
Sekitar pukul 22:00 WIB, Dika akhirnya mengantarkan aku pulang indekos. Keadaan kami sangat canggung, setelah Dika mencoba menggenggam tangan ku saat aku berada di motornya tadi.
Dan tanpa basa-basi lagi, aku berbalik untuk masuk. Tapi lagi-lagi Dika menahan ku.
"Dik, lepasin aku bisa teriak lho!" peringatku berusaha tegas. Namun, suaraku malah terdengar bergetar.
"Fio, aku minta maaf. Tapi aku bener-bener suka sama kamu," jawab Dika semakin menarik tangan ku mendekatinya.
"Gak gini caranya, Dik!"
"Kamu tuh mirip banget sama mantan aku, tahu? Fi, gimana kalau kamu jadi pacar aku aja?"
"Aku gak mau, Dika lepasin!" tukasku kesal bukan main. Kedua kakiku rasanya lemas karena ketakutan.
Dika malah memeluk pinggang ku dengan posesif, sungguh aku berharap ada warga yang lewat. Aku masih berusaha bersikap sopan pada Dika. Karena bagaimana pun dia partner kerja ku.
"Dika ..." Suaraku mulai terdengar bergetar, kedua mataku berair. Aku tak bisa berteriak, hanya bisa menangis.
"Fio, liat aku, please ..."
Dika menarik wajah ku untuk menatapnya. Lalu dia mendekati ku, aku berusaha mendorongnya sekuat tenaga hingga akhirnya dia menjauh. Tapi sayangnya karena dorongan ku terlalu kuat, aku malah ikut terjatuh.
Dika mencoba membantu ku berdiri, atau lebih tepatnya menarik ku. Dan saat itu, tubuhnya terhempas jatuh bersama motornya ketika sosok yang ku tahu adalah Nicholas meninjunya. Kekuatannya sebesar itu?
Aku tak tahu, kaki ku masih lemas ketika Nicholas kembali menarik Dika dan memukulinya dengan membabi buta.
Astaga! Aku berusaha keras berdiri dan menahan Nicholas. Dika bisa benar-benar masuk rumah sakit jika dipukuli begini.
"Nicho stop, stop!" ucap ku mendorong Nicholas menjauh.
Ketika Nicholas sudah menjauh darinya, Dika terlihat buru-buru berdiri, mengambil motornya dan pergi.
"Kamu gila ya? Kamu mau bikin dia sekarat?"
"Saya bisa lakuin itu kalau tadi dia benar-benar lakuin macam-macam ke kamu," jawab Nicholas dengan napas gusar.
Aku menghela napas panjang, kemudian menatap Nicholas bingung. Tadi siang, jelas-jelas dia mengabaikan aku. Kenapa sekarang tahu-tahu sudah ada di sini?
"Kamu ngikutin saya?" tanya ku.
"Ya, karena dia beli obat tidur sebelum ngajak kamu pulang," jawab Nicholas.
Aku terdiam, tak mampu berkata-kata mendengar jawaban Nicholas. Jadi, apa yang direncanakan Dika? Ya ampun, dia terlihat laki-laki yang baik. Kenapa Dika sampai berniat melakukan sejauh ini?
"Kamu pulang aja sekarang," ucap ku berbalik menuju pintu kos. Tapi sampai aku akan masuk, Nicholas hanya diam di sana, berdiri sambil menatap ku. Seolah sengaja memastikan aku untuk masuk ke dalam.
Ya Tuhan, ini bahkan belum satu bulan. Dan aku sangat merindukan Nicholas. Kenapa dia berdiri di sana seperti orang bodoh?
Aku menghela napas panjang, kemudian kembali menghampirinya.
"Apa lagi?"
"Saya pikir kamu akan pulang ke Surabaya."
Sungguh memalukan Fiona. Setelah drama perpisahan itu, aku ketahuan tak meninggalkan Jakarta. Nicholas pasti mengejek ku karena tak kabur terlalu jauh.
"Setidaknya, di sini saya aman. Gak perlu takut diserang kamu dan keluarga kamu."
Nicholas terdiam. Dia menghela napas kasar sambil menatap buku-buku tangannya yang terluka karena memukuli Dika barusan. Itu bukan salah ku. Fiona, ayolah itu bukan salah mu.
