NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
ANCAMAN



Sadewa dan Giandra adalah dua nama yang aku ketahui selain Edward. Kini, mereka berdua berdiri di hadapan Nicholas. Sadewa tersenyum aneh kepada Nicholas, sementara Giandra mengawasi ke sekitar. Jika aku tak salah lihat, Giandra mungkin sedang memerhatikanku.


Rania sudah diminta oleh Nicholas keluar dan kembali ke tempatnya. Sementara itu, keadaan tegang seolah menyelimuti. Di tengah kegugupan ku yang menerka-nerka untuk apa kedua orang ini datang, tatapan Giandra semakin membuatku gugup dan agak ketakutan.


"Bisa kita bicara, Nak?" tanya Sadewa.


"Soal apa?" tanya Nicholas dingin. Aku mengerti, dia juga tak ingin memiliki urusan dengan mereka - sama sekali.


"Ini urusan keluarga kita. Jadi, bisakah kita bicara secara personal?" tanya Sadewa, lalu pandangannya tiba-tiba saja mengarah padaku dengan masih mempertahankan senyum anehnya.


"Sorry, Miss ... Fiona Fariska," ujarnya lurus menatap ke arahku. Dan entah mengapa, aku merasa ada yang aneh dengan nada suaranya ketika menyebut nama lengkapku.


"Maaf, Pak. Tapi saya hanya mengikuti instruksi Pak Nicholas. Saya selaku asisten pribadi ..."


"Silahkan keluar, Fiona," sergah Nicholas menghentikan kalimatku. Sialan. Aku tak ingin beranjak dari ruangan ini sebelum kedua orang aneh ini juga pergi. Bagaimana bisa aku meninggalkan Nicholas hanya bersama mereka?


"Fiona," panggil Nicholas mengulang perintahnya. Kali ini suaranya lebih tegas sehingga aku reflek menoleh padanya.


"Baik, Pak." Aku menatap Nicholas dengan tatapan tegas, berharap Nicholas mengerti untuk jangan terpengaruh apa pun ucapan mereka. Langkahku akhirnya sampai di luar ruangan. Aku menutup pintu ruangan Nicholas dengan hati-hati. Dan yang terakhir aku lihat hanyalah ketika Nicholas mempersilakan Kakek dan pamannya itu untuk duduk.


"Bu Fiona," panggil Rania begitu aku di luar. Aku melihatnya sendirian di meja besar khusus sekretaris. Dan aku tak melihat Erren yang seharusnya bersama dengan Rania.


"Ada apa?" tanyaku ketika menghampiri Rania.


"Apa ... Yang tadi itu tamu-tamu Pak Nicholas? Tapi, kenapa tidak ada di daftar jadwalnya, ya?" tanya Rania kebingungan. Dan, aku paham alasan dia bingung. Mungkin, dia juga khawatir Nicholas akan memarahinya karena membiarkan seseorang yang belum memiliki janji dengannya tiba-tiba menerobos masuk ke ruangannya.


"Oh, mereka anggota keluarga Pak Nicholas. Tenang saja," jawabku tersenyum simpul.


"Keluarganya? Aneh ya, mengapa keluarga Pak Nicholas bersikap kasar begitu? Bahkan, mereka menerobos masuk seperti anggota gengster," gumam Rania kelihatan semakin bingung setelah aku memberitahunya kalau dua orang yang tak sopan tadi adalah keluarga Nicholas. Dan, memang seharusnya aku akui bahwa mereka berdua memang seperti gengster, lebih parah malah.


"Erren kemana?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh, Bu Erren tadi sedang mengurus hal lain. Karena belum ada jadwal baru untuk Pak Nicholas, saya diminta untuk mempelajari apa saja yang sudah dia jelaskan tadi," jawab Rania tersenyum ramah. Aku menganggukkan kepala, lalu meminta izin pada Rania untuk menelepon seseorang yang mengharuskanku menjauh darinya.


Aku memilih untuk menelepon Ardi saat ini. Membutuhkan waktu cukup lama, sampai akhirnya Ardi mengangkat panggilan teleponku.


"Hai, Ardi. Iya, saya cuma ingin tanya, apa ada perkembangan soal kasus Mia?" tanyaku melalui telepon.


"Maaf, Bu Fio. Pak Nicholas meminta saya untuk tak turut campur."


"Saya tahu Nicholas pasti meminta kamu menyelidikinya, Ardi. Hari ini kakek dan paman Nicholas tiba-tiba datang. Pasti karena hal itu," ucapku berusaha membujuk Ardi untuk memberitahuku.


"Pak Nicholas mengatakan untuk mempercayai saja apa yang dikatakan polisi, Bu Fio."


"Dan membiarkan orang-orang mengatakan kalau penyebab Mia mengakhiri hidupnya karena Nicholas menceraikannya?" tanyaku kesal. Namun, Ardi tak menjawab apa-apa. Hening dalam beberapa detik.


