NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
I CAN HEAR YOUR BREATH



Aku tak tahu apa lagi yang buruk dari hari ini setelah mendengar banyak sekali orang-orang yang mulai menghubungi sosial media ku.


Bahkan, aku sampai tak ingin menyalakan ponselku lagi. Aku terpaksa untuk naik taxi demi menghindari orang-orang yang mengenali wajah ku di video itu.


Meskipun aku berhasil meyakinkan Dinar kalau aku baik-baik saja, kenyataannya aku sangat takut. Ini pertama kalinya aku dihujat oleh orang-orang.


Aku menundukkan kepala sambil menekan sudut-sudut mataku, tak bisa menahan tangisku. Kenapa dunia sosial media bisa sejahat ini? Aku tahu, ini semua salah ku karena gegabah menyiram orang lain. Tapi aku tak mau mengakui kalau perkataan Hero tentang Nicholas itu benar.


Ponsel khusus dari Nicholas, berbunyi, aku lupa kalau ponsel itu masih menyala. Aku segera meraih ponsel itu dan mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Ya, Pak?" tanya ku menahan napas ku.


"Di mana kamu sekarang? Shareloc lokasi kamu sekarang."


"Saya di taxi, Pak. Mau pulang ke apartmen," jawab ku pelan.


"Jangan. Jangan ke apartmen. Kamu behenti sekarang, Ardi akan jemput kamu."


"Tapi, Pak -" Aku menahan napas ku sejenak, lalu menghela napas pelan, "Baik, Pak."


Setelah itu, aku meminta supir taxi untuk berhenti sambil mengirim lokasi ku saat ini kepada Nicholas. Aku menunggu di dalam taxi. Dan lima belas menit kemudian, aku melihat mobil BMW Ardi berhenti di depan taxi ku. Dia keluar dari mobil, aku pun segera keluar setelah membayar taxi.


Ardi menuntun ku ke mobil dan membukakan pintu untuk ku. Sungguh, rasanya aku seperti seorang aktris papan atas yang sedang kena skandal. Siapa yang mengira aku akan ada di posisi ini?


"Mbak Fiona tenang saja. Pak Nicholas sudah mengurus semuanya," ucap Ardi.


"Dengan apa, Pak? Menutup mulut semua media berita?" tanya ku tak percaya, "banyak orang yang udah repost video itu. Dan Pak Nicholas gak akan bisa menghapus itu semua," jawab ku dengan suara bergetar. Aku benat-benar sudah pasrah atas apapun yang terjadi.


"Pak Nicholas sedang mengusahakan, Mbak..."


Namun aku tak mau menanggapi lagi. Aku tak percaya Nicholas bisa mengatasi ini sehebat apapun dirinya. Karena dimata semua orang, terutama fans Hero, akulah yang bersalah.


"Pak Nicholas adalah orang yang penuh rencana, Mbak. Tenang saja," ucap Ardi membela bos nya lagi.


"Kalau gitu apa rencananya?"


"Biar Pak Nicholas yang akan menjelaskan di kantor, Mbak."


Aku menghela napas gusar. Ini sudah sore menjelang malam, dan aku masih harus ke kantor di hari libur ku, dengan masalah yang luar biasa ini. Otak ku benar-benar kacau.


Memang benar kata Mama. Semuanya akan sangat rumit ketika orang biasa seperti ku mengenal orang-orang terkenal. Contohnya seperti Nicholas dan Hero ini.


"Terus kenapa saya gak boleh ke apartmen?"


"Karena sudah banyak wartawan yang ada di gedung apartmen Mbak Fiona. Termasuk fans Hero."


Aku menahan napas ku, menyisir rambut ku dengan jari-jari tangan ku merasa frustrasi. Dan sebelum aku bertanya lagi, mobil Ardi sudah sampai di depan kantor.


Sebelum keluar, Ardi memberikan aku jaket dan topi serta masker. Dia mengarahkan aku untuk jalan lewat basement kantor menuju lift khusus yang langsung tertuju pada lantai ruangan Nicholas.


