
Aku mencuci tanganku dengan air mengalir, membiarkan air dingin menyentuh kulitku sambil memejamkan mata agar bisa sedikit tenang. Aku bicara terlalu banyak barusan. Sampai aku tak bisa berpikir dengan jernih untuk beberapa saat.
Pintu toilet terbuka, tentu saja yang masuk ke toilet ini hanya Nicholas. Aku juga tak mengunci karena terlalu marah sampai lupa, lagi pula tujuanku masuk ke sini bukan untuk buang air kecil.
Aku tak tahu apa yang akan Nicholas lakukan, aku tetap mengabaikannya. Aku menarik tangan ku dari air sehingga aliran air di wastafel otomatis berhenti. Lalu, tiba-tiba aku merasakan Nicholas memelukku pinggangku dari belakang. Tubuhnya begitu erat memelukku, wajahnya menyender di bahuku.
"Aku minta maaf," bisiknya pelan.
Aku masih belum menyahut, karena aku pun tak tahu harus menjawab apa. Aku masih menerka, dan berusaha berpikir untuk memahami Nicholas lagi.
"Aku benar-benar bicara asal, dan itu bodoh. Hanya karena aku panik. Aku ingin kamu berhenti membicarakan Mia."
"Kita tidak bisa berhenti membicarakan Mia sampai wartawan benar-benar bungkam, Nicho," ucapku pelan.
Aku merasakan hembusan napas Nicholas. Dia mencium bahuku, lalu kembali menyender.
"Aku tahu, kamu mengkhawatirkan aku, Fio. Begitu juga aku. Aku sudah mengatakan kalau mereka benar-benar orang aneh, mereka berbahaya, dan aku gak mau mereka mengusik kita. Terutama kamu," bisik Nicholas.
"Mungkin, cepat atau lambat mereka juga akan tahu kalau kamu adalah istri aku sekarang. Dan lagi, alasan mereka ke sini bukan hanya untuk membicarakan soal Mia," imbuh Nicholas membuatku terdiam membeku untuk sejenak. Perlahan, aku melepaskan tangan Nicholas dari pinggangku, agar aku bisa berbalik menghadapnya. Nicholas pun membetulkan posisinya berdiri tegap sambil menatapku yang tengah mendongak menatapnya.
"Apa lagi yang mereka katakan?" tanyaku dengan nada suara melemah. Aku benar-benar khawatir dan takut mereka mengatakan sesuatu yang bisa membuat Nicholas memilih untuk mundur begini.
"Mereka meminta perusahaanku untuk menjadi investor mereka. Lebih tepatnya, mereka meminta aku menyuntikkan dana untuk mereka," jawab Nicholas.
"Terus, apa kmau memberikan?" tanyaku pelan.
"Jelas aku menolak. Aku benar-benar gak ingin ada hubungan apapun atau urusan apa pun dengan mereka. Makanya, aku meminta kamu untuk gak membahas lagi tentang Mia. Aku benar-benar ... Muak berurusan dengan kelakuan mereka," bisik Nicholas masih menunduk menatapku.
Dan sekarang aku menjadi sangat serba salah. Apa yang harus kulakukan jika Nicholas sudah begini?
Aku menghembuskan napas panjang, kemudian meraih tangan Nicholas untuk menggenggamnya.
"Apa kita gak bisa melakukannya diam-diam, seperti waktu itu? Hanya untuk membuktikan bahwa ada kejanggalan dalam kematian Mia. Selebihnya, biarkan polisi yang melakukan tugasnya," ucapku masih berusaha membujuk. Nicholas hendak menyanggah, tapi aku menahannya dengan menaruh telapak tanganku di pipinya. Aku mengelus pipi Nicholas pelan-pelan, berusaha untuk menenangkannya.
"Kalau kita gak membuat polisi menahan mereka, aku yakin mereka akan semakin brutal, sayang. Mia, Hero, bahkan kamu juga mencurigai Edward hilang karena mereka. Ini akan terus berlanjut Nicho," bisikku lagi.
Nicholas menaruh kedua tangannya di pinggangku lagi. Dia kelihatan bingung dan ragu. Namun, Nicholas belum memberikan jawaban apa-apa.
