
"Bantu saya untuk menyelesaikan ini semua."
Hanya dengan satu kalimat itu, pertahanan ku runtuh, dan aku kembali berakhir di private room Nicholas. Hal yang tak kubayangkan sebelumnya, tempat tidur mini ini ternyata belum Nicholas pindahkan dari ruangan rahasianya.
Aku rasa otak ku akan meledak jika terus memikirkan ini dengan akal logika. Cukup dengan melihat Nicholas bisa tidur nyenyak di hadapan ku, rasanya sudah membuat ku melupakan segalanya.
Awalnya aku pikir, akan ada percakapan panjang saat Nicholas membawaku ke private room ini. Tapi, tak ada percakapan panjang. Nicholas hanya mengatakan kalau selama ini ia tak pernah bisa tidur. Dan ia sangat ingin tidur.
Dan aku kira, itu hanya akal-akalan Nicholas saja untuk menghindari perkataannya di mobil tadi. Tapi ternyata, orang ini benar-benar tertidur pulas sambil memeluk ku. Bahkan, aku bisa merasakan dengkuran halusnya di rambut ku.
Sekarang, aku mungkin berada di titik, di mana aku tak perduli lagi dengan hal lain, aku tak perduli ini semua akan berakhir bagaimana. Aku tak akan ragu lagi. Aku hanya akan fokus pada Nicholas, aku akan melakukan apapun untuk menjadi tameng untuknya.
Tak apa jika pada akhirnya Nicholas hanya akan memanfaatkan aku lagi. Tapi aku tak akan bisa melihatnya jatuh sendirian. Ada dua hal yang menjadi alasan kuat ku. Karena Nicholas adalah orang yang membuatku jatuh sedalam ini dalam cinta. Dia juga satu-satunya orang yang menolong ku dan keluarga ku bahkan tanpa meminta balasan apapun.
***
Aku terbangun dengan suasana hati yang lega dari biasanya. Aku mungkin masih bermimpi ketika melihat Nicholas duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikan ku. Oh, ternyata yang membuat ku tidur nyenyak adalah tangan Nicholas yang mengelus rambut ku.
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Nicholas.
Baru saja aku akan menjawab, tiba-tiba aku baru mengingat sesuatu. Jam berapa sekarang? Aku buru-buru mencari ponsel ku. Gawat, aku pasti terlambat.
"Kenapa?"
"Jam berapa sekarang?" tanya ku langsung meraih tangan Nicholas untuk melihat jam tangannya. Pukul 09:30! Tentu saja aku sangat terlambat!
"Saya telat kerja. Tunggu, dimana sih handphone -"
Nicholas menunjukkan ponsel ku yang ada di tangannya. Tapi sebelum aku menyalakan ponsel, aku menatap Nicholas curiga. Untuk apa ponsel ku ada di tangannya?
"Nicho ..."
"Saya gak mungkin biarin kamu kerja sama laki-laki seperti dia lagi, Fio," ucap Nicholas kelihatan sangat serius. Kedua matanya lurus ke arah mataku, dia mencoba untuk menarik perhatianku untuk hanya mendengarnya saja. Namun, aku masih mencoba untuk mencerna kalimatnya. Apa maksudnya dia tidak membiarkanku bekerja dengan laki-laki seperti ... Siapa? Dika?
Astaga! Aku baru memikirkan sesuatu. Tentang kemungkinan yang dilakukan Nicholas saat ini.
"Apa? Maksud kamu?" tanyaku menatapnya curiga. Aku yakin, jika Nicholas sudah berkata seperti tadi, artinya dia sudah melakukan sesuatu.
"Saya kirim surat pengunduran diri kamu lewat email pagi tadi. Dan mereka setuju," jawab Nicholas dengan entengnya.
"What? Mereka langsung setuju? Gak mungkin. Ini semua sangat mendadak, dan ... Saya gak mau sombong, tapi mereka butuh saya." Aku memang karyawan baru, tapi aku bisa memastikan kalau aku tak pernah berbuat salah dalam bekerja. Mereka tidak mungkin langsung setuju dengan pengunduran diriku, kecuali ada 'hal lain' yang Nicholas lakukan.
