuhan sungguh rasanya bulu kudukku berdiri semua. Ini lebih horor dari yang ku kira. Maksud ku, Nicholas benar-benar mengirim semua pesan ini?
Aku harus apa? Dia belum mem-briefieng ku soal ini. Tunggu, Fiona, ini ponsel khusus yang diberikan Nicholas. Sama halnya seperti apartmen ini. Jadi ponsel khusus ini pasti juga bertujuan untuk menjalankan rencana Nicholas.
Aku harus membalasnya seperti seorang selingkuhan? Bagaimana?
To: Nicholas
Ya, aku udah sampai. Kamarnya... Aku suka.
Tangan ku gemetar. Aku refleks melempar ponselku ke sofa. Ini terasa sangat aneh, tapi kenapa jantungku berdetak kencang sekali? Apa karena aku baru membalas pesan bos ku sendiri dengan kalimat informal? Atau aku sedang tak sabar menunggu balasan pesan dari Nicholas?
Ponsel ini berdering nada notifikasi lagi. Dan tentu saja ini dari Nicholas.
From: Nicholas
Good. Aku gak sabar pengen ketemu kamu. How about tonight? Aku ke apartmen kamu.
YA AMPUN NICHOLAS!
Tunggu, menjadi wanita simpanan pura-pura memang tak sulit. Sampai aku berada di posisi ini. Maksud ku, setiap bertemu sebagai atasan dan bawahan saja sudah membuatku terus salah tingkah. Apalagi kalau dia datang ke sini lagi nanti malam? Dan apa dia pikir aku akan tetap berpikir normal setelah tadi siang dia mencium pipi ku?
From: Nicholas
Kamu lagi ngapain sih, sayang? Kok lama balesnya?
Oke, Fiona fokus. Ini hanya pura-pura. Ayolah ini adalah bagian dari pekerjaan mu Fiona. Aku harus benar-benar profesional.
To: Nicholas
Sorry, sayang... Aku tadi dari kamar mandi. Ya udah, kalau kamu mau ke sini, silakan. Aku tunggu ya...
Sudahlah Fiona. Ini benar-benar menggelikan. Aku memang mengagumi Nicholas, tapi jika mendadak harus bersikap mesra begini, jelas saja rasanya aneh!
Apa dia akan benar-benar datang kemari? Ah entahlah, aku harus menetralkan pikiran ku dengan mencari camilan.
***
Butuh waktu sekitar setengah jam sampai aku menemukan supermarket di sekitar gedung apartmen ini. Mungkin butuh sekitar lima belas menit jika naik motor.
Pulang dari supermarket, aku menggunakan ojek pangkalan untuk sampai ke gedung apartemen karena banyak sekali bungkusan camilan yang ku beli.
Entah kenapa, saat sampai di apartmen, aku merasa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang.
Awalnya aku masih berpikiran positif dengan mengira kalau laki-laki di belakang ku adalah penghuni apartmen juga. Tapi begitu tahu dia menuju ke lantai yang sama dengan ku, jujur saja aku sedikit paranoid.
Setelah pintu terbuka, laki-laki itu ikut keluar dan berjalan di belakang ku. Aku mempercepat langkahku. Yang ada di dalam pikiranku sekarang, mungkin saja Mia mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisiku.
Aku memberanikan diri menoleh ke belakang, laki-laki itu tiba-tiba saja berbelok. Aku menghela napas panjang, kemudian berjalan masuk ke dalam apartmen ku.
Astaga! Aku dikagetkan dengan keberadaan Nicholas yang sedang duduk di sofa. Kapan dia masuk? Dan bagaimana dia bisa masuk ke dalam sementara aku berada di luar?
Aku baru sadar pandangan Nicholas langsung teralihkan pada tas belanjaan yang terjatuh karena aku sangat terkejut tadi.
"Pak Nicholas," sapa ku dengan berbagai macam pertanyaan dan keterkejutan yang jelas terlihat di wajah dan suara ku.
"Kamu sudah tahu kan kalau saya akan datang ke sini. Seharusnya kamu gak sekaget itu, Fiona," ucap Nicholas.
"Ya, tapi kalau tiba-tiba masuk dan duduk di dalam sini, gak mungkin saya gak kaget, Pak," sahutku pelan.
Aku melihat senyum tertahan di wajah Nicholas. Ia beranjak dari duduknya kemudian, aku baru sadar Fio juga ada di sini dan langsung mengikuti Nicholas yang berjalan menghampiri ku.
"Sekarang waktunya manjain dia."
"Manjain... Dia?" tanyaku tiba-tiba merasa ambigu dengan kalimat Nicholas.
"Fio," jawab Nicholas sambil menyodorkan sisir khusus milik Fio.
Aku menghela napas panjang sambil terkekeh pelan. Astaga, Fiona, tidak ada yang salah dengan kalimat Nicholas, hanya saja otak ku yang terlalu kotor.
"Oke," jawabku mengambil alih sisir tersebut. Kemudian menuntun Fio untuk mengikuti ku ke sofa.
"Apa kamu mau bikin semacam pesta di sini?" tanya Nicholas sambil memungut tas belanjaan ku yang berantakan di lantai.
"Oh, itu untuk saya sendiri, Pak," jawab ku hendak menghampiri Nicholas tapi dia mengangkat tangannya mengisyaratkan aku untuk tetap diam di sofa. Dan aku baru sadar Fio sudah menyenderkan diri di pangkuan ku dengan nyaman.
"Kamu belum pernah pacaran sebelumnya?" tanya Nicholas sambil menaruh tas belanja itu ke meja dapur.
"Apa? Udah, kok," jawabku tiba-tiba gugup lagi sampai suara ku terdengar seperti ragu.
Nicholas membawakan dua kaleng softdrink yang tadi ku beli lalu menaruhnya di atas meja.
"Saya akan menginap di sini malam ini," ucap Nicholas seketika membuatku berhenti menyisir bulu Fio.
"Ma-maksudnya, tidur di sini? Tapi... Bu Mia... Apa gak akan mencari..." Aku tak melanjutkan kalimat ku dan menggelengkan kepala. Memang itu kan tujuan Nicholas? Agar Mia mencarinya.
"Kalau gak ada kejadian tadi di Bali, Mia gak akan peduli saya ada di rumah atau enggak," jawab Nicholas kemudian menenggak softdrink-nya dengan santai.
Aku benar-benar prihatin dengan jawaban Nicholas barusan. Bagaimana bisa ada perempuan yang mengabaikan laki-laki seperti Nicholas? Apa ada yang tak beres dari orang ini? Aku jadi semakin penasaran juga dengan rumah tangga macam apa yang sedang dibina Nicholas dan Mia.