Staf kantor Nicholas sudah pulang sore ini, jadi keadaan di lantai ini cukup sepi. Lalu aku segera membuka topi ku ketika masuk ke dalam ruangan Nicholas.


"Duduk, Fiona."


Aku menurutinya dan duduk di sofa sambil membuka masker ku juga.


Setelah itu, Nicholas duduk di hadapan ku.


"Saya tahu apa yang terjadi sekarang, dan sekarang saya sedang coba untuk menangani ini, Fiona. Jadi untuk sementara -"


"Bagaimana Pak Nicholas menangani ini Pak? Pak Nicholas gak bisa menahan jari orang-orang untuk menyebarkan video itu atau berhenti menghujat saya, Pak," ucap ku denganĀ  kesal.


"Fiona, kamu tahu kan saya bisa mengurus semua ini? Saya sudah siapkan semuanya. Jadi kamu diam saja, dan untuk sementara waktu tinggal di private room saya."


"Kalau gitu kasih tahu saya apa rencana Pak Nicholas sekarang?" tanya ku gemas.


Nicholas menatap ku dengan kedua alis terangkat. Sementara aku berusaha mengontrol diri ku agar bisa memberanikan diri mengatakan apa yang ingin aku katakan sekarang.


"Karena ini menyangkut masalah saya, Pak. Seharusnya saya tahu rencana apa yang akan Pak Nicholas lakukan."


Nicholas menghela napas panjang. Ia menyenderkan punggungnya di senderan sofa dengan kedua tangan yang berada di kedua sisi sofa sambil mengarahkan pandangannya kepada Ardi yang berdiri di sebelahnya memberikan perintah melalui isyarat.


"Saya sudah coba bicara dengan Hero untuk melalukan klarifikasi. Tapi dia mengaku sibuk, dan saya tahu apa yang dia inginkan. Saya harus merekomendasikan dia sebagai aktor ke kenalan saya di Amerika."


"Apa Pak Nicholas sering melakukan promosi macam itu sebelumnya?" tanya ku heran.


"Nggak. Saya gak pernah mempromosikan aktor. Jika mereka memang memiliki kemampuan akting yang bagus dan sepak terjang yang tinggi, produksi film Amerika pasti akan menawarkan mereka duluan. Dan saya sudah menegaskan kepada mereka berdua kalau industri film kenalan saya gak mengenal jalur rekomendasi. If they like it, they would contact directly."


Aku tak tahu mengenai hal ini. Pada awalnya, aku pikir industri ini adalah ajang orang-orang melakukan apapun untuk bisa tenar. Tapi ternyata masih ada yang lebih mementingkan kualitas dibanding popularitas.


"Lalu?" tanya ku meminta kelanjutan.


"Hero menolak, saya mengancam akan black list dia dari perusahaan saya," jawab Nicholas membuat ku tercengang. Apa sampai sejauh itu? Bukankah Hero sedang naik daun? Bukankah Nicholas akan rugi jika hal itu dilakukan.


"Tapi dia malah balik mengancam saya dengan mengatakan kalau..."


Nicholas berhenti bicara, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kenapa Pak?"


"Dia akan bilang ke wartawan kalau semua yang terjadi di Bali itu benar adanya. Kalau kamu bersikap kurang ajar sama dia. Makanya sekarang, saya mengancam dia, kalau saya punya rekaman suara percakapan kalian berdua malam itu dan akan menyebarkannya ke publik."


Aku semakin tercengang mendengarnya, tak percaya Nicholas memiliki rekamannya. Dari mana? CCTV? bukankah tak akan terdengar suaranya?


Tapi Nicholas menaruh sebuah flasdisk di atas meja yang sempat diberikan oleh Ardi.


"Bagaimana Pak Nicholas ..."


"Saya memasang alat penyadap di ponsel khusus kamu, Fiona. Jadi, saya bisa mendengar apapun yang kamu dan di sekitar kamu katakan. Singkatnya, saya bisa mendengar suara kamu selama ponsel itu ada di sekitar kamu."


Aku terkejut bukan main. Bagaimana bisa ada alat seperti itu? Astaga, Nicholas benar-benar menyeramkan.


