
Sore hari ku lalui dengan mengurus Fio. Sementara Nicholas sibuk dengan tabletnya. Saat Fio sudah kembali bermalas-malasan, aku memeriksa pesan dari Angeline yang mengirimkan jadwal baru Nicholas.
Aku sebagai asisten pribadi, tentu harus mengatur semuanya sesuai dengan jadwal dan memastikan semua keperluan Nicholas tersedia.
Besok, adalah jadwal Nicholas datang ke kantor. Jadi, seharusnya malam ini aku tidur dengan tenang. Tapi karena keberadaan si pemilik sebenarnya apartmen ini, sudah dipastikan aku tidak akan bisa tidur dengan tenang.
Bahkan, sampai malam tiba, yang aku khawatirkan terjadi. Dimana aku akan tidur? Dimana Nicholas akan tidur? Bagaimana aku akan bertanya?
Aku berjalan menghampiri Nicholas yang masih fokus pada laptopnya. Tadinya, aku ingin bertanya, tapi perhatian ku teralih ke arah ponsel Nicholas yang menyala panggilan masuk dari nama yang tertulis 'Mia'.
Orang ini mengabaikan telepon dari istrinya dengan sangat tenang.
"Kenapa?" tanya Nicholas.
"Saya..."
Nicholas mengangkat alisnya seolah bertanya apa yang ingin aku sampaikan atau tanyakan.
"Saya perlu tahu rencana Pak Nicholas. Supaya saya bisa menempatkan diri saya dengan baik," ucapku tiba-tiba berubah haluan. Entah kenapa aku malah jauh lebih tertarik dengan rencana Nicholas. Dan apa alasan di balik semua ini.
Tiba-tiba Nicholas menaruh perhatiannya padaku. Ia mendekat, dan aku bingung di tempatku duduk.
"Apa kamu lagi balas dendam sama saya?" bisik Nicholas menatapku intens. Aku mengerutkan kening bingung sekaligus kaget dengan situasi ini.
"Balas... Dendam?"
"Saya cari tahu semua informasi tentang kamu karena saya perlu tahu, Fiona. Tapi kamu kayanya penasaran juga dengan kehidupan pernikahan saya," jawab Nicholas menebak. Dan tebakkannya itu memang benar.
"Iya kan?"
"Iya. Saya penasaran dengan kehidupan pernikahan Pak Nicholas dengan Bu Mia. Saya merasa, Pak Nicholas bukan ingin membuat Bu Mia cemburu, tapi... Hanya ingin melihat Bu Mia kesal," ucapku terus terang.
Nicholas tersenyum. Astaga senyumnya benar-benar mampu membuatku beku saat ini juga.
"Terus? Apa lagi yang kamu pikirkan?"
"Saya rasa... Ini bukan tentang sebuah perasaan yang dikhianati," jawab ku ragu-ragu.
Nicholas menghela napas panjang, kemudian ia menutup laptopnya. Ia melirik arlojinya dan bangkit.
"Ayo keluar."
"Keluar? Malam-malam begini mau kemana?" tanya ku bingung.
"Makan. Saya tahu dari tadi kamu berusaha makan itu," jawab Nicholas sambil menunjuk ke arah mie instan di meja dapur yang memang sudah aku siapkan dari tadi untuk makan malam ini.
"Tapi kalau keluar -"
"Di dekat apartmen ini ada restoran. Cepet pakai jaket kamu," ucap Nicholas sambil berjalan duluan.
Aku buru-buru manyambar jaket ku. Kemudian hendak keluar. Namun tiba-tiba Nicholas menahan ku. Ia memakaikan sebuah topi di kepala ku
"Ini... Kenapa pakai ini?" tanya ku heran.
"Saya cuma mau pamerin kamu ke hadapan Mia. Bukan ke semua orang," jawab Nicholas berjalan duluan.
Ah ya, tentu. Untuk apa memamerkan wanita seperti ku? Aku menutup pintu apartmen dan mengikuti langkahnya di belakang sambil bernapas lega.
