NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
DENYING



Aku benar-benar serius ketika mengatakan kalau mungkin saja aku menaruh perasaan pada Nicholas. Aku tak suka Nicholas menjadi korban dalam kelicikan Mia. Aku tak suka melihat Nicholas harus menyaksikan perselingkuhan istrinya dengan Hero.


Tapi ternyata, masalah yang dimiliki Nicholas jauh lebih rumit dari yang aku pikirkan. Ini bukan sekedar perselingkuhan saja. Tapi penkhianatan yang keluarganya sendiri lakukan kepada wanita yang Nicholas cintai dulu.


Dendam Nicholas yang terlihat sekarang, seperti gundukan bukit es di tengah laut. Hanya sebagian kecil yang terlihat di permukaan, tapi tak tahu sebesar apa di kedalaman air yang tenang.


Dan sekarang, aku kembali terjebak dalam perasaan ku kepada Nicholas. Tepatnya setelah Nicholas meminta ku untuk tetap di sini. Seperti orang bodoh, tanpa bertanya banyak hal, aku menurutinya lagi. Hanya karena tatapannya yang pilu, Nicholas benar-benar mengambil hati ku.


Sebelum pergi ke kantor, dengan tegas Nicholas mengatakan kalau aku tak boleh keluar dari hotel, tak boleh menerima orang datang, dan tak boleh percaya pada orang asing yang mengaku orang suruhannya. Karena Nicholas hanya memiliki satu orang kepercayaan, yaitu Ardi.


Sekarang pukul 17.00 WIB. Aku sudah berhasil melalui hari ku yang membosankan di dalam hotel. Hanya menonton TV. Oh, ya Nicholas juga mengganti kartu sim ponsel ku, karena pagi tadi, ada yang mengirimkan pesan ancaman lagi pada ku untuk berhenti menjadi wanita simpanan Nicholas, orang itu bahkan mengirimkan foto apartmen ku yang lama, seolah ingin menunjukkan kalau ia tahu dimana aku tinggal.


Pantas saja, selama masa pemulihan, aku dijaga ketat oleh suster bahkan dilarang untuk menggunakan handphone.


Ketika melihat berita gosip di TV, muncul gosip baru soal Hero yang diputus kontrak dari project barunya akibat isu soal dirinya yang menjalin hubungan terlarang dengan istri orang. Aku tak tahu apakah ini juga termasuk ulah Nicholas untuk membalas Mia?


Tapi tetap saja, tak ada akun gosip yang memunculkan identitas si perempuan bersuami yang menjalin hubungan dengan Hero.


Aku juga tak tahu bagaimana kabar Mia sekarang. Tapi ketika terakhir kali kami bertemu di ruangan Nicholas, aku sadar kalau Mia sedang sangat marah meskipun tujuannya untuk membuat ku marah pun berhasil. Pasti dia lebih marah lagi sekarang.


Ponsel pribadi ku berdering tanda pesan masuk dari Nicholas. Yap, orang pertama yang menghubungi ku ke nomor baru ku ini tentu saja Nicholas, dan yang kedua Ardi. Aku memang menyimpan semua kontak orang terdekat ku, tapi belum banyak yang mengetahui nomor baru ku kecuali Mama.


From: Nicholas


Saya tunggu kamu di restoran hotel pukul 19:00 WIB. Kamu bisa cek kotak yang ada di laci meja, pakai itu. Okay? See you, Fiona.


Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menghampiri satu-satunya meja berlaci di ruangan ini. Memang benar ternyata ada sebuah kotak berwarna biru navy polos dengan pita berwarna silver.


Perlahan, aku membuka kotak tersebut dan melihat ada sebuah dress berbahan satin warna navy. Aku mengeluarkan gaun tersebut, melihat dengan jelas bentuknya.


Sebuah gaun berbentuk A-Line, ku rasa midi dress dengan tali tipis di bagian bahu.


