
Mama terlihat bicara dengan Nicholas. Ya ampun, aku tak tahu apa yang dibicarakan mereka. Aku mencoba mendekat dan memohon pada Mama agar tak bicara yang tidak-tidak. Tapi Mama malah berjalan menjauh.
Aku hanya bisa memperhatikan dari ekspresi wajahnya saja. Wajah galak Mama berubah menjadi serius, kemudian raut wajahnya kelihatan agak sedih. Apa yang dibicarakan Nicholas? Semoga Nicholas tak benar-benar mengatakan kalau aku hamil hanya agar bisa dinikahkan dengan ku. Jika itu terjadi, aku bersumpah akan marah pada Nicholas! Tapi, bagaimana caranya meyakinkan Mama kalau Nicholas tak sejahat yang dia pikirkan?
Mama terlalu cepat mengetahui hubunganku dengan Nicholas, bahkan dia sudah menyimpulkan sendiri segalanya hingga aku tak tahu apakah penjelasan ku tadi akan berguna. Berdebat dengan orang tua, jauh lebih sulit dibanding dengan rekan kerja. Namun, aku masih berharap Mama bisa memberikan ku sedikit pengertian.
Akhirnya Mama mengakhiri sambungan teleponnya dengan Mike. Dia berbalik sambil memberikan ponsel Amalia lagi ke tangan ku.
"Apa katanya Ma?" tanyaku tak sabar.
"Dia minta Mama jangan menjodohkan kamu dulu dengan orang lain," jawab Mama langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
Ayolah. Masa sejak tadi hanya mengobrol perkara itu? Tapi percuma, Mama tetap tak mengatakan apa yang dikatakan Nicholas. Tapi sepertinya, Nicholas tak membahas soal hamil. Setidaknya Mama sudah tidak kelihatan marah lagi.
***
Hari ini tanggal 23 Maret 2022, akhirnya aku bisa datang ke upacara pernikahan Dinar yang diselenggarakan di salah satu gedung.
Upacaranya berlangsung dengan hikmat dan aku sangat senang melihat upacara pernikahan setelah sekian lamanya.
Bahkan, Dinar langsung kembali sibuk mengobrol heboh dengan ku. Bertanya banyak hal termasuk ingin aku untuk mengenalkan laki-laki yang menjadi pacar ku. Aku belum bisa mengatakannya sekarang. Karena jujur saja, Nicholas masih belum mengabari ku. Bahkan setelah satu bulan lebih kasus Mia selesai.
Amalia juga sudah pergi, dia sudah tak ditugaskan untuk menjaga ku lagi. Aku mulai semakin ragu. Hubungan ku dan Nicholas mulai renggang. Aku tak tahu akan berakhir seperti apa. Tapi yang aku khawatirkan hanya satu, aku khawatir Nicholas kenapa-kenapa.
Saat acara lempar bunga, aku malas mengikuti. Untuk apa juga menangkap bunga semacam itu dan berebut dengan banyak orang. Meskipun Mama memaksa ku untuk ikut. Sudahlah, jika memang waktunya aku menikah, pasti aku menikah. Kalau tidak, tangkapan bunga itu juga tak akan berpengaruh apa-apa.
"Siap ya ... Satu ... Dua ..."
Aku hanya tersenyum kikuk melihat betapa antusiasnya perempuan-perempuan itu bersiap menangkap bunganya.
"Tiga!"
Aku terkejut bukan main mendengar teriakan perempuan-perempuan itu yang heboh. Dan yang membuat ku terkejut lagi adalah, sosok tinggi yang tak perlu effort lebih untuk menangkap bunga itu. Nicholas.
Sungguh! Rasanya aku ingin pingsan ketika Nicholas menghampiri ku dan menyodorkan buket bunga itu ke hadapan ku sementara semua mata menatap ke arah kami.
"Marry me? Please ..." ucap Nicholas pelan.
Oh, My God! Apa ini halusinasi? Karena aku terlalu memikirkan Nicholas?
"Terima Fio!" jerit Dinar membuat ku sadar kalau ini bukan halusinasi. Bagaimana mungkin Dinar bisa mendengar kalimat Nicholas? Nicholas mengatakannya pelan.
