
Sejak menjadi asisten pribadi Nicholas, aku selalu berada di sisinya. Kadang bersama Angeline, kadang tidak. Mungkin Angeline akan ikut dengan Nicholas dibeberapa kesempatan saja, tapi aku, hampir setiap langkah Nicholas pasti ku ikuti.
Sebelumnya, aku tak menyadari banyak hal dari Nicholas. Yang aku tahu, dia pintar, kuat, dan memiliki segalanya. Tapi memperhatikannya dan berinteraksi di luar pekerjaan, membuat ku menyadari hal lain dari Nicholas.
Dia terlihat sangat datar, terlalu lempeng hidupnya. Maksud ku, meskipun diselingkuhi istrinya, Nicholas terlihat terlalu tenang menghadapinya. Padahal yang aku tahu, setiap manusia akan berubah menjadi monster jika orang yang mereka cintai berkhianat. Jangankan berkhianat, didekati lawan jenis lain saja pasti sudah mengamuk.
"Fiona."
Tubuhku sedikit terhuyung ketika tiba-tiba Nicholas menarik lengan ku mendekatinya ketika aku hampir saja salah mengambil langkah dan menabrak sisi lift di depan ku. Apa aku sampai tak fokus seperti ini?
Akhirnya lift terbuka, aku dan Nicholas masuk menuju lantai ruang kerjanya.
Nicholas terlihat dingin, cuek, dan tak mendengar orang-orang disekitarnya. Tapi diam-diam, dia memperhatikan orang-orang didekatnya, dia mendengar, hanya saja tak menyahuti. Dan mungkin, dia juga orang yang hangat sebenarnya. Ku rasa karena perselingkuhan Mia yang membuat Nicholas berada di titik ini.
Butuh waktu sekitar beberapa minggu hingga ku rasa, aku sedikit memahami Nicholas. Mungkinkah hatinya sudah beku? Perasaannya sudah mati karena terlalu lelah? Nicholas mungkin orang yang terlihat cuek, dan tak perduli apapun. Tapi ketika melihatnya minum alkohol, ku rasa dia masih berusaha mengontrol dirinya juga.
Nicholas meminta ku untuk ke private room untuk mengambil Fio di dalam dan melakukan tugasku menyisir bulunya.
"Hai," sapa ku pada kucing tampan yang langsung berdiri begitu mendengar suaraku. Dia beranjak dari karpet seolah sudah menagihku untuk memberinya makan dan juga menyisir bulunya.
"Tunggu ya, Fio."
Ketika sedang menyiapkan makanan untuk Fio, tiba-tiba terdengar suara Mia. Aku mendekati jendela dari bahan cermin dua arah ini, ternyata benar ada Mia. Dan seperti biasanya, perempuan itu selalu memeluk Nicholas dengan manja, seolah tak ada yang terjadi. Sampai saat ini, aku tak yakin kalau Mia tak tahu Nicholas mengetahui perselingkuhannya. Mana mungkin.
Aku memberikan piring Fio yang sudah berisi makanannya kepada kucing ini. Tadinya aku ingin hanya fokus saja dengan Fio, tapi perhatian ku tak bisa teralih dari percakapan suami istri itu.
"Why, honey? Aku cuma minta kamu untuk pecat dia. Berkali-kali aku minta, kamu selalu aja nolak."
"Karena alasan kamu gak make sense untuk pecat orang, Mia," sahut Nicholas dengan tenang. Sudah jelas sepertinya yang dimaksud Mia adalah aku.
"Aku gak suka sama dia. Itu alasannya," jawab Mia bersikeras.
"Kenapa? Apa dia pernah menyerang kamu? Apa dia membahayakan kamu?"
"Dia kurang ajar. Ya, dia nyerang aku secara mental. Dia bahkan mempermalukan teman aku, Hero. Kamu lihat sendiri kelakuan dia fatal Nicho!"
Aku terdiam, menundukkan kepala sambil menaruh pandanganku pada Fio yang masih fokus makan.
"Saya butuh Fiona. Dan saya gak akan pecat dia hanya karena alasan pribadi kamu, Mia," jawab Nicholas dengan lugas.
"Nicho, kalau kamu gak pecat dia, aku akan minta Hero untuk laporin Fiona atas kejadian tempo hari di Bali, ke polisi."
Kali ini Nicholas tak terdengar menyahut. Aku jadi takut apakah mereka akan benar-benar melaporkan aku ke polisi?
Fio menghampiri ku setelah dia menyelesaikan makanannya. Aku pun segera menggendongnya duduk di sofa untuk menyisir bulunya, meskipun pikiran ku sudah mengawang. Bagaimana jika Hero benar-benar melaporkan aku ke polisi?
Aku tersadar ketika pintu ruang privat ini perlahan terbuka. Nicholas masuk untuk melihat keadaan Fio yang juga langsung menghampirinya.
"Pak, saya sudah memberikan Fio makan dan menyisir bulunya. Saya pamit untuk pulang, Pak."
Nicholas hanya menganggukkan kepalanya. Lalu sebelum aku pergi keluar, tiba-tiba Nicholas menahan tangan ku.
