
Begitu kami semua berkumpul di kantor polisi, Damian sudah berada di sini lebih dulu. Dia masih sibuk mengurus beberapa dokumen untuk si pelaku.
Sementara Nicholas ikut ke dalam, aku menunggu di depan. Melihat beberapa petugas polisi berlalu lalang.
Selama sekitar satu jam, aku menunggu dengan gelisah, sampai akhirnya Nicholas dan Damian menghampiriku.
"Gimana?" tanyaku tak sabar.
"Pelakunya seorang pemuda. Dia pecandu obat-obatan terlarang. Polisi menduga, dia menyerang Papa karena dibawah pengaruh obat-obatan," jawab Damian menundukkan kepalanya.
"Pak Nicholas, terima kasih sudah mengusut kasus ini. Oh ya, dokter mengatakan, keadaan Papa sudah stabil. Saya sudah mempersiapkan untuk pemindahan perawatan Papa ke Singapura, agar saya bisa menjaganya dengan baik," ucap Damian kepada Nicholas.
Nicholas menganggukkan kepalanya.
"Saya akan mengantarkan kalian ke bandara nanti."
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya duluan ke rumah sakit," pamit Damian tersenyum kepada Nicholas dan aku. Lalu, dia berjalan duluan keluar.
Aku menghela napas lega, lalu aku menoleh kepada Nicholas yang masih diam sambil memperhatikan Damian yang sudah berada di luar kantor polisi, berjalan ke arah parkiran.
"Hey, kenapa? Kita pulang sekarang?" tanyaku menyadarkan Nicholas yang sepertinya melamun.
"Ya, kita pulang," jawab Nicholas sambil berjalan keluar menggandeng tanganku.
Mengapa ya, aku merasa Nicholas terlihat belum puas dengan hasil penyidikan?
Sekitar 30 menit kemudian, akhirnya kami sampai di rumah. Nicholas masih kelihatan tak fokus. Bahkan, dia sampai berbalik seperti baru menyadari kalau aku masih di belakangnya.
"Kenapa nyariin aku?" tanyaku dengan nada meledek.
Nicholas menghela napas panjang, menunggu aku menghampirinya. Wajahnya benar-benar kelihatan lesu. Mungkin, dia masih terkejut karena ternyata yang melakukan tindakan brutal ini hanyalah pemuda yang dipengaruhi obat-obatan terlarang.
"Kamu langsung ke kamar aja, aku bikinin kamu teh dulu," ucapku mengelus lengannya. Nicholas menganggukkan kepala, lalu menaiki tangga menuju kamar. Sementara aku berjalan menuju dapur.
Sejujurnya, aku berusaha membaca isi pikiran Nicholas sejak tadi. Namun, dia masih sulit kutebak. Mungkin Nicholas merasa ragu dengan pelakunya, mungkin juga dia masih merasa sangat bersalah pada Ardi. Atau, semuanya berkecamuk di dalam pikirannya.
Ponselku berdering tanda panggilan masuk. Lantas, aku segera mengangkat panggilan telepon dari Rania itu. Khawatir ada keadaan genting di perusahaan yang membutuhkan Nicholas, meskipun aku berharap tidak ada yang mengganggu Nicholas hari ini.
"Ya, Nia?"
"Bu, ada staf lobby yang nganterin paket untuk Pak Nicholas lagi. Bungkusannya masih sama dengan yang kemarin. Apa perlu saya antar ke sana?" tanya Nia.
Ya ampun, kenapa ada paket misterius lagi!? Ku rasa ini bukan waktu yang tepat Nicholas melihat isi paket ancaman begitu. Lagi pula, tidak boleh ada yang mengetahui alamat rumah ini. Siapa pun.
"Bu Fio? Boleh saya minta alamat rumah Pak Nicholas?"
"Pak Nicholas gak suka alamat rumahnya diberitahu siapapun, Nia. Dia tidak suka privasinya diganggu. Begini saja, kamu simpan paket itu dulu, besok, berikan kepada Pak Nicholas saat ke kantor, oke?" jawabku menjelaskan.
"Oh ... Baiklah, Bu. Kalau begitu, saya akan simpan," sahut Nia dengan sigap. Syukurlah dia bisa diajak kerja sama.
Setelah itu, panggilan telepon berakhir. Aku menghela napas panjang, kemudian mengantongi kembali ponselku.
Aku membawa dua cangkir teh hangat ini di atas nampan menaiki tangga menuju kamar.
Nicholas masih memakai kausnya, dia kelihatan berusaha keras untuk tenang dan membuka laptopnya di meja kerjanya.
"Nih, minum dulu. Biar kamu tenang," ucapku menyodorkan teh padanya.
"Makasih ya, sayang," jawab Nicholas meraih cangkir itu, lalu pelan-pelan menyeruputnya.
"Apa kamu yakin bisa fokus kerja? Kamu gak ingin istirahat dulu?" tanyaku memberikan saran.
Nicholas menghela napas panjang. Dia kelihatan pening sepertinya.
