NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
PERTAMA KALI KE BALI



Ah, sungguh aku tak mengerti dengan Nicholas dan Mia. Aku penasaran dengan semua rencana Nicholas. Tapi bagaimana membuat laki-laki ini menceritakan semua rencananya? Aku hanya bertugas menurutinya saja sekarang.


Dan seperti dugaan ku, Nicholas hanya memesan satu kamar untuk kami berdua. Dia memang sengaja membuat imej kalau kami datang ke sini memang untuk berlibur dan tidur di kamar yang sama!


"Saya gak bisa tidur sembarangan dengan perempuan," ucap Nicholas memecah keheningan di antara kami berdua.


"Saya juga gak pernah tidur sama sembarangan laki-laki," balasku menegaskan.


Nicholas menganggukkan kepalanya kemudian dengan tenang, ia meraih satu bantal dan selimut tambahan di dalam lemari. Lalu menaruhnya di atas sofa.


"Silakan tidur di sana nanti malam," ucap Nicholas sambil mengeluarkan Fiosky dari dalam kotak tas nya dan menaruhnya di atas tempat tidur di sebelahnya. Oh, lagi-lagi tempat khusus untuk kucing itu.


Aku tak masalah harus tidur di atas sofa. Tapi tetap saja satu kamar dengan bos sendiri? Entah akan secanggung apa.


Ponsel Nicholas kembali berdering panggilan telepon. Tiba-tiba ia beranjak dari tempat tidur sambil mengangkat panggilan telepon tersebut lalu melemparkan sisir khusus milik Fiosky kepadaku, mengisyaratkan aku untuk menyisir bulu Fiosky sebagai special treatment.


"Saya masih di Bandung, bukannya saya sudah bilang sama kamu?"


Kayanya itu telepon dari Mia deh. Aku penasaran apa Mia marah? Atau hanya pura-pura marah?


"Ya, saya bersama dengan Fiona. Karena dia asisten pribadi saya sekarang."


Oh, apa aku akan terlibat dalam pertengkaran rumah tangga orang? Tunggu, aku pasti akan terlibat! Dan semua ini gara-gara rencana Nicholas!


Tak seperti yang ku bayangkan, percakapan suami istri aneh ini lebih cepat selesai. Padahal aku pikir mereka akan bertengkar di telepon, dan aku penasaran dengan cara Nicholas mengatasi kekacauan yang dibuatnya sendiri.


"Nanti kita akan makan siang di luar," ucap Nicholas.


Aku hanya menganggukkan kepala masih menaruh perhatian ku pada kelucuan Fiosky yang mulai menyenderkan kepalanya di perutku.


"Fio cantik," puji ku sambil mengelus-elus kepalanya dengan gemas. Namun tiba-tiba Fiosky mengeong lalu meloncat dari pangkuanku dengan raut wajah tak bersahabat.


Nicholas yang kaget dengan suara Fiosky pun ikut menoleh. Dia tercengang sama seperti ku yang kaget.


"Fio... Dia cowok," ucap Nicholas sambil menggendong Fiosky dan membawanya ke balkon kamar.


Fiosky laki-laki? Jadi hanya karena aku mengatakan kalau dia cantik, makanya kucing itu mengamuk? Astaga! Memangnya laki-laki tidak boleh dibilang cantik? Bahkan aku sering mengatakan Nicholas cantik meskipun hanya dalam hati.


***


Sambil menunggu perawatan Fiosky di salon khusus hewan peliharaan, Nicholas mengajak ku jalan-jalan di sekitar hotel.


Kami berada di balkon restoran hotel yang memiliki view sangat indah. Pemandangan yang biasanya hanya bisa aku lihat di internet atau iklan-iklan paket liburan.


Menikmati angin Bali menerpa wajahku, rasanya sangat nyaman. Dan sekarang aku tahu kenapa destinasi di Bali banyak sekali menjadi incaran orang-orang.


Kenyamanan ini tiba-tiba sedikit terganggu oleh Nicholas. Saat tiba-tiba Nicholas merangkul bahu ku dan mencium pipi ku. Mencium pipi ku!


Aku membeku di tempat ku berdiri. Pandangan ku kosong, sementara jiwa ku mungkin sudah berkelana entah kemana. Sungguh, meskipun hanya sepersekian detik, bekas bibir Nicholas rasanya masih terus terasa di pipi ku.


Refleks, aku menoleh ke arah Nicholas, dan jantungku mencelos ketika tahu dia memang sedang menaruh pandangannya ke arah ku. Matanya benar-benar lurus menatapku.


Aku penasaran apakah aku akan pingsan setelah ini?