Baru saja aku hendak menyahut lagi, tiba-tiba aku dikejutkan saat berbalik dan melihat Rania berdiri di belakangku, sehingga aku reflek mematikan sambungan teleponku dengan Ardi.


"Nia, ada apa?" tanyaku berusaha menyembunyikan keterkejutanku dan kegugupanku.


"Maaf, Bu. Saya hanya ingin menawarkan kopi, tapi sepertinya Bu Fiona sangat serius di telepon," ucap Rania kelihatan menyesal. Kedua mataku melirik ke cangkir kopi yang sedang dipegang Rania, dan aku menghela napas panjang. Mengapa dia mengagetkanku hanya untuk menawarkan kopi?


"Terima kasih, Nia. Saya sudah minun kopi," ucapku menolak dengan halus sambil tersenyum.


"Oh, baiklah," jawab Rania terkekeh kikuk, lalu dia pamit kembali ke mejanya. Sementara aku masih memerhatikannya dari belakang. Kenapa dia harus diam berdiri di belakangku jika tahu aku sedang sibuk bertelepon? Bukankah umumnya seseorang akan segera pergi saat tahu orang yang ditujunya sedang sibuk? Apa dia sengaja mendengar pembicaraan ku di telepon? Astaga, Fiona memangnya dia siapa? Wartawan?


Aku menggelengkan kepalaku, dan menaruh perhatian pada ruangan Nicholas. Sadewa dan Giandra sudah keluar dari ruangan Nicholas. Mereka melirik ke arah Rania dan aku tahu jelas kemana arah pandangan mata mereka. Rania memiliki tubuh yang berisi, aku yakin apa yang mereka pikirkan ketika melihat gadis itu.


Ketika mereka berjalan menuju lift, kami berpapasan. Sadewa membuang muka dariku sementara Giandra masih memerhatikanku. Astaga, menjijikan! Aku buru-buru membuang muka dari Giandra dan melangkah masuk ke ruangan Nicholas.


"Apa yang mereka katakan?" tanyaku setelah menutup pintu ruangan Nicholas rapat-rapat. Langkahku menghampiri Nicholas yang beranjak dari sofa dengan raut wajah murung.


"Ada apa?" tanyaku sekali lagi, karena Nicholas tak menjawab pertanyaanku sebelumnya.


"Mereka meminta aku untuk berhenti membuat kekacauan di media."


"Apa? Bukannya mereka yang membuat kekacauan selama ini?" tanyaku tak habis pikir.


Nicholas hanya menghela napas panjang, kemudian mengedikkan bahunya.


"Mungkin, yang mereka maksud adalah berhenti ikut campur dalam kematian Mia -" Nicholas tiba-tiba menghentikan kalimatnya, lalu dia menatapku sebentar. Setelah itu dia berbalik menuju mejanya.


"Apa maksudnya? Mereka meminta kamu untuk berhenti ikut campur dalam kematian Mia? Nicho, ini semakin jelas mengatakan kalau memang ada yang salah dengan kematian Mia, kan?" tanyaku menyimpulkan dengan cepat.


Nicholas berhenti melangkah sebelum sampai di mejanya. Dia kembali berbalik menatapku.


"Sudahlah, Fiona. Kita tidak usah ikut campur."


"Aku cuma gak mau kamu dibicarakan sama mereka sebagai penyebab kematian Mia, Nicho. Aku benci setiap kali mendengar atau membaca mereka menulis berita kalau kamu telah menghancurkan Mia dan Hero, meskipun semua bukti sudah menunjukkan kesalahan mereka sendiri. Tapi, kamu tahu kan? Ini sudah menyangkut nyawa manusia," sahut ku berusaha menjelaskan bahwa apa yang aku coba perjuangakan saat ini bukan hanya tentang Mia. Tapi juga tentang nama baik Nicholas.


"Apa karena kamu muak dengan semua berita itu? Aku janji akan mengumumkan pernikahan kita tapi gak sekarang, Fio."


Aku menahan napas menatap Nicholas dengan pandangan kecewa. Dia tak mengerti maksudku, atau karena dia tidak bisa berpikir dengan jernih?


"Jadi, maksud kamu, aku melakukan ini semua karena aku muak sama kamu dan ingin segera mendapatkan pengakuan atas pernikahan kita?" tanyaku menatap Nicholas lekat-lekat. Dan aku bisa melihat perubahan raut wajah Nicholas. Dia seperti menahan sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa itu.


"Asal kamu tahu, Nicho. Aku gak pernah peduli kamu akan mengumumkan pernikahan kita atau enggak. Yang aku tahu, aku cuma ingin selalu bersama kamu, dan aku peduli sama kamu," tukasku dalam satu helaan napas. Aku berbalik menuju kamar mandi di ruangan ini untuk meredakan rasa kesalku. Meninggalkan Nicholas yang hanya diam. Aku tahu, dia juga pasti kesal denganku.