NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
KENYATAAN PAHIT



Ayah Hero dan Rena memang sudah ditangkap. Namun, mereka masih berada di rumah tahanan. Berkas kasus mereka masih belum lengkap untuk dinaikkan ke pengadilan.


Hari ini, Nicholas memiliki rencana untuk pergi mengunjungi mereka. Dan, aku belum tahu pasti apa yang akan dilakukan Nicholas di sana, karena dia sibuk bertelepon dengan detektif Joe, juga pengacara.


"Hey, gimana perasan kamu sekarang? Apa sudah membaik?" tanya Nicholas akhirnya menghampiriku lagi yang masih berada di atas tempat tidur. Rasanya, seluruh tubuhku masih sakit, terutama di bagian pergelangan tangan.


"Aku ... Sedikit sakit badan," jawabku tersenyum. Aku tak ingin Nicholas tahu kalau sebenarnya aku masih terbayang-bayang kejadian semalam. Rasanya seperti mimpi saja. Bagaimana mungkin orang dewasa sepertiku ini diculik?


"Ya, pasti kamu merasakan itu, sayang. Mereka benar-benar menyiksa kamu," bisik Nicholas menatapku sedih. Dia mengelus-elus rambutku dengan lembut.


"Kita ke rumah sakit, ya? Just to make sure, kalau kamu gak mengalami luka dalam atau cedera apapun," ucap Nicholas lagi-lagi membujukku ke rumah sakit.


"Okay, nanti aja. Yang penting, kamu selesaikan dulu urusan kamu hari ini. Jangan khawatirkan aku," jawabku menepuk-nepuk bahu Nicholas. Namun, Nicholas malah menghela napas berat. Dia meraih tanganku di bahunya, lalu menggenggam tanganku.


"Aku pengen banget seharian ini di sini. I know very well, kamu gak baik-baik aja, sayang. Dan aku minta maaf, karena lagi-lagi aku yang membawa kamu dalam bahaya," bisik Nicholas.


Bagaimana jika aku memberitahu Nicholas kebenarannya? Haruskah? Tentu saja harus, Fiona. Ini rahasia besar untuk Nicholas yang harus diketahuinya segera.


"Nicho," panggilku sambil menyiapkan diriku sendiri.


"Hmm?"


"Aku mau memberitahu kamu sesuatu, tapi ... Kamu harus janji, kamu harus tetap tenang. Aku gak mau semua rencana kamu hari ini rusak, Nicho. Sumpah. Tapi, aku rasa kamu harus tahu ini," ujarku sambil menahan napasku ragu akan apa yang akan aku katakan saat ini.


"Katakan aja, Fio. Jika menurut kamu itu penting," ucap Nicholas meyakinkanku.


"Selama aku disekap oleh mereka, aku bisa mendengar semua percakapan mereka. Aku ... Mendengar apa yang mereka bicarakan tentang Hero, Gian, Sadewa, dan rahasia yang seperti lingkaran setan itu," jawabku berusaha menjelaskan kondisiku saat itu. Dan sejauh ini, Nicholas masih meresponku dengan tenang.


"Kamu tahu tentang rahasia mereka? It's about me?" tanya Nicholas dengan sangat tenang.


"Ya. Dia ... Rena maksudku. Dia bilang, rahasia yang diketahui Hero dan Mia itu ... Tentang kebenaran bahwa Gian dan Sadewa itu bukan keluarga kamu yang sebenarnya, Nicho. Mereka membohongi kamu selama ini." Aku mengatakan semuanya dengan tergagap. Dan, aku harap Nicholas mengerti maksudku.


Nicholas kelihatan menunduk sambil menghembuskan napas panjang. Dia menganggukkan kepala, kemudian menatap ke arahku lagi.


"Detektif Joe sudah menduga hal itu, Fio. Dia bilang, kemungkinan rahasia yang mereka simpan adalah mengenai keluarga aku. Dan, saat itu aku sempat khawatir yang dimaksud adalah tentang ibuku. Tapi ternyata ..." Nicholas tertawa miris sambil menggelengkan kepalanya. Seolah tak percaya dengan kejadian yang baru saja dia alami ini.


"Aku sudah menduga hal ini cukup lama, tapi aku terlalu sibuk untuk mengurusi orang-orang itu. Dan ternyata, mereka bukan hanya memanfaatkan harta aku, tapi mengacaukan kehidupan aku. That's insane!" marah Nicholas sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah. Wajahnya memerah, sepertinya dia akan menangis. Namun, entah lah aku tak yakin Nicholas akan menangis. Yang pasti, dia sangat terpukul mendengarnya. Bukan karena kecewa mereka ternyata bukan keluarga, tapi aku rasa dia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya ditipu bertahun-tahun oleh kelompok aneh itu.