"Iya, Pak?" tanya ku.
"Soal ucapan Mia tadi, gak perlu kamu pikirkan," ucap Nicholas menatap ku. Anehnya, kali ini tatapan Nicholas terlihat lebih bersahabat dari sebelumnya.
"Kamu punya saya, Fiona."
Satu kalimat yang langsung masuk ke dalam benak ku. Satu kalimat yang merujuk pada sebuah ketergantungan terhadap sesuatu, dan dalam konteks ini, Nicholas seolah ingin aku tenang saja dan bergantung padanya. Prinsip yang sangat bertentangan dengan ku.
Tapi entah kenapa kali ini terdengar begitu menenangkan sekaligus membawa sebuah kekahwatiran lain.
"Pak Nicholas akan bantu saya menghadapi laporan itu?" tanya ku memastikan.
"Mereka gak akan bisa laporin kamu, Fiona. Dan kalau itu terjadi, saya gak akan tinggal diam," jawab Nicholas menegaskan.
Aku menganggukkan kepalaku, lalu pelan-pelan melepaskan tangan ku dari Nicholas lalu berjalan keluar dari ruangan ini.
Besok adalah tepat satu bulan aku menjadi wanita simpanan Nicholas. Dan masih ada sisa kontrak dua bulan lagi. Entah apakah aku bisa tahan sampai dua bulan ke depan jika satu bulan saja sudah begitu banyak masalah yang aku alami.
***
Uang sebanyak dua puluh lima juta akhirnya diberikan oleh Nicholas. Sungguh, ini dua puluh lima juta! Seandainya ini semua uang ku.
Aku segera mengirimkan uang itu kepada Mama. Hari ini juga Mama harus membayar hutang itu. Setelah itu, aku akan meminta izin pada Nicholas untuk pulang ke Surabaya.
Aku harap bisa segera menemukan ayah ku dan menyelesaikan semua masalah ini.
Hari ini, waktunya aku libur. Dan kebetulan Dinar sudah ada di Jakarta untuk menemani calon suaminya menuntaskan tugas sebelum cuti menikah nanti.
Akhirnya kami berdua memutuskan untuk bertemu di sebuah cafe Jl. Darmawangsih. Jaraknya agak jauh dari apartmen ku, karen aku benar-benar tak ingin Dinar tahu apapun.
"Jadi sebenernya lo kerja di mana sih, Fi? Sok misterius banget," tanya Dinar yang sepertinya sudah ingin ia tanyakan sejak lama.
"Di Ark's Film... Jadi karyawan biasa, " jawab ku tersenyum.
"Hah? Serius? Jadi bener ya waktu lo cerita pernah ketemu Arbi di sana?" tanya Dinar yang ternyata pernah meragukan cerita itu. Padahal sudah jelas aku mengirimkan foto ku bersama Arbi.
"Gue pikir lo cuma halu aja gitu, edit foto sama Ardi," ledek Dinar.
"Kalau itu edit, gue pasti pilih foto gue yang paling bagus kali!" sahut ku kesal. Sementara Dinar hanya tertawa-tawa pelan.
"Din, lo kan sering interaksi sosial ya. Apalagi lo juga sering ngawasin perilaku percintaan jaman sekarang, lo pasti udah tahu kan macem-macem jenis hubungan percintaan?" tanya ku berusaha keras untuk setenang mungkin.
"Iya dong. Gue pengamat mereka. Gue kan tim marketing buku novel. Jadi harus tahu apa yang lagi banyak dibicarain anak-anak jaman sekarang bahkan sampai dewasa. Termasuk kisah percintaan jaman sekarang."
Cocok. Aku tak yakin apakah Dinar akan bisa menjawab pertanyaan ku atau tidak. Tapi aku sangat penasaran dengan pertanyaan ini yang selalu mengganggu pikiran ku.
"Misalnya dari HTS atau hubungan tanpa status. Terus FWB atau friends with benefit yang bicara soal kisah percintaan dengan sahabat tanpa adanya status, biasanya ini sering diartikan teman ranjang doang sih."
"Yang mau gue tanyain tuh. Ini... Misalkan... Ada pasangan nih, dan masing-masing dari mereka selingkuh. Tapi, mereka sama-sama tahu kalau mereka menyelingkuhi satu sama lain. Dan mereka masih tetap menikah, kaya gak ada hal krusial yang terjadi diantara mereka gitu," jelas ku berharap Dinar mengerti dengan penjelasan ku.
Dinar terlihat diam, dia menatap ku. Entah sedang berpikir atau menatap ku curiga. Ku harap dia tidak sedang curiga. Aku hanya ingin tahu saja hubungan macam apa ini?
"Gue rasa ... Mereka penganut open relationship," jawab Dinar membuat ku menatapnya kaget. Meskipun aku sendiri belum tahu apa itu open relationship, tapi aku sudah terkejut kalau hal ini memang ada jawabannya ternyata. Dan aku semakin penasaran dengan penjelasannya.
