
Aku berusaha menahan tawa ku. Tidak, sejujurnya sebelum Nicholas memunculkan ide gilanya, aku ingin menangis karena Fio, kucing tampan itu sudah tak ada. Sekarang aku tahu alasan kenapa Nicholas bertindak acak kemarin, memutuskan kontrak dengan ku, membiarkan aku pergi, dan semacamnya. Ku rasa pikirannya sedang kacau karena efek kehilangan Fio juga.
Tapi syukurlah, saat ini, meskipun sangat aneh dilakukan oleh Nicholas, tapi orang keras kepala ini tetap membuat ku makan malam dengannya, meskipun di dalam kamar.
Maksud ku, aku tetap tak mau memakai dress. Tapi Nicholas tetap memakai setelan suit rapi seperti awal dia masuk ke kamar ku. Bahkan meja di kamar ini pun telah disulap menjadi sangat elegan dengan taplak meja berwarna merah satin, lilin, bunga, peralatan makan yang berderet. Astaga, aku lupa pelajaran table manner yang pernah satu kali aku ikuti.
Apakah harus serumit ini makan dengan Nicholas?
"Terakhir kali kita makan, itu di restoran Jepang. Dan gak serumit ini," bisik ku pada Nicholas setelah seorang pelayan selesai menata makanan di atas meja.
"Terakhir kali kita makan, kamu hanya sebatas karyawan saya," jawab Nicholas dengan tenang.
Yang membuatku ingin tertawa adalah, sikap Nicholas yang tiba-tiba jadi sedikit romantis. Atau dia sedang mencoba romantis? Nicholas terlihat agak terobsesi menciptakan suasana makan romantis. Aku bisa melihat dari antusiasnya.
"Kamu tahu kan saya ..."
"Here," sergah Nicholas menukar piringnya dengan punya ku. Nicholas memberikan daging steak yang sudah ia potong-potong kepada ku karena tahu barusan aku ingin mengatakan untuk kesekian kalinya kalau aku tak bisa menggunakan pisau dan garpu secara bersamaan.
"Apa ini salah satu scene film yang pernah diproduksi di perusahaan Ark's Film?" tanya ku meledek sedikit. Aku tak mau ada kecanggungan lagi atau rasa kikuk di antara kami berdua, karena hal itu sangat tidak nyaman.
"Apa kamu pernah nonton scene bagian ini?"
Aku terdiam menoleh pada Nicholas dengan kedua mata terbelalak tak percaya. Jadi sungguhan ini scene film?
"Pada dasarnya, manusia itu meniru apa yang mereka lihat. Tapi orang dewasa, akan mengembangkannya menjadi sesuatu hal yang baru," jawab Nicholas menusuk satu potong daging kemudian menyodorkannya ke hadapan ku.
Aku berusaha keras menahan senyum ku. Oh, jadi laki-laki yang selalu berpikiran berat ini, sedang mencoba melakukan hal romantis.
Dengan senang hati, aku memakan daging yang disodorkan Nicholas, mengunyahnya pelan-pelan untuk menikmati makanan yang disuapi olehnya.
"Yang barusan itu, gak ada di dalam scene," ucap Nicholas seketika hampir membuat ku terbatuk kaget. Apa perlu dia menjelaskan juga?
Nicholas mulai makan dengan tenang, begitu juga aku. Sesekali, aku melirik ke arah Nicholas, dan dia sedang memperhatikan ku. Awalnya aku merasa senang. Tapi ternyata Nicholas benar-benar sering memperhatikan ku. Setiap menyuap, dia kembali menatap ku. Terus begitu.
Apa ada yang salah? Make up ku sudah luntur? Atau alis ku tidak simetris? Tunggu, aku tidak menggambar alis. Apa yang salah?
"Kenapa?" tanya Nicholas menyadari pergerakan ku yang mencoba bercermin lewat layar ponsel.
"Dari tadi kamu perhatiin saya. Ada yang salah?" tanya ku sedikit protes.
Nicholas terdiam sejenak, lagi-lagi dia kembali memperhatikan ku.
"Kamu cantik, Fiona. Itu saja," jawab Nicholas sukses membuat pipi ku memanas, hidungku rasanya kembang kempis berusaha menahan senyum.