Aku pikir tadinya Nicholas benar-benar menganggapku wanita simpanannya diajak makan malam-malam seperti ini. Tapi dari nada bicaranya tadi, aku yakin Nicholas benar-benar hanya ingin menjadikan aku sesuatu yang bisa dipamerkan kepada Mia, sebagai selingkuhan.
Kenyataannya, Nicholas berjalan duluan di depan ku. Aku hanya mengekor di belakang. Sangat berbeda pada saat di bandara.
Tunggu, kalau ini di luar jam kerja ku sebagai wanita simpanannya, kenapa dia harus menginap di apartmen dengan ku? Dia bisa menyewa kamar hotel? Atau pergi ke tempat lain jika alasannya tak ingin pulang ke rumah.
Restoran yang dimaksud Nicholas ternyata benar-benar dekat. Hanya perlu berjalan kaki lima menit. Dan restoran ini adalah restoran Jepang. Jadi aku hanya bisa memesan ramen.
"Saya minta maaf kalau ucapan saya soal masalah keluarga kamu itu menyinggung kamu, Fiona," ucap Nicholas begitu semua makanan pesanannya datang.
Aku terperangah. Rasanya benar-benar takjub. Orang ini baru saja minta maaf. Sejujurnya, aku memang tersinggung dan marah. Tapi aku tak menyangka Nicholas akan menyadarinya dan mau meminta maaf juga.
"Saya cuma gak suka sama orang tua yang menjual anaknya demi kemauan mereka," jawab Nicholas tiba-tiba membuatku kembali sedih.
Aku tak suka kata 'menjual'. Tapi memang itulah kenyataannya. Mungkin Mama sudah menjualku kepada Joshua. Apapun alasannya, orang tidak akan perduli.
"Jadi, kalau bukan karena masalah di keluarga kamu itu, kamu tetap gak akan menerima penawaran saya?" tanya Nicholas.
"Ya. Tentu aja saya gak akan menerima tawaran ini. Siapa yang mau jadi perempuan simpanan?"
"Ada sekitar 57 perempuan yang prinsipnya bertentangan dengan kamu," jawab Nicholas membuatku menoleh tak mengerti padanya.
"Apa maksudnya?"
"Ada sekitar 57 perempuan yang terang-terangan ingin jadi wanita simpanan saya," jawab Nicholas.
Aku tak terperangah kaget karena fakta banyak perempuan yang ingin menjadi selingkuhan Nicholas. Tapi aku kaget dengan jumlah perempuannya. Benarkah segitu? Untuk apa juga Nicholas menghitungnya.
"Tadinya saya pikir kamu akan jadi perempuan ke 58 setelah saya terang-terangan menawarkan ke kamu," imbuh Nicholas dengan tenang.
"Saya bukan perempuan kaya begitu, Pak. Mama saya juga bukan tukang pinjam uang sembarangan. Semua hutang yang harus kita lunasi itu kelakuan selingkuhan ayah saya yang pakai data Mama untuk -"
Aku tak melanjutkan kalimat ku yang sudah kelewat batas. Astaga, apa yang baru saja aku katakan?
Hati ku kembali terasa sesak begitu mengingat ayah dan selingkuhannya yang menyebalkan itu. Dan entah kenapa aku harus sampai di pembicaraan ini.
Aku menundukkan kepala, diam-diam aku meraih tissue di dalam tas ku. Aku harap air mata ku tidak keluar untuk saat ini saja.
"Seharusnya, seorang ibu rela mati untuk anaknya. Bukan menyerahkan anaknya untuk menyelamatkan diri," bisik Nicholas sambil mengusap air mataku di pipi.
Sontak aku menoleh ke arah Nicholas, kaget atas sikapnya, kaget juga atas pernyataannya. Kami berdua saling bertatapan. Dan aku benar-benar tak bisa menerima pernyataan Nicholas barusan. Tapi aku tak bisa mengelak, kedua mataku seolah terkunci dengan kedua mata Nicholas yang baru bisa kulihat kekosongannya.