"Kalau berita-berita itu gak mempengaruhi perusahaan, aku pasti bisa mengambil cuti dan kita kabur keluar negeri, Fio. Sayangnya, keadaan ini benar-benar kacau," jawab Nicholas menggelengkan kepalanya pelan. Aku jadi semakin iba melihatnya. Seandainya saja aku bisa membantu masalah perusahaan Nicholas.
Aku melangkah mendekati Nicholas dan berdiri di belakangnya. Kedua tanganku ditaruh di kedua bahu Nicholas lalu memijatnya pelan-pelan.
Dari layar laptop, aku melihat pantulan wajah Nicholas yang mulai tersenyum.
"Absolutely. Aku gak nyangka tangan kecil kamu punya tenaga yang kuat," ledek Nicholas sambil tertawa.
"Makanya jangan suka ngeremehin," sahut ku sambil menepuk bahu Nicholas.
"Aku pusing banget mikirin semua ini. Sepertinya masalah datang terus menerus di waktu yang bersamaan," keluh Nicholas menghela napas berat.
Mendengar itu, aku memindahkan kedua tanganku ke pelipis kanan dan kiri Nicholas, memijatnya juga pelan-pelan.
"Lebih baik?" tanyaku.
"Sangat. Apa kamu pernah mempelajari hal-hal seperti ini?" tanya Nicholas sepertinya benar-benar menikmati pijatanku di kepalanya. Aku hampir tertawa. Mana pernah Nicholas dipijit begini sebelumnya.
"Enggak, bahkan aku gak pernah memijat orang."
"Oh ya? Lalu kenapa kamu memijat aku sekarang?" tanya Nicholas lagi.
"Aku berusaha untuk membantu kamu, gak ada yang bisa aku lakukan untuk kamu selain ini. Kalau kamu suka, aku seneng banget," jawabku tersenyum kecil.
"Kamu sangat membantu aku, sayang. Everytime," sahut Nicholas membuatku tertawa pelan.
"Udah sambil kerjain sana," ujarku pada Nicholas. Namun, tak lama kemudian, Nicholas meraih tanganku, dan menggengamnya.
"Udah, nanti kamu kecapean. Aku udah jauh lebih baik sekarang," ujar Nicholas tersenyum lebar. Dia mencium punggung tanganku beberapa kali.
"Sayang," panggil Nicholas.
"Hmm?"
"Kalau kamu mau membantu aku, sebaiknya kamu duduk di hadapan aku sekarang," ujar Nicholas mengarahkan aku untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya. Lalu, aku menurutinya duduk di kursi.
Aku diam, dan menatap Nicholas bingung. Dia hanya diam saja melanjutkan pekerjaannya tanpa mengatakan apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Nicho, aku ngapain sekarang? Ada yang bisa aku bantu?" tanyaku.
Nicholas menoleh ke arahku, dia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kamu hanya perlu ada di hadapan aku, Fio. Stay there, okay?" ucap Nicholas seketika membuatku semakin mengeriyitkan kening heran menatapnya. Apa maksudnya aku hanya duduk di sini tanpa melakukan apa-apa?
"Nicho, setidaknya kasih aku pekerjaan di sini," pintaku agak memaksa.
Nicholas terlihat menimbang-nimbang. Dia melihat layar laptopnya, kemudian mengetik sesuatu.
"Aku udah kirim ke email kamu beberapa file. Tolong kamu cek isinya, jangan sampai ada tulisan yang typo atau berantakan, oke?" ujar Nicholas.
"Siap, Pak!" Aku bergegas mengambil laptopku dan kembali ke meja Nicholas. Meski hanya menjadi editor dadakan, setidaknya aku tidak hanya diam di sini tanpa melakukan apa-apa.
"Oh ya, kapan Ardi akan berangkat ke Singapura?" tanya ku.
"Sore ini. Kita akan mengantarnya juga."
Baru saja aku hendak bertanya lagi, ponsel Nicholas berdering tanda panggilan masuk. Nicholas segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Ya, Damian. Ada apa?"
Nicholas bicara dengan Damian, kemudian panggilan telepon itu berakhir. Nicholas kelihatan bingung. Dia menoleh ke arahku dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Ardi sudah siuman," ucap Nicholas memberitahuku.
"Bagus, dong. Gimana kondisinya?"
"Fio, Damian meminta saya untuk segera menemui Ardi. Katanya ada yang ingin dia laporkan mengenai tugas dia kemarin," jawab Nicholas.
"Ya udah, kita ke sana aja. Mungkin Ardi merasa gak tenang sebelum menyelesaikan tugasnya."
"Fio, Ardi gak pernah memberikan informasi yang gak valid. Aku khawatir, apa yang kita pikirkan selama ini ... Salah."
Sebelum aku mengerti apa yang diucapkan Nicholas, dia sudah beranjak dan menarikku untuk pergi ke rumah sakit. Astaga, hari ini benar-benar tak ada habisnya.