NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
SELAMAT TINGGAL NICHOLAS



Begitu mobil sampai di rumah Nicholas, aku segera berjalan cepat menuju kamar ku. Aku mengabaikan para asisten rumah tangga yang berpapasan dengan ku.


Memang, kehidupan tak pernah ada yang sempurna. Begitu juga Nicholas, tapi aku pikir Nicholas masih memiliki harapan. Aku pikir, Nicholas mau merubah pikirannya, setidaknya demi aku. Namun, ternyata aku salah. Aku terlalu berekspektasi tinggi dengannya. Dan jauh di dalam lubuk hati, aku benar-benar merasa ingin memeluk Nicholas dan menahannya untuk melakukan rencananya.


Semuanya tak akan berhasil, sekuat apapun aku berusaha menggenggam Nicholas, dia tetap berusaha melepaskannya. Aku menyesal karena telah gagal. Sangat menyesakkan dadaku.


Setelah mengemas barang-barang ku yang tak seberapa, aku berjalan hendak keluar. Namun, perhatian ku beralih pada buku catatan yang ada di atas meja. Aku mengeluarkan sebuah pulpen, lalu berbalik menghampiri meja tersebut. Jika ucapanku tak didengar oleh Nicholas, mungkin dia bisa membaca suratku dan memahaminya. Aku menghela napas panjang sambil memejamkan mataku, mencoba menguatkan diriku, lalu mulai menulis sesuatu di kertas.


Nicholas,


Saya tahu, kamu orang yang keras kepala. Saya paham, gak mudah bagi kamu membatalkan semua rencana yang sejak lama kamu rancang. Kamu mungkin juga sudah berpikir kalau saya gak mungkin bisa merasakan posisi kamu. Saya gak merasakan sakit yang kamu terima selama ini.


I know, how bad your feel, Nicholas. Saya mencoba memposisikan diri jadi kamu, dan menurut kamu, saya gagal kan? Karena meminta kamu untuk berhenti. Tapi kamu tahu seberapa saya benci ayah saya? Saya simpan dendam itu sejak usia saya 8 tahun. Dan selama itu juga yang terjadi hanya rasa berat di hati. Mereka yang bersalah, malah tertawa-tawa bahagia. Tapi kenapa harus saya yang menderita karena dendam itu?


Tapi setelah saya jatuh cinta sama kamu, saya merasa setengah dari masalah di hati saya hilang, karena perasaan saya ke kamu. Dan sejak kamu membalas perasaan saya, hampir seluruh beban di hati saya hilang. Tapi kamu selalu membuat saya khawatir, Nicho. Pertama karena status kamu yang masih menjadi suami Mia. Kedua, karena ternyata kamu punya rencana yang mengerikan. Dan ketiga, hal yang membuat hati saya langsung hancur, karena kamu lebih memilih untuk menjalankan rencana itu.


Saya punya beberapa pertimbangan yang gak sempat saya katakan ke kamu. Kamu itu orang yang dicintai banyak orang, Nicholas. Kamu pikir kenapa Kalina gak pernah kasih tahu kamu soal pelecehannya? Karena dia kenal kamu, Nicho. Dia gak mau kamu menghancurkan hidup kamu dengan menjadi seorang pembunuh, artinya kamu gak ada bedanya dengan mereka. Dan sekarang, kamu mau menghancurkan harapan Kalina. Mereka pantas di hukum, Nicho. Aku mendukung itu seratus persen. Tapi bukan dengan begini caranya. Dan pertimbangan terakhir, kamu harus tahu, saya janji akan memberikan hidup saya untuk kamu. Selesaikan semua masalah kamu dengan elegan, Nicho. Itu yang saya percayai tentang Nicholas Arrasya sejak awal pertemuan.


Tapi kalau kamu menolak, saya gak akan pernah kembali. Meskipun saya tahu hati saya akan selalu untuk kamu.


Fiona.


