
Begitu kami sampai di rumah sakit, Damian segera mengarahkan Nicholas untuk masuk ke ruang rawat Ardi. Sayangnya, yang diperbolehkan masuk hanya satu orang, dan itu tentu saja Nicholas. Sedangkan aku menunggu di luar bersama Damian.
"Apa kondisinya membaik?" tanyaku ditengah-tengah obrolan kami. Aku hanya ingin tahu kondisi pasti Ardi saat ini.
"Dokter mengatakan, setelah Papa melewati masa kritisnya, keadaannya semakin membaik. Dan, begitu Papa siuman, dokter kembali mengatakan kalau Papa mulai stabil. Kami optimis, Papa akan segera pulih," jawab Damian dengan penuh keyakinan. Dan aku ikut mendoakan kesembuhan Ardi. Aku senang dengan keyakinan Damian saat ini.
"Syukurlah. Saya juga yakin, Ardi akan segera sembuh. Lalu, apa kalian akan pergi setelah ini?" tanyaku kembali memastikan.
"Nanti sore. Dokter sudah mengizinkan Papa dipindahkan ke rumah sakit di Singapura. Karena saya ingin bisa fokus mengurus Papa di sana bersama keluarga yang lain. Saya harap, kalian tidak keberatan karena saya membawa Papa secepat ini," jawab Damian kelihatan tak enak.
"Tentu saja, saya gak keberatan. Dan saya yakin Nicholas juga gak akan keberatan demi kebaikan Ardi."
Damian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Papa sudah sangat lama bekerja untuk Pak Nicholas. Dan saya tahu betul betapa dekatnya Papa dengan Pak Nicholas ..."
"Iya, kamu benar. Ardi satu-satunya orang yang paling Nicholas percaya di dunia ini," jawabku mengakui. Bahkan, sebelum aku dekat dengan Nicholas, aku sudah tahu bahwa Nicholas benar-benar hanya memberitahu Ardi tentang segala hal termasuk tentang rencana-rencananya dan rahasianya.
"Makanya, mungkin Papa ingin memberikan salam perpisahan pada Pak Nicholas sekaligus melaporkan tugas terakhirnya," sahut Damian sambil tersenyum, dia kelihatan bangga dengan ayahnya sendiri. Padahal, aku pikir dia akan menyalahkan Nicholas juga. Tapi ternyata Damian memiliki pikiran yang luas dan dia kelihatan sangat cerdas sehingga tak mudah menyalahkan seseorang.
"Saya harap, Nicholas masih bisa bertemu dengan Ardi lagi nanti," ucapku benar-benar berharap. Karena, bagaimana pun, Nicholas pasti sudah menganggap Ardi sebagai keluarganya sendiri.
"Iya, kalian bisa menemui Papa kapan pun. Lain waktu, berkunjung saja ke rumah kami di Singapura."
Aku tersenyum lebar, kemudian menganggukkan kepalaku.
"Ya, tentu. Nanti aku akan membicarakan ini pada Nicholas."
Akhirnya, Nicholas keluar dari ruang rawat. Dia menghampiri kami dengan wajah yang datar. Aku khawatir ada sesuatu buruk yang dikatakan oleh Ardi.
"Saya sudah selesai, kamu sebaiknya masuk ke dalam, dan temani Papa mu. Saya sudah bilang kepada Ardi, hari ini saya gak bisa mengantarnya ke bandara. Tapi, saya memastikan 2 penjaga itu akan mengantar kalian sampai ke bandara," ucap Nicholas sambil menepuk pundak Damian.
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi."
"Oh, ya. Hati-hati di jalan, Damian," ucap Nicholas. Damian mengangguk, lalu berjalan memasuki ruang rawat Ardi.
"Sayang, kenapa? Kamu gak enak badan?" tanyaku menyentuh pipi Nicholas yang memerah.
"Kita pulang aja sekarang. Aku benar-benar merasa gak enak badan," jawab Nicholas merangkulku keluar dari rumah sakit.
Tenanglah Fiona, mungkin Nicholas merasa sangat sedih karena Ardi akan pergi keluar negeri. Tapi aneh, rasanya Nicholas tak mungkin bereaksi seperti ini.
Bahkan, selama di dalam perjalanan pulang, kami tak berbicara lagi. Nicholas menyetir sambil sesekali memijat-mijat keningnya. Aku hanya bisa sesekali mengelus-elus pundak Nicholas berharap bisa menenangkannya.
***
Akhirnya, Nicholas tak bisa menyelesaikan tugas kantornya. Dia benar-benar aku minta untuk beristirahat sejenak di tempat tidur setelah mengganti bajunya.