"Sebenernya sih, gue agak jarang ya lihat fenomena nyatanya di Indonesia. Tapi kalau di luar negeri, kabarnya udah banyak yang menganut prinsip itu. Intinya, mereka menikah, membangun kepercayaan dan kebebasan masing-masing termasuk hal percintaan dan hubungan intim."
"Jadi, mereka gak masalah sama hal itu? Dan cenderung membebaskan pasangannya tanpa ada rasa cemburu atau marah?" tanya ku memastikan pemahaman ku.
"Ya, mereka kan udah perjanjian di awal. Simple-nya menurut gue nih, kaya lo mau selingkuh terserah asal lo terbuka sama gue. Begitu pun sebaliknya. Jadi menurut mereka, itulah definisi kebebasan," jawab Dinar.
Dunia ini memang sudah gila. Astaga, Fiona kemana saja kamu selama ini? Hingga tak tahu betapa banyak jenis hubungan percintaan yang berkembang di dunia ini?
"Kenapa sih? Pengalaman ya?"
"Apa?"
"Sempet ada rumor kan kalau CEO Ark's Film katanya punya wanita simpanan. Bahkan ada yang bilang asisten pribadinya sendiri."
"Hah?" tanya ku kaget bukan main.
"Sayang banget identitas asisten pribadinya belum sempet gue lihat. Beritanya keburu di take down," keluh Dinar kelihatan kecewa. Sementara aku rasanya panas dingin. Bagaimana bisa? Kapan berita itu muncul? Kenapa aku sampai tak tahu?
"Lo kenapa keliatan kaget gitu sih? Bukannya lo nanya soal open relationship karena rumor CEO perusahaan lo ya? Dia kan udah menikah dua tahun lalu," tanya Dinar menyadarkan aku dari keterpakuan ku selama beberapa saat.
"Oh, iya. Tapi gue belum sempet baca artikelnya. Emang... Pernah ada ya? ... Dimana... Kapan?" tanya ku gelagapan.
"Astaga, Fiona. Ini tuh kebiasaan nya tukang gosip tahu. Asal bikin berita aja tanpa ada sumber. Dulu aja sempet ada berita kalau istrinya si CEO itu yang selingkuh sama artis muda. Tapi lagi-lagi beritanya langsung di-take down. Sekarang terbukti kan kalau mereka cuma temen deket malah kaya kakak sama adik," jelas Dinar.
Sejujurnya aku sedikit lega mendengarnya. Tapi memangnya ada berapa orang yang akan berpikiran sama dengan Dinar?
"Jadi berita tentang CEO itu gimana?"
"Ya gitu. Baru beberapa jam di-publish, eh udah hilang aja. Setelahnya, setiap ada media sosial yang upload soal isu perselingkuhan itu, ga sampe lima menit langsung kehapus beritanya," jawab Dinar lagi.
Ya ampun, semoga saja tak ada yang menyadari kalau aku adalah asisten pribadi Nicholas. Dan semoga mereka tak percaya dengan berita itu.
"Tapi ya, jujur aja gue gak percaya. Kalau pun bener, gila pasti nyesek banget istrinya. Setahu gue Mia itu orang yang selalu kelihatan glamour. Kalau ternyata selingkuhan suaminya adalah asistennya sendiri, pasti dia bisa frustrasi," komentar Dinar tertawa pelan.
Sejak percakapan itu, aku jadi lebih banyak diam dan berpikir. Bagaimana jika mereka tahu aku adalah asisten pribadi Nicholas? Jangan-jangan, selama ini, meskipun para staf Ark's Film bersikap biasa saja, ternyata diam-diam mereka membicarakan aku juga?
"Eh, Fi... Fio," panggil Dinda menepuk-nepuk lengan ku sementara pandangannya terlihat tertuju para layar ponselnya.
"Kenapa sih?"
"Ini Fi, lo belum lihat akun instagram lo?" tanya Dinar dengan raut wajah panik. Aku segera melongok ke layar ponsel Dinar yang memperlihatkan sebuah video yang di-tag ke akun Instagram milik ku.
Aku terbelalak kaget melihat rekaman video itu ternyata saat keributan aku menyiram minuman ke wajah Hero.
"Kok bisa sih Fi? Ini... Beneran lo?"
Aku kesampingkan dulu pertanyaan Dinar yang sama terkejutnya dengan ku sekarang. Saat ini aku segera menyalakan layar ponselku. Ternyata sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari Nicholas. Begitu menyalakan data internet ponsel, banyak sekali notifikasi masuk dari akun Instagram dan sosial media lainnya.
Ya Tuhan, aku baru saja dihujat oleh semua fans Hero dari seluruh penjuru Indonesia. Bagaimana ini? Apakah setelah ini mereka benar-benar akan melaporkan ku pada polisi?
Aku bahkan tak sanggup melihat komentar-komentar kejam yang ditujukan kepada ku. Dan saat ini, satu Indonesia sepertinya menganggap ku sebagai pelaku kejahatan karena ini. Entah apa yang akan aku lakukan setelah ini dan apa lagi imbas dari kejadian ini.