
"Tahu gak? Dibanding dia, lebih baik kamu Nicho. Dia itu cowok yang cuma numpang hidup, gak punya harga diri. Dia pikir, dia bisa kontrol aku? Sekarang lihat kan? Dia bukan apa-apa."
"Ba**ng**!! Sialan si Mia. Dasar cewek gak tahu di untung!"
"Hidup kamu sudah diujung tanduk, Hero. Karir kamu redup di dunia hiburan karena Mia. Nicholas gak mungkin lawan kamu, kalau kamu gak bermain dengan istrinya," ucap Ardi membujuk.
Aku dan Nicholas hanya mengawasi di kantornya dari layar kamera tersembunyi yang dibawa Ardi.
"Saya berikan penawaran kamu untuk membalas Mia. Saya bisa bantu kamu untuk memutarbalikkan fakta. Kamu rela, hanya kamu aja yang dihujat dan dipermalukan?"
"Sama aja saya harus nyebut si Nicholas. Dia pasti nyewa pembunuh bayaran buat saya!" tukas Hero.
"Nicholas tak akan ikut campur lagi urusan Mia. Sekarang, urusan kamu hanya dengan Mia. Kamu juga gak punya koneksi lain. Kita buat semua ini natural. Bagaimana? Kamu hanya perlu memberikan bukti-bukti ketika Mia mendekati kamu. Dan satu lagi, Mia sudah memiliki bukti kalian, jadi jangan sampai dia membuka mulut duluan."
Aku dan Nicholas menunggu jawaban dari Hero. Dan ternyata, Hero menyetujui hal itu. Ia menerima kerja sama yang ditawarkan oleh Ardi untuk menunjukkan semua bukti yang Mia lakukan padanya selama ini.
Sontak, kami berdua saling bertukar pandangan dan melakukan High-five sambil tersenyum puas. Aku tak menyangka Hero sangat mudah dihasut. Namun, sepertinya Nicholas sudah mengetahui kalau memang Hero adalah orang yang mudah marah dan tak berpikir kritis.
Dengan gerakan cepat, saat itu juga Ardi membantu Hero menyebarkan bukti-bukti ketika Mia mendekati Hero ke media sosial. Mereka menyebarkan lewat akun-akun palsu. Karena tim media resmi pasti tak akan berani mengangkat berita mengenai Mia ataupun Nicholas. Namun, tentu saja karena berita ini memiliki bukti-bukti yang kuat, banyak orang yang langsung membahas beritanya di akun-akun gosip.
Berita itu dengan cepat menyebar dan mendapat berbagai macam komentar dari orang-orang. Terutama pendapat negatif dari fans Hero garis keras. Mereka tak terima idola mereka dimanfaatkan oleh Mia dan mengecam keras tindakan istri dari pemilik perusahaan Ark's Film ini.
Sementara itu, di monitor lain, kami berdua melihat bagaimana kacaunya klub perkumpulan aneh yang diikuti oleh kakek dan paman Nicholas itu sedang saling menyalahkan. Terutama Rio yang sepertinya sedang diintrogasi.
"I swear to God. Bukan gue yang laporin!"
"Gak usah bawa-bawa Tuhan lo, an**g! Di sini mana ada yang percaya sama yang begituan!"
Ya ampun, mereka semakin brutal. Aku tak percaya orang-orang seperti ini memang ada dan nyata. Bukan hanya kata-kata mereka yang kasar, tetapi sikap dan tindakan mereka benar-benar tidak normal.
"Kita udah cari tahu ke polisi. Emang yang lapor itu suara perempuan. Nomornya udah dilacak, tapi langsung gak aktif."
"Tuh kan cewek! Gue yakin cewek yang pakai gaun merah semalem itu. Dia kan keluar duluan dari acara."
"Cewek? Cewek mana?"
"Dia ... Orang kaya banget. Penampilannya cantik, elegan."
"Cek CCTV sekarang!"
Aku dan Nicholas masih mengawasi. Nicholas sudah memastikan kualitas CCTV di sana tak terlalu jelas. Hanya bisa memperlihatkan betuk tubuh dan warna saja. Dan tentu saja yang berusaha kami tonjolkan ada 2 hal. Yaitu figur perempuan dan gaun yang dikenakan dalam rekaman CCTV.
"Iya, cewek bos."
"Itu gaun punya si Edward kan?"
