NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
PENGGEMAR RAHASIA?



Hari ini, Nicholas tak ada jadwal ke kantor. Sementara aku, masih harus datang ke kantor untuk mengurus beberapa dokumen Nicholas sebagai asisten pribadinya, agar kami tidak dicurigai. Itu pun, aku diawasi oleh beberapa orang suruhan Nicholas. Jadi, mereka akan mengikuti mobilku dari belakang.


“Jadi, hari ini Pak Nicholas gak ke kantor ya, Bu?” tanya Rania begitu aku sampai di kantor. Dia kelihatan bersemangat seperti biasanya.


“Iya. Sebenarnya, Pak Nicholas biasanya 3 kali dalam seminggu. Tapi, belakangan ini dia sibuk karena ya … kondisi perusahaan yang menurun,” jawabku sambil memeriksa kembali jadwal Nicholas melalui catatan Rania.


“Bu, maaf. Sebenarnya, hari ini ada kiriman lagi untuk Pak Nicholas,” ucap Rania seketika membuatku terdiam dan berhenti dari aktifitasku. Aku reflek menoleh ke arah Rania yang sudah mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dengan pita biru tua.


“Kenapa ya, hadiah-hadiah begini gak ada alamat si pengirimnya. Apa jangan-jangan dari penggemar rahasia Pak Nicholas, ya?” tanya Rania sementara aku masih menerka-nerka apa yang ada di dalam kotak ini.


“Apa Pak Nicholas sudah memiliki kekasih, Bu?”


“Nia, saya minta maaf. Tapi, itu sudah termasuk ruang privasi bos kita. Jadi, saya gak berhak tahu mengenai itu,” jawabku dengan lugas agar Rania mengerti batasannya. Jika dia penasaran denganku, dan menebak-nebak apapun sesuka hatinya, aku tak masalah. Tapi, jika menyangkut Nicholas, jujur saja dia kan bos kami berdua.


“Maaf, Bu. Saya cuma kadang-kadang penasaran. Soalnya, ada kabar juga yang bilang, kalau Pak Nicholas itu sudah menemukan pengganti mendiang istrinya,” sahut Rania kembali membuatku terkejut. Astaga, apa lagi ini? Dari mana juga Rania sampai mendengar gosip semacam itu? Apa ada salah satu kolega Nicholas yang membocorkan pernikahanku dan Nicholas.


“Dari mana kamu dengar hal-hal begitu?” tanyaku penasaran.


“Yah, banyak sih yang bikin konspirasi. Soalnya … gimana pun kan, kasus kematiannya Bu Mia dan Hero itu misterius banget. Jadi, banyak yang membahas dengan teori-teori mereka itu. Salah satunya ya, kemungkinan Pak Nicholas sudah memiliki wanita lain makanya dia berani menceraikan Bu Mia dan mempublikasikan kasus Bu Mia.”


Aku mengerutkan keningku heran, apa benar orang-orang menuduh Nicholas yang memublikasikan kasus Mia? Padahal kan, kami sudah memublikasikan segala bukti perselingkuhan Mia dan Hero menggunakan akun palsu.


“Maaf ya, Bu. Saya terlalu banyak bicara,” ucap Rania menyadarkanku dari lamunan.


“Sebaiknya kamu berhenti mengikuti gosip-gosip seperti itu, Nia. Saya juga gak bisa menjelaskan apa pun tentang semua teori-teori itu. Yang saya tahu, bukan Pak Nicholas yang menyebarkan bukti-bukti perselingkuhan Bu Mia dan Hero,” jawabku berusaha meluruskan berita tentang Nicholas itu.


“Maaf, Bu. Tapi, dari mana Bu Fiona tahu dan yakin? Secara logika saja, sudah jelas sepertinya begitu. Apa lagi … kalau Pak Nicholas memiliki wanita lain. Dia pasti melakukan hal itu untuk bisa secepatnya menceraikan Bu Mia dan bersatu dengan wanita itu. Iya, kan? Gak ada alasan bagi Pak Nicholas untuk gak melakukan hal ini kan?”


Astaga, sepertinya Rania memang sedang memancingku. Aku heran mengapa rasa penasarannya sangat tinggi. Tenang, Fiona. Aku tidak boleh terpancing dan harus tetap terlihat tenang. Aku dan Nicholas tak memiliki hubungan spesial, sehingga aku tak perlu emosional.


“Nia, selama ini saya membantu Pak Nicholas untuk melakukan pekerjaan di kantor. Dia orang yang sangat sibuk dan sangat enggan menanggapi gosip apapun. Dia tak mungkin memiliki waktu untuk mengurusi hal semacam itu,” jawabku menjelaskan. Ku rasa, Rania belum puas dengan jawabanku. Dia hendak bicara lagi, sayangnya ponselku berdering tanda panggilan masuk dari Nicholas.


