
Setelah selesai bertegur sapa seperlunya, Nicholas langsung menarik ku berganti pakaian. Dia memberikan kode kepada Mama untuk langsung membawaku.
Sejujurnya, Nicholas belum memberitahu akan pergi ke mana. Tapi kemana pun, ku rasa akan menyenangkan.
Begitu masuk ke mobil, lagi-lagi Ardi yang menyetir. Aku duduk di belakang bersama Nicholas.
Begitu Nicholas menggandeng ku menuju sebuah lapangan penerbangan, ia memberikan aku sebuah kacamata hitam setelah ia memakai miliknya sendiri.
"Here we go, Mrs. Arrasya," bisik Nicholas merangkul ku menaiki tangga pesawat yang aku pikir hanya berisi beberapa petugas saja. Maksud ku, tak ada penumpang lain? Ini kah ... Pesawat pribadi Nicholas?
"Ini ... Punya kamu?" tanya ku berbisik.
Nicholas mengangguk pelan. Kemudian seorang pelayan membawakan satu botol minuman dan dua gelas kaca. Nicholas bilang ini champagne. Aku tak pernah mencobanya, jadi Nicholas memberikannya hanya sedikit.
"Kita ke mana?"
"Bali."
"Bali?"
"Kenapa? Bukannya kamu pernah bilang, kamu mau jalan-jalan di Bali. Kita gak pernah sempat jalan-jalan kan? Saya cukup merasa bersalah karena berulang kali bawa kamu ke Bali, tapi kita gak pernah bisa stay lama untuk jalan-jalan," jawab Nicholas membuat ku tersenyum kecil menyadari kalau selama ini Nicholas memperdulikannya.
"Jadi waktu kamu ajak saya pagi-pagi buta nanjak bukit itu karena merasa bersalah?" tanya ku menebak.
"Kamu masih inget?" tanya Nicholas.
Aku tertawa pelan, astaga ternyata sejak dulu memang ada seorang anak kecil di dalam tubuh Nicholas. Laki-laki yang gengsinya tinggi ini ternyata diam-diam selalu memberikan perhatian.
"Apa lagi yang masih kamu inget?" tanya Nicholas memancing ku.
"Waktu ... Kamu cium pipi saya di balkon restoran hotel. Terus kamu minta maaf abis itu. Lucu banget tahu?"
"Kamu pikir aku minta maaf karena gak sengaja cium kamu karena Mia?" tanya Nicholas.
Aku menganggukkan kepala yakin.
"Aku minta maaf karena sengaja cium kamu saat itu. Bukan karena Mia. Karena gemes aja liat kamu," jawab Nicholas tertawa pelan lalu meminum champagne-nya lagi.
Oh, pantas saja waktu pertama kali aku bertanya kenapa dia memilih ku,karena aku seorang introvert yang tak punya banyak kenalan, dan dia bilang aku cukup manis. Ya ampun, aku pikir saat itu Nicholas hanya sedang membual.
"Jadi nanti kalau kamu lihat perempuan lain yang gemes, terus kamu cium gitu?" tanya ku.
"Gak tahu. Mungkin iya. Tapi sejauh ini, cuma kamu yang bisa bikin saya agak agresif," jawab Nicholas menghela napas panjang.
"Agak?"
"Iya agak."
"Kamu agresif banget Nicho. Gak sadar?"
"Kalau aku agresif banget, aku udah tidurin kamu dari dulu."
"Kok aku jadi takut."
Nicholas tertawa keras sambil memeluk ku dengan kencang.
"Kamu gak bisa kabur, sayang. Ini di pesawat. Begitu sampai hotel, gak boleh takut. Okay?"
***
Begitu sampai di Bali, kami segera memasuki area Zetta Hotel yang terletak di daerah Denpasar.
Nicholas memesan kamar di lantai sepuluh. Sambil menarik koper, aku melihat-lihat ke sekitar kamar yang luas.
Nicholas masih sibuk bertelepon dengan Fahri, salah satu penanggung jawab Ark's Film yang baru. Sementara aku mengawasi kamar ini.
Jadi, ada satu kamar queen size, ada ruang tengah lengkap dengan sofa dan TV. Lalu kamar mandi kaca, toilet di dalamnya berbeda ruang, ada sekat diantara keduanya. Kemudian, kamar ini dilengkapi balkon. Double view!
Jadi, view yang pertama dari kaca jendela mengarah ke kolam renang bawah, sementara view dari balkon mengarah ke area perkotaan.
Sekarang pukul 16:00 WIB, karena Nicholas masih sibuk bertelepon, jadi aku memilih untuk mandi duluan. Sekitar dua puluh menit, aku sudah berganti pakaian jadi lebih santai dari yang tadi.