Aku menemukan satu kotak lainnya di bawah kotak biru navy ini. Kotak yang lebih besar berwarna hitam dengan tali emas. Saat aku membukanya, ternyata sebuah sepatu heels berwarna silver. Tingginya sekitar 7 atau 10 cm, aku tak yakin.


Ada satu lagi yang tertinggal di dalam kotak, sebuah kartu ucapan dengan tulisan tangan yang sangat aku hapal merupakan tulisan tangan Nicholas sendiri.


Dear, Fiona.


Semoga kamu juga suka selera saya kali ini.


Untuk beberapa saat, aku merasa sangat senang dengan hal ini. Nicholas memang sering berbuat baik dan memperhatikan ku selama ini. Tapi kali ini, rasanya lebih aneh lagi setelah aku menyadari sesuatu yang berbeda dari rasa perhatian Nicholas pada ku.


"Jadi mau ngajak dinner ceritanya?" gumam ku tertawa pelan.


Aku segera berjalan ke kamar mandi dan bersiap-siap. Perasaan ku yang seharian ini tak karuan, perlahan berubah karena ajakan dinner Nicholas.


Kesibukkan ku bukan hanya ketika mandi, tapi juga ketika mengeringkan rambut, mencatok rambut, kenapa lebih sibuk? Karena aku harus meminta Ardi mengambilkannya dulu ke apartmen ku yang dulu. Tapi apa? Dia malah membelikan semuanya yang baru. Ah, terserah.


Ardi juga mengatakan kalau ia sedang memindahkan barang-barang ku ke apartmen baru dengan nama lain, sehingga tak ada yang akan tahu itu adalah apartmen ku - sebenarnya itu apartmen Nicholas. Astaga dia benar-benar membuang uangnya untuk memindahkan ku dari tempat kos ke apartmen, lalu pindah lagi ke apartmen lain.


Seketika aku terdiam. Aku menghentikan aktifitas ku memakai lipstick ketika memikirkan hal itu.


Sekarang, aku melihat diriku sendiri di cermin. Memakai gaun mahal, tampilan yang mewah. Nicholas membelikan aku apartmen, menyewakan hotel, membelikan semua kebutuhan ku, membayar tagihan ku. Dia mencium ku, lalu kini seolah kami memiliki perasaan yang sama. Itu artinya ... Aku telah menjelma sebagai seorang wanita simpanan secara harfiah.


Aku kembali tertegun di tempat ku berdiri. Melihat betapa mengerikannya Fiona saat ini.


***


Pukul 19:30 WIB, aku masih di dalam kamar hotel, melepas kembali gaun itu dan melipatnya rapi di dalam kotak. Aku kembali memakai pakaian ku semula. Menjadi Fiona sebelumnya.


Nicholas tak menghubungi ku, aku harap dia lupa, atau mungkin masih sibuk dengan pekerjaannya.


Aku berdiri di balkon kamar hotel, melihat pemandangan kota Jakarta di malam hari. Gedung-gedung pencakar langit, kemacetan jalanan yang hanya nampak cahaya warna-warninya saja.


Aku membayangkan diriku mungkin menjadi bagian dari kemacetan itu setelah pulang bekerja seperti biasanya. Stress dengan pekerjaan menumpuk, tekanan dari bos, gaji yang tak seberapa, lalu bertemu dengan seseorang yang aku cintai. Pergi ke bioskop, jalan-jalan, seperti pada umumnya.


Suara kunci kamar yang terbuka, membuyarkan lamunan ku. Dan seperti dugaan ku, Nicholas yang masuk. Hanya dia yang memegang kartu kunci kamar ini.


"Kenapa kamu di sini? Saya nunggu kamu sejak setengah jam yang lalu di restoran, Fiona," ucap Nicholas dengan nada protes masuk ke dalam kamar.


Sebelum aku menjawab, perhatiannya tertuju pada kotak gaun yang ada di atas tempat tidur. Ia menghela napas panjang kemudian menaruh pandangannya lagi ke hadapan ku.


"Ada yang salah?" tanya Nicholas.