"Bukannya seorang anak sudah seharusnya membantu orang tua mereka sendiri?" ucap ku pelan.
"Oke, katakanlah bukan kewajiban seorang anak melakukan ini. Tapi setidaknya sebagai manusia, kita punya rasa dan empati kan terhadap orang yang sudah membesarkan kita?" sahut ku tak mau kalah.
Nicholas terdiam, tiba-tiba ia meminum air mineralnya sambil melemparkan pandangannya dari ku.
Aku tak tahu kenapa Nicholas sangat sensitif dengan hal ini. Padahal biasanya dia hanya akan menanggapi ucapan orang lain terutama aku dengan singkat. Apa dia memiliki hubungan yang buruk dengan keluarganya sendiri? Tunggu, benarkah begitu?
"Saya minta maaf," ucap ku merasa tak enak.
"Kalau kamu yakin dengan pendapat kamu, seharusnya kamu gak perlu meminta maaf, Fiona."
"Bukan. Saya minta maaf karena berdebat dengan Pak Nicholas," jawab ku menundukkan kepala merasa malu. Aku tak pernah bicara sedekat ini dengan atasan ku sehingga kejadian seperti ini benar-benar baru terjadi sekarang dalam hidupku.
Karena tak mendapatkan respon juga, akhirnya aku memberanikan diri menoleh pada Nicholas sambil pura-pura meminum air mineral ku.
Tapi saat itu juga aku tersedak minuman ku sendiri ketika menyadari Nicholas sedang memperhatikan ku lagi.
Sungguh, tatapan Nicholas saat ini benar-benar sulit ku artikan. Tapi yang pasti, tatapannya terlihat tajam, tapi manis. Aku bahkan tertarik untuk terus menatap matanya juga.
Aku tak mengerti hal pasti apa yang membuat Nicholas begitu menarik. Maksud ku, dia tampan, kaya, dan cerdas. Tapi saat ini, tatapan yang jarang sekali ku lihat ini, kembali muncul.
Refleks jantung ku berdegup kencang ketika Nicholas melepas tatapannya dari ku dengan senyum kecil di bibirnya. Apa ini yang orang bilang smirk? Inikah yang membuat 57 wanita itu terang-terangan mengajukan diri untuk menjadi wanita simpanan Nicholas?
Astaga, Fiona sadar Fiona. Bagaimanapun dia bos mu, dan laki-laki beristri.
Aku berdehem pelan, kemudian melanjutkan minum ku lagi. Sungguh aku berusaha untuk makan dengan tenang. Tapi entah kenapa sentuhan tangan Nicholas di pipi ku masih begitu terasa. Parahnya lagi, aku selalu ingin melirik ke arahnya.
"Sa... Saya sudah selesai makan, Pak. Saya izin duluan balik ke apartmen," ucapku buru-buru menaruh sendok ku.
"Apa kamu biarin saya makan sendiri sekarang?" tanya Nicholas menahan ku untuk berdiri.
"Bukan begitu, Pak. Maksud saya..."
"Duduk, Fiona," ucap Nicholas memerintahku dengan tatapannya. Dengan gugup, aku kembali duduk dan bingung harus apa. Aku sudah menghabiskan ramen ku dengan susah payah.
"Kamu suka ice cream?" tanya Nicholas.
"Suka. Saya..." Astaga, Fiona. Kenapa aku malah mengatakan dengan semangat begini? Nicholas pasti...
"Satu ice cream..." ucap Nicholas setelah berhasil memanggil seorang pelayan yang segera menghampiri kami. Sekarang Nicholas melemparkan pandangannya ke arah ku seolah bertanya ice cream apa yang aku mau.
"Cokelat," jawabku menahan kesal. Bodohnya Fiona. Kalau begini, makin lama pulang ke apartmen dan semakin lama saja aku bersama Nicholas di sini.