"Bisa kita bicarakan ini lain waktu? Aku benar-benar lelah," bisik Nicholas.
Aku tersenyum, lalu menganggukkan kepala.
"Maafin aku juga, karena tadi bicara asal sama kamu ... Dan itu juga bodoh," bisikku tersenyum. Nicholas akhirnya ikut tersenyum, kemudian dia memelukku lebih erat sambil mencium bibirku dengan lembut. Nicholas benar-benar sangat kelelahan. Aku jadi merasa bersalah dengannya.
"Nicho ..." Aku menahan tawaku memperingati Nicholas yang mulai ******* bibirku. Namun, peringatanku tak digubris oleh Nicholas. Dia tetap menunduk dan melumatku bibirku lebih agresif hingga tubuhku terdorong memepet dinding wastafel.
Nicholas malah tersenyum begitu aku membalas ciumannya. Kemudian, dia meenggendongku duduk di atas meja wastafel toilet tanpa melepaskan ciumannya.
Aku memejamkan mataku sambil mencengkeram dasi Nicholas. Lalu, perlahan dia melepaskan ciumannya dan menatapku dengan napas terengah-engah. Sambil menatapku, tangannya mengelus rambutku, menyelipkan ke belakang telinga dan mengusap pipiku.
"Kita berjalan pelan-pelan, okay? Aku gak mau lengah dan membuat mereka punya kesempatan untuk menyakiti kamu, Fio. Karena itu alasan aku menghentikan rencana aku membunuh mereka semua, dulu," bisik Nicholas seolah bergumam pada dirinya sendiri.
"Aku harus selalu ada di samping kamu, dan menjaga kamu," imbuh Nicholas.
"Iya, aku tahu Nicho. Makanya aku mau menikah sama kamu," jawabku sambil tersenyum.
Aku menggelengkan kepala, kemudian menatapnya lekat-lekat.
"Karena aku mau kamu selalu di samping aku," jawabku pelan. Dan aku bisa melihat kedua mata Nicholas mulai berbinar cerah menatapku. Aku tahu sudut-sudut bibirnya mulai bergerak membentuk senyum. Lalu, dia kembali menunduk dan mencium bibirku. ******* bibirku dengan sangat lembut hingga aku kembali memejamkam mataku dan reflek membalas ciumannya yang tak pernah gagal membuatku mabuk sampai melupakan segala-galanya.
Aku dan Nicholas tahu betul ini adalah toilet. Dan kita berdua masih berada di kantor. Tapi, Nicholas benar-benar membuatku kehilangan akal hingga membiarkan dia mencumbuku lagi di sini. Aku ingin tertawa. Sejak menikah dengan Nicholas, aku baru tahu hal memabukkan seperti sentuhan begini.
Dengan gerakan teratur Nicholas melepaskan kancing kemejaku, sementara bibirnya sudah mencium leherku dengan lembut. Ciuman-ciuman kecil yang membuat aliran darahku semakin cepat.
Tak peduli ponselku bergetar panjang, seperti sedang ada panggilan telepon, Nicholas tetap melanjutkan aksinya. Bahkan, ketika aku bergerak reflek menaruh perhatianku pada ponselku, dia kembali meraih wajahku untuk menaruh perhatianku lagi padanya. Dia mencium bibirku lagi, dan Nicholas pasti sudah tahu aku tak pernah bisa menolaknya.
Untuk pertama kalinya, aku mengabaikan telepon di ponselku, pada saat jam kerja, karena Nicholas yang sekarang sudah berhasil menarik kemejaku keluar dari rok yang kupakai. Sementara aku memeluk leher Nicholas, masih dimabukkan dengan ciumannya yang tak bisa membuatku berhenti membalasnya.
***
"Pak Nicholas, hari ini ada jadwal untuk rapat gabungan. Saya sudah menyiapkan materi rapat satu jam lagi dan menaruhnya di meja Pak Nicholas," lapor Rania dengan terburu-buru begitu aku mempersilakannya masuk menemui Nicholas.