"Sayang," panggil Nicholas langsung menghampiri ku dan memelukku sambil mencium pipi ku beberapa kali.
"Nicho kamu bilang gak akan ngurusin kantor begitu udah di sini," protes ku pelan.
"Chill, Mrs. Arrasya. Itu yang terakhir. Selebihnya, aku akan fokus sama kamu aja," bisik Nicholas mengelus wajah ku pelan-pelan lalu kali ini aku duluan yang mencium Nicholas. Tentu saja Nicholas tertawa pelan lalu membalas ciuman ku. Nicholas menarik pinggang ku mendekat, lalu bibirnya mengulum bibir ku. Ia juga meraih kedua tangan ku untuk melingkar di lehernya.
Pelan-pelan tangan Nicholas bergerak ke bawah dan menggendong ku untuk duduk di atas meja pajangan. Nicholas mencium leher ku, lalu tangannya bergerak di paha ku.
Dan ketika tangan ku masuk ke balik kausnya, aku bisa merasakan perut Nicholas yang agak keras, itukah yang dinamakan otot perut? Tapi baru saja menyusuri perutnya, tiba-tiba Nicholas menahan tangan ku.
"Aku mandi dulu. Kamu siap-siap, ganti baju sekarang. Kita keluar," bisik Nicholas mencium kening ku lalu ia berjalan menuju kamar mandi meninggalkan aku yang hanya bisa gigit bibir sambil memandang tangan ku yang gagal menyusuri dada bidang Nicholas. Sial sekali.
***
Tempat yang Nicholas maksud adalah Uluwatu. Kami berdua menyusuri jalanan ini sambil melihat-lihat pemandangan pepohonan dan pantai dari kejauhan. Lalu, Nicholas mengajak ku untuk menyaksikan acara pentas seni Tari Kecak.
Wah! Nicholas benar-benar tak tertebak. Tentu saja aku sangat antusias. Aku duduk di sebelah Nicholas dengan ratusan penonton lainnya mengelilingi sebuah lapangan besar.
Sambil menunggu, aku sudah menyiapkan kamera ponsel ku.
"Kamu udah pernah nonton pertunjukan ini sebelumnya?" tanya ku pada Nicholas.
"Udah, beberapa kali. Tapi di luar negeri."
"Luar negeri? Sering ada pentas Tari Kecak juga ya?"
Nicholas mengangguk pelan. "Yang ciptain tari ini tuh dulu namanya Wayan Limbak, sekitar tahun 1930 dia mempopulerkan tari ini ke mancanegara dibantu sama seorang pelukis asal Jerman, namanya Walter Spies. Makanya sekarang tari tradisional ini terkenal banget di luar negeri."
Setelah mendengarkan penjelasan Nicholas, tak lama masuklah sekumpulan orang-orang ke tengah lapangan besar itu, memulai ritual sebelum menampilkan sebuah cerita dalam bentuk pentas drama. Pertunjukannya sangat menyenangkan. Para tokoh sangat interaktif dengan penonton sehingga aku tak merasa bosan untuk melihatnya.
Yang paling membuat ku tak pernah bosan adalah, melihat Nicholas terlihat begitu menikmati pertunjukan ini dengan senyum dan tawa yang tulus. Tangannya terus menggenggam tangan kanan ku meskipun pandangannya fokus ke depan.
Aku senang, akhirnya Nicholas bisa tertawa lepas begini. Setiap dia tersenyum, wajahnya terlihat sangat manis. Dan aku suka melihat wajahnya yang cerah. Terlepas semua permasalahannya harus berakhir tragis, entah itu keluarganya, mantan istrinya, bahkan kucingnya. Setidaknya sekarang Nicholas bisa merasakan akhir bahagia bersama ku.
Nicholas menoleh ke arah ku ketika aku mengusap punggung tangannya yang menggenggam tangan ku. Tapi aku hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangan ku ke depan lagi.
"Sayang," panggil Nicholas, refleks membuat ku menoleh padanya lagi. Ia mencium bibir ku dengan lembut lalu berbisik, "Stay with me forever, Fiona."
Aku tersenyum kecil sambil mengangguk, lalu menyenderkan kepala ku di bahu Nicholas. Nicholas melepaskan genggaman tangannya sebentar, melingkarkan tangan ku di lengannya lalu mulai menggenggamnya lagi.
Tanpa perlu diminta pun, sudah pasti aku akan terus ada di sisi Nicholas. Karena melihat semua yang sudah dilakukannya, aku tak akan menyia-nyiakan Nicholas lagi. Aku hanya berharap, Kakek atau paman Nicholas yang lain tidak akan mengganggunya lagi. Lebih tepatnya tak usah mengganggu kami lagi.