Tapi yang terjadi, pandangan ku malah menangkap di kejauhan Mia sedang berbalik pergi bersama Hero. Kali ini gerak-geriknya terasa berbeda karena Mia berjalan duluan di depan Hero.


Akhirnya situasi aneh dengan saling menatap ini berakhir ketika dering ponsel Nicholas berbunyi.


"Fiosky udah selesai," ucap Nicholas berjalan duluan dan aku mengikuti di belakang.


Aku penasaran apa orang ini sering mencium wanita sembarangan begini? Tunggu, jika iya, aku juga tak mau jadi salah satu dari mereka! Apa mencium termasuk di dalam kontrak? Haruskah aku protes? Tapi bagaimana caranya?


"Saya minta maaf, Fiona."


Nah, suara berat Nicholas terdengar begitu jelas di telinga ku ketika kami berada di depan pintu lift. Belum sempat aku bertanya apa maksudnya, Nicholas sudah melangkah ke dalam lift yang terbuka.


Begitu masuk, aku kembali bingung ingin bertanya. Rasanya masih ada dinding pembatas antara aku dan Nicholas yang menimbulkan sebuah kecanggungan.


Setelah menjemput Fiosky dari salon, kami berdua kembali ke kamar. Fiosky langsung bermain dengan ku di atas karpet berbulu ketika pemiliknya sibuk dengan panggilan teleponnya.


Jujur aku jadi terpesona dengan Fiosky yang terlihat lebih segar setelah dari salon.


"Good boy," puji ku ketika Fiosky menggiring bola-bola ke dalam kotak yang sudah ku sediakan. Kali ini Fiosky kelihatan senang dan mengeong pelan. Permainannya tak lama, karena kucing ini benar-benar pemalas ku rasa.


Kucing ini selalu ingin bermalas-malasan setelah menyelesaikan tujuannya. Misalnya makan, dia akan mondar-mandir dan mengeong, setelah mendapat makanan, dia kembali merebahkan diri. Atau ketika bermain, dia hanya akan sekali bermain setelah menyelesaikan misi, dia akan puas dan kembali merebahkan diri.


Apapun yang dilakukan Fiosky, rasanya tetap lucu. Walaupun hanya berbaring sambil menggerak-gerakkan ekornya. Apalagi Fiosky adalah kucing yang sudah di-steril.


"Fiona," panggil Nicholas mengagetkan ku.


"Ya?"


"Kita pulang ke Jakarta sekarang," jawab Nicholas seketika membuatku terkejut bukan main.


"Ke Jakarta? Tapi Pak..."


"Cepet beresin barang-barang kamu, Ardi udah pesenin tiket pesawat penerbangan satu jam lagi," ucap Nicholas terlihat sibuk membereskan barang-barangnya sendiri.


Astaga, kenapa semuanya serba mendadak? Apa ada urusan mendesak? Tapi Angeline tidak mengabari aku sama sekali.


Sejujurnya, aku tak memerlukan waktu banyak karena aku juga belum membongkar koperku. Jadi kami benar-benar bisa langsung berangkat ke bandara.


Ardi sudah menunggu, dan kami dituntun untuk sampai ke pesawat yang 15 menit lagi akan berangkat.


Saat sampai di kursi, napas ku benar-benar terengah-engah. Langkah panjang Nicholas membuatku harus mempercepat langkahku untuk menyusulnya.


"Pak, sebenernya kenapa kita pulang mendadak? Apa ada masalah darurat?" tanyaku sebenarnya ingin protes.


"Misi kita sudah selesai di sini. Saya dapet kabar dari Ardi kalau Mia dan Hero sudah check out dari hotel itu. Saya tahu dia mulai terganggu dengan kita."


"Tapi Pak, mereka bisa aja pindah ke hotel lain dan melanjutkan..."


"Saya tahu, Fiona. Mereka akan terus melanjutkan liburan mereka," jawab Nicholas dengan tenang. Tapi kenapa justru aku yang tak bisa tenang? Padahal aku pikir Nicholas akan menghalangi atau menghancurkan liburan pasangan selingkuh itu. Tapi kenapa sekarang? Apa yang sebenarnya Nicholas rencanakan? Apakah Nicholas, sedang merasa sedih dan tak sanggup untuk mengikuti istri dan selingkuhannya?


"Maaf, Pak... Saya... bingung, apa rencana Pak Nicholas sebenarnya?" tanyaku berusaha memberanikan diri.


"Membalas perilaku istri saya," jawab Nicholas singkat. Ugh, aku tahu itu inti masalahnya. Tapi kenapa dengan cara seperti ini?