Nicholas menggelengkan kepalanya. Dia menarik tanganku pelan-pelan agar duduk di pinggir tempat tidur. Dan aku menurutinya.
"Kamu tahu, gak? Meskipun kamu gak ngomong apa-apa sama aku, aku tahu ada banyak hal yang lagi kamu pikirin sekarang, Nicho. Dan kamu harus tahu, kalau kamu bisa cerita sama aku apa aja," ucapku sambil mengelus pipi Nicholas. Bukannya menjawab, Nicholas malah tertawa pelan.
"Kamu seperti sedang bicara dengan anak-anak," ucap Nicholas sambil meraih tanganku di pipinya dan menggenggamnya.
"Bisa kita santai sebentar gak?" tanya Nicholas.
Aku mengangkat alisku bingung dengan maksudnya.
"Dengan apa?"
"Sini," jawab Nicholas sampai menarikku perlahan, untuk berbaring di sebelahnya. Aku tertawa sambil membetulkan posisi selimut kami, sementara Nicholas memeluk pinggangku. Suhu tubuh Nicholas terasa hangat saat aku memeluknya.
"Apa yang lagi kamu pikirin?" tanyaku menatapnya.
"Aku gak mau bilang sama kamu. Tapi, aku rasa aku akan mati kalau aku memendamnya sendiri. Aku ... Sedikit ketakutan," jawab Nicholas. Aku menatap matanya, memerhatikannya dengan seksama, dan aku seperti melihat banyak sekali kekhawatiran di matanya.
"Aku siap denger apa pun dari kamu, Nicho. Aku udah terbiasa kok," jawabku terkekeh pelan. Namun, Nicholas tak tertawa sama sekali.
"Tadi ... Ardi susah payah memberitahu aku. Apa yang dia temukan sebelum penyerangan itu terjadi," bisik Nicholas pelan.
"Apa yang Ardi katakan?"
Nicholas menahan napasnya.
"Katanya, dia menemukan rekaman panggilan telepon terakhir Hero dengan seseorang. Bukti rekaman itu berhasil dia bobol dengan bantuan seseorang. Dan, di dalam rekaman itu, Hero seperti sedang marah-marah dengan seseorang. Yang menjadi perhatian Ardi adalah ..." Nicholas menggantungkan kalimatnya sejenak. Dia seolah masih ragu dengan apa yang ingin dia katakan.
"Nicholas, apa yang menjadi perhatian kalian? Percakapan apa?"
"Hero sempat bilang begini, 'Aku tahu mengapa kalian menghabisi Mia. Aku akan memberitahu Nicholas, jika kalian tidak mau membantuku'. Aku sendiri gak mengerti apa yang dia maksud tapi, ini semakin memperjelas dugaan kita bahwa ... Mia bukan menghabisi dirinya sendiri," bisik Nicholas pelan. Kedua matanya seperti mengawang entah kemana.
"Dan juga Hero. Mereka menghabisi Hero juga," imbuhku yang disambut anggukkan kepala Nicholas.
"Mereka pasti langsung menghabisi Hero. Dan syukurlah Ardi selamat," bisik Nicholas. Dan aku bisa merasakan dari nada bicaranya, kalau dia benar-benar merasa berat hati mengetahui hal ini.
"Sabar ya, sayang. Aku tahu ini berat buat kamu. Tapi kamu jangan berpikir semua ini salah kamu," bisikku sambil mengelus-elus rambut Nicholas dengan lembut.
"Hero sempat mengatakan, kalau dia mengetahui sesuatu. Yang akan dia katakan sama aku. Artinya, ini masih berhubungan denganku, Fio. Dan semua kekacauan ini memiliki benang merah, yaitu aku," bisik Nicholas pelan.
"Oke, kita tahu itu. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Mereka sendiri yang menghampiri bahaya. Mengenai apa yang mereka sembunyikan, percayalah Nicho, suatu saat kamu akan tahu," bisikku lagi. Kemudian, aku meraih wajah Nicholas agar menatapku.
"Untuk hari ini, jangan pikirkan itu dulu. Kamu gak akan bisa berpikir dengan jernih, kalau pikiran kamu kacau. Cukup pikirin aja tentang aku," bisikku lalu mencium bibir Nicholas dengan lembut. Perlahan, Nicholas memejamkan matanya, dia mempererat pelukannya di pinggangku, dan aku mulai merasakan dirinya lebih tenang. Aku melepaskan ciumanku perlahan, dan memeluk kepala Nicholas, membiarkannya menyenderkan kepalanya di bahuku sambil memejamkan matanya.
Aku menghela napas pelan. Ya Tuhan, apa lagi yang sedang menimpa Nicholas?