NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
KEHANCURAN



"Terus gimana kondisinya Mia? Kapan?" tanya ku sebelum Nicholas pergi. Sebagai orang yang pernah terluka parah akibat kecelakaan, tentu aku merasa ngeri dan sedikit khawatir.


"Kamu tunggu di private room, oke?" bisik Nicholas mengelus rambut ku kemudian ia berjalan pergi.


Namun tiba-tiba Nicholas berbalik lagi dan dia berdiri di hadapan ku, kelihatan bingung entah karena apa.


"Kenapa lagi?"


"Merasa senang, melihat penderitaan orang lain ..." Nicholas terdiam sejenak kemudian ia kelihatan berusaha menahan tawanya. "Apa itu kriminal?"


Aku kembali kehilangan kata-kata. Tak tahu Nicholas sedang sungguh-sungguh atau berusaha melucu lagi.


"Apa kamu berniat menertawai Mia di rumah sakit?"


Nicholas mengedikkan bahunya seolah ia sedang memiliki rencana lain.


"Awas aja kalau lakuin itu," ancam ku. Nicholas hanya tertawa pelan kemudian berjalan pergi.


Aku merapikan semua rekaman itu lalu membawanya ke private room Nicholas.


Aku mencari-cari yang mana alat penyadap dari kelompok aneh keluarganya Nicholas. Sungguh, aku ingin tahu kelanjutan yang terjadi pada Edward.


Begitu aku menemukan salah satu alat, aku segera menyambungkannya ke earphone bluetooth. Tapi hening, aku tak yakin apakah aku sudah benar menghubungkannya?


"Kamu tahu soal itu?"


"Ya. Aku tahu semuanya Mia. Tentang kebohongan kamu soal orang tua kamu, dan konspirasi kamu sama Edward dan juga Kakek."


"Terus, kamu mau laporin ke polisi? Atas dasar apa? Atau kamu mau menghabisi aku?"


"Kamu sudah habis, Mia. Aku sudah mengajukan gugatan perceraian kepada kamu. Mungkin suratnya akan diberikan ke kamu sebentar lagi."


Astaga, Nicholas sudah menjalankan misi ini lebih cepat. Ya ampun, Nicholas benar-benar ingin Mia terluka bertubi-tubi?


"Gak. Aku gak akan mau cerai sama kamu Nicho. Lebih baik kamu bunuh aja aku sekarang!"


"Semoga cepat sembuh, Mia. Sampai ketemu di persidangan nanti."


"How fu**ed you are! Kamu sendirian Nicho! Keluarga kamu semuanya bohongin kamu. Tahu?"


"Nicho! Aku bener-bener akan mengakhiri hidup aku sekarang juga kalau kamu tetep cerai sama aku."


"Go ahead. It's your choice."


"Nicho-"


"Bu Mia! Suster!"


"Panggilkan dokter sekarang! Penanganan pertama, darahnya -"


Aku segera melepas earphone bluetooth di telinga ku dengan tangan gemetar. Aku tak tahu apa yang terjadi di sana, tapi kedengarannya sangat kacau. Dan ... Apa yang dilakukan oleh Mia. Apa dia sungguh-sungguh akan mengakhiri hidupnya?


Aku segera menghubungi Nicholas. Tidak, dia pasti tak akan bisa netral dalam keadaan ini. Jadi aku memilih untuk menghubungi Ardi.


"Iya, Mbak?"


"Apa yang terjadi di rumah sakit? Mia gimana?"


"Bu Mia masuk IGD lagi, Mbak. Tadi dia nekat menyakiti dirinya sendiri dengan pisau buah. Pak Nicholas sedang menyelesaikan masalahnya dengan kedua orang tua Bu Mia ..."


"Masalah apa? Soal perceraian?"


"Ya. Pak Nicholas tetap akan menggugat cerai Bu Mia. Sekarang ... Kami akan segera pulang, Mbak."


Ardi langsung mengakhiri sambungan teleponnya. Dan aku kembali sendirian dengan segala kecemasan ku.


Mia benar-benar nekat ternyata. Dia sampai masuk IGD. Aku tahu bagaimana bejatnya Mia selama ini. Tapi bagaimanapun saat ini, dia pasti sedang dalam penuh tekanan. Dan lagi, Nicholas langsung menggugat cerai dirinya.


Di tengah kegundahan ku, tanpa sadar pintu rak private room terbuka. Nicholas masuk sambil melepas jasnya dan duduk di kursinya lalu menyalakan laptopnya.


"Edward dan kakek lagi berantem sekarang. Mereka pasti akan saling menyalahkan. Dan bukan gak mungkin akan ada pertumpahan darah diantara keduanya."


"Nicho," panggil ku menghampiri Nicholas.


"Kamu bener, Fio. Dendam saya sudah terbalaskan dengan buat mereka semua saling menghancurkan. Bahkan, Kakek percaya kalau Mia yang melaporkan kejadian malam itu ke polisi."


Aku tak tahu, Nicholas memang sudah berhasil. Maksud ku, kami berdua sudah berhasil. Tapi, bukankah artinya, aku dan Nicholas sama-sama seperti mereka?


"Fio?"


"Stop, for what? Kita udah selesai, Fiona. Mereka semua udah hancur."


"Kamu ... Jangan dulu gugat cerai Mia. Dia bisa mati, Nicho."