"Kamu gak perlu khawatir. Saya hanya akan menyebarkan rekaman ketika dia menghina saya -"


Tangan ku refleks meraih flashdisk itu dari atas meja dengan gemetar. Bagaimana bisa Nicholas berpikiran sependek itu? Apa yang dia pikirkan sebenarnya?


"Kalau saya gak melakukan ini, orang-orang akan semakin mencecar kamu, Fiona. Dan lagi, Hero akan memutar balikkan fakta sehingga kamu yang akan dipojokkan."


"Kita bisa cari alasan lain, Pak. Saya gak setuju kalau caranya dengan menyebarkan rekaman ini. Lagi pula, apa Pak Nicholas sudah mendengar baik-baik apa yang dikatakan Hero? Atau hanya tahu berdasarkan laporan Pak Ardi?"


"Hanya saya yang bisa mendengarkan alat penyadap di ponsel kamu, Fiona."


"Oke. Jadi coba Pak Nicholas pikirkan. Jika rekaman itu menyebar ke publik, bukan cuma Hero yang akan malu. Tapi Pak Nicholas juga kan?"


Seketika ruangan menjadi hening. Aku tahu Nicholas diam, tak terlihat akan mematahkan ucapanku, dia hanya menatap ku. Sementara aku mencoba untuk mengontrol diri ku setelah kelepasan bicara dengan menoleh ke arah Ardi.


Bukan berarti aku membenarkan apa yang dikatakan Hero. Aku juga tak percaya kalau Nicholas itu impoten atau semacamnya. Tapi, tetap saja fitnah seperti ini akan memalukan jika sampai di dengar publik kan? Itu yang sebenarnya berusaha ingin jelaskan.


Nicholas beranjak dari tempat duduknya, dia mengambil sebuah paper bag besar dari balik mejanya kemudian kembali menghampiri ku.


"Saya sudah siapkan tempat tidur kecil di dalam private room. Sekarang, kamu ke kamar mandi dan ganti dengan pakaian yang saya belikan."


"Pakaian?" tanya ku curiga.


Nicholas menghampiri ku lalu dia membungkuk ke arah ku. Alhasil aku refleks memundurkan punggung ku hingga sedikit menyentuh senderan sofa.


"Cuma piyama tidur biasa, Fiona," bisik Nicholas sambil mengambil alih flashdisk yang masih ada di tangan ku.


Dengan raut wajah yang masih shock, aku segera meraih paper bag itu lalu buru-buru berjalan ke arah toilet. Sejujurnya aku tak yakin Nicholas akan menuruti saran ku untuk tidak menyebarkan rekaman itu. Kecuali dia sudah tak memiliki rasa malu lagi. Terserahlah! Untuk apa aku peduli?


***


Dua puluh menit kemudian, entah bagaimana mulanya, tapi aku sudah berada di dalam private room Nicholas bersama laki-laki itu. Dan seperti dugaan ku, sepertinya dia akan tidur di sini. Walaupun aku masih berharap Nicholas tetap pulang saja.


"Apa tempat tidurnya gak nyaman? Apa saya perlu sewain kamu kamar hotel?"


"Apa? Oh, nggak. Saya gak apa-apa, Pak," jawabku penuh dengan kebodohan. Harusnya aku bilang saja iya, aku perlu ke hotel saja. Daripada di sini berdua dengannya, aku semakin tak bisa fokus untuk menyelesaikan masalah ini.


"Kalau begitu tidur sekarang, Fiona."


Bagaimana aku bisa tidur kalau dia masih berisik mengetik ini - itu dan beberapa kali melakukan panggilan telepon kepada rekan bisnisnya?


Setelah aku mengumpat begitu dalam hati, tak lama tiba-tiba Nicholas mematikan laptopnya dan menutupnya. Ia beralih ke arah tablet miliknya.


Oh my ... Apa dia juga memasang alat penyadap di pikiran ku? Kenapa dia bersikap seolah tahu segala hal dari ku?


Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Aku jelas tidak bisa tidur karena setiap memejamkan mata, aku akan kembali berpikir, apa yang akan terjadi besok? Siapa lagi yang akan mencecarnya? Kenapa ia bisa sampai di titik ini? Belum lagi, bagaimana pandangan Arbi kepadanya setelah melihat kejadian itu? Apa Hero benar-benar akan memutarbalikkan fakta?