"Nicho ... Gak apa-apa. Semuanya akan baik-baik aja. Kamu jangan merasa semua ini kesalahan kamu," bisikku sambil memeluk Nicholas yang duduk di hadapanku di pinggir tempat tidur.


"Apa kamu mendengar hal lain lagi?" tanya Nicholas.


"Enggak. Hanya itu yang mereka katakan. Sepertinya, memang hanya itu yang mereka tahu soal fakta bahwa Gian dan Sadewa bukanlah keluarga kamu. Mereka menggunakan rahasia ini untuk mengancam Gian jika tidak membantu mereka di penjara," jawabku sambil mengelus-elus pipi Nicholas.


"Terus apa rencana kamu?" tanyaku.


Nicholas menghela napas panjang.


"Aku akan mengunjungi Rena dan ayahnya di rumah tahanan. Setelah itu, aku akan menawarkan mereka kerja sama, agar menjadi saksi di pengadilan tentang keterlibatan Gian dan Sadewa yang merupakan otak dari pembunuhan berencana ini. Mereka tidak bisa menolak aku, karena aku yakin Gian dan Sadewa sudah membuang mereka karena tujuan mereka memanfaatkan Rena sudah selesai," bisik Nicholas dengan sangat lugas menyampaikan rencananya kepadaku. Sepertinya, dia sudah sangat matang dengan rencana itu.


"Jadi, kamu akan bernegosiasi dengan mereka, dan bekerja sama untuk memberikan kesaksian kepada polisi agar memperkuat bukti untuk menangkap Sadewa dan Gian?" tanyaku menyimpulkan.


Nicholas menganggukkan kepala, dia kembali meraih tanganku dan menatapku lekat-lekat.


"Aku juga akan membutuhkan kesaksian kamu untuk mengancam mereka, sayang. Kamu adalah korban penculikan dan ancaman pembunuhan."


"Kamu tenang aja, Nicholas. Aku 100% ada di pihak kamu. Aku akan bantu kamu apa pun yang aku bisa," jawabku berusaha tersenyum agar Nicholas tak menyadari kekhawatiranku sekarang. Aku tetap merasa takut dengan kelompok aneh itu yang mungkin akan melakukan hal nekat.


"Mau makan sekarang?" tanya Nicholas.


"Kamu gak berangkat sekarang?" tanyaku. Karena dilihat dari penampilan Nicholas dengan setelan jasnya, aku pikir dia sudah hendak berangkat.


"Aku dan detektif Joe memiliki janji jam 09:00 tepat di rumah tahanan tempat anak dan ayah itu ditahan sementara. Jadi, aku masih punya waktu satu jam lebih untuk sarapan sama kamu," jawab Nicholas tersenyum manis.


"Oke, kalau gitu ayo ... Kita makan," ajak ku segera beranjak dari tempat tidur dan Nicholas membantuku berdiri. Kami berdua tertawa pelan karena sama-sama memikirkan bahwa ini terlihat agak berlebihan. Aku hanya sakit badan, bukan mengalami cedera yang membuat tubuhku tak bisa bergerak sama sekali. Dasar Nicho!


"Gimana sama ayahnya Mia? Dia pasti ingin tahu perkembangan kamu dalam mencari keadilan untuk mendiang Mia." Aku melangkahkan kaki menuruni tangga bersama Nicholas.


"Ya, dia terus bertanya apa pelakunya sudah ketemu? Apa pelakunya sudah bisa dihukum? Aku benar-benar berharap polisi bisa menangkap mereka. Detektif Joe juga mengatakan, seharusnya kita udah memiliki bukti yang cukup," jawab Nicholas menjelaskan. Aku mengangguk paham. Lalu, tiba-tiba Nicholas menghentikan langkahnya sambil menatap layar ponselnya.


"Sayang ... Aku minta maaf, kayanya kamu harus sarapan sendiri kali ini," ucap Nicholas seketika membuatku agak kecewa mendengarnya.


"Kenapa? Bukannya kamu masih punya waktu satu jam lagi?"


"Barusan detektif Joe kirim pesan ke aku. Katanya pagi ini ada beberapa orang yang mengunjungi Ayah Hero dan Rena. Dan, salah satunya adalah Sadewa."


Jantungku mencelos. Rasanya, kekhawatiranku semakin menjadi. Bagaimana kalau Sadewa berusaha mensabotase atau mempengaruhi kesaksian mereka?