"Saya gak mau, kalau kita keluar bareng, akan ada wartawan yang lihat. Dan saya akan bernasib sama kaya Hero," jawab ku yang sebenarnya bukan rencana ku mengatakan itu. Tapi karena masih pada topik yang sama, biarlah.


"Kamu tahu kan gak ada yang akan berani -"


"Mereka gak akan berani menyinggung kamu atau Mia. Tapi saya bukan siapa-siapa, Nicho."


"Fiona, kamu dan Hero berbeda. Para media itu mengejar-ngejar Hero karena dia seorang selebriti."


Sial, Nicholas benar. Aku hanya diam sambil kembali berbalik membelakangi Nicholas. Memang agaknya sangat berlebihan jika berpikir kalau media akan mencari-cari ku sebagai selingkuhan Nicholas. Sedangkan yang memiliki nama besar adalah Nicholas. Kalau mereka tak berani mengangkat nama Nicholas, apa yang mereka harapkan dari berita seorang gadis seperti ku?


"Saya gak pernah permasalahkan hubungan Mia dan Hero," ucap Nicholas menghampiri ku sambil membuka jasnya lalu menyampirkannya di pagar pembatas balkon.


"Lalu kenapa kamu mengusik Hero kalau bukan karena cemburu? Saya gak yakin bukan cuma karena ingin membuat Mia menderita," ucap ku pelan.


"Karena saya gak suka dengan apa yang Hero lakukan ke kamu. Di Bali, bahkan saya harus bikin kamu meminta maaf sama dia. Lalu ancaman dia ke kamu, dan terakhir, saat dia mencoba menggoda kamu, sampai hampir berbuat kasar dengan kamu. Ini sudah adil sekarang," jawab Nicholas dengan lugas, seolah semua yang ia ucapkan bukanlah sesuatu yang sudah lama ia hapalkan.


"Saya gak ngerti sama kamu, Nicholas. Saya terus bertanya-tanya, kenapa kamu melakukan semua ini untuk saya? Kamu gak pernah menjelaskan apa-apa. Yang kamu lakukan hanya membanjiri saya dengan perhatian, dan selalu bikin saya bingung harus menempatkan hati saya seperti apa."


Nicholas menghela napas panjang kemudian mendekatkan dirinya dengan ku.


"Saya pikir, saya bisa melepaskan kamu setelah kontrak kita selesai, Fiona. Tapi saya gak sanggup. Saya selalu khawatir sama kamu. Saya selalu ketakutan saat kamu gak ada di dalam jangkauan saya. Dan saya akan merasa gak tenang saat kamu marah,"  jawab Nicholas mengungkap kan semuanya pelan-pelan hingga setiap katanya seolah tertanam di otak ku bagai mantra.


Aku menghela napas panjang sambil mengalihkan pandangan ku ke arah lain.


"Fiona ..."


"Gimana kalau saya bilang, ternyata saya jatuh cinta dengan kamu? Apa kamu akan tanggung jawab dengan perasaan saya?" tukas ku berusaha tegas.


Nicholas menatap ku, ia kembali meraih tangan ku. Dan tanpa memberikan jeda untuk otak ku berpikir, Nicholas mencium punggung tangan ku.


"Saya akan tanggung jawab dengan perasaan kamu. Karena saya rasa, saya merasakan hal itu juga, Fiona," bisik Nicholas sambil mengelus tangan ku dengan lembut.


Aku tak tahu apakah karena tersentuh atau karena udara malam, hingga mata ku berair. Tapi tatapan Nicholas terlihat sangat meyakinkan. Aku menundukkan kepala, melihat tangan ku yang masih berada di genggamannya.


"Saya ... Memang mencintai kamu, Nicho. Tapi ... Saya gak bisa jadi wanita simpanan seperti yang kamu pikirkan," ucap ku berharap Nicholas mengerti dan mempertimbangkannya lagi.


"Saya tahu. Saya hanya minta kamu untuk tetap ada di sisi saya, would you?" balas Nicholas seketika membuat ku sulit bernapas karena tiba-tiba saja hormon bahagia ku muncul semua ke permukaan.