"Itu kosan putri. Saya gak bisa bawa masuk laki-laki. Jadi lebih baik kamu ke rumah sakit atau klinik untuk ngobatin itu," ucap ku berusaha terdengar tegas.
"Di mobil, sebenernya ada kotak P3K. Saya akan obatin ini sendiri," jawab Nicholas.
Aku mengangguk, lalu menatapnya curiga. Benarkah dia akan mengobatinya?
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, lingkungan ini sangat sepi. Dan aku baru tahu, seharusnya hal ini menjadi pertimbangan ku saat memilih kosan.
"Dimana kotaknya?" tanya ku saat Nicholas sudah masuk ke dalam mobil, tepat di kursi kemudi.
Nicholas mengeluarkan kotak tersebut dari dashboard dan memberikannya kepada ku.
Aku pun segera duduk di kursi penumpang, membersihkan buku-buku jari tangan Nicholas dengan kasa beralkohol. Kemudian memberikan obat merah. Kemudian aku membalutnya dengan kasa dan perban, sangat hati-hati. Hingga hanya ada keheningan di antara kami. Baguslah, lebih baik begini.
"Lain kali, kamu gak perlu ikut campur lagi soal saya, Nicho. Saya harap ini pertemuan terakhir kita."
"Saya udah baca surat yang kamu kasih ke Ardi," ucap Nicholas mengabaikan ucapanku tadi.
Aku menoleh padanya, penasaran bagaimana reaksinya.
"Terus?"
"Saya bingung, Fiona."
"Apa yang buat kamu bingung?"
"How to end all of this."
"Dendam kamu?"
Nicholas menahan napasnya, kemudian mengangguk.
Aku juga tak tahu bagaimana. Hanya kamu yang tahu, Nicholas. Bagaimana caranya aku menjelaskan?
"Just tell me, what you really want?" tanya ku.
"Balas dendam. Saya harus melakukan itu, Fiona. Dan saya perlu kamu untuk tetap ada di sisi saya," jawab Nicholas masih belum berubah.
"Terus apa? Kenapa saya perlu ada di sisi kamu?"
"Karena saya gak bisa fokus selama kamu jauh dari saya, Fiona. Saya gak bisa menuntaskan rencana saya kalau begini terus."
Aku membuang wajah ku ke arah lain berusaha menahan kesal. Nicholas masih belum mengerti juga.
"Fio, saya akan berikan apapun yang kamu mau, semuanya. Asal kamu -"
Nicholas akhirnya berhenti bicara ketika aku mencium bibirnya. Aku ingin membalas Nicholas. Bagaimana rasanya dicium begini? Bagaimana rasanya frustrasi dan perasaan mu campur aduk hanya karena ciuman ini?
Tapi diluar dugaan, Nicholas malah memejamkan matanya sambil meraih wajah ku, bibirnya ******* bibir ku lebih dalam sementara satu tangannya lagi memeluk pinggang ku.
Nicholas melepaskan ciumannya, dia menatap ku dengan kedua mata nanar. Tanpa sadar aku mengusap wajahnya dengan hati-hati.
"Pertimbangan terakhir," bisik Nicholas.
"Hmm?"
"Pertimbangan terakhir di surat kamu. Kamu akan memberikan seluruh hidup kamu untuk saya," bisik Nicholas.
Aku menahan napas ku. Entah apa yang sedang Nicholas pikirkan lagi. Tapi aku merasa pandangan Nicholas kali ini berbeda.
"Saya tahu itu keputusan bodoh karena saya pernah berpikir kalau mungkin, saya bisa hidup normal sama kamu," jawab ku pelan. Aku hendak beranjak menjauh dari Nicholas, tapi Nicholas menahan ku.
"Kita akan coba, Fiona."
"Coba apa?"
Nicholas menahan salivanya. Ia kelihatan sulit bicara, tapi aku terus menatapnya, mendesaknya untuk bicara terus terang.
"Kasih saya kesempatan, Fiona. Bantu saya ... Menyelesaikan ini semua."
Aku tahu, saat aku memberikan Nicholas kesempatan, artinya aku juga harus siap dengan konsekuensinya jika ini semua gagal.