"Ya, jadi selama ini kamu baru sadar? Saya cantik dari kecil. Harusnya kamu sadar itu sejak dari awal ketemu saya," sahut ku dengan nada bercanda untuk menutupi kegugupan ku.
Nicholas menganggukkan kepalanya sambil merogoh sakunya. Dia mengeluarkan ponsel. Apa dia akan menelepon seseorang?
"Saya tahu. Sejak kecil kamu memang cantik," jawab Nicholas menunjukka wallpaper ponselnya yang memasang foto masa kecil ku, saat aku berusia sekitar 10 tahun.
"Kamu ... "
"Saya penasaran, apa kamu melakukan operasi pelastik atau karena efek perawatan. Jadi saya cari foto masa kecil kamu," jawab Nicholas tersenyum.
"Saya melakukannya dengan baik. Dengan sebuah pertukaran dengan seseorang. Demi foto ini."
"Nicho, itu foto saya saat masih kecil. Dan itu gak terlalu bagus!" protes ku berusaha merebut ponsel Nicholas. Sayangnya tangan lihainya lebih cepat memasukkan ponsel itu kembali ke dalam sakunya. Sementara aku tercengang tak percaya.
"Apa kamu yang menentukan foto ini bagus atau nggak?" sahut Nicholas dengan tenang. Sementara aku? Tak tenang sama sekali. Sejak kapan dia memiliki foto itu dan menggunakannya sebagai wallpaper?
Itu foto ku saat masih sangat kurus, kulit ku juga tak putih, rambut ku, astaga aku bahkan lupa siapa yang memberikan gaya potongan rambut itu. Dan lagi, teman-teman ku kebanyakan sedang pakai celana dan kaus saja.
"Itu cantik menurut kamu?"
"Ini dan yang ada di hadapan saya sekarang," jawab Nicholas dengan lugas.
"Kamu bahkan gak pernah membahas ini sebelumnya."
"Apa? Bilang kamu cantik? Saya sudah sadar itu sejak lama, tapi baru saat ini saya merasa leluasa untuk mengakuinya langsung kepada kamu."
"Karena?"
"Karena saya sudah mengakui perasaan saya juga sama kamu," jawab Nicholas lagi-lagi membuat ku tercengang-cengang tak bisa berkata-kata.
"Habisin makanan kamu, setelah itu kita nonton film."
"Serius, Nicho?"
"Kenapa? Bukannya setelah makan malam, biasanya nonton film?"
Aku tak bisa menahan tawa ku lagi. Astaga, aku tak tahu apa yang ditonton atau dibaca Nicholas. Apa buku berjudul 'Bagaimana cara hidup normal'? Atau hal semacam bagaimana melakukan kegiatan bersama kekasih? Kenapa Nicholas kaku sekali? Apa yang selama ini dia lakukan bersama Mia?
Ups, aku tak sadar kalau raut wajah Nicholas berubah. Dia kelihatan bete setelah aku tak bisa menahan tawa ku barusan.
"Oke, saya rasa cukup malam ini," ucap Nicholas menaruh garpunya di atas piring, lalu beranjak dari duduknya.
"Kamu suka film Harry Potter?" tanya ku seketika menghentikan Nicholas untuk pergi.
"Harry Potter? Film itu udah gak ditayangin di bioskop," jawab Nicholas.
"Saya pengen nonton di dalam kamar ini aja. Gak perlu ke bioskop," ucap ku dengan hati-hati.
"Kenapa? Kamu gak perlu khawatir, Fiona. Saya bisa sewa satu studio untuk kita berdua," sahut Nicholas. Nah, dia mulai berlebihan. Atau aku yang berlebihan? Entahlah aku sedikit trauma pergi keluar, bersama Nicholas.
"Oke, kita ke bioskop. Tapi saya mau nonton, When We Met."
Nicholas baru akan menyahut, tapi sepertinya dia sadar kalau Abira merupakan pemeran utama di film yang begitu laris di bioskop itu hingga jadwal tayangnya pun diperpanjang.
"Harry Potter. The Sorcerer's Stone?" tanya Nicholas kelihatan menyerah.
"Ya. Sampai The Deathly Hallows."
Aku tak tahu jika Nicholas bisa secepat itu menyetujui hal ini. Padahal sebelumnya, jauh sebelum hal ini terjadi, Nicholas adalah orang yang paling tak suka dibantah, atau mengalah. Tapi sekali lagi, syukurlah!