Nicholas menghela napas panjang, kemudian ia beranjak menghampiri ku. Nicholas hendak meraih tangan ku tapi aku menghindar.


"Nicho, Mia mau mengakhiri hidupnya kalau kamu sampe cerai sama dia sekarang. Seenggaknya kasih dia waktu -"


"Untuk apa? Untuk mengampuni dia? Saya gak perduli dia mau mengakhiri hidupnya atau nggak, Fiona. Saya bahkan pernah berencana untuk menghabisi dia juga."


"Kalau begini, kamu akan sama kaya keluarga kamu Nicho."


Nicholas terdiam menatap ku tak percaya. Aku tahu ini sangat menyakitkan. Tapi kenyataannya memang begitu.


"Keluarga kamu menekan Kalina sampai dia mengakhiri hidupnya. Lalu apa bedanya kita ke Mia? Nicho, aku ... Aku tahu Kakek dan Paman kamu itu jahat. Tapi aku yakin, kamu bukan bagian dari mereka," ucap ku pelan.


"Kamu pikir saya sama dengan mereka? Kalau saya sama dengan mereka, harusnya hari ini, saya habisi mereka semua dengan tangan saya sendiri, Fio."


Aku menahan napas ku. Sejujurnya, aku hanya ingin Nicholas merasa sudah menuntaskan dendamnya tanpa harus membunuh dengan tangannya sendiri. Meskipun sekarang musuh-musuhnya hancur karena kesalahan mereka sendiri, aku merasa ikut andil dalam kehancuran itu. Apalagi mendengar Mia yang sampai kecelakaan dan hampir mati karena tindakan konyolnya.


"Fio, kamu tahu saya akan lakukan apapun demi kamu. Apapun. Tapi untuk kali ini nggak. Saya akan tetap menceraikan Mia karena saya masih punya rencana terakhir."


Nicholas membuka laci mejanya dan mengeluarkan kotak besar warna hitam. Aku terbelalak kaget hingga mundur beberapa langkah begitu menyadari Nicholas membawa kotak pistol ini ke dalam private room.


"Kamu masih nyimpen pistol ini? Jadi ini tetap jadi rencana terakhir kamu?" tanya ku sedikit menyentak.


Nicholas tak menyahut, ia hanya membuang wajahnya dari ku.


Aku menggelengkan kepala ku tak percaya ternyata Nicholas masih menyimpan ini semua. Bahkan membawanya kemana-mana.


Aku menghela napas berat, lalu berjalan untuk pergi. Tapi dengan cepat Nicholas menarik tangan ku hingga aku berdiri di hadapannya lagi.


"Just ... Open it," bisik Nicholas menyodorkan kotak itu. Namun aku menolak dan berusaha keras untuk melepaskan diri dari Nicholas.


Nicholas kelihatan menghela napas berat kemudian ia membuka sendiri kotak tersebut dan membanting tutupnya ke lantai.


Yang ku lihat sekarang, bukan pistol seperti yang aku pikirkan. Melainkan sebuah kotak bening berisi cincin.


"Kamu, rencana terakhir saya."


Dengan ragu, aku mengambil kotak tersebut, membuka kotak cincin itu dan melihat ukiran nama ku benar-benar ada di dalam cincin ini.


"Tolong jangan tolak saya, Fiona. Kali ini, saya benar-benar merasa ingin hidup normal. Dan itu akan sempurna kalau sama kamu," bisik Nicholas saat aku masih memandangi cincin tersebut.


"Nicho, kamu serius?" tanya ku menatapnya dalam-dalam. Aku tak ingin dipermainkan lagi.


"Saya gak pernah seserius ini sama perempuan," jawab Nicholas. Ia menahan napasnya, kemudian kembali berbisik, "setelah semuanya selesai, mau kan kamu ... hidup sama saya?"


"Jadi istri kamu?"


"Ya, kecuali kamu suka jadi wanita simpanan saya."


Aku tertawa pelan lalu menghambur ke pelukan Nicholas dengan berjinjit dan sedikit melompat kesenangan.


"Mau, mau!"


Nicholas menjatuhkan kotak itu ke lantai dan membalas pelukan ku dengan erat. Aku bahkan hampir menjerit ketika Nicholas sedikit mengangkat ku.


"Saya udah yakin, kalau saya gak salah waktu memilih kamu untuk kerja sama dengan saya dulu, Fiona," bisik Nicholas di telinga ku, dan aku bisa merasakan bibirnya tersenyum.


"Mia gimana?" tanya ku pelan.


"Fiona, yang diinginkan Mia itu bukan saya. Dia hanya mau saya mengembalikan nama baiknya karena skandalnya dengan Hero itu."


"Semoga Mia cepet sembuh."


"Saya akan bayar dokter paling mahal di sana. Kalau perlu, saya akan sewa psikolog untuk Mia."


"Kamu ... Kayanya juga perlu psikolog, deh," bisik ku masih nyaman dipelukan Nicholas.


"Saya udah punya kamu," bisik Nicholas mencium puncak kepala ku lalu mengelus rambut ku dengan hati-hati.


Aku menghela napas lega. Sungguh, jauh di lubuk hati ku, aku berharap Mia tak akan nekat lagi untuk mengakhiri hidupnya.


...***...