Nicholas menggelengkan kepalanya.
"Seberapa pun mereka butuh kamu, saya gak akan biarin kamu ketemu sama laki-laki itu. Well, sebenarnya saya bisa aja lebih milih untuk bikin laki-laki itu dipecat dari perusahaan. Tapi saya yakin, kamu akan lebih marah sama saya kalau saya lakukan itu," jelas Nicholas mengambil kembali ponsel ku dan menaruh nya di atas meja.
"Tapi, gak begini. Nicho, saya bisa dapat reputasi buruk karena pengunduran diri mendadak begini. Saya bakal susah cari kerja -"
"Mau kan jadi asisten saya lagi?"
"Okay, sir. Saya akan jadi asisten Pak Nicholas."
Nicholas tersenyum lebar, "Saya kangen juga sama panggilan itu. Pak Nicholas."
Aku ikut tersenyum, sejenak melupakan permasalahan Nicholas.
"Tapi saya gak mau jadi wanita simpanan kamu. Kita bekerja secara profesional," jawab ku melepaskan genggaman tangan Nicholas yang tercengang sementara aku segera beranjak dari tempat tidur.
"Saya harus pulang ke kos-kosan. Tolong buat kontrak kerja yang baru ya, Pak," ucap ku sambil merapikan baju, rambut, dan berniat membasuh wajah ku di kamar mandi luar.
"Maksudnya gak jadi wanita simpanan? Fiona?"
"Partner rahasia. Saya akan bantu kamu untuk menyelesaikan tujuan kamu. Untuk lebih lanjut, saya akan kabari sore ini."
Nicholas menahan tangan ku hingga aku kembali berbalik menghadapnya.
"Ingat perjanjiannya kan? Kamu akan selalu ada di samping saya."
Aku tersenyum lalu mengangguk, "Saya ingat. I'll help you, Nicho. See you," bisik ku kemudian mencium pipinya.
"Kamu bilang kita cuma partner. Tapi kamu barusan -"
"Apa? Cium kamu? Saya dengar hal kaya begitu wajar ya dilakukan orang jaman sekarang. Bahkan meskipun mereka gak punya hubungan apa-apa," jawab ku menyindir Nicholas. Lalu aku berbalik dan meninggalkan ruangan itu. Aku tahu Nicholas akan kesal dengan ucapan ku barusan. Atau, mungkin dia akan berpikir macam-macam.
Nah, Nicholas. Biarkan kamu merasakan sedikit apa yang selalu aku pusingkan selama ini karena kamu.
Dan sedikit balasan karena dia seenaknya membuatku mengundurkan diri. Walaupun sebenarnya aku juga malas untuk bertemu Dika lagi.
Sekarang, aku harus pikirkan alternatif apa yang akan mengubah sedikit rencana dari Nicholas. Aku harus membuat pengajuan yang lebih menarik dan pastinya aman untuk balas dendam Nicholas.
***
Hampir seharian ini aku berpikir. Mencoba menelaah permasalahan Nicholas dari awal. Jadi, permasalahan terbesar Nicholas adalah keluarganya, dan Mia.
Semuanya berpusat pada mereka, karena Kalina. Dan sikap Mia yang tak pernah menghormati Nicholas. Oh, tidak-tidak, Mia dan Nicholas memang tak memiliki insting sebagai suami istri sejak awal pernikahan mereka.
Rencana awal Nicholas adalah, menghabisi mereka semua satu persatu dengan tangannya sendiri. Tak perduli apakah polisi akan mengejarnya atau tidak. Yang pasti satu hal, Nicholas memang tak memiliki keinginan lain untuk hidup selain balas dendam.
Satu hal yang aku bingung, lalu kenapa dia masih menjalankan bisnisnya?
Okay, kembali pada topik. Aku telah menuliskan beberapa opsi tentang balas dendam untuk masing-masing dari mereka tanpa perlu menghabisi nyawa. Untuk kasus Mia, aku sebenarnya tak yakin, Nicholas sudah pernah melakukan balas dendam pada Mia selama ini. Tapi sepertinya dia belum puas. Nicholas ingin melihat semuanya ... Mati.