Aku merobek kertas tersebut lalu melipatnya dengan hati-hati. Setelah itu aku bergegas mengambil tas ku. Selama melewati lorong-lorong rumah Nicholas yang besar, aku berusaha menahan tangisku. Membayangkan Nicholas akan sendirian lagi di rumah sebesar ini dengan keterpurukannya. Sialnya, aku masih mencintai dia. Meskipun belum lama berada di rumah ini, aku cukup menikmati waktuku dengan Nicholas.


Langkahku berhenti ketika sampai di depan rumah. Aku masih tak percaya dengan keputusanku kali ini untuk benar-benar meninggalkan Nicholas.


Aku menarik napas dalam-dalam, berdoa agar ini adalah keputusan yang tepat. Lalu, aku kembali berjalan menghampiri Ardi yang sudah menunggu di depan.


Ardi memasukkan koper ku ke dalan bagasi sementara aku mengedarkan pandangan ku ke sekitar. Memang belum lama aku bersama Nicholas, tapi setiap waktu bersamanya adalah hal yang penuh kesan.


Tanpa sadar, mobil Nicholas sudah sampai di depan. Secepat kilat, Nicholas keluar dari mobilnya yang baru berhenti. Langkahnya cepat menghampiriku yang sudah membuka pintu mobil untuk kabur darinya.


Aku sedikit terkejut saat Nicholas langsung meraih tangan ku dan menggenggamnya kuat. Rasanya seperti ada aliran listrik yang membuatku terdiam dan hanya fokus menatap matanya. Rahangnya mengeras menahan marah, wajahnya memerah, sementara pandangannya sayu. Aku benar-benar tak mengerti dengan Nicholas. Dia ingin aku tetap di sini, tapi dia marah karena aku selalu mencoba menghentikannya.


"Kamu tahu kan, saya bisa menemukan kamu dimana pun kamu pergi? Fiona, yang kamu lakukan ini sia-sia," ucapnya terdengar seperti sedang memprovokasi ku.


Akhirnya aku menoleh ke arah Nicholas dengan tanganku yang masih digenggam erat olehnya. Apakah Nicholas tak menyadari kalau aku sedang berusaha tegar menghadapinya?


"Lalu, apa yang bisa kamu lakukan kalau kamu tahu dimana saya berada? Kamu akan melakukan apa? Menghampiri saya dan meninggalkan rencana kamu? Atau kamu akan kabur dari polisi?" tanyaku pada Nicholas yang terdiam dengan pandangan tak lepas sedikit pun dariku. Dia mengatupkan bibirnya, aku tahu dia berusaha membantahku, tapi dia kehilangan kata-kata.


"Atau kamu hanya akan memerhatikan saya dari jauh, karena kamu seorang buronan polisi?" tanyaku dengan nada suara yang melemah. Bahkan, aku sendiri tak sanggup membayangkan itu. Tak sanggup membayangkan kehancuran Nicholas sampai menjadi seorang buronan.


"Apa pun itu, saya tetap gak akan bisa biarin mereka Fiona. Kamu tahu betul kan -"


Kali ini Nicholas yang tak sempat melanjutkan kalimatnya karena aku menarik tangan ku darinya dengan susah payah. Bahkan, Nicholas tak mencoba untuk meraih tanganku lagi, begitu aku meneteskan air mataku yang turun begitu saja meski sudah ku tahan sejak tadi.


"Fiona, please ..." Nicholas masih berusaha menyeka air mataku di pipi. Dia menatapku dengan pandangan putus asa, sementara aku menatapnya lekat-lekat. Aku hampir luluh dengan raut wajahnya saat ini.


"Kamu hanya perlu memilih dua hal Nicho. Dan saat kamu sudah memilih, artinya kamu perlu membuang yang lainnya," ucapku pelan. Aku masih menatapnya, yang kini masih menatapku, "dalam hal ini, kamu telah memilih rencana kamu. Artinya aku harus pergi," imbuhku dengan suara bergetar, lalu masuk ke mobil tanpa menunggu tanggapannya lagi.


Ketika mobil Ardi perlahan meninggalkan halaman rumah Nicholas, aku masih melihatnya berdiri di sana. Dan aku masih berharap, besok, lusa, atau kapapun, Nicholas menyusulku untuk mengatakan kalau dia telah membatalkan rencananya.