"Iya, itu gaun yang ada di pameran. Limited edition, sebagai hadiah untuk ... Mia."
"Pengkhianat si Mia! Ada masalah apa sih tuh orang!?"
"Gue denger-denger sih, hubungannya lagi renggang sama suaminya karena orang ketiga. Kayanya bales dendam."
Tiba-tiba aku mendengar suara di sana yang mulai tak jelas. Lalu, Nicholas mematikan rekaman tersebut dengan raut wajah yang sedikit tegang.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Sisanya biar saya aja yang dengar," jawab Nicholas dengan lugas. Dia segera membereskan alat rekam itu tanpa mengatakan hal lain. Seolah ada sesuatu yang masih dia sembunyikan.
"Kenapa sih Nicho? Saya penasaran."
Nicholas menghela napas panjang, lalu tetap menggelengkan kepalanya.
Aku penasaran, jadi aku bergerak untuk merebut earphone-nya. Tapi Nicholas malah menaruh earphone itu ke samping, lalu mengalihkan perhatian ku dengan mencium bibir ku sambil tersenyum.
Aku buru-buru menepuk-nepuk lengannya berusaha melepaskan Nicholas. Di ruangan ini masih ada Ardi! Astaga Nicholas!
Sampai akhirnya, aku berhasil mendorong Nicholas. Sambil berdehem dan menjauh dari Nicholas, aku melirik sedikit ke arah Ardi yang kelihatan sedang bicara di telepon. Entah benar-benar sedang menelepon, atau buru-buru menyibukkan diri karena melihat apa yang baru saja Nicholas lakukan. Aku benar-benar malu. Sementara Nicholas malah tertawa pelan sambil memakai kembali earphone-nya.
Ah sudahlah, aku menyerah. Mungkin memang ada alasan kenapa Nicholas melarang ku mendengar lagi, karena ekspresi Nicholas langsung menegang ketika mendengarkan earphone itu lagi.
"Maaf, Pak Nicholas," panggil Ardi berjalan menghampiri kami dengan raut wajah yang kelihatan kaget sekaligus gelisah. Sepertinya dia memiliki kabar buruk.
"Ya?" tanya Nicholas melepaskan earphone-nya.
"Banyak fans Hero yang mengepung gedung. Mereka menuntut Bu Mia dan Pak Nicholas memulihkan nama baik Hero dan mengembalikan Hero dalam dunia hiburan," lapor Ardi namun ketika ia kelihatan hendak mengabarkan lagi, tiba-tiba ponsel Nicholas berdering.
Selama Nicholas mengangkat teleponnya aku mendekati Ardi dan bertanya tentang apa yang terjadi.
"Apa beritanya sudah tersebar?" tanya ku.
"Betul, Mbak. Bukti-bukti perselingkuhan yang dimulai Bu Mia. Bahkan, Hero menyebarkan bukti lain juga," jawab Ardi memelankan suaranya. Sementara aku mengeriyitkan dahiku bingung sekaligus penasaran dengan bukti apa yang dimaksud.
"Bukti lain?" Akhirnya aku bertanya.
"Bukti kalau Bu Mia sering menggoda calon-calon aktor baru," jawab Ardi dalam satu helaan napas. Aku sendiri sampai menganga tak percaya. Jadi, Hero memang bukan selingkuhan Mia yang pertama. Bahkan, dia memang sengaja mendekati aktor-aktor lainnya. Jangan-jangan, Mia menjual nama Nicholas untuk mendekati mereka? Ini benar-benar gila.
"Kok bisa dia begitu?" tanya ku yang tentunya tak akan dijawab oleh Ardi. Lagipula, bagaimana Ardi tahu apa alasan Mia melakukan itu? Apa gara-gara Nicholas?
"Ardi, kita harus ke rumah sakit sekarang," ucap Nicholas sambil memakai jasnya.
"Baik, Pak."
Sementara Ardi berjalan duluan untuk menyiapkan mobil, aku menoleh penasaran pada Nicholas.
"Ada apa?" tanyaku ikut panik dengan situasi ini.
"Barusan ada telepon dari rumah sakit. Mia kecelakaan mobil akibat mabuk."
Astaga, apa lagi ini? Mia pasti mabuk karena semua beritanya sudah menyebar. Tiba-tiba aku merasa gelisah sekaligus merasa bersalah. Bagaimana ini Tuhan, aku ikut andil secara tidak langsung dalam kecelakaan yang Mia alami.