"Ada lagi, Pak?" tanya pelayan dengan sopan.
"Itu aja dulu," jawab Nicholas melanjutkan makannya yang anggun. Sangat berbeda dengan ku yang lebih terlihat seperti kuli bangunan mungkin.
"Pak, kita perlu pulang ke apartmen sekarang deh."
"Kenapa? Apa ada orang yang kamu kenal di sini?"
"Apa Pak Nicholas gak takut diisukan selingkuh?" Aku balik bertanya karena tiba-tiba baru terpikirkan hal ini.
"Saya malah berharap isu itu muncul," jawab Nicholas dengan tenang. Seketika aku kaget bukan main. Orang ini aneh, benar-benar tak masuk akal.
"Apa... Masih dalam rencana membalas perbuatan... Bu Mia?" tanya ku gelagapan.
"Bukan. Kamu tenang aja, Fiona. Gak akan ada yang berani sebarin isu perselingkuhan tentang saya," ucap Nicholas akhirnya menyelesaikan makannya, "dan gak mungkin ada yang percaya juga."
Setelah bicara itu, tepat seorang pelayan datang sambil mengantarkan satu cup ice crema cokelat.
"Sekalian minta bill nya, ya," ucap Nicholas.
Nah, bagaimana sekarang? Aku akan membayar pesanan ku. Tapi bagaimana aku mengatakannya pada Nicholas.
"Pak, bill nya dipisah aja -"
"Saya aja yang bayar. Kamu simpan uang kamu untuk hidup kamu sebulan ini tanpa makan mie instan," ucap Nicholas dengan sikap menyebalkannya.
Apa aku semiskin itu di matanya? Oh, ya. Kamu memang sedang sangat krisis finansial Fiona. Makanya mau menerima tawaran ini.
"Ayo," ajak Nicholas setelah membayar bill yang diberikan pelayan. Aku beranjak dan mengikutinya di belakang. Sekarang rasa ice cream yang harusnya enak ini, rasanya sulit ditelan tenggorokan ku.
Ketika di luar restoran tiba-tiba Nicholas menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku di belakangnya.
"Kenapa, Pak?" tanya ku bingung.
Nicholas menarik tudung jaket ku menutupi kepala ku yang masih memakai topi ini. Kemudian, ia merangkul bahu ku untuk berjalan di sampingnya.
"Mia ada di apartmen," bisik Nicholas selagi kami berdua berjalan.
"Tapi ini ga apa-apa muka saya gak kelihatan Bu Mia? Waktu di Bali -"
"Mia akan curiga kalau saya terus-terusan sengaja nunjukkin kamu. Di Bali, oke. Tapi setidaknya saya harus tetep jaga privasi kamu di kota ini," jawab Nicholas cepat-cepat.
Begitu sampai di depan pintu gedung apartmen, aku baru sadar, mungkin Nicholas tahu keberadaan Mia dari mobilnya.
"Kamu duluan aja ke apartmen," bisik Nicholas langsung melepaskan rangkulannya kemudian ia berjalan menghampiri Mia yang ada di meja resepsionis.
Nicholas sengaja memangil Mia rupanya, supaya Mia melihat ku yang berjalan menjauh dari Nicholas. Aku buru-buru menghampiri lift dan kebetulan lift langsung terbuka. Jadi aku segera masuk bersama beberapa orang yang juga sedang menunggu tadi.
Sebelum pintu lift tertutup, aku sempat melihat Mia memeluk Nicholas. Dan mereka mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi seperti biasa, tak terlihat akrab.
Anehnya, aku rasa aku terganggu dengan tangan Mia yang menggenggam tangan Nicholas dengan raut wajah manis.
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Dan kenapa sekarang aku tak suka melihat Nicholas tetap bersikap biasa saja di hadapan Mia?
Hingga pintu lift benar-benar tertutup, aku berharap Nicholas tak usah datang kembali ke unit apartmen ku.