“Sebentar ya, Pak Nicholas menelepon,” ucapku pada Rania. Aku berjalan sedikit menjauh darinya untuk mengangkat panggilan tersebut.


“Sayang, kenapa lama di sana?”


“Maaf Pak, saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan yang Pak Nicholas minta. Barusan, saya mencatat semua jadwal Pak Nicholas di kantor …” Aku terpaksa menggunakan kalimat formal karena menurut pengalamanku, Rania biasanya sering menghampiriku tiba-tiba tanpa suara. Dan aku tak ingin dia mendengarku bicara santai dengan Nicholas.


“Baik, Pak.” Aku mengakhiri sambungan telepon dengan bibir yang tersenyum kecil. Ya ampun, Fiona. Kendalikan diri, jangan sampai Rania melihatku tersenyum berseri-seri setelah mendapatkan panggilan dari bosku.


“Kenapa, Bu? Apa Pak Nicholas tahu kita sedang membicarakannya?” tanya Rania yang tentu saja membuatku tertawa mendengarnya.


“Enggak kok. Mana mungkin dia mendengar. Kalau begitu, kotak ini saya bawa aja untuk saya serahkan ke Pak Nicholas. Saya pergi dulu ya, Nia,” pamitku kepada Rania yang disahuti senyuman darinya. Lantas, aku segera membawa kotak ini keluar.


Sambil memasuki mobil, aku mencoba menghubungi Nicholas lagi untuk mengabarkan kalau aku akan pulang sekarang, sekaligus memberitahunya mengenai kotak misterius ini lagi.


Apa perlu aku buang saja? Tapi, setelah ini aku dan Nicholas sepakat untuk membicarakan tentang semua serangan dan teror yang dilakukan kelompok aneh itu pada kami. Jadi, siapa tahu ini berisi sebuah petunjuk.


“Sayang, aku baru masuk mobil. Sebentar lagi pulang,” ucapku begitu Nicholas mengangkat panggilan teleponku.


“Oke, bagus. Aku akan minta Derry dan Adam untuk bersiap-siap mengawal kamu,” jawab Nicholas. Sebetulnya, aku rasa tak perlu menghubungi mereka. Karena dua orang itu pasti otomatis akan pergi mengawalku begitu melihat mobilku keluar dari parkiran kantor.


“Oh ya, Nicholas. Tadi, Rania memberikan kotak lagi untuk kamu. Sepertinya pengirim yang sama seperti yang kemarin-kemarin.”


“Wait, Fiona. Sebaiknya kamu buka kotak itu sebelum pergi. Pastikan di dalamnya gak ada alat penyadap,” ucap Nicholas seketika mengurungkan niatku yang hendak memakai sabuk pengaman. Pandanganku langsung tertuju pada kotak hadiah itu. Apakah bisa isinya alat penyadap?


“Sayang?”


“Iya, aku buka sekarang. Tunggu sebentar,” jawabku bergegas mengambil kotak tersebut dan membuka tutupnya pelan-pelan. Lagi-lagi, foto-foto pernikahan Nicholas dan Mia yang rusak. Lalu, aku melihat ada sebuah lempengan kecil berwarna hitam yang menempel di sisi kotak. Astaga, bahkan di sini ada lensa kameranya juga.


Saat itu juga, aku segera membawa kotak tersebut keluar mobil dan membuangnya ke tong sampah terdekat.


“Fiona?”


“Ada. Di dalamnya ada kamera kecil dan alat penyadap. Ya ampun, kenapa mereka melakukan ini?” tanyaku bingung sekaligus ketakutan melihatnya.


“Aku sudah menduganya, sayang. Mereka pasti ingin mengetahui rumah kita dan apa yang kita bicarakan. Apa kamu sudah membuangnya?” tanya Nicholas sementara aku buru-buru kembali ke dalam mobil.


“Ya, aku sudah membuangnya.”


“Kalau begitu, kamu pulang sekarang, ya? Berkendara dengan tenang, Derry dan Adam akan mengawasi kamu dari belakang,” ucap Nicholas lalu mengakhiri sambungan teleponnya. Setelah itu, aku bergegas menyalakan mobil dan menjalankan mobilku keluar dari parkiran.


Aku benar-benar harus mendapatkan cara agar polisi bisa menangkap klub aneh itu. Aku tak mau selamanya hidup tak tenang begini bersama Nicholas. Dan, sepertinya aku semakin yakin untuk mencari tahu apa yang hendak Hero katakan mengenai Nicholas sebelum dirinya dihabisi.