"Hmm? Fiona, would you stay with me?" tanya Nicholas sekali lagi.


Aku hanya bisa menganggukkan kepala tanpa bisa mengontrol senyum ku. Dan kali ini, untuk pertama kalinya aku melihat Nicholas tersenyum lebar. Ia menarikku ke dalam pelukannya hingga aku harus berjinjit untuk membalas pelukannya.


Astaga, ini aneh. Aku seperti orang tak waras. Bagaimana bisa perasaan ku berubah-ubah seharian ini? Apa aku terlalu lemah pada Nicholas? Aku tak perduli. Ketika merasakan Nicholas mencium kepala ku, aku menghempaskan semua keraguan ku. Aku tak mau perduli dengan apapun. Aku hanya ingin menikmati perasaan Nicholas.


"Fiona, trust me. Gak akan ada siapapun yang berani mengusik kamu. Termasuk keluarga saya."


Nicholas mengatakan itu saat melepaskan pelukannya dan mengelus rambut ku.


"Masih sulit dipercaya, Pak Nicholas bisa tertarik dengan asisten pribadinya," ledek ku.


"Saya tertarik dengan wanita simpanan saya sendiri. Apanya yang aneh?" sahut Nicholas menaruh pandangannya kembali ke depan setelah berhasil membalas ledekkan ku.


"Kali ini saya yang akan manfaatin kamu?" ucap ku ikut memandang ke depan di samping Nicholas.


Nicholas menoleh ke arah ku, ketika aku menoleh juga ke arahnya, dia mengangkat alisnya. Kemudian hanya tertawa pelan.


"Kenapa gak bawa Fio ke sini? Saya mulai kangen sama dia," ucap ku.


Lalu, seketika aku merasakan sesuatu yang berbeda dari raut wajah Nicholas. Senyumnya perlahan menghilang.


"Dia udah gak ada."


"Apa?"


Nicholas menghela napas panjang sambil memejamkan matanya sebentar. Aku melihat kedua tangannya saling bertautan saling menggenggam keras.


"Ada orang yang ... Membunuh dia," jawab Nicholas seketika membuat ku terkejut bukan main hingga menutup mulutku dengan telapak tangan.


"Apa maksud kamu? Siapa yang tega bunuh ... Dan kenapa? Kapan kejadiannya?"


"Siapa lagi orang aneh yang melakukan banyak hal aneh?"


Keluarga Nicholas. Aku tahu Nicholas sedang membicarakan kakeknya dan juga paman-pamannya. Tapi kenapa mereka harus membunuh kucing itu? Kenapa mereka sama sekali tak berperasaan.


"Kenapa kamu gak bilang saya? Kapan kejadiannya? Kenapa sih mereka melakukan hal sekeji itu?"


"Mereka lakukan itu untuk meneror kamu, Fiona. Mereka tahu kalau kita berdua sangat menyayangi Fio. Saya mungkin masih bisa berpikiran rasional. Tapi mereka tahu, perempuan kaya kamu yang lebih perasa dan emosional pasti akan merasa tertekan," ucap Nicholas penuh penekanan.


"Saya gak mau kamu tertekan atau menyalahkan diri. Lagi pula, saya sudah balas mereka."


"Balas? Apa yang kamu lakukan?"


"Saya buat sedikit keributan di dalam forum kelompok aneh mereka. Dan saya yakin sebentar lagi, keluarga saya akan punya masalah dengan mereka. Entah apa yang akan dilakukan kelompok orang-orang aneh itu."


Nicholas benar-benar menjalankan rencananya untuk membalas mereka. Tapi aku masih sangat terkejut dengan kematian kucing itu.


"Nicho, apa ... Fiosky, itu kucing pemberian Kalina?" tanya ku tiba-tiba menebak.


Nicholas menoleh ke arah ku. Ia kembali diam sambil menatap ku.


"Ya," jawab Nicholas.


Sekarang, aku mulai berpikir. Apakah keluarga Nicholas benar-benar keluarganya? Kalau iya, kenapa mereka begitu kejam pada Nicholas?