Lalu masalah terbesarnya adalah, apakah Nicholas akan melakukan rencananya?


"Mau minum?" tanya Nicholas tiba-tiba mengalihkan pandangan ku ke arahnya.


"Apa? Nggak, Pak. Saya gak minum, maksudnya saya ..."


Belum selesai aku melanjutkan kalimat ku, Nicholas sudah lebih dulu beranjak dan berjalan ke arah kulkas kecil di sana. Ia mengeluarkan dua kaleng softdrink lalu menaruh satu di hadapan ku.


Aku menatap botol softdrink itu untuk memastikan tidak ada kandungan alkohol sama sekali.


"Itu cuma minuman berkarbonasi, Fiona," ucap Nicholas lagi-lagi seolah membaca pikiran ku. Atau mungkin membaca gerak-gerikku.


"Saya gak nyangka Pak Nicholas suka minuman softdrink juga," ucap ku tertawa pelan sambil membuka soda tersebut.


"Memang. Saya gak pernah simpan softdrink di situ."


"Terus? Kenapa Pak Nicholas simpen ini? Sejak kapan juga?"


"Sejak kamu sering ke sini," jawab Nicholas dengan pandangan lurus ke arah tabletnya. Sementara aku hampir saja tersedak. Aku baru akan menenggak soda ini, tapi karena kaget, alhasil malah meleset dari mulut ku dan jatuh ke leher. Sial.


"Saya ... Bingung. Kenapa wartawan itu semua tahu di mana apartmen tempat saya tinggal."


"Mia. Dia yang infokan semua tentang kamu ke wartawan," jawab Nicholas.


Oh, ya. Mia mengetahui dimana tempat aku berada. Apalagi saat Nicholas sengaja menggiringnya agar bisa menunjukkan 'wanita simpanannya'.


"Terus, saya masih gak mengerti dengan sistem alat penyadap yang Pak Nicholas pasang di ponsel khusus saya."


Nicholas beranjak dari sofa, lalu tiba-tiba dia duduk di atas karpet dekat tempat tidur ku.


Astaga! Berada satu ruangan dengannya saja sudah membuat ku panas dingin. Apalagi sekarang dia ada di sebelah ku!


"Dimana ponsel khusus kamu?" tanya Nicholas.


"Ada di tas -"


Nicholas menahan tangan ku, kemudian ia mendekati ku, menyelipkan rambut ku di belakang telinga dengan hati-hati, lalu memasangkan sebuah earphone bluetooth di telingaku sampai aku hanya bisa diam tak bergerak ketika lengan Nicholas bertabrakan dengan lengan ku ketika memasangkan earphone. Astaga Fiona, sadar Fiona. Fokus!


"Kamu bisa mendengar suara saya sekarang?" tanya Nicholas.


Yap. Aku benar-benar bisa mendengar suara Nicholas lewat earphone ini. Nicholas mengeluarkan ponselnya, menyalakan layar ponselnya yang menunjukkan sebuah diagram suara.


"Setiap kamu atau siapapun yang ada disekitar kamu bicara, saya bisa mendengarnya. Sekecil apapun, bahkan ..." Nicholas menggantung ucapannya ketika dia menatap ku yang tentu saja tak bisa bergerak karena ditatap dari jarak sedekat ini.


"Saya bisa dengar suara helaan napas kamu."


Oh My God. Sekarang, ketika kami berdua sedang diam, Nicholas benar. Bahkan aku bisa mendengar laju napas Nicholas, seperti ada sebuah mic di dada Nicholas.


Namun seketika wajah ku memucat saat menyadari sesuatu. Jika ini benar, maka artinya ... Dia tahu aku sedang membicarakannya? Dan soal pertanyaan ku tentang hubungan open relationship Nicholas?


"Pak Nicholas tahu saya ... Tadi sore ..."


"Ketemu teman kamu yang namanya Dinar. Dan kalian sempat ngomongin saya."


Bagaimana caranya aku bisa pindah ke planet Mars?