Aku segera mengambil buket bunga itu dari tangan Nicholas, kemudian buru-buru menghampiri Dinar. Aku memberikan buket bunga itu lagi pada Dinar dan memintanya untuk mengulang acara pelemparan lagi.
"Sorry ya, Din. Sorry ..." bisik ku pelan.
Dinar kelihatan bingung. Tapi aku segera menghampiri Nicholas yang juga kelihatan bingung. Aku segera menarik Nicholas dari keramaian keluar gedung.
"Wait, kenapa?" tanya Nicholas menahan tangan ku.
"Nicholas, kamu kok bisa kaya tadi?"
"Saya buat surprise untuk kamu," jawab Nicholas dengan santai.
"Ini ide sahabat kamu sendiri. Katanya kamu pasti gak akan tertarik ngambil bunga. Makanya saya diminta ngambil bunga itu untuk kamu. Katanya itu akan romantis. Nggak ya?"
Aku ingin marah. Tapi mendengar jawaban Nicholas, kemarahan ku malah berubah jadi tawa geli yang tak tertahan kan lagi.
"Gak perlu. Kamu dateng aja saya seneng banget, tahu?" tanya ku sambil berjinjit memeluk Nicholas.
Nicholas membalas pelukan ku dengan sangat erat.
"I miss you," bisik ku pelan.
Nicholas melepaskan pelukannya, kemudian dia meraih wajah ku. Aku terkejut ketika Nicholas bukan hanya mencium bibir ku. Dia ******* bibir ku dan mengulumnya dengan lembut sementara tangan kanannya mengelus pipi ku, tangan kirinya memeluk pinggang ku.
Nicholas kebiasaan! Aku berusaha mendorong Nicholas, tapi malah tubuh ku yang pelan-pelan terdorong ke sisi dinding.
"Nicho!" peringat ku ketika akhirnya bisa melepaskan diri dari Nicholas.
"Kenapa? Ini sepi kan? Gak masalah?"
"Tetep aja, gak etis kalau di luar gini."
"Ya udah di mobil," jawab Nicholas membuat ku kembali gagal memarahinya. Kenapa sih orang ini malah sukses membuat ku tertawa ketika tidak sedang bercanda?
"Saya kangen banget sama kamu, Fiona," bisik Nicholas kembali memeluk ku menyenderkan pipinya di kepala ku dan mengelus rambut ku.
"Suruh siapa susah dihubungin?"
"Sengaja. Saya makin gak fokus, maunya buru-buru nyusul kamu ke sini. Tapi saya harus tahan itu dulu."
"Kenapa? Urusannya belum selesai?" tanya ku pelan.
"Bisa gak kita gak ngobrol di sini?" tanya Nicholas.
"Kenapa? Di sini kan sepi? Tadi kamu cium saya juga di sini?" sindir ku. Tapi Nicholas tak menyahut. Ia hanya tersenyum kemudian menggandeng tangan ku untuk masuk ke dalam mobilnya.
Dua puluh menit kemudian, aku dan Nicholas sampai di sebuah restoran. Nicholas langsung memesan VIP. Meskipun aku tak tahu kenapa dia tak ingin di ruang terbuka.
"Jadi, sebelum ke sini, saya udah ketemu Mama kamu. Saya jelasin niat saya untuk menikah sama kamu."
"Oh ya? Terus gimana? Diizinin?"
"Kamu ragu tentang kehebatan saya?"
"Gimana caranya? Mama saya gak mempan ya sama uang kamu."
Nicholas mengatup kan bibirnya kemudian ia tersenyum sambil menyalakan iPad nya.
"Jadi, nanti saya mau adakan pernikahan sama kamu di sini. Saya mau acaranya bener-bener tertutup dulu. Dan saya -"
"Tunggu. Sebelum kita bahas ini, kamu belum kasih tahu saya soal kelanjutan kasus Mia. Kamu sendiri tahu kan soal rekaman itu? Apa iya dia mengakhiri hidupnya sendiri?"
Nicholas terdiam. Ia menghela napas panjang, dan raut wajahnya berubah seketika menjadi tegang. Aku tahu, ada sesuatu hal yang memang tak benar dengan hal ini. Aku ingin tahu kelanjutan Mia dan keluarga Nicholas sebelum aku benar-benar memutuskan menikah dengannya.