Karena pekerjaanku sedikit 'diganggu' oleh bosku sendiri, alhasil aku harus bekerja lebih cepat membantu Rania dalam mengerjakan tugasnya.
Setelah melaporkan hal itu, Rania diizinkan untuk keluar dan memastikan semua devisi di dalam perusahaan ini sudah berkumpul di aula rapat setengah jam lagi.
Aku melihat Nicholas hanya membaca sekilas kertas laporan itu. Dia terlihat berulang kali mencoba menghubungi seseorang, tapi tak kunjung diangkat juga sampai wajahnya kelihatan benar-benar kesal.
"Siapa yang kamu coba hubungi?" tanyaku penasaran.
Nicholas belum menjawab. Dia masih sibuk menghubungi orang itu dengan kesal. Alhasil, aku pun segera menghampirinya, bermaksud untuk membantunya.
"Ardi. Dia sangat sulit dihubungi sejak tadi siang," jawab Nicholas.
"Mungkin dia sedang mengerjakan sesuatu. Jika tidak ada urusan yang mendesak, nanti kamu hubungi dia lagi saja," ucapku berusaha menenangkan Nicholas. Dia kelihatan menghela napas panjang dan entah karena mendengar saranku, atau memang dia sudah menyerah menghubungi Ardi, akhirnya dia berhenti.
"Gak biasanya dia mengabaikan panggilan teleponku."
"Nicho, mungkin juga dia sedang di kamar mandi," jawabku memberi opsi lain.
"Meskipun ke kamar mandi, sayang," sahut Nicholas menegaskan padaku lagi kalau Ardi akan selalu ada untuknya. Aku hanya tertawa geli dengan gagasanku sendiri.
Belum usai pembicaraan kami, tiba-tiba Rania kembali mengetuk pintu ruangan Nicholas. Mau tak mau, Nicholas pun menyuruhnya untuk segera masuk dan menyingkirkan rasa kesalnya karena tak bisa menghubungi Ardi.
Rania berjalan dari pintu menghampiri meja Nicholas, sementara aku masih berdiri di sisi meja.
"Maaf, Pak. Ada seseorang yang mengirim paket untuk Pak Nicholas." Rania menaruh sebuah kotak terbungkus bubble wrap di atas meja Nicholas. Namun, Nicholas sepertinya kebingungan membolak-balik paket tersebut.
"Tidak ada alamat pengirimnya. Siapa yang mengantar?" tanya Nicholas.
"Dia kurir dari salah satu jasa pengantaran, Pak. Salah satu staf mengantarkan paket itu dari lobby ke saya, dan ... Saya hanya diminta untuk meneruskan kepada Pak Nicholas."
Akhirnya, Nicholas menganganggukkan kepala. Rania pun berbalik dan berjalan keluar ruangan sambil menutup pintu. Jika aku tak salah melihat, sebelum pintu benar-benar tertutup, Rania kembali menatap Nicholas dan paket tersebut dengan tatapan yang ... Serius? Apa aku salah melihat?
Nicholas membuka laci mejanya. Dia memakai sarung tangan karet dan meraih pisau cutter untuk membuka paket tersebut. Sepertinya, karena paket ini tak memiliki alamat pengirim, Nicholas khawatir berisi sesuatu yang berbahaya.
Aku mendekatinya, ingin melihat juga apa yang ada di dalamnya. Dan, begitu paket berhasil dibuka, ternyata di dalamnya berisi kertas-kertas cetak dari potongan berita yang mengatakan bahwa Mia meninggal karena perceraiannya dengan Nicholas. Banyak orang yang menduga bahwa bukti-bukti yang tersebar di internet adalah siasat Nicholas yang marah dengan Mia. Sebagian dari mereka ternyata mengecam dugaan tindakan Nicholas ini karena telah mempermalukan Mia hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Selain potongan-potongan berita, di sini juga ada beberapa foto cetak pernikahan Nicholas dan Mia. Salah satu fotonya telah dirusak dibagian wajah Nicholas, hingga aku terdiam membeku. Apa maksud ini semua? Kenapa bagian wajah Nicholas yang dirusak?